Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Wedding Promises


__ADS_3

Beberapa menit kemudian…


"Saudari Ara, apa Anda menerima segala kekurangan Saudara Rain sebagai suami?"


Pertanyaan itu diajukan kepadaku saat aku berdiri di sisi kiri priaku. Kulihat dia menoleh, melihatku seperti berharap agar aku segera menjawab iya. Aku pun memenuhi keinginannya yang tersirat.


"Ya, saya menerima."


Kuucapkan sepenuh hati penerimaan atas dirinya. Aku berharap dia juga bisa menerima segala kekuranganku. Terlepas dari usiaku yang masih sangat muda jika dibandingkan dengan dirinya. Dan aku berharap dia bisa selalu mengayomiku, bagaimanapun keadaannya.


"Apakah Anda siap menjalani kehidupan rumah tangga dan berjanji setia padanya?" Pertanyaan itu terlontar lagi kepadaku.


"Ya, saya siap."


"Apa Anda bersedia mencintai dan membesarkan anak-anaknya kelak?"


"Ya, saya bersedia."


Sungguh aku siap menjadi istri dan ibu dari anak-anak Rainku. Tidak ada kata tidak. Karena bagiku dia adalah segalanya. Aku amat mencintainya.


"Silakan ucapkan janji setia Anda."


Aku kemudian diminta untuk mengucapkan janji setia pernikahan kepada seorang pria di hadapanku. Kata per kata kuucapkan dengan sepenuh hati hingga kulihat dirinya meneteskan air mata kebahagiaan. Tersirat jika pernikahan ini amat ditunggu-tunggu olehnya.


"Saudara Rain, Saudari Ara telah menerima Anda sebagai suami dan ayah dari anak-anaknya kelak. Silakan ucapkan janji suci pernikahan kepadanya." Priaku diminta mengucapkan janji suci pernikahan.


Rain kemudian menatapku. Di hadapan para tamu undangan, dia menatap dalam kedua mata ini. Aku pun tersenyum sepenuh hati kepadanya. Dia kemudian memegang kedua tanganku lalu mengucapkan janji suci pernikahan.


"Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, hari ini aku mempersunting Aradita sebagai istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Aku berjanji setia dan mencintainya seumur hidupku. Aku akan berbagi kehidupan dengannya sampai akhir nanti. Maka terimalah aku sebagai suamimu. Aku mencintaimu, Araku." Dia mengucapkannya dengan lancar walau suaranya terdengar amat serak.


Sayang, akhirnya ....


Betapa haru diriku saat mendengarkan janji suci yang dia ucapkan. Aku pun mengangguk, mengiyakannya. Bersamaan dengan itu seluruh hadirin yang hadir bertepuk tangan menyambut status baru kami.

__ADS_1


"Segala puji bagi Tuhan semesta alam." Kudengar Kak Jamilah berkata seperti itu dari dekatku.


"Segala puji. Akhirnya ...." Jack memeluk Kak Jamilah saat kami telah resmi dinyatakan sebagai suami istri.


Kebahagiaan ini bukan hanya untuk kami. Tapi juga untuk seluruh hadirin yang datang. Rain lantas memelukku di hadapan para hadirin. Dia tidak lagi bisa menahan haru sampai-sampai belum dipersilakan, sudah memeluk aku duluan. Aku pun membalas pelukannya dengan amat bahagia. Kami dinyatakan resmi sebagai pasangan suami istri. Sungguh tidak bisa dipercaya.


Pengucapan janji suci sudah usai. Priaku kemudian mengeluarkan cincin pernikahan dari dalam saku jasnya. Dia memakaikan cincin pernikahan kepadaku. Begitu pun aku yang memakaikan cincin pernikahan kepadanya. Para fotografer kemudian memotret kebersamaan kami. Kami menunjukkan surat nikah dan cincin ke hadapan kamera. Tak ayal beberapa tamu undangan juga ikut memotret kebersamaan ini. Sungguh rasanya amat membahagiakan sekali.


Terima kasih, Tuhan.


Aku pikir proses ikrar akan memakan waktu yang lama. Tapi nyatanya, hanya sebentar. Sepertinya Rainku sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jadi dia begitu luwes saat mengucapkan janji suci pernikahan. Dan ya, kami berbahagia dikelilingi para tamu undangan yang datang.


“Selamat kepada Tuan Rain dan Nona Ara. Kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri. Silakan dicium pasangannya.” Priaku dipersilakan untuk menciumku.


Seketika aku tersentak kaget. Tak tahu kenapa ada rasa malu yang memenuhi hatiku saat diminta untuk berciuman di depan umum. Aku pun ingin menolaknya, namun seperti tidak bisa. Ini adalah hari pernikahan kami dan tidak boleh dirusak. Jadinya aku hanya bisa menelan ludahku sendiri.


Rain menarik tubuhku. “Ara?” Dia seperti bingung melihat gestur tubuhku yang kaku.


Priaku merasa heran, dia menarik tubuhku lagi. Namun, aku segera menjauh. Dia menarik lagi, aku menjauh lagi. Sampai akhirnya dia memegang tengkuk leherku ini. Dia menatap tajam ke arahku.


“Ara …?!” Dia terlihat marah.


“Sa-sayang, ak-aku … malu,” kataku terbata.


Kami berdiri di tengah-tengah tamu undangan yang hadir. Tentunya pandangan seluruh mata tertuju pada kami. Tak tahu mengapa aku jadi semakin malu saja, rasanya ingin lari dari sini.


“Silakan Tuan Rain.” Pembawa acara meminta kembali, agar kami segera berciuman sebagai tanda sahnya suami istri.


Priaku mendekatkan wajahnya ke wajahku, tapi aku segera menjauh, menolak untuk diciumnya. Dia mencoba mendekatkan wajahnya lagi, namun aku menjauh lagi. Aku tidak ingin dicium olehnya di muka umum. Aku bersikeras dengan sikapku. Hingga akhirnya para hadirin merasa heran dengan gelagat kami.


“Hei, kenapa pengantinnya?” Terdengar bisik-bisik dari hadirin yang datang.


Kulihat wajah priaku memerah. Dia kemudian berbisik di telingaku. “Ara, jika tidak mau berciuman denganku, maka aku akan mencari bibir yang lain.” Dia mengancamku.

__ADS_1


“Sa-sayang?!” Aku pun terkejut dengan ancamannya.


“Pejamkan matamu,” pintanya sambil menatap jengkel diriku.


Kutelan ludah lalu berusaha memejamkan mata. Tak tahu apa yang terjadi, tak lama kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Bersamaan dengan itu sorak-sorai hadirin terdengar menggema ke seluruh tempat. Kuintip dari balik kelopak mata, ternyata Rain menciumku. Dia mengajak ku bercumbu.


Dasar tak tahu malu! Di muka umum mengajak ku berciuman!


Akhirnya prosesi janji suci pernikahan kami berjalan dengan lancar. Ucapan selamat berdatangan, satu per satu dari tamu undangan. Begitu juga dengan Owdie dan Byrne. Mereka datang dengan mengenakan setelan jas hitam. Tidak biasanya aku melihat mereka seformal ini.


"Selamat Rain!" Owdie memeluk Rain.


"Luar biasa. Kau sungguh hebat!" Byrne menyalami lalu berpelukan dengan Rain.


Kulihat mereka saling berbagi kebahagiaan.


"Ara, selamat ya." Byrne kemudian beralih kepadaku.


"Terima kasih, Kak," jawabku segera seraya tersenyum kepadanya.


"Semalam kami ingin mengucapkannya langsung. Tapi kata Rain kau sudah tidur," tambah Byrne.


"Iya, maaf. Kami tidak bisa hadir tepat waktu di acara doa bersama semalam. Kesibukan tidak bisa diajak berkompromi." Owdie menambahkan.


Aku pun tersenyum kepada keduanya. "Tidak apa-apa, Kak. Ara senang kalian datang ke prosesi akadnya. Terima kasih banyak, ya." Aku mengucapkan terima kasih setulus hatiku.


Byrne dan Owdie mengangguk. "Kalau begitu, kami pinjam dulu pengantin priamu." Owdie tiba-tiba menarik Rain dari sisiku.


"Hei, mau dibawa ke mana aku?!" Sontak priaku tidak terima.


"Sudah ikut saja!" Owdie dan Byrne kompak menarik Rain, menjauh dariku.


Tak tahu apa yang akan mereka lakukan, kubiarkan saja ketiganya berbagi kebahagiaan. Sedang aku menunggu di altar pernikahan sambil duduk santai menikmati jamuan. Tak lama Kak Jamilah pun datang menemaniku. Ya, sudah. Kunikmati resepsi pernikahan ini sampai selesai.

__ADS_1


__ADS_2