Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Another Earth


__ADS_3

Rain berpikir cepat, mencari cara agar bisa kembali. "Mohon maaf, Pangeran. Kami adalah penduduk yang kesasar. Bisakah tunjukkan di mana jalan pulang?" tanya Rain sopan.


Sontak pria berjubah hitam itu terkejut karena Rain memanggilnya dengan sebutan pangeran. Ia lantas melihat ada siapa di belakang Rain. Saat itu juga pria tersebut seperti sedang menembus pandang. Tak lama berselang, ia mengambil napas panjang.


"Kalian dari bumi?" tanya pria tersebut.


"Benar." Rain pun mengangguk.


Pria itu seperti memahami sesuatu. "Jangan takut. Silakan masuk ke istana terlebih dulu. Kita akan bicarakan ini lebih lanjut," tutur pria itu.


Seketika Ara dan Rain saling melirik satu sama lain.


Kenapa pria itu jadi ramah kepada kami?


Ara pun menarik Rain agar memundurkan langkah kakinya ke belakang. Ia kemudian berbisik di telinga suaminya. "Sayang, aku tidak mau masuk ke istana. Aku takut." Ara mengungkapkan.


Rain menelan ludahnya. Ia juga khawatir. Namun, ia berpikir lagi jika tidak akan mudah pergi dari tempat ini. "Sayang, kita tidak tahu di mana ini. Kita harus mencari tahunya terlebih dahulu. Hal itu lebih aman daripada menolaknya." Rain menuturkan.


"Kita cari tempat lain saja. Aku tidak suka pada wanita itu." Ara terlihat kesal.


Rain lantas tersenyum. "Sayang, percayalah. Semua yang kita jalani sudah tertuliskan. Mungkin sekarang memang harus masuk ke dalam istana untuk mencari tahu di mana gerangan kita berada. Aku bersamamu. Jangan takut, ya." Rain meyakinkan, ia mengusap pipi istrinya.


Ara tampak enggan, namun mau tak mau ia menurutinya. Ia tidak mempunyai pilihan selain mengiyakan perkataan suaminya. Saat itu juga wanita dan pria tersebut memalingkan pandangannya kala melihat kemesraan Ara dan suaminya.


"Baiklah. Tapi jangan pernah tinggalkan aku walaupun sebentar." Ara meminta.


Rain mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Sayang." Rain meyakinkan.

__ADS_1


Ara akhirnya menyetujui permintaan Rain untuk mencari tahu di mana keberadaan mereka. Lantas keduanya setuju untuk masuk ke dalam istana. Mereka pun berpegangan tangan sepanjang perjalanan. Dan ternyata, jarak dari gerbang ke istana lumayan jauh. Ara pun sampai-sampai harus memijat kakinya. Ia merasa pegal ketika diajak berjalan jauh.


Beberapa saat kemudian...


Rain dan Ara diajak masuk ke dalam istana. Mereka pun dibuat terkejut oleh eksterior dan interior istana tersebut. Bagaimana tidak, taman depan istana rata-rata terbuat dari kaca. Lampu taman juga terbuat dari kristal bening yang begitu cantik. Pot bunga, kolam ikan sampai teras istana, semuanya terbuat dari kaca. Sehingga hal itulah yang membuat Ara dan Rain takjub.


Sepertinya di sini lebih maju jika dibandingkan bumiku.


Ara bergumam sendiri. Ia tidak menyangka akan melihat taman sebuah istana yang begitu luas dan juga cantik. Pantulan sinar matahari membuat taman itu memancarkan cahaya begitu indah. Sontak Ara pun mulai betah di sana.


Saat masuk ke dalam istana, ternyata semua dinding dan lantainya terbuat dari kaca. Kaca bening tembus pandang yang di bawahnya terdapat kolam ikan. Sehingga saat Ara masuk, ia menyingkapkan dasternya karena takut basah. Tapi ternyata, semua itu hanya ilusi optik semata. Nyatanya lantai istana kering, hanya saja memang didesain sedemikian rupa.


Sinar matahari pun seperti tidak berpengaruh di dalam istana. Suasana terasa sejuk bahkan tidak panas sama sekali. Padahal seharusnya jika kaca terkena sinar matahari akan panas. Tapi nyatanya hal itu tidak berlaku di sini.


Ini aneh. Biasanya kaca memantulkan sinar matahari sehingga tempat sekitarnya jadi panas. Tapi kenapa tidak terjadi di istana ini?


Rain yang lebih paham pun tampak terkejut dengan istana yang dikunjunginya. Ia mulai melihat-lihat apa saja yang ada di dalam sana. Selain tiang besar yang juga terbuat dari kaca. Yang mana di dalam tiang tersebut merupakan kolam ikan yang menembus sampai ke kolam bawah lantai. Sehingga istana itu terlihat seperti kebanjiran.


Ara dengan erat menggandeng tangan suaminya. Ia juga melihat-lihat apa yang ada di dalam istana. Dari lantainya, dindingnya, tiangnya, semua berkaca. Hanya atapnya saja yang berplafon mewah dengan hiasan lampu kristal bermutiara.


"Aku rasa begitu. Kita ikuti saja dulu. Jangan takut, ya." Rain menenangkan istrinya.


Ara mengangguk. Tak lama kedatangan mereka pun disambut oleh beberapa pelayan istana. Pelayan-pelayan itu datang mengenakan kemben dan juga selendang. Mirip seperti pelayan kerajaan tempo dulu.


Astaga! Sebenarnya di mana ini? Mengapa aneh sekali?


Ara tak percaya di mana gerangan dirinya berada. Lantas ia pun mencoba berkonsentrasi agar bisa memasuki alam bawah sadarnya. Kali-kali saja ia bisa menemukan sesuatu. Namun, ternyata kekuatan pikiran Ara lemah di tempat ini. Ara tidak bisa memfungsikan alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Silakan duduk."


Para pelayan meminta Ara dan Rain duduk. Mereka pun duduk bersampingan di depan meja kaca yang ada di salah satu sudut istana.


Pria berjubah hitam itu tak lama datang. Tapi ia datang sendiri, tidak bersama wanita bergaun putih. Pria itu pun kemudian duduk di hadapan Rain dan Ara. Ia terlihat membawa sesuatu.


"Mohon maaf kami tidak bisa menyambut kedatangan dengan baik. Kami tidak memiliki persiapan sebelumnya." Pria berjubah hitam seperti yukata itu bicara.


Rain dan Ara saling melirik. Mereka terlihat semakin bingung. Suami dari Ara itu kemudian mengajukan pertanyaan kepada pria yang disebut-sebut sebagai pangeran.


"Maaf, Pangeran. Sebenarnya ini di mana? Kami juga tidak tahu jika akan sampai ke sini." Rain mengatakan.


Pria berjubah hitam itu mengangguk-angguk, seperti mengerti permasalahan yang terjadi.


"Belum lama ini kami mengalami peristiwa aneh yang mengantarkan ke sini. Bisakah beri tahu jalan kembali untuk kami?" Rain amat sopan menanyakannya.


Pangeran itu lantas tersenyum kecil. "Kedatangan kalian sudah pernah disebutkan oleh kakek dan nenek kami. Dan sekarang kalian sudah tiba. Aku rasa tidak perlu terburu-buru untuk pulang. Kenapa tidak coba nikmati pemandangan yang ada? Belum tentu bisa ke sini untuk yang ke dua kalinya." Pangeran itu membujuk.


Seketika rasa khawatir muncul di benak Rain saat pria yang disebut sebagai pangeran itu memintanya menikmati pemandangan yang ada. Rasa-rasanya akan terjadi sesuatu terhadap mereka. Entah apa, Rain juga tidak mau memusingkannya. Saat ini di pikirannya hanya ingin kembali ke buminya.


Ara pun begitu. Ia merasa tempat ini bukanlah untuknya. Ia sudah merasa nyaman di buminya yang indah. Walau terkadang menemukan orang yang serakah. Bagaimanapun bumi tempat paling aman dan nyaman. Di mana Ara mempunyai sejuta kenangan dalam hidupnya. Dan ia ingin segera kembali ke sana.


"Aku tidak tahu siapa kalian. Tapi aku ingin mengucapkan sesuatu. Selamat datang di Agartha," ucap pria itu kepada Rain dan Ara.


"Agartha?!!" Sontak keduanya terkejut.


Ara dan Rain amat terkejut saat mengetahui di mana gerangan mereka berada. Sebuah negeri bernama Agartha sedang mereka kunjungi saat ini. Mau tak mau mereka pun langsung teringat sesuatu. Agartha, bumi di dalam bumi. Yang mana mereka sedang mengunjunginya kali ini.

__ADS_1


Ini mustahil!


Rain terbelalak tidak percaya, begitu juga dengan Ara. Ia berulang kali menelan ludahnya. Tidak menyangka jika akan terlempar jauh sampai ke bagian bumi lainnya.


__ADS_2