Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Please, Don't Like That!


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Kami akhirnya sampai di apartemen. Dan sesampainya aku segera merebahkan diri di atas sofa, meredakan rasa lelahku. Kulihat tuanku tadi meminta bantuan bellboy untuk mengantarkan semua barang belanjaan kami. Dan tak lama kemudian, semua barang belanjaan kami sampai, diantarkan hingga ke depan pintu, tidak kurang satu barang pun. Kulihat tuanku juga memberikan tip untuk bellboy yang mengantarkannya.


Hari ini dia tidak main-main menghabiskan uang untuk berbelanja bersamaku. Sepuluh ribu dolar atau sekitar seratus lima puluh juta sekali belanja. Dia memang tidak perhitungan sama sekali dengan uang. Dan bisa kusebut jika dia amat dermawan. Tapi kalau sudah cemburu, lebih baik aku tidak bertemu dengannya sementara waktu.


"Ara, mandilah. Setelah itu tidur siang," katanya seraya membawa semua barang belanjaan ke dapur dan juga ke lorong mesin cuci.


Sengaja aku biarkan dirinya mengangkat sendirian barang belanjaan kami untuk melihat seberapa besar rasa sayangnya padaku. Dan juga bagaimana reaksinya jika melihat aku lelah seperti ini. Dan ternyata, dia tidak marah melihatku tidur-tiduran di sofa sedang dirinya mengangkat semua barang belanjaan.


Kau memang suami idaman, tuan.


Aku tersenyum, lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Tak mungkin kuucapkan hal yang ada di hatiku sekarang. Aku tidak ingin dia mengetahuinya sebelum kata cinta itu terucap padaku. Walaupun gadis miskin, aku masih mempunyai harga di depan pria. Tidak sembarang orang bisa menyentuh atau menciumku. Hanya dia saja yang bisa melakukannya. Itu juga karena dia akan menikahiku.


Aku masih ingat benar pesan ibu agar tidak mudah termakan rayuan pria. Aku juga banyak belajar dari pengalaman pahit yang ibu rasakan. Bagaimana ayah dengan mudahnya berpaling setelah melihat wanita yang lebih sempurna. Dan aku tidak ingin menjadi seperti itu, laksana tebu yang habis manis sepah dibuang. Aku harus berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.


"Maaf, ya. Aku tidak membantu."


Aku berjalan mendekatinya dengan lemas. Kulihat dia sedang meletakkan semua pakaian yang baru dibeli di butik.


"Iya, tidak apa, Ara. Istirahat, ya." Dia tersenyum padaku.


Aku mengangguk lalu berniat untuk mandi. Tapi, tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing sekali. Aku pun kehilangan keseimbangan.


"Ara?!"


Dia kaget saat melihatku hampir jatuh. Dengan cepat dia menahan tubuhku. Dan kini aku berada di dalam dekapannya.


"Sudah istirahat saja, tidak usah mandi."

__ADS_1


Dia lalu menggendongku. Gendongan ala pengantin yang membuatku merasa sudah menikah dengannya. Aku pun pasrah karena sudah amat lelah. Dan dia pun menggendongku ke dalam kamarnya, bukan ke sofa. Kubiarkan saja dia melakukannya karena tidak mempunyai tenaga untuk melawan. Aku percaya padanya.


Ara menetapkan hatinya untuk Rain. Ia berusaha belajar menjadi wanita sang bos besar untuk di masa kini maupun yang akan datang. Ia berusaha memercayai apa yang Rain katakan padanya, jika Rain bukanlah tipikal pria yang mudah mengumbar kata cinta.


Ara amat menyayangi pria bermata biru yang sedari awal telah mencuri hatinya. Ia juga tidak ingin kehilangan Rain. Baginya hanya Rain lah yang ada di hati, tidak ada pria selainnya.


Seiring berjalannya waktu, Ara akan lebih memahami bagaimana sifat dan sikap Rain yang sebenarnya. Ia akan belajar lebih dewasa karena tahu jika dewasa itu adalah pilihan. Dan Ara sudah memutuskan untuk menjadi wanita yang dewasa. Ia juga telah menetapkan hatinya untuk Rain dan akan lebih percaya kepada Rain. Cintanya begitu besar dan luas. Seluas samudera yang tak terkira.


Malam harinya...


Aku terbangun pada pukul tujuh lalu segera mandi. Aku juga belum sempat mencari di mana keberadaan tuanku sekarang. Sepertinya aku telah melewatkan sore hari bersamanya karena rasa lelah yang tak lagi bisa tertahan. Dan kini aku sedang mengenakan pakaian tidur yang tadi siang dibelikan olehnya.


Pakaian tidur bergambar beruang kuning ini begitu membuat hatiku gembira. Berlengan panjang dan juga semata kaki. Aku juga mengenakan sandal pemberian darinya. Sandal khusus selama di apartemen dengan corak boneka lebah. Dia seperti merayuku agar cepat kembali seperti dulu.


Tuan, aku senang sekali.


"Biarkan saja terus panjang."


Tiba-tiba ada suara yang berkata padaku. Aku pun segera menoleh ke asal suara yang ada di dekat pintu. Dan ternyata memang tuanku yang baru saja kembali, entah dari mana.


"Sayang, dari mana?"


Tanpa sadar aku menyebutnya dengan kata sayang. Seketika itu juga dia terpaku di tempatnya sambil melihat ke arahku. Kulihat dia membawa dua plastik belanjaan yang entah apa isinya.


Aku mendekatinya. "Beli apa?" tanyaku lalu mengambil plastik belanjaannya.


Dia terdiam, masih terdiam. Tapi pandangan matanya tertuju ke arahku. Dan akhirnya kuletakkan plastik belanjaan itu ke atas meja tamu, lalu setelahnya beralih kepadanya.


"Ayo, duduk." Aku menarik tangannya.

__ADS_1


Kami duduk berdampingan, dekat sekali. Aku pun mulai membuka isi dari plastik belanjanya. Dan kulihat dia membeli banyak es krim dan buah-buahan kecil. Sejenis leci, strawberry dan lainnya.


"Hei, kenapa diam saja?" Aku menyenggol lengannya. Seketika dia pun tersadar.


"Em, Ara." Dia membenarkan posisi duduknya.


"Iya, kenapa?" tanyaku lagi.


"Em ... bisa ulangi kata-kata yang tadi?"


"Yang mana?"


"Yang tadi?"


"Yang mana, sih?" Sengaja aku bertanya dengan intonasi manja.


"Ara, jangan seperti itu nadanya."


"Hah?" Aku pura-pura tidak mengerti.


"Ah, aku ke kamar mandi dulu."


Tidak tahu kenapa dia pergi begitu saja meninggalkanku di ruang tamu. Katanya sih ingin ke kamar mandi, entah kenapa. Tapi ya sudahlah. Lebih baik segera kumakan saja buah-buahan yang dibeli olehnya. Sayang kan jika dianggurin sedang perut masih bisa menampungnya.


Ara tidak menyadari jika nada bicaranya membuat Rain salah tingkah sendiri. Suara Ara yang serak-serak basah itu membuat sekujur tubuhnya merinding. Dan karena khawatir Ara akan salah paham, Rain segera berpamitan ke kamar mandi. Dia kini sedang membasuh wajahnya sendiri.


"Astaga ... sepertinya dorongan ini tidak bisa lagi kutahan. Apakah pernikahan kami bisa dipercepat? Aku khawatir jika berlama-lama malah akan membuatnya benci."


Rain berkata sendiri di depan cermin wastafel. Ia merasa sudah tidak lagi bisa menahan hasratnya. Hampir dua puluh tujuh tahun ia lalui tanpa ada wanita yang bisa menarik perhatiannya. Dan kini bukan hanya hatinya saja yang tertarik, tapi juga seluruh tubuhnya. Ia ingin cepat-cepat melangsungkan pernikahannya bersama Ara. Bersama seorang gadis yang mampu membuatnya salah tingkah dan tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2