
"Siapa dirimu?" Pangeran ingin tahu.
Gadis itu seperti ketakutan karena keberadaannya diketahui oleh pangeran. Pangeran Agartha pun melihat kendi yang ada di sampingnya. Ia lantas berpikir.
Ada seorang gadis yang mengetahui telaga ini. Apakah dia penduduk asli Agartha?
Pangeran bertanya dalam hati. Ia merasa harus waspada karena sebelum-sebelumnya tidak pernah menjumpai seorang pun di telaga ini. Semasa pelatihan tenaga dalam tidak ada satu pun penduduk yang berani datang ke tempat ini. Namun, hari ini tampak berbeda. Ia bertemu dengan seorang gadis yang tak pernah diduganya.
"Berdiri!" Pangeran Agartha meminta.
Gadis itu tampak ketakutan.
"Cepat berdiri! Atau pedangku akan memaksanya!" Pangeran Agartha mengancam.
Sontak gadis itu semakin ketakutan dengan ancaman pangeran. Ia kemudian berdiri sambil memegangi kendinya. Kedua tangannya gemetaran yang membuat pangeran iba. Mereka pun berdiri berhadapan dengan jarak yang hanya sekitar dua meter saja. Cukup dekat untuk saling menyapa dan berbicara.
"Siapa namamu?" tanya pangeran lagi.
Gadis itu tampak kebingungan. Pangeran pun terheran. Ia merasa aneh dengan situasi yang sedang terjadi.
.........
"Jadi ... gadis itu bernama Lily?" Ara mendengarkan dengan saksama cerita pangeran.
"Ya, benar. Dia tinggal di telaga, tepatnya di gubuk yang ada di sana." Pangeran menceritakan.
Ara tampak berpikir. "Seorang diri tinggal di telaga?" Ara merasa heran.
Pangeran Agartha tersenyum. "Benar. Dia lupa ingatan. Dia juga tidak tahu dari mana dirinya berasal," jelas pangeran lagi.
Ara mengangguk-angguk, mencoba memahami situasi yang terjadi.
"Lily bukan nama aslinya. Aku memberinya nama Lily karena menemukannya sedang bersembunyi di semak bunga lily yang rimbun. Kami akhirnya berkenalan dengan menurunkan egoku sebagai pangeran. Dan sampai pertemuan terakhir, aku tidak pernah mengaku sebagai pangeran kepadanya." Pangeran Agartha menjelaskan.
"Ya Tuhan?!" Ara terkesima. "Jadi dia tidak tahu jika Pangeran adalah calon raja negeri ini?" Ara terpukau.
"Benar." Pangeran Agartha mengangguk. "Sejak perkenalan itu, aku jadi lebih sering pergi ke telaga untuk berlatih dan juga menemuinya. Kadang aku membawakan makanan dari dapur istana untuknya. Kami pun sering kali bercanda di setiap kesempatan. Aku merasa rindu jika sehari saja tidak bertemu dengannya. Mungkinkah itu yang dinamakan jatuh cinta?" Pangeran Agartha merasa bingung. Ia meminta Ara menjelaskan perasaannya.
__ADS_1
Ara tertawa kecil. "Ternyata seorang pangeran memiliki kenangan yang unik." Ara mencoba bergurau.
Pangeran Agartha tersenyum kecil lalu menatap kekejauhan. "Tapi sudah lama aku tidak pernah melihatnya. Entah di mana dia sekarang. Sampai aku menguasai ilmu tenaga dalam yang diturunkan kakek pun, aku tidak pernah melihatnya." Pangeran Agartha terlihat sedih.
Ara merasa prihatin. Ia ikut merasakan apa yang dirasakan pangeran. Ia lantas berpikir bagaimana cara agar bisa menemukan kembali cinta calon raja negeri ini. "Kapan Pangeran terakhir bertemu dengannya?" Ara mencoba menyelidiki.
Pangeran menoleh ke Ara. "Kau ingin membantuku?" tanya pangeran memastikan.
Ara mengangguk pelan. Saat itu juga tersirat kebahagiaan dari diri pangeran. "Terima kasih. Tapi aku tidak bisa memberi imbalan sebagai ucapan terima kasihku." Pangeran merendah di hadapan Ara.
"Hahaha." Ara tertawa sambil menutupi dengan telapak tangan. Ia tetap menjaga keanggunan sebagai tamu istana. "Pangeran tidak perlu memikirkan hal itu. Aku sudah cukup senang diterima dengan baik di sini." Ara berjiwa besar.
Pangeran pun tersenyum. "Terima kasih, Nona. Aku harap Nona bisa membantu. Sudah lama sekali kami tidak bertemu." Rindu yang tertahan pun tersirat dari wajah pangeran yang rupawan.
Ara mengangguk. Ia mencoba menenangkan pangeran yang dipenuhi kegelisahan akan kerinduan.
Beberapa saat kemudian...
Angin siang masuk dengan leluasanya ke kamarku. Menerbangkan tirai-tirai yang ada di dalam kamar hingga melambung tinggi hampir menyentuh langit-langit. Aku sendiri masih duduk sambil terus memijat tubuh seorang pria yang sudah menjadi suamiku. Dia telungkup di atas kasur, sedang aku duduk di atas pantatnya. Tanganku sendiri masih sibuk memijatnya dari atas sampai ke bawah. Selepas mandi katanya dia ingin bermanja ria.
"Habis ini bayar, ya, "kataku begitu saja padanya.
Dia mengangguk pelan. "Katakan berapa yang kau pinta, Sayang? Aku akan memberikannya." Dia tampak keenakan dipijat olehku.
"Ih, dasar! Aku tidak mau dibayar uang," jawabku sambil terus memijatnya.
"Eh?!" Dia membuka mata lalu menoleh ke arahku. "Memangnya ada pembayaran tanpa uang?" Dia menganggap serius ucapanku.
"Ada," jawabku begitu.
"Apa itu?" tanyanya lagi.
"Kesetiaan. Lebih bernilai dari uang, bukan?" tanyaku dengan roman wajah yang menyindir.
Dia segera memutar tubuhnya ke arahku. Saat itu juga aku merasa hilang keseimbangan dan ingin jatuh. "Ah! Sayang!" Tapi ternyata dia dengan cepat memegangku. "Sayang?!" Aku pun kesal padanya. Kucubit saja roti sobeknya.
"Ssstt."
__ADS_1
Dia menatapku, memperhatikanku dari bola mata birunya. Entah mengapa aku merasa malu saat diperhatikan olehnya. Padahal dia sudah menjadi suamiku. Tapi entah mengapa kali ini terasa amat berbeda.
"Hei, Cantik." Dia menyentuh ujung hidungku dengan jari telunjuknya. "Jika aku ingin, bisa saja. Tapi, apakah selama ini aku melakukannya?" Dia seolah-olah meminta pengakuan dariku agar tidak lagi mencurigainya.
Aku hanya mengangkat bahu. Pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
"Hei ...."
Dia kemudian bangun. Alhasil posisi kami seperti posisi kamasutra yang saling berhadapan. Aku duduk di atas pangkuannya. Jarak kami begitu dekat. Hangat napasnya pun sampai bisa kurasakan. Kedua bola mata birunya terlihat bergerak untuk memperhatikanku.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku milikmu seutuhnya. Percayalah Sayang." Dia mengambil tanganku lalu mengecupnya.
Seketika aku merona merah dibuatnya.
"Sayang."
"Apa?"
"Sudah lama tidak menyusu." Tiba-tiba saja dia berkata seperti itu sambil memperhatikan gaun di bagian dadaku.
"Dasar mesum!" Seketika aku beranjak bangun darinya.
"Eh? Mau ke mana? Aku haus," katanya seraya menahan perutku agar tidak lari.
Tu kan mulai lagi. Apa semua nama Rain itu seperti dirinya? Tidak di sana, tidak di sini, sama saja. Agresif!
Aku menggerutu dalam hati. Tak habis pikir dengan bayi besar di belakangku ini. Inginnya selalu menyusu bila berada di dekatku. Apakah masa kecilnya kekurangan susu sehingga saat besar selalu memintanya padaku?
Rain mulai melancarkan aksinya saat bersama sang istri tercinta. Alih-alih bertanya, ia menginginkan sesuatu dari istrinya. Ara pun tampak terheran dengan sikap suaminya yang tiada pernah berubah. Sejak awal kedekatan hingga mengandung anaknya, Rain selalu saja sama. Memiliki gairah besar dan tidak pernah ada lelahnya. Ara sebagai istri pun harus memenuhinya tanpa perlu dipaksa. Ara menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, sekalipun dalam posisi lelah sekali.
"Tambah besar, ya?" Rain mulai menyingkapkan rambut yang menutupi dada istrinya.
"Sudah, cepat!" Ara meminta Rain untuk segera bertindak.
"Tidak ingin pemanasan dulu, Sayang?" tanya Rain sambil menatap penuh gelora wajah istrinya.
Ara memalingkan wajahnya. "Cepat atau tidak sama sekali?!" Ara mengancam. Saat itu juga Rain terbelalak. Ia takut tidak jadi menyusu.
__ADS_1