Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Mail


__ADS_3

Lily masih harus diuapi. Sekujur tubuhnya akan dililin untuk mengangkat rambut halus yang ada. Ia juga akan melakukan perawatan kuku dan mencatnya, sesuai warna gaun pengantin yang akan dipakai. Belum lagi Lily akan mengenakan ukiran hena di tangannya. Semua proses ini mau tak mau harus ia lakukan.


Sementara itu, Pangeran Agartha tampak bercengkrama dengan Pejabat Han di ruang perawatan keluarga kerajaan. Han melaporkan hasil investigasinya terhadap siapa Camomile sebenarnya. Sambil dipijat oleh pelayan ahli, pangeran membaca laporan yang Han berikan. Tak ayal pangeran pun terkejut setelah mengetahui siapa Mile yang sebenarnya. Ia segera meminta pelayan untuk pergi meninggalkannya.


"Apa kau yakin, Han?" Pangeran tampak terkejut dengan laporan ini.


"Ya, Pangeran. Saya sudah berkelana untuk mencari informasi tentangnya. Dan ternyata memang benar." Han menuturkan.


Pangeran tampak mengernyitkan dahinya. Ia masih belum bisa memercayai laporan yang dituliskan oleh Han.


Ternyata selama ini Han mencari tahu siapa Camomile sebenarnya. Ia berhari-hari di luar istana hanya untuk menginvestigasi kebenaran siapa Camomile. Apakah benar ia anak dari saudagar kaya di Agartha? Dan apakah benar Camomile menderita penyakit jiwa? Semua pertanyaan itu akhirnya bisa terjawabkan.


Aku tak percaya dengan laporan ini. Ternyata wanita itu ....


Pangeran seperti tidak bisa melanjutkan kata-katanya sendiri. Ia merasa miris menerima laporan ini.


"Besok aku akan menikah. Untuk sementara laporan ini belum bisa aku tindaklanjuti. Tapi, terima kasih atas kerja kerasmu, Han. Aku tidak akan melupakannya." Pangeran menuturkan.


"Kembali Pangeran. Saya merasa senang jika bisa mengabdi kepada kerajaan ini." Han membalas perkataan pangeran seraya membungkukkan badan.


"Ya. Sekarang bersenang-senanglah. Ajak seluruh keluargamu datang ke istana. Kita akan merayakan pesta pernikahan ini. Aku sudah meminta pejabat dalam negeri untuk mengatur semuanya. Tak banyak yang diundang, hanya terdekat saja. Pesta juga hanya sebatas syukuran." Pangeran mengungkapkan.


"Baik Pangeran. Apapun keputusan Pangeran, saya yakin itu yang terbaik untuk negeri ini. Selamat berbahagia. Saya permisi." Han berpamitan.


Pangeran mengangguk. Han pun segera undur diri dari hadapannya.


Laporan yang pangeran terima, ia kembali baca ulang sampai selesai. Pangeran ingin menyimpan dalam ingatan sebelum menindaklanjutinya. Kata per kata yang ada di dalam laporan itu ia cerna baik-baik. Hingga akhirnya sebuah kesimpulan ia dapatkan. Tentang siapa Mile dan masa lalunya. Saat itu juga pangeran menelan ludahnya.

__ADS_1


"Jadi selama ini ayah dibohongi? Aku harus menindak tegas pelaku penipuan seperti ini." Pangeran berjanji.


Pagi ini pangeran dikejutkan dengan laporan yang diterimanya. Namun, ia harus menepiskan sejenak laporan itu lalu kembali fokus terhadap pesta pernikahan. Ia melanjutkan proses perawatannya sebelum menjadi pengantin esok hari. Alhasil, tak perlu menunggu waktu lama, Pangeran Agartha sudah siap untuk menjalani pesta pernikahan. Ia tampak lebih segar dan bercahaya. Tentunya tidak terlepas dari bantuan para ahli yang setia kepadanya.


Beberapa saat kemudian...


Menjelang siang ini Pangeran Agartha duduk di depan meja kerja seraya menulis surat untuk ayahanda tercinta. Tangannya gemetar saat menulis kata per kata di atas selembar kertas putih. Ia merasa bersalah karena tidak lagi bisa menunggu kepulangan ayahnya selepas berdestinasi dari berbagai negeri. Karena ia khawatir jika Lily tidak segera dinikahi akan mengakibatkan hal yang lebih buruk lagi.


Tabib Hu waktu itu melaporkan hasil pemeriksaannya saat Lily belum juga tersadarkan. Para tabib yang lain pun masih berusaha sekuat tenaga untuk membantu menyadarkan Lily. Namun, denyut nadi Lily malah semakin melemah.


"Jiwa nona ini seperti ada yang sedang mengikatnya, Pangeran. Dan pemutus ikatan itu adalah pernikahan. Dengan pernikahan, masa lalu gadis ini akan terhapuskan. Karena saya melihat ada rantai hitam yang membelenggunya." Tabib Hu menuturkan hasil pemeriksaannya.


"Belenggu?" Pangeran tampak tak percaya.


"Ya, benar. Tapi sebelumnya kita harus melakukan terapi pengobatan terlebih dahulu. Dan terapi pengobatan itu harus dilakukan di tempat asal nona ini." Tabib Hu menuturkan kembali.


Sontak pangeran merasa bimbang. Ia tidak mengetahui asal muasal Lily selain dari tempat pertemuannya pertama kali di telaga seribu warna.


"Telaga seribu warna?" Tabib Hu terperanjat kaget.


"Ya. Ternyata ada telaga tak jauh dari danau yang ada di sana. Namun, airnya sangat beraneka warna." Pangeran menuturkan lagi. Saat itu juga Tabib Hu seperti tersambung dengan apa yang pangeran ucapkan.


Pangeran sempat berbincang bersama Tabib Hu mengenai pernikahannya dengan Lily. Dan tentu saja Tabib Hu merasa senang dengan keputusan pangeran ini. Namun, karena hal itu jualah ia harus tetap berada di istana selama beberapa hari ke depan. Ia masih harus mengawasi perkembangan kesehatan Lily.


Kini calon raja negeri Agartha itu sedang menulis surat untuk ayahnya. Ia tulis kata per kata dengan sepenuh hatinya. Ia berharap keputusan yang diambilnya ini adalah benar. Karena ia memang mencintai Lily.


Ayah...

__ADS_1


Saat kutuliskan surat ini hatiku bergetar dan tanpa sadar air mata menetes jatuh membasahi pipi. Sebuah keputusan besar harus kuambil secepatnya tentang siapa yang akan menjadi permaisuriku dan ratu negeri ini. Aku telah memutuskan untuk menikahi gadis pilihan hatiku. Yang selama ini telah membuatku menahan jutaan rindu.


Ayah...


Menantumu bukanlah berasal dari kalangan orang berada. Bukan juga dari saudagar kaya. Tapi, menantumu memiliki kepribadian yang mulia. Tidak hanya di luar namun juga di dalam hatinya. Aku rela jika penerus kerajaan terlahir dari rahimnya.


Ayah...


Tolong restui pernikahan kami. Maafkan kami yang tidak bisa menunggu lama kepulangan ayah dari berbagai negeri. Akan kuceritakan semua yang terjadi setelah ayah sampai di istana. Aku berjanji sebagai calon raja negeri ini.


Ayah...


Tolong jangan bertengkar lagi dengan ibu. Ibu sangat mencintai ayah, bahkan sebelum ayah menjadi raja. Begitu juga dengan calon menantumu. Dia sudah mencintaiku sebelum tahu jika aku pangeran negeri ini. Maka restuilah pernikahan kami.


Dari putramu,


Agartha


.........


Bulir-bulir air mata itupun menjadi saksi haru permintaan seorang anak kepada ayahnya. Sang raja sedang berada jauh dari negerinya. Amat tidak memungkinkan untuk pulang segera. Apalagi pesta pernikahan akan dilangsungkan esok hari.


Jauhnya jarak tidak memungkinkan sang raja untuk menghadiri pesta kecil pernikahan putranya. Pangeran berharap doa sang raja bisa menjadi bekalnya dalam menjalani biduk rumah tangga bersama Lily. Karena hanya itulah harapan pangeran saat ini.


Lily, aku sudah memercayakan sepenuhnya hatiku kepadamu. Tolong jangan kecewakan aku.


Dilipatnya surat itu lalu dimasukkannya ke dalam amplop. Pangeran Agartha menggulung surat itu lalu mengikatnya. Ia mengaitkan surat itu pada kalung burung merpati besar yang ada di sana. Pangeran Agartha meminta burung merpati mengantarkan suratnya.

__ADS_1


"Sampaikan salam rinduku kepada ayah dan ibu. Jangan kembali sebelum mendapatkan balasan surat, ya." Pangeran Agartha meminta. Ia mengusap kepala burung itu lalu menerbangkannya.


Burung putih besar itupun terbang tinggi dari jendela ruang kerja pangeran. Ia mengantarkan amanat dari calon rajanya untuk sang raja yang jauh di sana. Pangeran memercayakan burung merpati untuk menyampaikan salam rindunya. Ia berharap surat itu dapat segera mendapat balasan. Ia pun tersenyum setelah rasa haru menyelimuti hatinya.


__ADS_2