Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Choice


__ADS_3

"Kakek, ini sudah melanggar aturan kemanusiaan. Aku tidak bisa melakukannya." Byrne secara tegas menolak.


Seketika perempatan urat muncul di dahi Sam. "Jadi kau ingin melawan?" Sam terlihat kesal.


Byrne menarik napas dalam-dalam. "Kakek, Kakek tidak bisa memaksaku untuk membuat virus itu. Itu sama aja memintaku untuk menyalahgunakan keahlian yang kumiliki. Aku tidak mau menyesal seumur hidup karena hal ini, Kek. Kakek minta orang lain saja. Aku tidak sanggup."


Byrne tahu jika pembicaraan ini hanya akan berlangsung alot. Sedikit banyak ia tahu bagaimana sifat asli kakeknya. Ia lalu memutuskan untuk pergi walaupun pembicaraan bersama sang kakek belum selesai. Karena Byrne tidak ingin berada di ruang lingkup pembicaraan yang membebankannya.


"Bryne!" Sam menahan kepergian cucunya. "Ini demi tercapainya tujuan organisasi. Kau hanya tinggal membuat virus, lalu membuat anti virusnya. Kita akan mendapatkan keuntungan yang besar dari hal ini. Setidaknya bisa menutupi pengeluaran organisasi karena meledaknya kapal pengeboran minyak Rain." Sam menuturkan.


Byrne menggelengkan kepala. "Tidak, Kek. Aku tidak bisa. Aku mengerti maksudmu, tapi aku tidak bisa melakukannya. Ini sama saja bersenang-senang di atas penderitaan banyak orang." Byrne masih menolak.


Sam ikut berdiri. Ia berjalan mendekati cucunya. "Byrne, nubuat itu telah dicetuskan. Kita harus cepat menguasai dunia ini sebelum dia datang. Secara jumlah, kita akan kalah. Hanya akal yang bisa kita gunakan untuk mengalahkan mereka." Sam menepuk pundak cucunya.


Byrne menelan ludah berulang kali.


"Anggap saja ini balas budimu kepada kakek. Selama ini kakek sudah bersusah payah membesarkanmu. Sebelum kakek mati, biarkan kakek menikmati balas jasa darimu. Agar kematian kakek bisa tenang nantinya." Sam merayu Byrne.

__ADS_1


Byrne gundah. Ia mulai goyah.


"Hanya dengan cara ini kita bisa meraup keuntungan yang besar. Kau tinggal membuat virus lalu anti virusnya. Pastikan hanya kau yang mengetahui anti virus itu sendiri. Ini adalah perdagangan yang amat menguntungkan. Jangan sampai disia-siakan," terang Sam lagi.


Byrne memundurkan langkahnya. "Kek, setahuku tujuan organisasi adalah untuk menciptakan perdamaian penduduk dunia dengan kita sebagai pemimpinnya. Tapi kenapa sekarang malah seperti ini? Kenapa Kakek tidak meminta Bank Dunia saja untuk terus mencetak uang agar bisa menutupi pengeluaran organisasi. Kenapa harus aku yang dikorbankan? Aku tidak bersalah. Kenapa harus aku juga yang menanggung kesalahan orang lain?" Byrne tidak terima.


Sam menarik napas dalam-dalam. Ia merasa Byrne sangat sulit dilunakkan. "Mencetak uang banyak tidak semudah yang kau pikirkan. Walaupun kita mempunyai otoritas, tetapi tetap saja tidak boleh terlihat janggal di mata dunia. Bisa-bisa semua negara mengambil jaminan emasnya dan kita akan mengalami kebangkrutan. Sudahlah Byrne, turuti saja apa kata kakek." Sam ingin Byrne memenuhi keinginannya.


Byrne menggelengkan kepala. "Tidak, Kek. Aku tidak bisa. Aku akan merasa bersalah jika berhasil membuat virus yang Kakek inginkan." Byrne masih bersikeras menolak.


Sam akhirnya kesal. "Baiklah. Jika kau tidak mau menurut apa kata kakek, semua asetmu akan dibekukan. Seperti apa yang telah kakek lakukan terhadap seluruh aset Rain. Kau tidak akan bisa hidup tanpa uang dan semua fasilitas yang diberikan organisasi. Pikirkan baik-baik sebelum menolak, Byrne." Sam beranjak pergi.


"Kakek tunggu keputusanmu dalam dua hari ini. Pikirkan baik-baik. Jika menolak, kau pasti tahu konsekuensi terberat apa yang akan kau terima." Sam akhirnya mengancam cucunya.


Pria tua bermantel tebal itu kemudian pergi dari hadapan Byrne. Seraya memegang tongkatnya, ia berjalan menuju lift gedung hotel ini. Ia seorang diri tanpa pengawalan yang berarti. Byrne pun menyadari jika ucapan kakeknya tidak bisa dibantah. Ia harus melakukannya, suka atau tidak.


Dia memintaku untuk membuat virus lalu anti virusnya. Dia ingin mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang. Apakah ini yang dinamakan keadilan? Di mana rasa kemanusiaan yang dahulu dia tanamkan?

__ADS_1


Byrne tidak habis pikir.


Pagi ini Byrne dilanda kegundahan akan keinginan kakeknya. Ia diberi waktu dua hari untuk memikirkan ulang tawaran kakeknya. Di dalam rasa keterkejutannya, Byrne memikirkan baik-buruknya jika memenuhi permintaan ini.


Mudah baginya untuk membuat sebuah virus dan anti virusnya. Namun, Byrne memikirkan pertanggungjawaban atas tindakannya. Ia akan merasa amat bersalah jika banyak korban yang bergelimpangan karena keahliannya. Dan Byrne harus memikirkan masak-masak apa yang akan dikerjakannya.


Sementara itu di Agartha...


Matahari kian menyengat kala memasuki tengah hari. Udara pun terasa panas tidak seperti biasanya. Namun, cuaca yang kurang bersahabat ternyata tidak menyurutkan keinginan Pangeran Agartha agar Lily bisa kembali pulih. Kini ia sedang bersama gadis itu di dalam kereta kuda. Ditemani Ara dan Rain yang juga ikut serta.


Gadis itu tampak sudah dimandikan oleh para pelayan istana. Kini ia mengenakan gaun sutera yang sama seperti Ara. Namun, rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, tanpa ada hiasan apapun. Semua ini dilakukan atas arahan dari Tabib Hu. Yang mana tabib tersebut juga ikut dalam perjalanan kali ini. Terlihat beberapa kereta kuda berukuran besar menuju danau, tempat di mana Ara dan Rain pertama kali tiba di Agartha. Beberapa pasukan berkuda juga ikut mengiringi perjalanannya.


Tabib Hu menyarankan agar Lily dimandikan di telaga seribu warna. Ia mendapat firasat kuat jika Lily bisa segera sembuh jika dimandikan menggunakan air telaga. Namun, ia membutuhkan bantuan Ara untuk melakukannya. Yang mana tusuk konde di kepala Ara yang akan dipergunakan dalam prosesnya.


Tabib Hu memberi pengarahan agar Ara menekan titik-titik tertentu di tubuh Lily dengan tusuk kondenya. Dengan harapan jika ada racun atau apapun yang mengendap di dalam tubuh Lily, bisa dikeluarkan dengan cepat dan mudah. Tabib Hu melihat tusuk konde yang ada pada Ara bisa menetralkan sesuatu yang tak kasat mata.


Ara sendiri tampak memperhatikan Lily yang sedang tidur menyandar di bahu pangeran. Sepanjang perjalanan kedua pasang insan itu saling duduk berhadapan dengan Lily yang belum tersadarkan. Pangeran pun tampak menggenggam tangan Lily, seolah memberi kekuatan agar Lily bisa segera pulih. Sedang Ara tampak prihatin melihat keadaan Lily. Begitu juga dengan Rain, suaminya.

__ADS_1


Mungkin seperti ini yang dilakukan suamiku saat aku tidak sadarkan diri waktu itu. Ternyata seorang pria bisa juga menyerahkan seluruh hatinya kepada seorang wanita. Oh, Sayang. Tetaplah bersamaku. Jangan nakal jika nanti kita sudah memasuki usia senja. Hiduplah bersamaku hingga masa yang memisahkan.


Ara menggenggam tangan Rain. Rain pun segera menoleh ke istrinya. Ia tersenyum kepada Ara lalu Ara pun merebahkan diri di dadanya. Rain kemudian mengusap-usap lengan istrinya agar Ara dapat tenang dalam membantu prosesi pengobatan ini.


__ADS_2