Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Honey?!!


__ADS_3

"Tuan, kita belum lama mengenal satu sama lain. Apa kau yakin secepat ini?" tanyaku yang berusaha melepaskan diri darinya.


"Jadi kau ingin terjadi sesuatu sebelum pernikahan?" tanyanya lagi.


"Bu-bukan begitu. Tapi aku merasa ada hal janggal terjadi," jawabku sambil terus mencoba melepaskan lingkaran tangannya yang ada di perutku ini.


"Ara." Dia lalu membalikkan badanku, menghadapnya. "Pria dan wanita hidup dalam satu atap, tidak mungkin jika tidak terjadi apa-apa. Terlebih kita tidak mempunyai hubungan keluarga. Tidak bisakah mencobanya terlebih dahulu?" Dia menatap tajam kepadaku.


"Tuan, tapi aku tidak ingin sementara. Aku ingin selamanya. Pernikahan bukanlah permainan untuk memuaskan nafsu semata." Aku pun mulai mengutarakan isi pikiranku.


"Jadi kau ingin selamanya?" tanyanya lagi.


"He-em." Aku mengangguk.


Dia terdiam sejenak sambil mengatur ulang napasnya. Entah apa yang ada di pikirannya, aku tak tahu. Tapi kurasa dia tidak berani menjadikanku istri selamanya. Sejak awal dia hanya ingin menjadikanku istri kontraknya saja.


"Baiklah, aku menyanggupi." Tiba-tiba dia membuat pernyataan di luar perkiraanku.


"Tuan ...?"


"Kapan kau siap untuk menikah denganku? Satu hari? Dua hari?" tanyanya segera.


Ini seperti mimpi saja. Dia memintaku siap dalam hitungan hari. Bagaimana mungkin aku bisa mengambil keputusan penting hanya dalam hitungan hari? Sedang aku belum tahu siapa dia sebenarnya. Dan juga wanita yang waktu itu bergelayut manja padanya.


"Tuan, aku butuh beberapa bulan untuk berpikir. Bisakah Anda memberiku waktu?" tanyaku berhati-hati.


"Hitungan bulan? Tidak, Ara. Aku tidak bisa berlama-lama. Kuberi waktu satu bulan dari sekarang. Aku menunggu kepastian darimu." Dia menekanku.


"Tuan ...."


Aku tak tahu harus bagaimana, rasanya pusing sekali memikirkannya. Dalam waktu satu bulan aku harus membuat keputusan penting dalam hidupku. Sedangkan dia belum menyatakan cintanya sama sekali.


"Satu bulan, Ara. Dari sekarang."


Kulihat dia beranjak pergi meninggalkanku yang masih terpaku di dekat pintu. Seketika itu juga aku tersadar jika telah terjebak dalam cintanya. Rasa-rasanya ini memang perjalanan hidupku yang sesungguhnya.


Gelang ini telah mengantarkanku menemuinya. Apakah benar ini jalan hidupku?


Kupegang gelang yang ada di pergelangan tangan kananku. Gelang berbentuk huruf s yang tersambung-sambung. Seketika aku teringat dengan simbol kalung yang dipakai olehnya.


Apakah gelang ini ada kaitannya dengan kalungnya?


Tiba-tiba pikiranku tertuju kepada kalung yang dipakainya. Aku jadi penasaran dan ingin mengetahuinya sendiri. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa mendapatkan jawaban darinya.

__ADS_1


Setengah jam kemudian...


Entah mengapa tubuhku terasa lelah sekali. Rasanya habis bermain kejar-kejaran di pagi ini. Dan kini aku duduk di depan meja makan sambil menunggunya selesai mengenakan pakaian. Ternyata dia mempunyai pertemuan pukul delapan nanti. Untung saja aku membangunkannya. Kalau tidak, pastinya dia marah-marah karena tidak dibangunkan.


"Ara!!!" Dia berteriak memanggilku.


Segera aku berlari mendekatinya. "Ya, Tuan?" Kulihat dia melepas jas hitamnya.


"Ara, kenapa jas ini tidak kau buang saja?! Jas ini sudah kekecilan!" Dia memasang wajah kesalnya padaku lalu membanting jasnya ke kasur.


"Hah? Kekecilan?" Aku tak percaya jika ada jas kekecilan di lemarinya.


Segera kuambil jasnya lalu kulebarkan. Kulihat jas ini masih muat di badannya. Kucoba saja untuk memakaikannya.


"Tuan, aku pakaikan saja dulu, ya. Mungkin masih muat," kataku.


Dia mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya.


Kupakaikan jas hitam ini ke badannya. Memasukkan tangan kanannya terlebih dahulu lalu tangan kirinya. Kurapikan bagian depannya lalu kucoba untuk merapatkan kancing depannya. Dan ternyata, tidak kekecilan sama sekali. Masih muat di tubuhnya.


"Tuan, masih ... muat."


Kulihat wajahnya seperti tersenyum saat aku memakaikan jas ini. Namun, saat dia menyadari aku melihatnya, dia segera memasang wajah jutek kembali.


Tak habis pikir dengan sikapnya yang tidak mau berterus terang. Aku jadi kesal sendiri karena selalu dibuat serba salah olehnya.


"Tuan, apakah ada yang perlu kubantu lagi? Apa aku harus menyisir rambutmu juga?"


Kuambil sisir dari rak lalu mulai menyisir rambutnya. Hari ini kukerjakan semua saja agar dia tidak lagi berteriak-teriak memanggil namaku. Mungkin aku memang harus memahami sifatnya yang sungkan berterus terang.


Ya, sudah. Kubiarkan dia berkaca di depan cermin sedang aku menyisiri rambutnya. Tapi karena tinggi tubuhku hanya sebatas bahunya, aku jadi harus naik ke atas kasur agar bisa menyisiri rambutnya dengan benar. Dan kulihat dari pantulan cermin dia tersenyum-senyum sendiri.


"Sudah, Tuan? Apalagi? Pakai dasi, ya?"


Kuambil dasi lalu mulai memakaikannya tanpa diminta. Kali ini dia sedikit merendahkan tubuhnya agar aku bisa meraih lehernya. Dan akhirnya kami saling bertatapan wajah satu sama lain di depan cermin kamarnya. Tapi aku tak peduli, kukerjakan saja tugasku.


"Sudah." Aku tersenyum palsu padanya.


Dia pun ikut tersenyum padaku. "Sayang, terima kasih," ucapnya yang sontak membuatku terkejut.


Apa?! Dia menyebutku dengan kata sayang?


Tak kusangka jika dia akan menyebutku dengan sebutan sayang pagi ini. Rasanya seperti mimpi saja. Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar tadi.

__ADS_1


Tuan ....


Dia keluar kamar setelah mengambil kopernya lalu duduk di depan meja makan, bersiap untuk sarapan pagi. Sedang aku ... aku masih terpaku di depan cermin karena tak percaya dia menyebutku dengan kata sayang.


Hatiku ... astaga hatiku ....


Laju jantungku seakan melambat. Udara pun seolah ingin lari dariku. Aku seperti ingin pingsan saja. Tenagaku seakan hilang terbawa angin pagi yang masuk lewat jendela kamarnya.


Mungkinkah ini dari hatinya?


Tak tahu mengapa aku merasa bahagia sekaligus terkejut kala mendengar kata sayang darinya. Rasanya sampai tidak kuat untuk berjalan. Tapi, jauh di lubuk hatiku masih tersimpan kekhawatiran jika ini hanyalah gurauannya semata. Aku takut menjadi permainan cintanya sedang hatiku sudah penuh untuknya.


Ya Tuhan, apa dia benar-benar jodohku?


Kucoba menarik napas panjang untuk menetralkan perasaan gegap gempita di dalam hati. Kulangkahkan kaki keluar kamar lalu menemuinya yang sedang duduk di depan meja makan. Kami pun akhirnya sarapan pagi bersama dengan rasa dan suasana yang berbeda.


"Nanti aku akan pulang secepatnya. Kau tunggu di sini dan jangan ke mana-mana." Dia berpesan padaku.


"Baik." Aku pun mengiyakan sambil mengambilkan nasi untuknya.


"Jika ada kebutuhan bilang saja padaku, jangan merasa sungkan," katanya lagi.


"Iya." Aku menjawab singkat lalu menuangkan air minum untuknya.


"Hei, Ara! Tidak bisakah berlaku lembut kepada calon suamimu?" tanyanya yang membuatku hampir menyenggol gelas yang sedang kuisi air minum.


"Em, ba-baik ... sa-sa-sa ...."


"Sayang."


"Baik, Sayang." Aku mengikutinya.


"Begitu, lebih enak didengar." Dia mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya.


Jujur aku masih kaku, ragu dan bimbang. Haruskah aku pergi ke paranormal untuk mengetahui isi hatinya? Sungguh aku takut salah langkah. Aku tidak mau jika hanya menjadi mainannya semata.


"Jangan nakal di saat aku tidak ada." Dia meneguk air minumnya.


Aku tersenyum sambil menggembungkan kedua pipi. Seketika itu juga dia mencubit pipiku ini. Mungkin dia gemas dengan pipi tembamku. Entah apa yang ada di pikirannya, melihat bola matanya saja aku seperti tak berdaya.


Inikah rasanya jatuh cinta?


Aku ingin sekali mendengar pernyataan cinta darinya sebagai tanda keseriusan. Tapi, bisakah dia mengatakannya secara langsung dan dari hati?

__ADS_1


__ADS_2