
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun bersama dengan sinar fajar menyapa. Keadaan langit masih gelap dan hanya bintang fajar saja yang terlihat. Lekas-lekas aku mandi lalu mengenakan baju terusan berwarna putih sebatas lutut. Kucuci semua pakaian kemarin dan sambil menunggu kubersihkan perabotan yang ada di apartemen ini, menyapu dan mengepel lantainya. Tak lama pekerjaanku pun selesai bersamaan dengan pakaian di mesin cuci yang telah siap untuk kujemur.
Kubawa keranjang cucianku ke teras luar apartemen. Dengan segera menjemurnya dan tak lupa menggunakan jepit agar pakaianku tidak lari terbawa angin. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja akhirnya aku bisa selesai menjemur pakaian ini. Setelahnya barulah ke dapur untuk membuatkan sarapan pagi.
Pagi ini aku berharap keadaan kami membaik dari hari-hari sebelumnya. Aku ingin sekali berbicara empat mata dengannya. Sungguh tidak enak rasanya jika didiamkan berhari-hari. Aku merasa semakin bersalah padanya, apalagi semalam dia pulang dalam keadaan mabuk.
Mungkin aku buat bubur ayam saja.
Kusiapkan semua bahan yang diperlukan untuk membuat bubur ayam spesial pagi ini. Mungkin menu sarapan pagi ini sedikit berbeda. Ya, aku memang lagi ingin saja membuatkannya bubur ayam. Siapa tahu dia menyukainya.
Menit demi menit pun berlalu. Tak terasa telah selesai membuatkan dua mangkuk bubur ayam untuk sarapan pagi. Segera kusajikan ke atas meja dan kulihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Bangunkan tidak, ya?"
Aku masih takut membangunkannya. Kucoba membuka pintu kamar lalu melihat keadaan tuanku di sana. Ternyata dia masih tertidur di kasurnya. Rasanya ingin sekali membangunkannya dan mengajaknya bercengkrama ria. Tapi sepertinya, aku belum bisa melakukannya sekarang. Dia mungkin masih marah padaku.
"Eh, ada laptop tidak terpakai?"
Tanpa sengaja aku melihat laptop di atas meja yang ada di depan pintu kamarnya. Sepertinya laptop ini jarang dipakai sehingga dibiarkan begitu saja. Aku jadi punya ide untuk mempergunakannya. Kali-kali saja bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari laptop ini. Tapi masalahnya, apakah tuanku memperbolehkan untuk mempergunakannya?
Tuan, bangunlah.
Kembali kutujukan pandangan kepada tuanku di kamar. Dengan ragu kulangkahkan kaki masuk dan mendekatinya. Kudengar dia mendengkur seperti lelah sekali. Tanpa sadar tanganku pun bergerak sendiri untuk mengusap kepalanya.
Tuan, seminggu ini pasti amat melelahkan bagimu. Katakan apa yang kau mau, aku akan melakukannya.
Rasa di hatiku ini semakin hari semakin bertambah. Seolah tidak peduli dengan status dan asalku dari mana. Tapi walaupun begitu aku harus tetap menjaga diri darinya. Aku tidak boleh membuatnya salah mengira akan kebaikanku. Karena bagaimanapun aku ini pekerjanya, bukan kekasihnya. Aku masih menyadari hal itu.
"Ara ...." Tiba-tiba dia mengucapkan namaku.
"Ya, Tuan?" Aku segera mendekat ke arahnya.
"Ara, kau jahat," katanya yang membuatku bingung.
"Tuan?"
Aku mencoba menepuk pelan pipinya, khawatir dia mengigau. Seketika itu juga aku menyadari sesuatu.
Astaga! Badannya panas?!
__ADS_1
Aku terkejut saat mengetahui suhu tubuhnya tinggi. Lekas-lekas aku mematikan AC lalu membuka jendela kamarnya agar dia mendapatkan angin alami. Aku juga bergegas keluar untuk mencarikan alat pengecek suhu tubuh. Setelah kudapatkan, kutempelkan di ketiaknya. Dan ternyata...
"Astaga! Empat puluh derajat?!!"
Aku panik mengetahui dia sedang demam. Lekas-lekas kuambilkan air hangat untuk mengompres dahinya. Tapi sepertinya, bukan hanya dahinya yang harus kukompres, melainkan seluruh tubuhnya.
"Ara ...."
Dia kemudian memanggil namaku kembali. Kulihat dia membuka kedua matanya perlahan.
"Tuan, Anda demam," kataku sambil meletakkan kompresan di dahinya.
"Ara ...."
"Ya, Tuan? Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?" tanyaku lembut.
Kulihat dia menggelengkan kepalanya.
"Biarkan aku mengurus Anda ya, Tuan. Tubuh Anda sedang demam," kataku lagi.
Dia hanya diam sambil menatapku, entah apa yang ada di pikirannya. Tapi kemudian dia beranjak bangun lalu membuang kompresan dariku.
"Tuan?!" Aku tak percaya jika dia secepat ini berubah.
Tuan ....
Entah mengapa hatiku terasa sakit sekali. Niat baikku dicampakkannya begitu saja. Dan tak lama kudengar dia menghidupkan shower airnya. Sepertinya dia sedang mandi sekarang.
Astaga, kenapa hatiku terasa sakit sekali ya?
Kucoba menarik napas panjang lalu mengambil kompresan yang jatuh di lantai. Aku berusaha sabar menghadapi tingkahnya yang menyakitkan. Mungkin dia benar-benar marah karena kuabaikan ajakannya. Tapi bukannya aku tak mau, melainkan khawatir jika hal ini hanya sesaat saja. Sedang aku ingin semuanya terjaga sampai akhir hayat.
Satu jam kemudian...
Selesai mandi tuanku kembali ke kamarnya. Dia tidak sarapan terlebih dahulu. Aku lalu berinisiatif membawakan semangkuk bubur untuknya. Tetapi sesampainya di dalam...
"Tuan, aku bawakan bubur untukmu. Makan, ya?" kataku seraya tersenyum padanya. Kulihat dia sedang mengotak-atik ponselnya sambil merebahkan punggung di kepala kasur.
"Aku tidak ingin makan," sahutnya tanpa melihat ke arahku.
"Tuan, nanti Anda sakit." Aku pun meletakkan bubur ini ke meja samping kasurnya.
__ADS_1
Dia lalu menoleh ke arahku. "Peduli apa kau padaku, Ara?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.
"Tuan, aku minta maaf kalau—"
"Kau tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah darimu." Dia mengalihkan pandangannya dariku.
Jujur aku bingung dengan sikapnya. Apa yang harus aku lakukan jika dia marah seperti ini? Otakku seolah tidak dapat berpikir saat menghadapi sikapnya. Aku takut salah bertindak malah akan membuatnya semakin marah.
"Baiklah, Tuan. Jika Anda tidak mau makan, aku akan tetap berada di sini," kataku lagi.
Dia lalu beranjak dari tempat tidurnya, mendekatiku. "Kau mengancamku?" tanyanya, kini kami saling berhadapan dan bertatapan muka.
"Tuan, aku tidak ada maksud untuk mengancammu. Aku hanya tidak ingin kau sakit," jawabku, menjelaskan padanya.
"Kau peduli padaku?" tanyanya lagi.
"Tuan ...." Aku bingung dengan pertanyaannya.
Kulihat dia menelan ludah saat menatapku, entah apa yang dia pikirkan. Dia kemudian pergi begitu saja, meninggalkanku di kamar. Seketika itu juga hatiku tidak tahan lagi dengan sikapnya. Segera aku keluar kamar lalu menghampirinya yang sedang duduk di teras luar apartemen.
"Tuan." Aku menyapanya.
Dia diam, tidak menghiraukanku sama sekali.
"Tuan, apa Anda marah karena waktu itu?" tanyaku padanya.
Dia masih diam.
"Tuan, maafkan aku. Aku hanya takut jika hal yang Anda katakan itu hanya gurauan semata," kataku lagi.
Dia masih juga diam.
"Tuan, sungguh aku tidak ada maksud mempermainkanmu. Apa yang terjadi murni karena suratan. Jika Anda marah padaku karena waktu itu, aku minta maaf. Dan jika Anda memang tidak menginginkan aku lagi di sini, maka aku akan pergi. Permisi."
Aku berbalik, membelakanginya. Aku tidak berharap lagi mendapatkan jawaban darinya. Rasanya ingin sekali menangis. Baru satu minggu bekerja sudah merasakan hal seperti ini. Aku lalu melangkahkan kaki, meninggalkannya. Bersamaan dengan itu, dia menahan tanganku.
"Duduklah," pintanya.
"Tuan?" Aku menoleh ke arahnya.
"Duduklah, Ara," pintanya lagi.
__ADS_1
Aku menurut. Aku duduk di kursi tunggal yang ada di sebelah kirinya. Wajahku pun masih tertunduk di hadapannya. Tidak berani melihat bagaimana rupanya yang indah. Aku pasrah jika hari ini dia akan mengakhiri pekerjaanku. Namun, jauh di dalam hati aku masih ingin bersamanya.