
Beberapa hari kemudian…
Hari demi hari terus berganti. Tak terasa sudah seminggu lebih kami menjadi pasangan suami istri. Waktu memang terasa berjalan begitu cepat saat dinikmati. Namun sebaliknya, akan terasa lambat jika tidak disyukuri. Mungkin hal itulah yang aku rasakan saat ini.
Pria yang menjadi suamiku seperti tidak pernah bosan bercanda dan bergurau denganku. Kami mengisi waktu bersama dengan bercanda ria dan bermain air di segala kesempatan. Dia tidak henti-hentinya menyalurkan perasaan cintanya. Bahkan saat memasak pun dia masih sempat-sempatnya untuk mengajak ku bercanda. Yang mana candaannya itu membuat kami keterusan hingga harus mematikan kompor. Hasratnya memang begitu besar.
Sungguh aku merasa bahagia sekali. Segala jarak di antara kami seakan sirna tanpa sisa. Yang ada hanya kasih sayang dan ikatan batin yang begitu kuat terasa. Sampai akhirnya kami menantikan anugerah terindah untuk menemani kehidupan selanjutnya. Seorang bayi mungil yang kami inginkan kehadirannya.
“Tuan Putri, semua sudah siap.”
Priaku berdiri di depan pintu sambil menjinjing perlengkapan rekreasi kami. Rencana hari libur ini akan kami isi dengan berlibur bersama El dan keluarganya. Kami akan mengunjungi tempat rekreasi dengan pemandangan alam terbuka. Di mana bisa melihat pemandangan indah dari ketinggian. Aku sendiri belum tahu di mana tempatnya, aku mengikut suamiku saja.
Kenapa rasanya mual sekali, ya?
Minggu pagi ini kondisi tubuhku tiba-tiba saja mengalami perubahan. Tak biasanya pagi hari mual, tapi hari ini aku mual sekali. Entah kenapa, aku juga belum tahu pasti. Tapi semoga saja yang dinantikan akan segera hadir ke tengah-tengah kami. Aku dan suamiku sangat berharap jika si kecil bisa cepat datang dan mewarnai hari dengan penuh suka cinta dan kasih sayang yang menyerta. Ya, semoga saja Tuhan merestuinya.
“Sayang, kau tak apa? Kubawakan saja semuanya.”
Kami akhirnya bergegas masuk ke dalam mobil sambil membawa pelengkapan rekreasi. Rain membukakan pintu untukku lalu meletakkan semua barang bawaan di garasi belakang. Setelahnya, dia masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu. Kami segera melaju ke tempat yang telah dijanjikan.
Satu jam kemudian…
Angin segar menyambut kedatangan kami saat tiba di sebuah dataran tinggi yang ada di dekat perbatasan. Tak tahu kenapa tempat rekreasinya akan sejauh ini. Memakan waktu satu jam perjalanan yang melelahkan. Aku sih santai saja karena tinggal duduk diam di dalam mobil. Tapi kasihan suamiku, dia harus menyetir mobil dengan perjalanan yang jauh. Jack katanya sedang ada acara bersama keluarga, jadinya tidak bisa ikut menemani. Dan akhirnya, suamiku harus menyetir mobilnya sendiri.
“Hah … akhirnya kita sampai, Sayang.”
Pria berkemeja biru bermotif bunga-bunga ini menoleh ke arahku. Dia merenggangkan otot tubuhnya sehabis mengendarai mobil. Aku pun segera mengambilkan air mineral untuknya. Kubukakan tutup botolnya lalu kuberikan padanya. Dia pun menerimanya dengan suka hati.
“Sayang, kenapa harus di sini? Ini kan jauh sekali.” Aku mencemaskan keadaannya.
“Tak apa. Ada vila di atas, nanti kita menginap di sana.” Priaku menenangkan.
“Tapi ….” Aku sedikit ragu.
"El dan keluarga juga akan berkunjung ke sini. Jadi kita tidak sendiri,” katanya lagi.
“Tapi, Sayang. Nanti kau kelelahan.” Aku memegang tangannya, khawatir.
Dia mengusap kepalaku. “Tidak apa, Sayang. Sekali-kali. Menyenangkan istri merupakan kebahagian bagi suami. Apalagi istri sendiri.” Dia bergurau di depanku.
__ADS_1
“Hahahaha. Kau ini bisa saja.”
Aku memukul pelan lengannya lalu menyandarkan kepala di bahunya. Ingin selamanya kami seperti ini. Di mana dunia seolah hanya milik berdua.
“Sayang.”
“Hm?”
“Nanti malam kita main lagi, ya? Aku sudah pesan obat kuat sampai pagi.” Dia berkata seperti itu, memecah lamunanku.
“Astaga. Kau ini tidak ada lelah-lelahnya!” Aku menggerutu di hadapannya.
“Tiga kali sehari mana cukup. Aku ingin cepat menimang bayi. Kau keberatan?” tanyanya seperti menggodaku.
“Dasar!” Aku cemberut di hadapannya.
“Sayang.” Dia menatapku lembut. “Jangan membuatku menginginkannya sekarang karena wajah imutmu ini. Nanti aku menggigitmu,” katanya lalu mencubit pelan kedua pipiku.
Aku tahu jika dia begitu menyayangiku. Aku juga seperti itu, amat menyayanginya melebihi rasa sayang terhadap diriku sendiri. Dia sudah menjadi pakaianku dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak-anakku. Tidak ada lagi yang perlu kutakuti selain kehilangan dirinya. Dan karena hal itu, aku akan terus melayaninya. Melayani suami tercinta dengan sepenuh hatiku. Aku mencintainya, mencintai Rainku.
Malam harinya…
Angin menerpa tirai-tirai jendela vila kami. Malam ini cuaca begitu mendung seperti akan turun hujan. Tapi entah mengapa aku merasa panas sekali. Seakan sedang berjemur di pantai.
Rain memeluk tubuhku dengan erat. Dia berada di bawah tubuhku sambil mengecup dada ini. Pinggulnya terus bergerak dan menghentak-hentakkan tubuhku. Aku yang sudah tidak kuat lagi hanya bisa memintanya untuk berhenti.
“Keluarkan, Sayang. Jangan di tahan ….”
Dia terus saja menggerakkan pinggulnya tanpa henti. Kadang perlahan, kadang dipercepat. Membuatku melayang ke langit-langit cintanya. Dan akhirnya, aku harus mengaku kalah darinya.
“Sayaaaangggg ….”
Untuk sekian kalinya dia berhasil membuatku mabuk kepayang. Dia seperti ingin menunjukkan kegagahannya padaku. Padahal aku sudah dua kali terkulai lemas di atas tubuhnya. Tapi dia terus saja memompaku.
“Sayang, beri aku jeda.”
Aku jatuh di atas tubuhnya. Terkulai lemas, tidak bertenaga. Malam ini dia begitu tangguh sampai aku dikalahkan 3-0 olehnya.
“Sayang, masih kuat, kan?” Dia menyampirkan rambut yang menutupi wajahku.
__ADS_1
“Sayang, aku sudah tidak sanggup. Kita istirahat, ya.” Aku meminta.
Dia memasang wajah kecewa. “Tidak bisa, belum keluar. Kalau begitu gantian di bawah, ya.” Dia memutar tubuhku.
“Sayang!” Dalam sekejap aku pun sudah berada di bawah tubuhnya.
Dia menatapku dalam. “Nikmati saja. Biar aku yang bekerja.” Dia mulai melancarkan aksinya.
“Aaaaahh ….” Aku pun tak berdaya saat dia memulainya.
“Sayang, kau milikku. Katakan kau mencintaiku,” pintanya sambil menggerakkan pinggul di atasku.
“Aku mencintaimu, Sayang ….” Aku berusaha menatap wajahnya dalam temaram cahaya.
“Aku juga mencintaimu, Araku.” Dia kemudian mencumbuku.
Rain menciumku. Suamiku ini semakin mempercepat gerakan pinggulnya saat mencumbuku. Aku pun melingkarkan kedua tangan di lehernya. Aku pasrah jika kali ini harus kalah lagi darinya. Otakku seakan tidak bisa berpikir. Seluruh saraf sensorik di tubuhku bereaksi karena ulahnya. Lalu tak lama kurasakan tubuhnya menegang di atasku. Otot-otot tubuhnya mengencang lebih dari yang tadi. Dia pun memeluk erat tubuhku sambil meracau tidak karuan. Dan akhirnya…
“Sayang, Sayang ….” Dia memanggil-manggilku.
“Sayang, lepaskan semua. Aku milikmu.” Aku terhanyut dalam suasana yang dia berikan.
“Ah! Ini akan … banyak sekali. Aaghhh!” Napasnya mulai tidak beraturan.
“Lepaskan saja, Sayang. Lepaskan, Pangeranku.” Aku menyemangatinya.
Tak lama kurasakan tubuhnya bergetar hebat di atas tubuhku. Saat itu juga aku merasa dalam perutku hangat sekali. Dia menghentakkan kuat tubuhnya lalu terkulai lemas. Kusadari jika dia sudah selesai menyalurkan hasratnya. Malam ini seolah hanya menjadi milik kami berdua. Bersamanya akan kujalani hidup dengan bahagia.
...
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku.
Tidak peduli siapa dirimu, darimana asalmu, apa yang sudah kau lakukan, selama kau mencintaiku, Sayang...
__ADS_1
...
Bagian Kelima Tamat