
Keduanya bak teman lama yang bertemu kembali. Mereka tampak dekat kali ini. Tidak lagi memandang kasta yang ada. Padahal sebelumnya Pangeran Agartha selalu saja menjaga wibawanya sebagai calon raja. Tapi kali ini sungguh berbeda.
"Aku akan mengatakan di mana ibumu berada. Tapi bisakah kau berjanji untuk tidak mendekati calon istriku?" Pangeran Agartha seperti ingin bergurau. Ia mengulangi perkataan sebelumnya.
"Astaga ...," Rain pun mengusap wajahnya. "Aku sudah punya istri, Pangeran. Dia juga sudah mencukupi kebutuhan lahir dan batinku. Apalagi yang harus kucari?" Rain tidak menyangka jika pangeran akan berkata seperti itu di tengah-tengah rasa sedihnya.
Pangeran Agartha tertawa kecil. Aura yang terpancar darinya bak seorang kakak mengayomi sang adik. Rain pun terpukau dengan sikap pangeran kali ini.
Tak kusangka dia bisa bercanda. Mungkinkah ini sifat asli dari dirinya?
Pangeran Agartha mengambil ranting kecil yang ada di dekatnya. Ia pandang ranting itu lalu melihat ke arah Rain yang duduk di sebelah kirinya. "Pernahkah kau bertemu dengan seorang ibu-ibu penjual roti di Negeri Utsmani?" tanya pangeran tiba-tiba.
"Utsmani?!" Rain tampak terkejut.
"Ya. Utsmani. Negeri yang menguasai sepertiga peradaban dunia pada masa itu. Entah apa namanya sekarang." Pangeran Agartha tidak tahu nama negeri itu sekarang.
Rain berpikir. Ia mengingat-ingat sesuatu. Tak lama kemudian ia pun tersentak. "Astaga! Jangan-jangan?!!" Ia merasa khawatir dengan ingatannya sendiri.
"Benar. Jika kau pernah menemuinya, itu adalah ibumu. Ibu kandungmu." Pangeran Agartha seolah menegaskan jika ibu Rain masih ada.
"Ya Tuhan ...." Rain pun memegangi kepalanya.
"Ibumu masih hidup. Namun, ayahmu sudah tiada." Pangeran Agartha menuturkan kembali.
Seketika bulir-bulir air mata Rain mulai menggenangi mata birunya. "Ayah ...?" Dia menoleh, melihat pangeran.
"Ayahmu dibunuh. Mungkin lebih tepatnya dia menjaga kehormatan negerinya dari para penjajah," kata pangeran lagi.
Seketika Rain tersentak hebat. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar penuturan pangeran. "Pangeran, bagaimana bisa Anda mengetahuinya?" Rain tak percaya.
Pangeran Agartha tersenyum. Ia melihat kekejauhan. "Sebenarnya cermin itu masih meneruskan kilas baliknya. Namun, kondisi jiwamu tidak mampu untuk melanjutkan penglihatan itu. Jadi aku yang melihatnya. Cermin itu menyorot di mana gerangan ibu dan ayahmu berada." Pangeran menuturkan.
Rain menelan ludahnya. Rasa takjub terbalut tak percaya bersemayam di dadanya kala ini. Ia tidak menyangka jika akan mengetahui masa lalunya dari cermin telaga seribu warna. Ia pun termenung dalam keterkejutannya.
__ADS_1
Ayah ... ternyata kau adalah seorang pahlawan. Rain merenungi ucapan pangeran.
"Doakan saja. Yang sudah tiada biarkan tenang di sisi-NYA. Kita yang masih hidup, jangan lupa untuk meneruskan perjuangannya." Pangeran menepuk pundak Rain.
Rain termenung. "Pangeran, bagaimana cara agar kami bisa segera kembali ke duniaku? Aku ingin menemui ibu dan menanyakan kebenarannya." Rain mengatakan seraya tertunduk di samping pangeran.
Pangeran menoleh, melihat Rain. Lalu kembali melihat kekejauhan. "Aku tidak mempunyai kemampuan untuk membuka portal dimensi. Kekuatanku hanya bisa digunakan di dunia ini. Sedang portal menghubungkan antara dua dunia. Aku tidak bisa melakukannya," jelas pangeran.
Rain mengangguk pelan. Ia mencoba mengerti.
"Tapi sepertinya kau tidak perlu merisaukan hal itu. Aku lihat istrimu mempunyai kekuatan untuk membuka portal kembali. Hanya saja seperti masih ada sesuatu yang harus dia selesaikan di sini. Entah apa," kata pangeran lagi.
"Begitu ...." Rain termenung. Ia terlihat pasrah.
Pangeran Agartha menepuk pundak Rain. "Baiklah. Urusanmu telah terpenuhi. Mari kita kembali ke istana." Pangeran mengajak Rain untuk segera kembali ke istana.
"Baik, Pangeran."
Rain amat berharap portal bisa secepatnya kembali terbuka sehingga ia dapat segera menemui ibunya. Rain amat merindukan ibunya.
Ya Tuhan, izinkan aku bertemu dengan ibu dan berbakti kepadanya. Aku amat rindu karena dialah yang telah melahirkanku.
Penguasa pertambangan minyak itu menatap langit yang tertutupi dedauan pepohonan besar. Ia tersenyum sambil berharap waktu itu akan segera datang. Waktu di mana ia bisa menemui ibunya dan berbakti kepada wanita tangguh yang telah melahirkannya ke dunia. Rain amat merindukan ibunya.
Sementara itu di istana, di dalam kamar Mile...
Mile memerintahkan beberapa orang pelayan untuk menjalankan aksinya. Ia memberi sekantong emas kepada setiap pelayan tersebut. Dua pelayan lelaki dan dua pelayan perempuan. Mile ingin segera menjalankan aksinya.
"Sisanya kuberikan jika sudah berhasil. Ingat! Jangan sampai bocor apapun yang terjadi. Kalian mengerti?!" Mile menegaskan.
"Baik, Putri." Keempat pelayan itupun menyanggupi.
"Bagus! Sekarang jalankan tugas kalian sebelum mereka kembali ke istana. Cepat!" Mile menyuruh pelayan-pelayan itu agar segera pergi dari kamarnya.
__ADS_1
Pelayan-pelayan itupun undur diri dari hadapan Mile. Mereka segera menjalankan tugas masing-masing. Mile pun merasa senang karena tak lama lagi rencananya akan segera dimulai.
"Hm, baiklah. Hari ini akan kudapatkan apa yang kumau. Kita lihat saja nanti."
Mile menyilangkan kedua tangan di dada. Ia tersenyum picik menanti kepulangan Rain dan pangeran ke istana. Ia telah mempersiapkan sesuatu untuk menjebak Rain ke dalam perangkapnya. Tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di padepokan Ara dan Rain...
Semilir angin terasa begitu sejuk. Aku pun kini sedang duduk bersila di teras belakang padepokan. Menghirup udara segar seraya melatih kekuatan alam bawah sadarku. Kunikmati suasana menjelang siang sambil menunggu suamiku pulang. Aku pun berulang kali mengambil napas dalam dan panjang. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja suasana sekitarku berubah. Aku seperti berada di tempat lain.
Di mana ini?
Kubuka perlahan kedua mata lalu kulihat suasana asri di depan pandangan mataku. Aku merasa pernah ke sini sebelumnya. Atau ini hanya mimpi?
Ini kan?!
Tak lama, buah berwarna ungu jatuh di depanku. Buahnya seperti tetesan air mata yang besar. Lambat laun aku pun menyadari di mana gerangan berada.
Astaga ini?!
Aku kembali berada di sebuah bukit yang dulu pernah kudatangi. Sebuah bukit di mana ada sebatang pohon besar lagi rimbun yang banyak sekali buahnya. Bukit ini dinamakan sebagai bukit pohon surga.
Aku kesasar lagi?!
Karena penasaran, aku beranjak bangun lalu mengambil buah yang jatuh itu. Kuambil lalu kutarik kedua sisinya dengan kedua tanganku. Alhasil aku bisa melihat isi dari buah ini. Dan ternyata isinya seperti warna pelangi. Sangat aneh, tapi itulah yang terjadi.
Serabutnya seperti warna pelangi yang memudar. Buah ini aneh sekali.
Aku pun ingin mencicipi buah ini. Buah tin masak yang menggoda selera untuk segera menyantapnya. Namun, baru saja ingin menyuap ke dalam mulut, tiba-tiba kudengar deru suara langkah kaki kuda yang mendekat. Segera saja aku bersembunyi di dalam pohon agar kehadiranku tidak diketahui. Lambat laun langkah kaki kuda itu pun kian mendekat.
Di-dia?!
Betapa terkejutnya aku saat melihat sesosok pria yang waktu itu pernah menahanku di dalam kamarnya. Dialah Rain yang katanya adalah pangeran negeri ini. Jubah kebesaran berwarna merah itu terlihat membalut tubuhnya. Di sisi kanannya pun terdapat pedang yang selalu dibawanya ke mana-mana. Mungkin itu memang atribut kerajaannya.
__ADS_1