
Lima menit kemudian...
"Ara!"
Taka benar-benar datang setelah kukirimkan shareloc di mana posisiku berada. Pria berkaus putih berompi kemeja hitam itu lekas menghampiriku yang sedang menunggu di dekat satpam. Lantas aku menyapanya dengan segera.
"Taka, ternyata kau benar-benar datang." Aku tersenyum semringah kepadanya.
"Aku segera ke sini karena tak biasanya kau memintaku datang. Pasti ada sesuatu hal yang genting. Maka itu aku langsung berangkat," katanya.
Kusadari jika Taka benar-benar peduli padaku. Aku pun tersenyum kepadanya. "Taka, temani aku berbelanja sebentar. Mau, ya?" tanyaku.
"Siap! Aku akan menemani." Dia pun segera menanggapiku.
Kutahu jika dia belum makan. Sehingga aku berniat untuk mentraktirnya selepas ini. Ya, sudah. Aku cepat-cepat membeli kebutuhan untuk beberapa hari ke depan. Ditemani oleh Taka, teman pertamaku di kampus.
Semoga hal ini tidak memunculkan kesalahpahaman di kemudian hari. Karena aku memang benar-benar membutuhkannya untuk menemaniku berbelanja. Karena Jack baru akan datang setengah jam lagi.
Aku berbelanja berbagai macam cemilan dan juga kebutuhan pokok. Kulihat Taka terkejut karena melihat banyaknya barang belanjaanku. Sampai-sampai keranjang dorong tidak lagi muat untuk menampung. Lantas saja dia membantu mengambilkan keranjang yang lain, sedang yang sudah penuh diletakkannya di dekat kasir.
"Ara, banyak sekali?" Taka terheran melihatnya.
"Ini belum seberapa tahu," kataku.
"Hah?! Yang benar saja?!" Dia terkejut.
"He-em." Aku mengangguk lalu memilih kembali apa yang harus kubeli.
Tak lupa aku juga membeli kebutuhan untuk calon suamiku, sambil bertanya-tanya tentang apa saja yang dipakai oleh Taka. Aku juga berniat membelikannya keperluan sehari-hari. Ya, walaupun tak banyak. Setidaknya sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah mau menemaniku berbelanja hari ini.
"Ara."
"Hm?"
Taka masih menemaniku di sisi. Kami berjalan bersama menyusuri lorong minuman ringan. Aku pun mengambil beberapa softdrink untuk mengisi kulkasku.
__ADS_1
"Kulihat tadi kalian ke atap gedung. Ada apa?" Tiba-tiba Taka bertanya tentang Lee.
Aku menoleh ke arahnya. "Kau menguntit, ya?" tanyaku, meledeknya.
"Ih, tidak. Aku hanya penasaran. Sepertinya dosen Lee mempunyai perasaan lebih padamu," katanya lagi.
"Hm ...." Aku jadi bingung harus menjawab apa.
"Dia itu jomblo sejati, Ara. Kata senior yang seangkatan dengannya, dosen Lee tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Bahkan sampai dia diangkat menjadi dosen di kampus." Taka menceritakan.
"Hah, benarkah?" Aku terkejut.
"Benar, percaya padaku. Aku rasa dia memang mempunyai perasaan padamu. Tidak mungkin dia sampai datang ke apartemenmu waktu itu, seorang diri lagi." Taka melanjutkan.
Seketika aku menyadari jika Taka mengetahui tentang Lee dan juga aku. "Em, memangnya kau tidak menyukaiku?" Aku bertanya lagi.
"Eh?!" Kulihat dia terkejut.
"Semua orang wajar saja jika mempunyai rasa suka terhadap orang lain, bukan? Apalagi lawan jenis, itu hal yang manusiawi. Masalahnya sebagai perempuan kami lebih memilih yang memberikan bukti daripada janji. Dan priaku sudah memberikannya." Aku mengungkapkan isi pikiranku.
"Itu berarti ...?" Kulihat Taka tertegun.
"Taka, aku tidak ingin bermain-main jika berkaitan dengan hati. Aku pikir jika memang ada tujuan lain dari caranya, harusnya dia segera membuktikannya. Sudah ya, jangan dipikirkan. Aku bayar dulu."
Entah mengapa aku dengan mudah memaparkan pendapatku padanya. Biasanya aku merasa segan untuk menceritakan isi pikiranku. Tapi hari ini berbeda, aku merasa sudah dekat dengannya. Ya, walaupun hanya sebatas teman.
"Yang ini tolong dipisah," kataku kepada kasir.
Lantas aku meminta barang untuk Taka dipisahkan. Tanpa sepengetahuannya, aku membelikan beberapa kebutuhan harian untuknya, seperti peralatan mandi dan juga mencuci. Tabu memang, tapi kuberikan hal ini sebagai rasa terima kasihku padanya.
"Nona, ingin tunai atau debit?" tanya kasir setelah menghitung semua barang belanjaanku.
"Debit," kataku lalu menggesek kartu dari priaku ini.
Transaksi selesai. Kami pun berjalan bersama menuju teras depan supermarket. Rencana aku akan mentraktir Taka makan sebelum kami berpisah. Ya, sudah. Sambil menunggu Jack datang kami pun bercengkrama bersama.
__ADS_1
Satu jam kemudian...
Akhirnya aku sampai juga di rumah baru ini. Lelah rasanya setelah kuliah langsung dibawa berbelanja. Dan kini aku sedang duduk sebentar di atas sofa sambil merebahkan punggungku. Jack juga baru saja berpamitan. Dia ikut membawakan barang belanjaan sampai ke ruang tamu.
Jack tidak berpesan apa-apa tadi. Dia langsung pergi setelah selesai mengantarkanku sampai ke rumah. Mungkin dia tidak enak jika lama-lama di sini, apalagi cuma berdua. Aku pun memakluminya.
Dia sedang apa, ya?
Siang ini aku merasa rindu dengan priaku. Jika tidak ada kegiatan pikiranku langsung tertuju padanya. Lantas kuambil ponsel lalu melihat pesan masuk. Dan ternyata priaku mengirimkan foto saat pertemuan makan siang. Dia sepertinya sangat sibuk sekali. Tak ada kata apapun di foto itu, hanya fotonya saja.
Ya, sudahlah.
Segera kukunci pintu dari dalam lalu membereskan semua barang belanjaanku. Setelahnya barulah tidur siang untuk menambah tenaga. Siapa tahu nanti malam priaku ingin menelepon, jadi ya isi tenaga dulu. Kuakui jika aku begitu merindukannya.
Beberapa jam kemudian...
Suara burung-burung berterbangan di pantai. Terdengar samar namun semakin lama semakin jelas. Aku pun bangun di hari yang sudah menjelang petang. Tanpa terasa sebentar lagi akan memasuki malam.
Lantas aku beranjak mandi, menyegarkan diri dari aktivitas hari ini. Setelahnya aku segera bersantap di depan meja makan. Seorang diri tanpa priaku menemani. Aku mencoba memaklumi pekerjaannya yang begitu padat. Dia memang orang besar yang terpandang.
Tadi selepas berbelanja, Taka banyak menceritakan padaku tentang kejadian di kampus sebelum aku datang. Dan tahun ini adalah tahun ajaran terakhir baginya. Itu berarti aku dan Taka berbeda satu tingkat. Dia lebih senior dariku.
Taka begitu baik dan juga peduli. Sehingga aku merasa segan jika tidak menanggapi ceritanya. Terlebih dia juga ramah padaku, terbukti jika dialah teman pertamaku di kampus.
"Ara, apa-apaan ini?!"
Masih teringat jelas bagaimana roman wajahnya saat aku memberikan sekantong plastik kebutuhan hariannya. Kulihat matanya berkaca-kaca, seperti terharu dengan pemberianku. Dia lantas seperti ingin memelukku, tapi aku segera menahannya. Seketika itu juga kami tertawa bersama.
Dia memang teman yang baik.
Tak lama berselang dari itu, Jack pun datang menjemputku. Dan tanpa diminta Taka memperkenalkan dirinya kepada Jack. Mungkin dia khawatir pertemuanku dengannya menimbulkan salah prasangka. Padahal aku belum bilang siapa pria yang dia lihat kemarin di apartemenku. Tapi mungkin dia sudah mengerti tanpa harus kuceritakan. Dan ya, semoga saja persahabatan kami ini akan terjalin selamanya.
Dering ponsel berbunyi...
Aku baru saja selesai makan dan kudengar ponselku berbunyi di kamar. Lantas aku segera beranjak untuk melihat siapa yang meneleponku. Dan ternyata...
__ADS_1