Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Almost


__ADS_3

Sore harinya...


Sinar kuning kemerahan mulai muncul di langit sore. Udara sekitar pun perlahan amat dingin memasuki malam. Dan kini seorang gadis tengah berjalan keluar dari gedung apartemen seorang diri. Ia mengenakan kaus putih dibalut kardigan hitam dan juga celana kulot putihnya.


Ara keluar dari apartemen karena ada sesuatu yang harus dibelinya di toserba terdekat. Gadis itu berjalan menuju halaman parkir dan berniat menyeberangi jalan raya. Sandal setinggi tiga senti pun menemani langkah kakinya hingga sampai ke tepi jalan. Ia berhati-hati menyeberangi jalan dua jalur itu. Ia tengok ke arah kanan dan ke kiri untuk memastikan jalanannya aman.


Sesampainya di toserba, Ara segera membeli keperluannya. Ia lekas-lekas membayar barang belanjaannya setelah semuanya terpenuhi. Tanpa perlu mengantri, ia mendapatkan pelayanan khusus dari para pramuniaga toserba tersebut.


"Terima kasih," ucapnya kepada kasir setelah menyelesaikan pembayaran.


Ara lekas keluar dari toserba untuk kembali ke apartemen karena malam tak lama lagi datang. Ia melangkahkan kakinya menuju tepi jalan untuk menyeberang. Dengan hati-hati Ara melihat ke arah kanan dan kiri jalan. Dan setelah merasa keadaan jalan sepi, ia pun melangkahkan kakinya untuk menyeberang. Tetapi, tanpa disangka seorang pengendara motor melaju cepat ke arahnya.


"Aaaaaa!!!"


Ara terkejut dan bingung untuk melangkah, haruskah meneruskan langkah kakinya atau mundur ke belakang. Tetapi di saat bersamaan ada seseorang yang menarik cepat tubuhnya agar mundur ke belakang.


Astaga! Astaga!


Seketika laju jantungnya tak terkendali. Kedua matanya terpejam karena tidak ingin melihat apa yang terjadi. Pengendara motor itu melaju begitu cepat ke arahnya. Ia sampai tidak dapat berpikir untuk lekas bertindak.


"Kau baik-baik saja?"


Seseorang menyadarkannya dari rasa takutnya sendiri. Ia pun segera melihat siapa orang yang sedang berbicara kepadanya. Dan ternyata, seorang pria berkemeja biru muda tengah mendekapnya. Pria itu melihat kepergian pengendara motor yang berlalu begitu saja.


"Tu-tuan?!"


Segera Ara melepaskan diri dari dekapan pria tersebut. Ia kaget karena berada dalam dekapan seorang pria yang tak dikenalnya. Pria itupun menoleh ke arah Ara.


"Sebentar Nona." Pria itu segera menelepon seseorang.


Ara menelan ludah berulang kali sambil memperhatikan pria yang menolongnya. Plastik berisi barang belanjaannya untung saja tidak jatuh karena kejadian yang begitu cepat tadi. Dan kini ia hanya bisa menunggu pria tersebut menyelesaikan teleponnya.


"Kejadiannya di depan toserba. Tolong dicek nomor kendaraannya." Pria tersebut seperti sedang menelepon kepolisian setempat.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih." Tak lama ia pun mengakhiri teleponnya.


"Tu-tuan?" Ara masih terpaku. Ia merasa bingung dengan pria di hadapannya ini.


Pria itupun tersenyum. "Kau baik-baik saja? Sepertinya pengendara itu sengaja melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Kau berhati-hatilah." Pria itu menerangkan.


"Te-terima kasih atas bantuan Anda, Tuan." Ara masih kaku karena kejadian tadi amat membuatnya syok.


"Kembali, Nona. Kau ingin menyeberang? Mari kubantu." Pria itu menawarkan diri.


Keduanya lalu menyeberangi jalan raya bersama hingga sampai di tepi parkiran apartemen. Ara pun kembali mengucapkan terima kasih kepada pria tersebut.


"Tuan, sekali lagi terima kasih. Tanpa Anda mungkin aku sudah..."


"Sudah, tak apa, Nona. Seharusnya kau berterima kasih kepada Tuhan karena telah menggerakkan hatiku untuk menolongmu." Pria itu bergegas pergi seraya tersenyum kepada Ara.


Si-siapa dia? Ara bingung sendiri. "Tu-tuan, tunggu!"


Belum sempat pria tersebut menyeberangi jalan, Ara memanggilnya. Pria itupun berbalik ke arah Ara.


Pria itu terdiam sejenak melihat Ara menyerahkan es cone kepadanya. Ia tersenyum lalu menerimanya.


"Terima kasih."


Setelah menerima es cone dari Ara, pria itu segera menyeberangi jalan raya untuk menuju ke toserba yang tadi. Ara pun baru menyadari jika mobil pria tersebut di parkirkan di halaman depan toserba.


Dia baik sekali. Untung saja ada dia. Kalau tidak...


Ara tak habis pikir dengan kejadian sore ini. Ia lekas-lekas kembali ke apartemen agar bisa menenangkan pikirannya. Tampak dirinya mengambil napas panjang dan berulang kali untuk menormalkan detak jantung yang berpacu cepat. Sore ini Ara selamat dari bahaya.


Malam harinya...


Ara mengerjakan tugas kampusnya sampai selesai. Jam makan malam pun harus terlewati karena keasikan mengerjakan tugas. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sang gadis baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya.

__ADS_1


"Akhirnya."


Ara bukanlah tipikal gadis yang suka mendramatisir keadaan. Jika sudah terjadi, ya sudah. Ia tidak ingin ambil pusing terhadap sesuatu walaupun di awalnya sering kesulitan untuk melupakan. Ara terbiasa menggunakan logika daripada perasaannya sendiri. Sehingga saat Rain bicara ingin menikahinya, ia masih tidak percaya terhadap kesungguhan Rain.


"Sedang apa ya dia? Apa dia akan meneleponku malam ini?"


Ara bertanya-tanya sambil memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas. Tak lupa ia rapikan tugasnya untuk dibawa esok hari. Ia pun membuka laptopnya sebentar.


"Masih jam delapan, aku menulis saja."


Kejadian demi kejadian ia tuliskan lewat alur ceritanya. Ara mulai menikmati bakat terpendamnya dalam menuliskan sebuah cerita. Harapannya tidak banyak, untuk saat ini hanya sekedar menyalurkan hobinya saja. Karena lagi-lagi ia bukanlah orang yang suka mendramatisir keadaan. Jadi, daripada menjadi pikiran, lebih baik dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal itu dapat memperingan beban pikirannya.


...


Satu, dua menit berlalu. Tak terasa sudah pukul setengah sembilan malam. Rasa lapar pun melandanya. Tapi sayang, sang tuan belum juga meneleponnya.


"Aku makan sendiri, deh."


Ara pergi ke dapur, mengambil nasi dan lauknya. Ia duduk di meja makan seorang diri sambil menyantap hidangan makan malam. Saat itu terbesit bagaimana sang tuan yang selalu minta ditemaninya makan.


"Aduh, kamu itu ya selalu saja menganggu."


Ara kesal saat Rain mulai menganggu alam pikirannya. Sang penguasa terlintas di benaknya sehingga Ara selalu teringat dengan apa yang Rain lakukan. Rasa rindu pun mulai menyelimuti hatinya.


"Aku kangen." Tanpa sadar ia mengucapkan dua patah kata itu.


Waktu yang terus berlalu memaksa Ara untuk segera beristirahat karena hari esok masih ada mata kuliah yang harus diikuti. Ia pun lekas-lekas menyelesaikan santap malamnya lalu menutup semua jendela dan pintu apartemen. Setelahnya ia merebahkan diri di atas sofa.


"Belum ada pesan darinya."


Ara mengecek ponsel. Tapi ternyata, Rain belum juga menghubunginya. Sedangkan ia teramat segan untuk menghubungi Rain duluan. Atau lebih tepatnya Ara gengsi gede-gedean.


"Sudahlah tidur saja."

__ADS_1


Sang gadis akhirnya memutuskan untuk tidur. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Dan akhirnya ia mulai memejamkan mata. Namun, di dalam hatinya masih berharap Rain akan meneleponnya.


__ADS_2