Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Action!


__ADS_3

Sementara itu...


Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari seberang jalan kampus. Seorang pria berjaket hitam dengan kaca mata dan juga masker hitam. Ia lalu menelepon seseorang untuk memberi tahu situasi yang ada.


"Halo, Nona Jane." Dia menyebut nama Jane di telepon itu.


"Aku ada kabar untukmu. Tuan Rain mengantarkan target ke kampusnya." Dia menyampaikan informasi yang didapat.


"Baiklah. Aku akan menemuimu. Sampai nanti." Dia lalu menutup teleponnya.


Pria berjaket hitam itu lalu melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Ia tinggalkan situasi yang ada di hadapannya. Ia ingin melaporkan lebih jelas apa yang didapat.


Ialah Nail, seorang pria yang diminta Jane untuk mencelakai Ara. Nail lalu membuka penutup kepalanya, kaca mata lalu maskernya saat situasi sudah aman. Terlihat wajah bengisnya sebagai seorang penjahat yang bergerak dalam senyap. Nail sudah lama melakukan pekerjaan ini demi lembaran dolar yang ia terima. Tanpa peduli bagaimana jika hal itu berbalik kepada keluarganya.


Di kampus...


Ara tiba di gedung pertunjukan kampus. Ia melihat sudah ada peserta lain yang hadir di sana. Belum terlalu ramai, tapi dua orang juri sudah duduk di depan panggung untuk menilai kecocokan mahasiswi kampus memerankan tokoh Cinderella. Karena mereka juga tidak mau sembarang memberikan peran kepada yang bukan ahlinya. Dan hari ini Ara akan bersaing dengan dua puluh satu finalis lainnya.


Ara duduk di sisi kanan panggung bersama yang lain. Sampai akhirnya semua finalis hadir dalam seleksi akhir hari ini. Ketua panitia pelaksana pun menghampiri para finalis lalu meminta mereka mengambil nomor urut yang ada di dalam toples. Dan akhirnya gadis kepunyaan Rain mendapatkan nomor urutnya. Ia melihat nomor urut yang didapat lalu diketahui olehnya urutan ke berapa ia akan audisi.


Astaga ... kenapa urutan terakhir?


Ara tak menyangka jika akan mendapatkan nomor urut terakhir, padahal ia mengambil di awal. Ia lantas berpikir apa yang harus dilakukan agar bisa berhasil memerankan tokoh Cinderella. Dan akhirnya acara audisi pun dimulai setelah seseorang yang pernah dilihatnya datang. Ialah Owdie, tamu kehormatan kampus ini.


Di-dia?!


Sang gadis terkejut melihat kedatangan Owdie di tengah-tengah juri yang ada di depan panggung. Namun, Owdie belum melihat Ara karena Ara berada di tengah-tengah peserta lain yang menunggu giliran audisi. Dan tak lama banyak yang berdatangan ke gedung teater ini. Tak terkecuali Lee yang ingin melihat Ara. Taka bersama kedua temannya pun ikut hadir untuk melihat cikal bakal aktris dari kampus. Mereka duduk berjauhan dengan Lee sehingga Lee tidak menyadari jika Taka bersama temannya juga ikut hadir.


Aku datang, Ara.


Pria berkemeja abu-abu itu duduk di kursi barisan ke lima dari depan. Ia datang dan duduk seorang diri di kursi sebelah kanan panggung. Tempat di mana ia bisa melihat Ara dengan jelas dari samping. Ia lantas mengeluarkan ponselnya untuk merekam Ara yang sedang menunggu giliran audisi. Ia menantikan hal apa yang akan Ara berikan agar berhasil memerankan tokoh utama dalam cerita kali ini.

__ADS_1


Dua jam kemudian, pukul sebelas siang waktu Dubai dan sekitarnya...


Kini tiba waktunya bagi Ara untuk menunjukkan bakat terpendamnya. Ia dipanggil oleh ketua panitia untuk berdiri di atas panggung dan memperkenalkan diri di hadapan keempat dewan juri yang salah satunya adalah Owdie. Sontak pria bersweter hitam itu terbelalak kaget melihat Ara ada di atas panggung.


"Selamat siang, perkenalkan nama saya Ara."


Ara membungkukkan badannya ke arah dewan juri yang hadir. Ia juga melihat Owdie di sana, tapi Ara biasa saja.


"Dari fakultas mana?" tanya seorang juri.


"Fakultas Bisnis Manajemen, semester satu," jawab Ara seraya tersenyum.


"Oh." Juri itu hanya berkata oh.


Owdie memperhatikan bagaimana sikap Ara di atas panggung. Ia mengeluarkan ponsel lalu mengetik sesuatu untuk dikirimkan kepada Rain. Tanpa Owdie ketahui jika ponsel pintar Rain ada di Ara.


"Kenapa kami harus memilihmu sebagai tokoh utama dalam peran ini?" Juri lain bertanya kepada Ara.


"Mohon maaf, tidak ada paksaan untuk memilih saya menjadi tokoh utama di peran ini. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik." Ara bermain kata-kata dalam menjawab pertanyaan juri.


"Saya bisa bernyanyi," jawab Ara lagi.


Ketiga juri tertawa, namun tidak bagi Owdie. Ia merasa ada sesuatu hal lain pada diri sang gadis. Ia lantas mengecek kembali ponselnya untuk melihat apakah Rain membalas pesannya atau tidak. Tapi ternyata, tidak ada pesan dari Rain.


Hei, Rain. Ke mana dirimu? Aku sedang bersama gadismu di sini.


Owdie kembali mengirim pesan kepada Rain.


"Tuan Owdie." Salah satu juri menyapa Owdie.


"Em, ya?" Owdie segera tersadar.

__ADS_1


Juri itu berbisik kepada Owdie tentang Ara. Ia lalu mengangguk, mengerti akan maksud juri tersebut.


"Ehem!" Dia lalu berdehem sebelum bicara karena tahu siapa yang ada di atas panggung sekarang.


Aku harus berhati-hati. Dia adalah wanitanya saudaraku. Bisa-bisa gadis ini malah mengadu yang tidak-tidak jika aku terlalu kejam bertanya tentang kemampuan aktingnya. Baiklah. Ini demi si hujan, maka aku akan berbaik hati padanya.


Owdie lalu mengajukan pertanyaannya. "Namamu Ara?" tanya Owdie berbasa-basi.


"Benar, Tuan." Ara pura-pura baru bertemu dengan Owdie.


"Em, baiklah. Setelah mendengar penuturanmu aku hanya ingin bertanya, adakah hal yang kau bisa selain menyanyi sehingga kami memilihmu?" tanya Owdie menantang.


"Aku bisa bermain alat musik." Ara menjawabnya.


"Alat musik apa?" tanya Owdie segera.


"Gitar," jawab Ara dengan cepat.


Seketika ketiga juri lainnya saling melirik satu sama lain. Owdie pun jadi ingin membuktikan sendiri bakat terpendam sang gadis.


"Bagaimana jika bernyanyi sambil bermain gitar?" tanya Owdie lagi.


"Saya akan berusaha." Ara mengobarkan semangatnya.


"Lagu apa yang kau bisa?" tanya Owdie lagi.


"Semua lagu saya bisa asal mengetahui kunci dasarnya." Ara menjawab dengan penuh keyakinan.


Sontak seisi gedung memperhatikan Ara lebih dalam, termasuk Lee yang memfokuskan pandangannya ke Ara. Ia ingin melihat apa yang Ara bisa selain menarik perhatiannya.


"Em, baiklah. Berikan yang terbaik." Owdie mempersilakan.

__ADS_1


Akhirnya sang gadis meminta kepada ketua panitia untuk meminjamkannya gitar. Tak lama sebuah gitar akustik pun ia terima dari si pembawa acara, yang tak lain adalah ketua panitia acara ini sendiri.


Owdie dan juri lain tampak antusias melihat apa yang akan Ara tunjukkan. Begitu juga dengan Lee, Taka dan yang hadir di sana. Mereka menantikan bakat terpedam sang gadis. Sementara Ara tengah bersiap di atas panggung Ia duduk di kursi sambil memegang gitarnya. Ia berniat mempersembahkan sebuah lagu yang akhir-akhir ini menemaninya.


__ADS_2