Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Meaningful


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi telah datang. Perlahan-lahan aku bisa merasakan napasku sendiri. Sejuknya udara membuatku masih betah memejamkan mata. Aroma parfum yang menenangkan juga ikut menambah rasa malasku untuk bangun. Aku masih ingin melanjutkan mimpi indahku bersamanya. Bersama tuanku yang kucintai.


Kudengar pintu lemari ditutup dari dekat. Kurasa ada seseorang yang menjatuhkan diri di sampingku. Aroma parfum khas juga menyengat hidungku. Aku jadi penasaran ini mimpi atau bukan. Perlahan kubuka kedua mata untuk melihatnya.


Samar-samar aku melihat ada seseorang yang tidur di sampingku. Dia begitu tampan bak pangeran kesasar yang sedang mencari seorang putri. Lambat laun pun aku tersadar di mana aku sekarang.


"Tu-tuan?!"


Aku terkejut, benar-benar terkejut saat melihatnya tiduran di sampingku. Dia tersenyum sambil membaringkan tubuhnya ke arahku. Kucubit pipi ini untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi. Dan akhirnya, aku tersadar penuh jika sedang berada di dalam kamarnya.


"Astaga!" Aku segera bangun.


"Ara, kenapa bangun?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


"Tuan, kenapa aku di sini? Bukannya aku—"


"Semalam aku yang menggendongmu ke sini."


"Hah? Apa?!"


"Kau mengunciku dari luar. Ingat?" tanyanya yang beranjak bangun juga.


"Em ...." Aku tak enak sendiri.


"Kau nakal, Ara." Dia menarik hidungku.


"Aw! Sakit!" Kuhempaskan tangannya.


Dia tersenyum. "Mulai sekarang kau akan tidur di sini," katanya lagi.


"Apa?!" Aku seperti bermimpi.

__ADS_1


"Aku ingin memastikan jika kau baik-baik saja." Dia lalu menarikku ke dekatnya.


"Tuan!"


Kini aku berada di atas tubuhnya. Dia memegang kedua lenganku. Kami saling bertatapan dengan wajah polos sehabis tidur. Tak tahu mengapa jantungku berdegup kencang sekali saat menatap kedua bola mata birunya.


"Ara ...."


Suaranya terdengar berat. Dia seperti ingin melakukan sesuatu padaku. Rambutku yang panjang, terjuntai hingga mengenai wajahnya. Sehingga aku harus menyampirkannya agar dia tidak terkena rambutku.


"Tuan, apa yang kau lakukan?" tanyaku seraya memperhatikan wajahnya.


Dia tersenyum manis sekali. Aku jadi ingin menciumnya pagi ini. Kuakui jika senyumannya begitu menawan hati dan pandangan mata. Bibirnya itu tipis dan berwarna merah muda. Entah mengapa aku jadi ingin mengecupnya sekarang.


"Ara, setelah kupikir-pikir aku akan ikut bersamamu pulang ke rumah," katanya yang mengagetkanku.


"Ap-apa?!" Aku seperti salah mendengar.


Astaga ....


Sungguh tak percaya apa yang dia katakan padaku saat ini. Rasa-rasanya ini bukanlah nyata melainkan mimpi. Aku pikir dia akan marah karena semalam menguncinya dari luar. Tapi ternyata, dia malah mengatakan jika ingin ikut bersamaku menemui ibu. Dan yang lebih mengagetkannya dia ingin meminta restu kepada ibuku. Jika sudah begini apa lagi yang harus kucemaskan? Dia benar-benar serius ingin meminangku.


Aku beranjak bangun lalu menggulung cepat rambutku di pinggir kasur. "Aku tidak tahu bisa atau tidak mengajakmu. Kau tahu sendiri aku datang ke sini lewat pintu jatuhan air. Jika mengajakmu aku takut tidak bisa." Kujelaskan kerisauanku.


Dia mendekat. "Hei, aku malah tidak sempat berpikir jika ke sana lewat pintu itu." Dia seperti menghiburku, duduk di sampingku.


"Benar, kah?" Sepertinya aku salah paham lagi.


"He-em." Dia mengangguk. "Nanti kita akan naik jet pribadi ke sana agar cepat sampai dan tidak mampir dulu," katanya.


"Tapi, aku kan tidak punya paspor." Aku memberi tahu.


"Iya, aku tahu. Maka itu nanti naik jet pribadi saja. Sesampainya di sana akan kutunjukan identitasku. Nanti jika ingin kembali ke Dubai, baru kita buat paspornya." Dia menenangkanku.

__ADS_1


Tuan ... bagaimana caranya aku berterima kasih padamu?


Aku tersenyum lalu memalingkan pandanganku darinya. Aku tidak ingin rasa bahagia ini sampai diketahui olehnya. Sebisa mungkin dia tidak mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Karena katanya jika pria tahu kita amat mencintainya, dia bisa seenaknya mempermainkan. Jadi ya aku berusaha bersikap biasa-biasa saja walaupun sudah tahu keseriusannya.


"Baiklah." Aku mengangguk.


Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku pun melingkarkan kedua tangan ini di pinggangnya. Dan tanpa sengaja aku melihat jam di dinding yang telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sesaat kemudian aku menyadari jika aku...


"Tuan, aku kesiangan!!!"


Aku kelabakan melihat waktu sekarang. Akhirnya aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Kutinggal saja dirinya di dalam kamar lalu segera memasak. Karena pukul sembilan akan ada audisi akhir dari peran Cinderella di kampus. Jadi aku tidak boleh sampai telat datang. Ya sudah, kuselesaikan secepatnya pekerjaanku ini.


Pukul delapan pagi waktu Dubai dan sekitarnya...


Aku sudah selesai mandi dan kini sedang berdandan di depan cermin yang ada di seberang meja makan. Hari ini kukenakan kemeja lengan panjang berwarna biru tua dan jeans hitam. Sedang sepatunya kukenakan sepatu sandal berwarna krim. Entah mengapa aku ingin mengenakan perpaduan warna yang seperti ini.


Tuanku sedang mandi, bergantian denganku. Rambutku pun masih basah sehingga kubiarkan tergerai begitu saja. Dan kini aku sedang memoleskan tabir surya di wajahku sambil menunggunya selesai mandi. Tak lama dia pun keluar dari kamar mandi dan melihatku yang sedang berdandan.


"Ara, kau mau ke kampus?" tanyanya yang melihat pakaianku.


"He-em." Aku menoleh ke arahnya. "Hari ini ada audisi terakhir Cinderella. Aku ingin mengikutinya," kataku lalu mengambil bedak untuk kupakai.


"Oh." Dia hanya menjawab oh lalu masuk ke dalam kamarnya.


Aku tidak tahu mengapa dia bersikap aneh pagi ini. Dia seperti sungkan untuk membiarkanku pergi. Entah apa yang dia sembunyikan dariku, aku juga tidak tahu. Dan karena tidak mau berpikir lebih jauh, kuteruskan saja dandananku. Memakai bedak setipis mungkin lalu menyapukan lipglos pink di bibirku. Aku pun siap menjalani hari dan mengikuti audisi hari ini.


Ara belum menyadari alasan apa yang mendasari perubahan sikap Rain kepadanya. Sang gadis malah mengatakan ingin pergi ke kampus dan mengikuti audisi peran Cinderella. Padahal Rain ingin sekali Ara menemaninya hari ini.


Rain kesal karena Ara tidak juga mengerti maunya tanpa harus diungkapkan. Akhirnya sang penguasa uring-uringan di dalam kamarnya. Dia kesal lalu membanting-banting bajunya ke kasur. Ia ingin mengatakan yang sesungguhnya tapi juga khawatir Ara akan salah paham padanya, seperti semalam.


"Hah! Dia itu kenapa menyebalkan sekali?!" Rain menggerutu. "Harusnya hari Minggu ini bisa bermesraan denganku. Tapi dia malah ingin pergi ke kampus." Rain merebahkan tubuhnya ke kasur. "Nanti kalau aku melarang, dia marah. Tak kularang, aku menginginkannya. Jadi aku harus bagaimana?" Rain pusing sendiri.


Tak dapat ia pungkiri jika menginginkan waktu yang lebih intim bersama gadisnya, layaknya kekasih pada umumnya. Bermanja-manjaan ria, saling membelai satu sama lain dan menyalurkan kasih sayang. Tapi lagi dan lagi Rain harus menahan hasratnya agar tidak terjadi salah paham. Rain trauma didiamkan Ara berhari-hari. Cinta Ara begitu berarti di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2