Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't!


__ADS_3

Sesampainya di apartemen...


Sang gadis membawa tas kuliah sambil menggandeng mesra lengan prianya. Sedang sang pria membawa koper kerja dan juga tas belanja berukuran besar yang entah apa isinya. Mereka tampak bahagia saat keluar dari lift, meneruskan langkah kaki bersama hingga masuk ke dalam apartemen.


"Ara."


"Hm?" Ara menutup pintu lalu segera menguncinya dari dalam.


"Aku ada sesuatu untukmu." Rain mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. "Ini." Rain menyerahkannya kepada Ara.


"Astaga!" Sontak Ara terkejut dengan apa yang Rain berikan.


"Aku harap kau menyukainya."


Rain memberi setangkai mawar merah kepada Ara. Sontak sang gadis merona malu karena diberi bunga olehnya. Rain juga menyerahkan tas belanja yang dibawanya kepada Ara.


"Apa ini?" tanya Ara penasaran.


"Buka saja," pinta Rain seraya tersenyum.


Ara pun lekas-lekas membuka tas tersebut. Dan ternyata sebatang cokelat berukuran raksasa yang ia temukan. Hampir-hampir cokelat itu terlepas dari tangannya karena amat berat.


"Dua kilo cokelat batang. Ini tidak salah, Sayang?" Ara terheran sendiri. Ia dekap bunga dan cokelat pemberian dari Rain.


Rain lalu duduk di sofa. "Untukmu apa yang tidak?" Rain merebahkan punggungnya di sofa.


Ara pun ikut duduk di samping Rain. Ia letakkan bunga dan cokelatnya ke atas meja. Tanpa malu dan ragu ia merebahkan kepalanya di pundak Rain. Hal itu membuat Rain tanpa sadar mengusap wajah gadisnya dengan penuh kelembutan. Tangannya bergerak sendiri seolah mengikuti alam yang menuntunnya.


"Ara?!"


Tiba-tiba Rain dikejutkan dengan sikap Ara. Ara merebahkan kepalanya di atas pangkuan Rain lalu menggerakkannya pelan, seolah minta dimanja. Sontak tubuh Rain merespon cepat sikap Ara.


Astaga dia pikir aku malaikat apa.


Entah sengaja atau tidak, Ara menggerakkan kepalanya berulang kali hingga membuat Rain gelisah sendiri. Ia tidak sanggup berlama-lama dengan posisi seperti ini. Ia lantas mengangkat tubuh Ara lalu mendudukkan di atas pangkuannya.


"Kau sengaja memancingku?" Rain menatap Ara yang terkejut dengan gerak cepatnya.


"Eh? Aku hanya ingin merasakan rebahan di pangkuanmu saja. Seperti yang kau lakukan padaku." Ara menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi hal yang kau lakukan itu memancing singa bangun, Ara." Rain berkata jujur.


"Singa?" Ara pun tampak bingung. "Sayang!" Tiba-tiba Ara berteriak.


Rain dengan cepat merebahkan Ara ke sofa. Dan kini ia berada di atas tubuh gadisnya. Tatapan matanya berubah saat mengunci tubuh sang gadis dengan kedua pahanya yang kekar.


"Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!" Ara berontak.


"Kau ini nakal. Jadi harus diberi hukuman." Rain melepas jasnya.


"Tuan, jangan. Kumohon." Ara meminta.


"Tuan?! Masih berani menyebutku dengan kata tuan? Padahal hitungan minggu kita akan menikah!" Rain semakin menjadi-jadi, ia melepas dasi lalu kancing kemeja jasnya.


"Ma-maaf, Sayang. Tolong hentikan! Aku belum siap!" Ara berteriak.


Seketika Rain terdiam. Ia melihat sang gadis memejamkan matanya dengan tangan yang menutupi dada. Dilihatnya wajah seorang gadis yang akhir-akhir ini telah berhasil membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak. Tapi kini sang gadis tidak berdaya di bawah tubuhnya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"


Rain merendahkan tubuhnya dengan kedua kaki yang mengapit tubuh Ara. Ia menatap dalam sang gadis yang berada di bawah kendalinya.


Rain terdiam.


Ini aneh sekali. Tubuhku bereaksi cepat saat mendapat sentuhan darinya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa saat bersamanya seperti terkena sengatan listrik?


Rain bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa bisa mempunyai perasaan seperti ini. Ara mampu membuat jaringan saraf di tubuhnya tersambung dengan cepat dan memunculkan sensasi tak biasa. Ia berharap secepatnya dapat mengetahui penyebab hal ini.


"Sayang, kita makan siang saja, yuk. Aku lapar." Ara memohon sambil memasang wajah imutnya.


"Aku ingin memakanmu saja," balas Rain.


"Memakanku?! Hah! Apa kau sudah gila?! Aku masih ingin hidup. Cepat lepaskan aku! Lepaskan!" Ara berontak.


Perlawanan Ara terhadap Rain ternyata membuat dada Rain naik-turun sendiri. Detak jantungnya semakin melaju cepat, tak terkendali. Ara pun berusaha mencubit Rain agar segera melepaskannya. Tetapi...


"Jangan!" Rain malah mencengkram kedua tangan Ara.


"Aku tidak suka ditolak. Kau telah menolakku berkali-kali. Maka hari ini kau harus mendapat hukuman. Suka atau tidak, Sayang." Rain mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ara.

__ADS_1


Sayang? Dia memanggilku dengan sebutan sayang? Ara terkejut.


Ara memalingkan wajahnya, berusaha menghindar dari Rain. Tapi nyatanya Rain mengambil kesempatan itu untuk menghukum Ara. Bibirnya mendarat di leher sang gadis lalu mencumbunya tanpa henti hingga Ara meracau sendiri.


"Sudah ... engghhh." Ara merasa dipermainkan.


Aku harus berbuat sesuatu. Kalau tidak aku bisa kehilangan kendali dan dia bisa bebas mempermainkanku.


Ara mencari cela untuk melarikan diri. Ia pun menggerakkan kakinya sekuat tenaga ke tubuh Rain. Lalu kemudian...


"Aduh!" Sang anak penguasa ditendang Ara sampai jatuh ke lantai. "Aarrraaa!!!" Rain kesal bukan main karena ulah gadisnya.


"Maaf, aku terpaksa. Aku ke dapur dulu, ya."


Ara segera pergi ke dapur, meninggalkan Rain seorang diri di ruang tamu. Ia lekas-lekas menutup pintu dapur dari dalam agar Rain tidak bisa masuk. Namun, saat melihat ke kaca kecil yang ada di dapur, ia menemukan sesuatu pada lehernya.


"Astaga ... dia ini!"


Ara melihat sebuah tanda merah di lehernya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan tuannya sendiri yang tak lain adalah Rain.


"Awas ya. Aku akan melakukan pembalasan nanti!"


Ara menggulung rambutnya dengan cepat lalu menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Siang ini ia menyajikan steak sapi karena bisa dengan cepat tersaji. Ia pun dengan semangat membuatnya untuk sang tuan yang ingin menikahinya, Rain.


Lima belas menit kemudian...


Sang gadis menyediakan makan siang ke meja lalu mengadu kepada prianya atas tanda yang terjadi di lehernya. Alih-alih mendapatkan pertanggungjawaban, Ara malah ditertawakan oleh Rain. Sang penguasa mulai menunjukan sifat aslinya di hadapan sang gadis. Sontak Ara kesal bukan main.


"Aku ingin pindah saja dari sini!" cetus Ara yang kesal.


"Eh? Kau ingin lari dariku?" Rain memasang wajah galak.


"Aku tidak aman di sini. Ada singa kelaparan." Ara memalingkan pandangannya dari Rain.


"Ara ...," Rain berkata lembut. "Ini belum seberapa. Nanti jika sudah menikah, sedetikpun kau tidak akan bisa lari dariku." Rain menerangkan.


"Oh, ya?" Ara mulai mengiris daging steak-nya dengan kesal.


"Tentu saja. Nanti kau akan lihat dan rasakan sendiri bagaimana otot-otot kekar singa itu mengunci tubuhmu. Melumatmu sampai kau merintih dan tidak akan memberi jeda sedetikpun."

__ADS_1


"Cukup!" Ara berdiri dari duduknya.


__ADS_2