
Esok harinya, Ukraina pukul tiga pagi...
Fajar tak lama lagi akan datang. Di saat semua mata terlelap, satu unit helikopter mendarat di sebuah area tertutup yang ada di Kiev, ibu kota Ukraina. Yang mana tak lama kemudian turun seorang pria tua berjas hitam sambil memegang tongkatnya. Pria itu ditemani oleh seorang cucu angkatnya yang akan segera bekerja di kota ini.
Ialah Sam dan juga Byrne yang baru saja tiba di sebuah kawasan tertutup di pinggir Kota Kiev. Kedatangan mereka tentu saja disambut oleh beberapa orang berseragam tentara. Satu pria berbadan kekar pun mewakili yang lain menyambut kedatangan mereka. Pria itu kemudian mengajak Sam berjabat tangan.
"Selamat datang, Tuan Sam. Senang sekali bisa menyambut kedatangan pemegang kekuasaan Empire Earth." Pria berbaju tentara menyapa Sam.
"Terima kasih. Sepertinya semua telah disiapkan." Sam melihat ke arah belakang pria itu.
Kawasan ini amatlah gelap. Hanya cahaya dari lampu helikopter sajalah yang mampu membuat keadaan sekelilingnya terang. Sedang di belakang pria berbadan kekar tersebut terlihat ada beberapa orang yang berbaris rapi. Mereka dilengkapi persenjataan yang siap untuk digunakan. Sedang Sam maupun Byrne datang tanpa pengawalan yang berarti. Mereka hanya ditemani seorang bodyguard saat datang ke kawasan ini.
Byrne menelan ludahnya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Owdie tentang tugasnya kali ini. Untung saja ia sempat membeli ponsel mini beserta kartu selular yang sudah dihubungkan dengan saudaranya. Sehingga ia bisa berantisipasi jika terjadi apa-apa. Karena Byrne juga baru kali ini datang ke Ukraina.
Sebagai seorang saudara, Owdie sangat mengkhawatirkan keselamatan Byrne. Ia sampai-sampai rela 1x24 jam terhubung dengan saudaranya. Padahal jarak mereka tidaklah berdekatan. Namun, fasilitas yang organisasi berikan mampu membuat mereka dapat memiliki apa saja. Dan karena hal itulah Owdie memanfaatkan fasilitas organisasi untuk membeli berbagai macam keperluan walaupun harganya sangat mahal sekali. Apalagi keperluannya itu untuk keselamatan saudaranya sendiri.
"Segala yang dibutuhkan sudah kami persiapkan, Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Tim laboratorium juga sudah menunggu untuk segera bekerja," tutur pria berbadan kekar itu.
Sam mengangguk. Ia kemudian memperkenalkan Byrne. "Kenalkan, ini adalah cucuku. Dia ahli sains yang akan memimpin misi kali ini. Aku titip dia pada kalian. Karena dia adalah aset yang sangat berharga." Sam menuturkan.
__ADS_1
Seketika Byrne tersentak mendengar penuturan kakeknya. Ternyata dirinya hanyalah dianggap sebagai aset oleh sang kakek. Hatinya pun merasa kesal saat itu. Tapi, ia telah sampai di area. Tidak mungkin bisa pergi jika tidak ditembak mati.
"Anda jangan khawatir, Tuan. Area ini akan dijaga oleh puluhan orang dalam satu sift-nya. Mari." Pria berbadan kekar itu mempersilakan Sam dan Byrne untuk mengikutinya.
Ketiganya lalu masuk ke dalam sebuah gedung tua yang jika dilihat sekilas oleh mata sangat tidak layak untuk digunakan. Namun, di dalam gedung tersebut ada ruang bawah tanah yang mana di dalamnya sangat terang. Tempat di mana banyak formula diujicobakan. Dan Byrne akan memimpin misi kali ini untuk menciptakan virus yang mematikan.
Ya Tuhan, maafkan aku. Andai ada cara yang lebih baik, aku akan meninggalkan semua ini.
Byrne tahu jika sedang berada di jalan yang salah. Hati nuraninya tidak bisa membohongi. Namun, ia juga tidak kuasa untuk melawan kehendak sang kakek yang seperti titah seorang raja kepada budaknya. Byrne pun hanya bisa pasrah terhadap keadaan.
Langkah demi langkah akhirnya mengantarkan mereka sampai ke sebuah pintu ruang bawah tanah. Baik Sam maupun Byrne segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka berjalan beberapa puluh meter lalu menemukan sebuah pintu yang menggunakan kata sandi untuk membukanya.
Sontak Byrne bertambah terkejut dengan hal yang dilihatnya. Ternyata ruangan yang akan dipergunakannya adalah ruangan yang sangat rahasia. Pria berbadan kekar itupun menekan kata sandinya, lalu tak lama pintu terbuka. Terlihatlah di hadapan mereka sebuah laboratorium yang amat luasnya.
Laboratorium ini adalah laboratorium rahasia yang pembangunannya ditutupi dari pihak media. Areanya sangat tertutup, bahkan pejabat setempat yang bekerja sama dengan organisasi harus membuat isu mistis tentang area ini agar tidak ada penduduk yang datang kemari. Lambat laun area ini pun ditinggali dan diabaikan oleh penduduk sekitar. Bahan-bahan material kemudian berdatangan diiringi puluhan tentara yang berjaga. Alhasil dalam waktu enam bulan saja laboratorium ini sudah terbentuk dengan sempurna. Dan kini tinggal memakainya saja.
Kembali ke Agartha...
Pagi hari telah datang, sinar mentari menyorot dengan terang. Membuat kedua mata Ara terbuka lebar. Ia pun segera terbangun dari tidur indahnya bersama sang suami tercinta. Namun, saat ia bangun, saat itu juga ia menyadari jika tidak mengenakan sehelai benang pun. Ara kemudian segera mengambil gaun yang jatuh untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Dasar! Ini semua karena ulahnya!
Dilihatnya sang suami yang masih terlelap dalam mimpi. Ara pun segera menggulung rambutnya lalu beranjak ke kamar mandi. Ia ingin segera mandi agar badan lebih terasa segar lagi. Area pemandian yang begitu asri itu telah menunggunya.
Lantas istri dari sang penguasa itu membersihkan diri setelah semalaman bermain keringat dengan suaminya. Dengan lutut yang pegal, ia mendatangi pancuran air. Sedang Rain dibiarkan terlelap dalam mimpi.
Walaupun sedang mengandung, aktivitas biologis tetap mereka jalani untuk menambah keharmonisan rumah tangga. Ada saja cara yang mereka lakukan agar kegiatan itu tetap berjalan dengan aman. Walaupun setelahnya Ara seringkali mengalami kelelahan, tetapi tetap saja ia menyadari jika itu sudah menjadi kewajiban. Jadi rasa marah dan kesalnya hanyalah sementara.
Lain yang terjadi di padepokan, lain juga yang terjadi di istana. Istana kini mulai disibukkan dengan dekorasi ruangan yang mewah dan juga elegan. Bunga-bunga hidup mulai ditata sedemikian rupanya. Bak pesta kebun yang memanjakan pikiran.
Sang calon pengantin pun tampak melakukan perawatan sebelum hari pernikahan. Pagi-pagi mereka sudah terbangun dan menjalankan tradisi kerajaan. Tak ayal Lily merasa sedikit risih dengan pelayanan yang diberikan. Ia bak tepung yang sedang diadoni agar menghasilkan roti yang mahal.
Aduh, dia ke mana sih? Kenapa aku dibiarkan sendiri di ruang ini?
Lily sedang menjalani perawatan tubuh dengan lulur tradisional yang berasal dari buah-buahan bervitamin segar. Ia juga mendapat terapi relaksasi di seluruh tubuhnya dari pelayan wanita ahli. Alhasil pagi-pagi ini ia kembali mengantuk seusai mendapat pijatan yang merelaksasikan tubuhnya. Namun, prosesi tradisi kerajaan belum selesai dilakukan. Lily masih harus menyelesaikan beberapa tahapan lagi.
Agartha, cepatlah datang. Aku mengantuk sekali.
Waktu di Agartha adalah sekitar pukul tujuh pagi waktu dunia sebenarnya. Matahari belum meninggi, namun hangat cahayanya sudah sampai terasa ke kulit. Seolah menjadi saksi seorang gadis yang sedang diluluri. Ialah Lily, gadis yang akan menjadi istri dari pangeran negeri ini.
__ADS_1