
Api asmara telah berkobar, bahtera rumah tangga ingin segera dilabuhkan. Lalu apa lagi yang harus ditunggu jika dua hati telah saling berpadu?
Rain berlalu dari hadapan Ara menuju lift yang ada di sudut apartemen. Jack pun bersama Rain segera masuk ke dalam lift. Tak lama sang penguasa hilang dari pandangan mata sang gadis.
Hati-hati, tuan. Doaku selalu menyertaimu.
Ara menyadari jika pekerjaan Rain mempunyai risiko yang tinggi. Sebisa mungkin ia tidak menambah beban pikiran sang tuan dengan ulahnya yang masih terbawa masa remaja. Ia bersikap keibuan agar Rain merasa tenang bersamanya. Dan kini Ara mulai menyadari jika Rain memang membutuhkan sosok wanita yang keibuan.
Kenapa semakin mendekati hari kepastian aku semakin khawatir, ya?
Sang gadis segera kembali masuk ke dalam apartemen. Ia mempersiapkan diri untuk kuliah hari ini, bergegas mandi dan menyiapkan keperluan kuliahnya. Sedang Rain...
"Apa terjadi sesuatu, Tuan?"
Jack mulai melajukan mobilnya menuju kantor Rain. Ia melihat sang tuan termenung sejak tadi.
"Em, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya mungkin karena baru pertama kali merasakan hal seperti ini." Rain membenarkan posisi duduknya yang sedari tadi menyandar di sisi mobil.
"Apakah Tuan sudah menemukan kepastian di dalam hati?" tanya Jack lagi.
"Ya, sepertinya begitu. Aku sendiri masih sulit mengungkapkannya." Rain menceritakan.
"Mungkin waktunya memang belum tepat, Tuan. Semua membutuhkan proses. Saya yakin suatu hari Tuan akan tanpa ragu mengucapkannya." Jack meyakinkan.
"Aku berharap begitu. Aku harap dia mau bersabar menunggu," kata Rain lagi.
"Semoga akan ada kabar baik ke depannya." Jack pun mendoakan.
"Ya, terima kasih."
Rain tersenyum kecil kepada Jack yang sedang menyupir di depan. Tak dapat ia pungkiri jika sesuatu telah terjadi pada dirinya semenjak kedatangan Ara. Tanah yang tandus seolah-olah mendapatkan hujan yang amat deras. Bunga-bunga mulai bermekaran dan tumbuhan meninggi dengan lebatnya. Kesepian dan kesendirian mulai terisi oleh sosok gadis yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Ialah Ara, gadis penerima anugerah dari Tuhan.
Anugerah melewati pintu lipatan bumi membuatnya bisa sampai ke tempat tujuan. Bertemu dengan seorang pangeran tampan lagi dermawan. Tapi bagaimana jika sang pangeran ternyata benar-benar mencintainya? Maka mana lagi nikmat Tuhan yang kamu dustakan?
Sesampainya di kantor...
Jack berpamitan setelah mengantarkan Rain sampai ke depan pintu ruangan. Sedang Rain segera masuk ke dalam ruang kerjanya yang besar. Namun, pagi ini di ruangannya ternyata sudah ada yang datang.
"Astaga!" Rain kaget sendiri saat melihat sosok berpakaian serba putih sedang berdiri di dekat jendela kaca ruangannya.
__ADS_1
"Hai, Rain. Aku sudah datang," sapa sosok itu.
"Byrne, kenapa tidak menghubungiku dulu jika datang sepagi ini?" Rain berjalan menuju meja kerjanya, di mana Byrne tidak berada jauh dari sana.
"Hahaha, maaf. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mendengarkan curhatanmu. Jadwalku sangat padat, jadi bisanya datang pagi." Byrne ikut duduk bersama Rain.
"Hah ... entahlah." Rain lalu menelepon bagian restoran, ia memesan sesuatu.
Gelagatnya mencurigakan. Sebenarnya ada apa?
Pria berseragam putih itu melihat Rain tampak berbeda hari ini. Rain kelihatan kurang bergairah, tidak seperti hari-hari sebelumnya saat mereka berjumpa.
"Lalu apa yang mau kau ceritakan?" tanya Byrne setelah Rain selesai menelepon.
Rain terdiam sejenak. Byrne pun menunggu. Detik demi detik mereka lalui dengan tanpa kata. Rain seperti sulit mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, sedang Byrne masih menunggu.
"Tuan, saya bawakan pesanan Anda." Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
"Masuk!" Rain pun mempersilakan masuk.
Seorang office boy mengantarkan pesanan Rain menggunakan meja dorong. Ia membawa pesanan itu dengan amat hati-hati.
"Silakan, Tuan. Semua sudah tersedia di sini." Office boy itu mempersilakan.
Office boy itu segera berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya. Ia meninggalkan ruangan, menutup pintu pelan-pelan agar tidak memunculkan salah paham. Pagi ini raut wajah sang bos besar di matanya tampak berbeda.
"Hei, boleh aku meminum tehnya? Aku sudah haus."
Karena tak kunjung ditawarkan, akhirnya Byrne meminta izin untuk meneguk teh yang sudah disajikan. Byrne pun lekas-lekas meminum teh itu di depan Rain.
"Aku ingin menikah, Byrne," kata Rain tiba-tiba.
Seketika itu juga Byrne menyemburkan teh yang sedang diminumnya. "Ap-apa?!" Byrne amat terkejut, hampir saja ia tersedak tehnya sendiri.
"Kau ini!" Rain dengan cepat mengambil tutup saji pesanannya sebelum terkena semburan dari Byrne.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja."
Byrne bersikap biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia segera mengambil tisu lalu mengelap wajah dan jasnya yang terkena teh.
__ADS_1
"Sekalian mejaku! Kau ini mengotori saja." Rain menaruh kembali tutup saji ke tempatnya.
Byrne menurut, ia mengelap meja Rain dengan tisu yang ada. Bak seorang pembantu kepada majikannya.
Hah, dia selalu saja ingin dituruti. Byrne mengeluhkan sikap saudaranya sendiri.
Setelah selesai membersihkan meja kerja Rain, Byrne kembali menanyakan perihal yang tadi Rain ucapkan. "Tadi kau berkata apa? Aku seperti salah mendengar," tanya Byrne lagi.
"Aku ingin menikah," kata Rain dengan roman wajah datar.
"Hah?! apa kau sedang mabuk?" Byrne tak percaya.
"Aku rasa aku baik-baik saja. Hanya hasratku yang tidak lagi bisa menunggu lama," jawab Rain lalu ikut meneguk tehnya sendiri.
"Maksudmu menginginkan hubungan itu?" tanya Byrne memastikan.
"Ya, tapi bukan hanya sekedar itu. Aku ingin membesarkan anakku sendiri." Rain meletakkan cangkir tehnya kembali.
"Tapi, bukannya kau sedang bertugas di sini?" Byrne sedikit ragu.
"Nanti aku akan bilang ke kakek. Saat ini aku hanya ingin menikah saja." Rain mengungkapkan isi hatinya.
"Dengan gadis yang waktu itu kau ceritakan?" Byrne curiga.
"Hm, ya." Rain mengakui.
"Astaga! Secepat ini?!!"
Byrne tak percaya. Ia membelalakkan kedua matanya. Hampir-hampir saja ia melompat dari kursi yang diduduki. Setahunya Rain belum pernah seserius ini.
"Masih ada yang lebih cepat dariku, Byrne! Biasa saja." Rain merasa kesal melihat Byrne.
Byrne terkejut bukan main dengan pengakuan saudaranya yang ingin menikah. Hampir-hampir saja ia menelan cangkir tehnya sendiri karena tak percaya. Dan kini ia berpikir cepat untuk menanggapi curhatan sang hujan.
"Kalau sudah tidak dapat menahan hasratmu, kau bisa memilih wanita mana yang kau mau. Itu mudah bagimu, bukan?" Byrne mencoba mengetahui seberapa besar keyakinan Rain terhadap keinginannya untuk menikah.
"Jika hanya sebatas itu, kenapa saat di USA aku tidak melakukannya? Kau pikir aku ini pria murahan apa?!" Rain kesal sendiri.
"Hah, ya. Aku masih tidak percaya. Padahal baru dua minggu yang lalu mendengar kau bertemu dengannya." Byrne memijat kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti. Tubuhku bereaksi jika berada dekat dengannya. Dia seperti magnet yang menarikku."
"Bagaimana jika dengan Jane?" Byrne menyela.