
Beberapa jam kemudian...
Acara syukuran akhirnya bisa segera dilaksanakan. Kami kembali memakai ballroom apartemen untuk acara ini. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Sesuai jadwal acara dimulai. Para tamu undangan pun telah memenuhi ruangan ini. Beberapa di antara mereka ada yang kukenal seperti El dan keluarganya. Teman suamiku di Dubai yang membawa serta semua keluarganya ke Turki. Senang rasanya bisa beramai-ramai seperti ini.
"Tu kan benar. Yang kemarin pura-pura menimang bayi, sekarang diberi sekali dua."
El mencandai suamiku. Keduanya tengah berdiri seraya berbincang. Sedang aku bersama istrinya mengobrol ringan seputar tumbuh kembang bayi. Aku menimang bayi laki-lakiku, sedang bayi perempuanku ditimang oleh istri El.
"Hah, ya. Terkadang sesuatu terjadi tanpa diduga sebelumnya. Aku tak menyangka jika akan dikaruniai buah hati sekali dua." Suamiku tampak bersuka cita.
"Kau dikaruniai sepasang anak, Rain. Tapi jangan menyamakan cara mendidik mereka. Laki-laki dan perempuan itu berbeda. Maka jadilah ayah yang bijaksana." El memberi saran kepada suamiku.
"Ya. Aku tahu. Doakan saja agar aku bisa menjadi ayah yang baik untuk mereka." Suamiku tersenyum bahagia.
"Kami akan selalu mendoakanmu. Semoga kita dalam keadaan sehat sehingga bisa bertemu kembali." El memeluk suamiku sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Terima kasih." Suamiku pun berucap terima kasih padanya.
Puji syukur kami panjatkan. Akhirnya apa yang dinanti bisa terlahir ke dunia. Rasanya seluruh sakit yang kurasakan hilang dan terlupa. Kini hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti hati dan pikiran. Dan aku berharap kebahagiaan ini akan selalu menyertai keluarga kecil kami. Semoga sebagai ibu aku juga bisa membesarkan anak-anakku dengan baik. Tentunya tidak terlepas dari dukungan suamiku. Aku berharap itu.
"Tuan, Nyonya. Mari kita berfoto bersama." Tim fotografer datang meminta kami berfoto bersama keluarga El. Kami pun memenuhinya.
"Baik. Sekarang Tuan dan Nyonya beserta kedua bayinya." Fotografer meminta lagi.
Bak devaju. Tim fotografer meminta kami berpose seperti saat kami sedang berpura-pura mempunyai bayi waktu itu. Rain memelukku dari belakang sambil mengecup keningku ini. Sedang kedua tangannya membantu menopang kedua bayi yang kutimang. Mesra sekali.
Tuhan, terima kasih. Segala puji bagi-MU. Setelah penantian panjang akhirnya bisa terwujudkan keinginan ini. Terima kasih Tuhan.
"Hadirin, dimohon untuk menempati kursi-kursi yang telah disediakan."
Pembawa acara mulai mengambil alih suasana ballroom. Aku dan suamiku pun duduk di depan panggung. Sesampainya di sana kulihat Kakek Ali tengah duduk bersama sesepuh kota ini. Aku pun memberi salam kepadanya.
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian...
Lincah, sehat dan lucu. Mungkin kata-kata itulah yang tepat untuk menggambarkan bayi kami. Kedua bayi kami sudah memasuki usia empat bulan hari ini. Senang rasanya melihat mereka dengan riangnya bermain di atas karpet tebal berbulu. Suamiku pun ikut bermain bersama mereka. Kadang tertawa, kadang menangis. Bertingkah lucu untuk membuat keduanya tertawa.
Saat ini aku sedang membuatkan susu untuk mereka. Tapi bukan berarti kulepas dari asi. Sebagai tambahan saja agar gizi mereka lebih tercukupi. Ibu juga membantu membuatkan tim untuk bayiku. Sejak usia tiga bulan, mereka sudah diberi makanan lunak ini dan itu. Kadang terbuat dari buah asli, kadang juga dicampur dengan nasi. Tim yang dibuat agar mereka lebih lincah lagi.
"Ayo, minum susu dulu." Aku pun membawakan dua botol susu untuk bayi-bayiku.
Suamiku berhenti bercanda dengan mereka saat aku datang membawakan susu. Dia segera membantu menelentangkan kedua bayi kami dengan bantal sebagai sandaran kepalanya. Satu per satu botol susu pun kuberikan. Tampak mereka yang semringah menerimanya. Sepertinya setelah bercanda dengan ayahnya, mereka amat kelelahan.
"Wah, haus ya anak ibu."
Aku mengusap kening mereka yang keringatan. Sedang suamiku menopang badan dengan satu tangannya sambil tidur miring menghadap kami. Dia pun memperhatikanku yang sedang duduk berlutut mengusap keringat mereka. Tak lama kemudian dia memegang wajahku. Aku pun menoleh ke arahnya.
"Sayang?" Aku merasa heran.
Dia tersenyum lalu bangkit, duduk di sampingku. Di saat itu juga dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya memegang tengkuk leherku ini lalu mencium bibirku. Ciuman hangat di pagi hari yang cerah. Jam di dinding pun seolah menjadi saksi kemesraan kami.
Tak tahu mengapa suamiku mengajak berciuman lebih intim lagi. Sudah lama sekali kami tidak seperti ini. Lidahnya menyapu bibirku dengan lembut. Seolah ingin membangkitkan gairah yang ada pada tubuhku. Aku pun mencoba menahannya agar tidak bertindak lebih lanjut lagi. Tapi, saat benang saliva itu terputus dari bibirku, kulihat tatapannya menyiratkan sesuatu. Dia seperti menginginkanku.
"Sayang, kau ingin?" tanyaku pelan.
Dia menatap lalu mencium keningku ini. Tanpa berkata apa-apa dia pun tersenyum padaku. Aku pun bingung harus bagaimana.
"Sayang—"
"Ara." Dia menyela perkataanku.
"Ya?" Aku menyahutinya.
"Jika aku ingin menambah dua atau tiga lagi, bisa?" tanyanya tiba-tiba.
__ADS_1
"Eh?!" Aku pun terkejut.
"Sebentar lagi ibu pulang dari pasar. Bagaimana jika kita membuatnya lagi?" tanyanya.
"Ap-apa?" Seketika itu juga aku menyadari apa maksudnya.
Bel apartemen berbunyi. Aku pun segera beranjak membukakan pintunya. Dan ternyata, ibu mertuaku lah yang datang. Dia membawa banyak sekali barang belanjaan. Kulihat Jack juga ikut membantunya.
"Ibu?" Aku menyapanya.
Ibu tersenyum lalu masuk ke apartemen.
Aku pun mempersilakan masuk untuk keduanya. Sedang suamiku datang mendekatiku yang berada di pintu. Dia lalu berkata kepada ibu. "Bu, Rain mau jalan-jalan bersama Ara. Bisa minta tolong jagain Ars dan Arsy sebentar?" tanyanya pada ibu.
Seketika aku menyadari jika ucapannya serius.
"Pergilah. Sudah lama juga kalian tidak keluar berdua. Biar ibu yang menjaga mereka." Ibu tampak tidak keberatan sama sekali.
"Jack, aku minta tetap stand by di sini ya. Temani ibu. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Suamiku berpesan kepada Jack.
"Baik, Tuan." Jack pun mengiyakan.
Tak tahu mengapa jantungku dag-dig-dug tak karuan. Suamiku pun segera menggandengku keluar dari apartemen ini. Dia sepertinya ingin mengajak ku pergi ke suatu tempat. Sedang anak-anak kami ditinggal bersama ibu dan Jack di apartemen. Suamiku memercayakan kepada mereka.
"Ayo, Sayang."
Aku pun diajaknya menuju lantai satu apartemen ini. Dan aku menurut tanpa melawannya. Biarlah dia membawaku ke mana. Toh, aku juga sudah menjadi istrinya.
Sayang, hari ini kau misterius sekali. Sebenarnya mau mengajak ku ke mana?
Tak tahu akan dibawa ke mana aku ini, aku menurut saja seraya menggandeng tangannya. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dan aku berharap perasaannya melebihi perasaanku ini. Dialah hujanku, Rain Sky.
__ADS_1