Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Found You


__ADS_3

"Iya-iya. Maaf." Akhirnya aku yang meminta maaf padanya.


Rainku tersenyum. "Jangan maaf saja. Tapi cium juga," katanya sambil menunjuk bibir tipisnya itu.


Aku jadi merasa geli, namun berusaha memahami sifatnya. "Baiklah." Kuputar tubuhku menghadapnya lalu segera mendekatkan wajahku untuk menciumnya. Saat itu juga kulihat dia tersenyum manis padaku. Aku pun semakin mendekatkan wajahku ini. Namun...


"Uhuk! Uhuk!"


Saat itu juga kudengar suara orang yang batuk tak jauh dari kami. Sepertinya dia tidak ingin kami melanjutkan ciuman ini. Aku pun tidak jadi mencium suamiku. Aku menoleh untuk melihat siapa gerangan yang batuk. Dan ternyata, kulihat jika Pangeran Agartha lah yang datang.


"Astaga!" Seketika aku merona malu karenanya.


"Pangeran?" Suamiku berdiri, menyambut kedatangannya. Sepertinya dia juga baru tersadar jika Pangeran Agartha lah yang datang.


"Tak apa duduk saja. Maaf membuat kalian menunggu." Pangeran menuturkan.


"Tidak apa-apa, Pangeran. Kami juga tidak merasa keberatan," terang suamiku.


Pangeran Agartha tersenyum. Dia kemudian beralih kepadaku. "Bagaimana keadaanmu Nona Ara?" tanyanya padaku.


Aku hanya bisa mengangguk pelan di hadapannya yang masih berdiri di hadapan kami. Aku masih malu untuk menjawabnya karena kepergok tadi.


"Syukurlah. Kalau begitu kita bisa segera memulai pembicaraan ini." Dia ingin mengetahui apa yang terjadi tadi.


Aku mengangguk. Bersamaan dengan itu Rain menggenggam erat tanganku. Seperti memberi kekuatan agar tidak takut untuk menceritakannya. Karena tadi pangeran tampak ingin tahu apa yang terjadi padaku. Namun, karena ada tamu yang datang, dia harus meninggalkan kami sejenak. Dan kini saatnya bagiku untuk menceritakan apa yang kualami. Semoga saja dia bisa mengerti dan memahami kejadian ini.


Ara akan menceritakan kejadian apa saja yang ia alami saat jatuh pingsan tadi. Yang mana Pangeran Agartha sangat antusias untuk mengetahuinya. Ara pun tampak tidak keberatan untuk menceritakan. Ditemani sang suami tercinta, ia mulai mengungkapkan apa saja yang ia lewati tadi. Menit demi menit pun terus berganti. Hingga akhirnya Pangeran Agartha terbelalak kaget dengan apa yang ia dengar. Ia tak percaya jika akan mendengar semua itu dari Ara.


Di ruang bawah tanah istana...


Langkah kami terdengar memburu, menuju ruang bawah tanah istana ini. Aku pun dengan sekuat tenaga mengikuti sosok pangeran yang ada di depanku. Tak lama kemudian, kami berhasil sampai di depan pintu tujuan. Pangeran Agartha pun segera meminta penjaga untuk membukakannya.


Ini?!

__ADS_1


Aku terkejut. Kulihat ada pintu masuk menuju sebuah ruang bawah tanah di istana ini. Sungguh masih tak percaya jika akan melihatnya sendiri. Pintu masuknya berada tak jauh dari padepokanku. Mungkin hanya berjarak sekitar beberapa ratus meter saja. Lantas aku pun segera masuk, mengikuti ke mana langkah kaki pangeran pergi. Sedang suamiku berada di belakang, menjagaku agar tidak sampai terjatuh lagi.


Ternyata benar apa yang kulihat.


Sesampainya di ruang bawah tanah, kulihat ada seorang prajurit yang berjaga. Tepatnya beberapa langkah dari tangga masuk ke ruang ini.


"Pangeran."


Seorang prajurit menyambut kedatangan pangeran. Dia terlihat amat patuh kepada calon rajanya. Kulihat di tangannya memegang beberapa kunci. Mungkin dialah pemegang kunci ruang bawah tanah ini.


"Di mana Lily? Di mana gadis bergaun putih yang kalian sembunyikan?!" Tiba-tiba pangeran bertanya seperti itu. Dia tampak tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Gadis bergaun putih?! Prajurit penjaga tampak kebingungan.


Pangeran terlihat kesal karena prajurit itu seperti tidak tahu apa yang dimaksudkan olehnya. "Cepat ikut aku!" katanya kepada prajurit itu.


"Baik Pangeran."


Ternyata ruangannya banyak sekali.


Kami pun ditinggalkannya. Dia terlihat amat tergesa-gesa untuk segera bertemu dengan Lily. Aku pun bersama suamiku ikut membantu mencari.


"Sayang, ada banyak lorong di sini." Aku berhenti sejenak saat tiba di perempatan lorong ruang bawah tanah ini.


Suamiku memutar badannya, melihat keadaan sekitar. "Apa kau masih ingat di mana ruangannya?" tanyanya padaku.


Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu ada di mana pastinya. Tapi sepertinya tidak jauh dari tangga." Aku berusaha mengingat kembali penglihatanku.


Suamiku mengangguk. "Apa mungkin sudah dipindahkan, ya?" Dia tiba-tiba mempunyai firasat seperti itu. Raut wajahnya terlihat amat berempati. "Kita harus cepat menemukannya. Sebagai lelaki, aku bisa merasakan apa yang pangeran rasakan. Pastinya pangeran ingin cepat bertemu dengan gadis yang dicintainya," lanjut suamiku.


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Bagaimana kalau kita berpencar, Sayang? Apa kau berani?" tanyanya padaku.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Melihat keadaan sekeliling cahaya lampunya temaram, aku jadi takut sendiri.


"Begini saja. Aku ke kiri dan kau ke kanan mengikuti pangeran. Bagaimana?" tanyanya lagi.


"Baik." Aku pun akhirnya menurut. Namun, saat itu juga...


"Lily ...!!!"


Kudengar jerit suara pangeran berteriak di lorong yang ada di sebelah kananku. Aku dan suamiku pun terkejut. Menduga-duga sesuatu sedang terjadi di sana. Lekas saja kami menuju ke asal suara itu.


Jangan-jangan?!


Tak mau berburuk sangka, kami segera menuju tempat di mana pangeran berada. Mencari di ruang mana Lily sebenarnya disembunyikan. Dan tak lama kemudian, kami melihat pangeran sedang duduk sambil memeluk tubuh seorang wanita. Tidak salah lagi jika itu adalah Lily.


"Lily, bangun Lily. Kumohon bangunlah ...."


Kudengar suara pangeran terisak. Dia seperti menahan kuat-kuat tangisnya. Aku dan suamiku pun saling melihat satu sama lain. Kami kemudian berjalan mendekati pangeran di salah satu ruang tahanan bawah istana. Dan saat kami masuk ke dalam, betapa teririsnya hati kami. Ternyata banyak luka gores di tubuh gadis itu.


Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?


Aku seperti tak sanggup melihatnya. Lantas segera kubalikkan badan ini lalu merebahkan diri di dada suamiku. Tak tega melihat kondisi gadis yang pangeran cintai. Tidak ada kasur ataupun alas di dalam ruangannya. Hanya ada bekas nasi yang sudah membusuk dan juga gelas plastik yang sudah berlumut. Sepertinya putri itu memperlakukan Lily dengan amat buruk.


"Lily, bangun. Lily!"


Kudengar pangeran masih berusaha untuk membangunkan Lily. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Lily. Apakah dia pingsan atau sudah tiada? Aku tidak berani bertanya. Hatiku sakit melihat keadaannya. Mulutku pun seakan tidak mampu berkata.


"Sayang, tenanglah."


Untung saja aku memiliki suami yang amat pengertian. Dia dapat merasakan suasana hatiku sekarang. Jika tidak, aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin akan kupendam sendiri kesedihan ini.


Tega sekali putri itu memperlakukan Lily.


Kepedihan yang Lily rasakan seperti bisa kurasakan juga. Menurutku, baik pangeran atau Lily, mereka sama-sama saling mencintai. Terbukti dengan keduanya saling menerima kehadiran masing-masing. Jadi tak pantas jika menyingkirkan salah satunya agar tidak bersatu. Karena hanya setan lah yang tidak menyukai sepasang insan mempunyai ikatan restu. Bukankah begitu?

__ADS_1


__ADS_2