
Sesampainya di apartemen...
Ara lekas keluar dari lift dan mendahului prianya masuk ke dalam apartemen. Ia tampak kesal dengan sang penguasa hari ini. Ia lekas masuk lalu menutup pintunya.
Rain pun mengejarnya. Ia merasa sang gadis benar-benar marah kepadanya. Lantas saja setelah masuk, Rain segera mencari gadisnya. Yang ternyata sang gadis duduk di teras luar apartemen.
"Ara ...." Rain lalu mendekati gadisnya.
"Jangan dekat-dekat aku. Pergi sana!" Ara mendorong Rain.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa mengendalikan diri tadi." Rain meminta maaf kepada Ara.
"Kau ini benar-benar, ya. Bagaimana jika tadi Jack melihatnya? Aku bisa malu! Mau taruh di mana mukaku ini?!" Ara kesal karena ulah Rain tadi di dalam mobil.
"Sayang, sungguh. Mobil itu kedap suara jika sekatnya dinaikkan. Ditambah atapnya dibuka. Suara kita tidak akan terdengar." Rain meyakinkan.
"Aku tidak peduli. Yang aku tahu kau ini menyebalkan sekali." Ara melepas high heels-nya dengan kesal.
"Sayang, Sayang." Rain lalu memegang kedua lengan gadisnya. "Sungguh, aku tidak berbohong. Bahkan jika diledakkan pun mobil itu tidak akan hancur. Jika diberondong peluru juga tidak akan tembus. Sungguh, Sayang. Itu bukan mobil biasa." Rain kembali meyakinkan gadisnya.
Napas Ara terengah-engah karena rasa kesal di dadanya. Rain lantas memeluk gadisnya. Ia usap kepala Ara seraya menciumnya.
"Maaf, ya. Aku tidak akan lagi-lagi di dalam mobil." Rain berjanji.
"Hah ... kau ini." Amarah Ara akhirnya mereda.
"Maklumi, ya. Aku baru kali ini merasakannya. Jadi wajar saja jika ketagihan. Lagipula dengan calon istri sendiri, bukan dengan orang lain." Rain membela dirinya.
"Jika dengan orang lain aku tidak akan segan untuk mencacahmu!" Ara melepaskan diri dari pelukan Rain dengan cepat.
Rain menelan ludahnya. Ia tersadar jika gadisnya juga seorang pencemburu akut sepertinya. Ia merasa jika mempunyai banyak kesamaan dengan Ara.
Ara, adakah perbedaan di antara kita?
Rain menatap lembut gadisnya. Ia lalu berlutut di lantai teras. Memohon kepada sang gadis dengan sungguh-sungguh.
"Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi. Sekalipun kita bertengkar hebat, paling-paling aku mabuk bersama Owdie. Sudah itu saja." Rain meyakinkan kembali.
"Oh, jadi kau suka mabuk?" tanya Ara serius.
"He-em." Rain mengangguk. "Tapi itu dulu, Ara. Aku punya kebun anggur sendiri di USA. Jadi membuat minuman sendiri sampai mabuk. Dan Owdie sering mencuri botol minuman yang sudah jadi." Rain malah curhat.
Astaga! Dia punya kebun anggur?!
Ara terkejut saat mengetahui prianya mempunyai kebun anggur sendiri. "Ya sudah. Aku mandi dulu." Ara beranjak bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Lalu aku bagaimana?" tanya Rain. Ia juga ikut berdiri.
"Tunggu, aku dulu yang mandi." Ara mengambil handuknya.
"Aku juga ikut. Aku ingin mandi." Rain mengikuti Ara.
"Tidak!" Ara berseru tegas.
"Kenapa?" Rain memasang wajah memelas.
"Sudah, Sayang. Apa kau tidak lelah?" Ara mengingatkan.
"Tidak. Tidak sama sekali." Rain berucap dengan memasang wajah polosnya.
Sang gadis lalu menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya ia hanya bisa pasrah saja.
Dasar dia ini. Tidak pernah ada puasnya.
Rain sendiri lekas-lekas melepas semua pakaiannya. Ia juga ikut mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak lagi peduli apa kata orang tentangnya. Yang ia tahu hanya ingin bermesra-mesraan dengan Ara, sebelum menyelesaikan masalah yang sempat tertunda. Ya, sebentar lagi kedua saudaranya akan datang sehingga Rain memanfaatkan kesempatan ini untuk bersama gadisnya.
Beberapa menit kemudian...
Taka dan ketiga temannya baru saja tiba di halaman parkir apartemen. Mereka membawakan buah kaktus untuk sang gadis. Tidak banyak, tapi cukup kenyang jika hanya dimakan sendiri. Dengan bau keringat sehabis mengais ilmu, mereka turun dari skuter yang telah diparkirkan.
Nidji dan Ken tampak kaget melihat tempat tinggal Ara. Sebuah kawasan gedung bertingkat tinggi yang mewah dan juga berkelas.
"Ya, dia tinggal di sini dan juga bekerja di sini. Ayo!" Taka mengajak kedua temannya masuk ke dalam gedung.
Mereka melangkahkan kaki menuju resepsionis untuk menanyakan di pintu nomor berapa Ara tinggal. Sang resepsionis pun meminta tanda pengenal ketiganya sebelum melakukan pengecekan ruangan. Tampak Taka, Nidji dan Ken yang menunggunya.
Lain ketiganya, lain juga dengan Ara dan Rain. Sepasang insan yang akan segera melangsungkan pernikahan ini tampak berciuman di bawah shower air yang dingin. Berbekal kain yang menutupi dada hingga paha sang gadis, dan celana pendek ketat yang dipakai Rain, keduanya dengan leluasa bercumbu. Terlihat Ara yang mengalungkan kedua tangannya di leher Rain. Sedang Rain tampak memegang pinggul gadisnya.
Beberapa hisapan mereka lakukan secara bergantian. **** dan kecupan menemani sensasi cumbuan mereka. Semakin lama hasrat semakin berkobar. Hingga akhirnya lidah sang penguasa menelusup ke mulut sang gadis. Ara jadi kelabakan sendiri. Ia seperti tidak dapat bernapas.
"Mmmh..."
Entah apa yang terjadi sebelumnya, tiba-tiba saja keduanya tengah menempel sambil menyambungkan benang saliva. Lidah mereka beradu di bawah dinginnya air shower. Dan tak lama kemudian, Rain meremas pinggul gadisnya.
"Sayang." Sang gadis menahannya.
"Ara?"
"Sudah. Jangan lagi." Ara meminta.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Tidak ada tapi. Tadi bilangnya hanya cium saja. Sudah sana mandi." Ara bergegas keluar.
"Tunggu." Rain menahan Ara dari belakang. "Sudah bangun," kata Rain pelan.
Ara memberontak. "Lepaskan aku!" pinta Ara kepada prianya.
"Tidak bisa, Sayang. Sudah bangun," kata Rain lagi.
"Ih, kau ini!" Kedua tangan Ara terkunci di belakang oleh prianya.
"Sekali lagi, ya?" Rain merayu.
"Tidak."
"Ayolah."
"Tidak!" Ara bersikeras.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memaksa." Rain lantas membalikkan tubuh Ara, menghadapnya.
Sang penguasa tidak dapat mengendalikan diri saat bersama gadisnya. Ia lagi dan lagi mengulang apa yang telah dilakukan sebelumnya. Dan akhirnya ia menggendong Ara keluar kamar mandi. Gendongan ala pengantin yang membuat area pribadi Ara hampir telihat karena kainnya tidak terlalu panjang menutupi paha.
Ya ampun, dia ini.
Ara sendiri tidak habis pikir dengan prianya. Ia merasa harus segera menjauhkan diri. Lantas saja Ara berlari setelah diturunkan oleh Rain. Tapi di saat itu juga Rain menahannya kembali.
"Sayang ...." Rain terlihat gemas dengan gadisnya.
"Sudah, kita menikah saja. Kau ini lama-lama tidak bisa dikendalikan." Ara mengambil handuknya yang lain.
"Ya, sudah. Besok kita menikah." Rain memenuhinya.
"Besok?" Ara pun kaget sendiri.
Ara berbalik menghadap prianya. Ia ingin berkata. Tapi sebelum itu, terdengar bel apartemen berbunyi. Memecahkan suasana yang sedang terjadi.
"Siapa itu?" Ara bertanya sendiri.
"Tunggu. Biar aku saja yang membukakan pintu." Rain lantas keluar dari kamar, ia mengambil handuknya dengan tubuh yang masih basah.
Rain membukakan pintu apartemen. Pintu apartemennya pun terbuka dan terlihatlah sesosok pria berkemeja hitam di hadapannya.
"Siapa?!"
Rain terkejut dengan kedatangan seorang pria yang tak dikenalnya. Pria itu pun tampak lebih terkejut dari Rain. Ia tidak menyangka jika yang membukakan pintu adalah seorang pria yang hanya mengenakan handuk saja, dengan posisi tubuh masih basah. Sontak pria yang datang itu menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1