
Sementara itu di istana...
Mile terlihat sedang menangis, memohon ampun kepada Han. Ia meminta agar Han tidak menceritakan apa yang terjadi kepada pangeran. Namun, rupanya Han hanya mematuhi perintah pangeran. Ia tak bergeming saat melihat bulir-bulir air mata itu jatuh membasahi pipi Mile.
"Perbuatanmu sudah amat keterlaluan, Putri. Aku tidak bisa membelamu. Biarlah hakim istana yang memutuskan. Dia lebih tahu hukuman apa yang layak diberikan. Aku tidak mempunyai wewenang dalam hal itu." Han bersikap acuh tak acuh kepada Mile, setelah melihat sendiri apa yang Mile lakukan terhadap tamu calon rajanya.
"Pejabat Han, tidak kasihankah dirimu padaku? Bagaimanapun aku calon ratu negeri ini." Mile memelas. Ia bersimpuh di lantai mengharap iba Han kepadanya.
Han berbalik menghadap Mile yang sedang menangis. Ia tidak percaya lagi kepada sosok putri itu. Baginya tangisan Mile hanya sekedar sandiwara belaka.
"Bagiku kepercayaan lah yang nomor satu. Pangeran telah memercayakan sebuah tugas padaku. Dan aku akan mengembannya sampai akhir batas kemampuanku." Han menjelaskan.
Seketika Mile merasa kesal di dalam hatinya.
Sial! Pria ini ternyata tidak bisa diajak berkompromi. Pangeran mencurigaiku dan meminta Han untuk diam-diam menyelidikiku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang bisa kukatakan jika sudah tersudut seperti ini?
Tak lama kemudian pangeran datang dengan tergesa-gesa. Ia melihat calon permaisurinya sedang bersimpuh di atas lantai sambil memohon kepada Han. Sontak pangeran merasa heran dengan sikap calon istrinya itu. Ia kemudian menanyakan perihal apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" Pangeran menanyakan kepada Han.
Raut wajah Mile tersentak begitu mendengar suara pangeran. Ia mengangkat wajahnya lalu melihat siapa yang berbicara. Dan ternyata benar saja, Pangeran Agartha lah yang bertanya kepada Han.
Astaga! Apa yang harus kulakukan?!
Saat itu juga Mile bertambah panik. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Ia kemudian bergegas berdiri.
"Mohon maaf, Pangeran—"
"Pangeran!"
Belum sempat Han menjawab pertanyaan pangeran, Mile sudah berlari, menghambur ke arah pangeran yang baru saja datang. Pangeran pun bertambah bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Ditambah lagi Mile kini menangis di bahunya, membuat pangeran semakin curiga. Namun, karena hal itulah Han merasa gelagat Mile begitu mencurigakan.
Dia sedang bersandiwara di hadapan Pangeran. Wanita ini benar-benar licik. Aku harus berhati-hati.
__ADS_1
"Pejabat Han, ada apa?!" tanya pangeran lagi.
"Pangeran, tolong aku. Pejabat Han ingin menghukumku. Dia tidak memberi keringanan atas kekhilafanku." Mile berdalih.
Saat itu juga Han menyadari sesuatu. Bahwa Mile adalah pasangan yang buruk untuk calon rajanya.
"Putri, tenanglah. Aku harus tahu duduk permasalahannya sebelum memutuskan sebuah perkara." Pangeran berusaha bijak.
Mile terdiam seketika.
Apakah pangeran belum mengetahui apa yang terjadi di istana tadi? Kalau begitu aku harus bersandiwara sebagai pihak yang tersakiti.
Mile mulai mencari cara agar bisa lepas dari masalah. Ia kemudian mengakui kesalahannya namun berdalih jika itu bukan karena perbuatan terencana. Melainkan karena kekhilafan semata.
"Pangeran, maafkan aku. Aku tergoda olehnya. Aku khilaf, Pangeran." Mile bersandiwara.
Han terkejut dengan sikap Mile. "Pangeran, sepertinya kita harus membicarakan hal ini berdua saja. Ada sesuatu hal penting yang ingin saya sampaikan." Han meminta kepada pangeran.
Pangeran tampak bingung dengan situasi yang terjadi. Namun, ia berusaha bijak menanggapi. "Baik." Pangeran pun mengangguk.
Han pun semakin menyadari bagaimana sifat Mile yang sesungguhnya. Ia merasa ada hal tak wajar setelah kedatangan Mile ke istana.
Wanita ini pintar sekali bersandiwara. Jangan-jangan selama ini ada yang dia sembunyikan dari pangeran dengan tingkah lakunya. Aku jadi curiga. Kenapa selama ini pangeran seolah-olah disibukkan olehnya. Apakah wanita ini sedang menutupi sesuatu?
"Putri, tunggulah di sini. Aku akan meminta prajurit untuk menjagamu. Aku harus berbicara kepada Pejabat Han." Pangeran membuat keputusan dan tidak mengindahkan permintaan Mile.
Seketika itu juga jantung Mile berdetak kencang karena takut ketahuan. "Tapi, Pangeran—" Mile berusaha menolak.
"Tunggulah." Pangeran meminta lagi. "Mari pejabat Han." Pangeran pun meminta Han agar mengikutinya.
Han mengangguk. Ia kemudian mengikuti pangeran menuju ruangannya. Han menoleh sesaat ke arah Mile. Tatapan matanya berubah tajam saat menatap wanita itu. Ia merasa Mile adalah wanita rubah yang perlu diwaspadai. Segala sikapnya amat mencurigakan.
Sesampainya di ruang kerja pangeran...
__ADS_1
Ruang kerja pangeran merupakan ruang kerja yang luas dan sebagian dindingnya terbuat dari kaca. Namun, area jendelanya tertutupi tirai yang besar. Di sini juga terdapat beberapa lukisan berbingkai kayu gaharu. Dan ada sebuah meja beserta tiga kursi di sekelilingnya. Lemari kayu jati pun ikut tertata rapi di sini. Agartha mempunyai desain ruangan yang tak kalah dari dunia sebenarnya.
Pangeran mengajak Han untuk duduk bersama. "Hal apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa putri Mile sampai bersimpuh padamu?" Pangeran ingin tahu.
Han menarik napas dalam-dalam. "Putri Mile sudah keterlaluan, Pangeran. Dia menodai kepercayaan yang telah Pangeran berikan." Han mengawali.
"Menodai?"
"Ya." Han mengangguk.
"Maksudmu dia bermain di belakangku?" Pangeran bertanya lagi.
"Tidak hanya itu. Tapi dia juga meniduri tamu pangeran," tutur Han kembali.
"Apa?!!" Seketika pangeran terkejut.
"Benar, Pangeran. Saya lihat sendiri apa yang telah dilakukannya. Bahkan dia juga telah membuka resetling celana tuan Rain. Perbuatannya sungguh keji seperti bukan seorang putri." Han berterus terang.
Saat itu juga deru napas pangeran memburu. Ia merasa kesal dengan hal yang diceritakan Han. Pangeran Agartha tak menyangka jika akan mendengar kabar seperti ini. Terlebih Mile adalah calon permaisurinya.
Dia sudah benar-benar keterlaluan! Belum menjadi ratu, sudah berani bermain di belakangku. Bagaimana nasib Agartha jika mempunyai ratu sepertinya? Ini tidak bisa dibiarkan!
Selama ini Pangeran Agartha sudah banyak bersabar dalam menghadapi sikap Mile yang seperti tidak pernah ada puasnya. Namun, cerita dari Han kali ini membuat pangeran tidak lagi bisa menoleransi perbuatan Mile. Ia benar-benar kesal dan juga naik pitam. Secara tidak langsung Mile telah mencoreng nama baik kerajaan.
"Aku jadi curiga selama ini ada sesuatu yang disembunyikan olehnya." Pangeran menuturkan.
"Maksud Pangeran?" tanya Han lebih lanjut.
"Dua bulan ini aku sering memergokinya dari ruang bawah tanah istana. Tengah malam dia keluar dari kamar lalu menuju ruang bawah. Bisakah kau membantuku untuk menemukan ada sesuatu apa di sana?" Pangeran meminta.
Han mengernyitkan dahinya. "Bukankah ruang bawah tanah adalah penjara?" Han merasa heran.
"Ya, benar. Aku hanya khawatir diam-diam dia mengambil emas dan menyembunyikannya di sana. Aku tidak menuduh, hanya berjaga-jaga saja." Pangeran mengungkapkan isi pikirannya.
__ADS_1
Han mengangguk, mengerti. "Sepertinya saya juga merasakan hal yang sama." Ia kemudian mengutarakan hal apa saja yang pernah dilihatnya semenjak kedatangan Mile ke istana.