
Tuanku berjalan semakin mendekat ke arahku. Aku pun menutupi dada ini dengan menyilangkan kedua tangan agar tidak terlihat olehnya. Aku takut, takut sesuatu terjadi dan tak terkendali. Sedang kami belum ada ikatan resmi.
"Kau mandi sendiri di sini?" tanyanya dengan kedua tangan di tepi bathtub.
"Tu-tuan, bagaimana Anda bisa masuk sedang kamar mandi sudah kukunci?" tanyaku lalu membelakanginya.
Dia tersenyum kecil lalu melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh. "Ini apartemen milikku. Tidak sulit bagiku membuka yang terkunci," katanya lalu memegang kedua lenganku.
Sontak tubuhku merinding karena perbuatannya.
"Ara." Dia membalikkan tubuhku ke arahnya.
"Tuan?"
Kami saling bertatapan, mata tajamnya seperti menginginkan sesuatu dariku. Dia juga merapikan poni ini dengan jemari tangannya. Seketika aku memejamkan mata saat terkena sentuhannya.
"Kita menikah saja, Ara. Bukankah itu lebih baik?"
Apa?!!!
Sontak kedua mataku terbelalak mendengar perkataannya. Ini amat mustahil terjadi pada kami. Baru saja hitungan hari bertemu, tapi dia sudah mengajak ku menikah.
"Tuan, apa Anda sedang mabuk?" tanyaku pelan.
"Mabuk?" Dia seperti berpikir sejenak. "Di sini aku tidak bisa mabuk, Ara. Cuaca amat panas, bagaimana bisa aku mabuk? Mungkin jika di negaraku bisa," katanya lalu mulai menelusuri lenganku.
"Tuan, jangan!"
Aku segera berdiri dari bathtub saat jari-jemarinya mulai menelusuri lenganku. Aku merasa geli mendapat sentuhan seperti ini. Namun, sepertinya aku tidak bisa kabur begitu saja.
"Kau berniat pergi lagi?" tanyanya yang menghadangku.
"Tuan, Anda mau mandi, bukan? Anda saja dulu, aku belakangan," kataku lalu melewatinya.
__ADS_1
"Ara!" Dia menahan lenganku. "Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa menghindar dariku?" tanyanya yang membuatku bingung untuk menjawab apa.
"Tuan, ini tidak baik untuk kita. Maaf." Aku menoleh ke arahnya lalu melepaskan tangannya.
"Ara ...."
Kudengar dia menyebut pelan namaku. Tapi aku tidak peduli, aku terus saja berjalan keluar kamar mandi. Dan sepertinya dia terdiam dengan perkataanku ini.
Astaga ... jika setiap hari melihat tubuhnya terbuka, lama-lama aku bisa pusing sendiri.
Kututup pintu kamar mandi lalu bergegas mengenakan pakaian. Sengaja kupakai daster berlengan pendek agar memudahkan aktivitasku selanjutnya. Dan selama menunggu dia keluar kamar mandi, kusantap saja makanan yang telah dia belikan.
Apakah dia benar-benar ingin menikahiku?
Sungguh aku masih tidak percaya jika dia akan secepat ini ingin menikahiku. Rasa-rasanya seperti mimpi yang amat jarang terjadi. Entah mengapa hatiku gundah-gulana saat mengingat kata-kata itu. Sudah dua kali dia ingin menjadikanku istri, dua kali juga aku tidak menghiraukan perkataannya. Bukannya tidak mau, tapi takut jika ini hanya hasratnya sesaat. Sedang aku menginginkan pernikahan kami abadi.
Tuan, maafkan aku. Aku tidak ingin terburu-buru menanggapinya. Aku takut kecewa. Aku belum pernah menjalin kasih sejak SMA. Aku juga bukan gadis kaya. Kau membutuhkan banyak pertimbangan untuk menjadikanku seorang istri.
Semilir angin siang menemaniku yang sedang makan di depan meja makan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya di dalam kamar mandi, aku berusaha untuk tidak peduli. Aku hanya mengerjakan pekerjaanku saja selayaknya perjanjian kami.
Waktu terus berjalan tanpa henti. Dan hari ini tepat seminggu aku berada di sini. Di sebuah kota mewah yang baru kujumpai. Tempat di mana kisah cintaku dimulai dan bersemi.
Hari-hari kujalani seperti biasa sebagai seorang pembantu pria tampan nan kaya. Bangun pagi hari, mencuci pakaiannya dan menyiapkan segala keperluannya untuk bekerja. Hari-hari kunikmati dengan syukur tiada terkira karena diberi anugerah seperti ini. Dimana aku bisa bekerja dan berjumpa dengan seseorang yang kuidamkan sedari dulu. Seseorang layaknya pangeran yang menolongku dari penderitaan hidup ini. Dialah tuanku sendiri, Rain.
Beberapa hari sejak kejadian di kamar mandi itu tuanku berubah sikap. Dia kembali dingin dan berbicara seperlunya saja. Bahkan jam makan siang dia pun tak pulang. Seharian aku hanya mengerjakan pekerjaanku tanpa melihatnya. Beberapa hari ini juga dia pulang saat aku telah tertidur. Jadi kami amat jarang berinteraksi.
Sejujurnya aku merasa bersalah dengan perubahan sikapnya. Harusnya aku segera menjawab ajakannya yang ingin menikah. Tapi, aku malah mengabaikannya seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena hal itu dia bersikap dingin kepadaku.
"Hah ... sudah pukul sepuluh malam dia belum pulang juga."
Hari ini hari sabtu. Harusnya tuanku sudah pulang sedari petang. Tapi rupanya sampai jam sepuluh malam dia belum juga kembali. Aku jadi gelisah jika lama-lama seperti ini.
Tuan, kenapa kau belum pulang?
__ADS_1
Rasanya sedih jika tidak dianggap. Mungkin seperti inilah perasaannya saat tak kuhiraukan. Kini aku berdiri seraya memandangi kota dari teras luar apartemen. Aku masih menunggunya pulang malam ini. Aku ingin berbicara padanya.
Kenapa aku galau sendiri ya?
Kupegang erat-erat mantel wolku agar tidak diterjang dinginnya malam. Sedari tadi aku memang mengenakan mantel musim dingin dan juga celana panjang berdasar tebal. Ternyata jika malam di sini amat dingin sekali. Tak lupa kukenakan kaus kaki agar kakiku tidak membeku karena terkena udara dingin.
Apakah itu tuanku?!
Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Segera aku berlari menuju pintu untuk membukakannya. Dan ternyata...
"Astaga!" Kulihat tuanku dipapah oleh Jack.
"Nona, tuan Rain mabuk." Jack memberi tahuku.
"Jack, tolong cepat bawa masuk tuan ke kamarnya," pintaku pada Jack.
Jack mengangguk. Dia segera membawa tuanku masuk ke dalam kamar. Lalu setelahnya ... dia segera berpamitan.
"Nona, saya kira tuan Rain membutuhkan Nona. Saya permisi." Jack berpamitan setelah merebahkan tuanku di kasur.
"Tapi, Jack—" Aku berusaha menahan kepergiannya.
"Nona tidak perlu khawatir. Tuan Rain hanya mabuk. Saya permisi, Nona. Sudah malam." Jack benar-benar berpamitan padaku.
Mau tak mau aku pun mengiyakannya. Jack akhirnya meninggalkanku bersama tuannya yang sedang mabuk. Dia keluar dari apartemen dan aku pun lekas-lekas mengunci pintu dari dalam. Lalu kemudian menuju tuanku di kamar.
"Tuan ...."
Aku segera duduk di pinggir kasur sambil mengusap wajahnya. Tuanku benar-benar mabuk malam ini. Dia meracau tak jelas dan hampir tak terdengar. Aku pun segera melepaskan sepatu dan kaus kakinya.
Apakah dia mabuk karenaku?
Cepat-cepat aku mengambil air hangat lalu mengompres wajahnya agar bersih. Aku juga membawakan susu penetral tubuh untuknya. Melihatnya tak berdaya seperti ini membuatku merasa kasihan sendiri. Entah mengapa jiwa keibuanku muncul di hadapannya.
__ADS_1
Tuan, lekaslah tersadar.
Tak dapat kupungkiri jika aku menyukainya. Dan malam ini rasa sukaku bertambah menjadi sayang. Ya, aku menyayanginya. Tapi apakah dia juga menyayangiku? Aku tidak tahu. Aku berharap dia baik-baik saja dan selalu bahagia di manapun berada.