Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
With You


__ADS_3

Malam ini priaku mengambil alih dapur. Untung saja aku sudah berbelanja sehingga mau makan apa saja ada. Dan kulihat priaku membuatkan nasi goreng untukku. Dua porsi nasi goreng untuk disantap malam ini. Tapi, nasi gorengnya polos tidak ada hiasan sama sekali. Ya, maklum saja. Namanya juga pria yang memasaknya. Lantas kubantu membuatkan hiasan di atasnya agar nasi goreng buatannya lebih menarik.


"Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu padamu," kataku mengawali pembicaraan malam ini sambil mengiris mentimun dan juga tomat.


"Tentang apa?" tanyanya seraya mengambil gelas.


"Semalam itu aku bertemu dengan nenek," kataku.


"Nenek?" Dia lalu berdiri di sampingku.


"Iya. Aku punya niatan untuk memberikan setengah gajiku kepada nenek. Dan nenek bilang berikan saja ke Baitul Mal yang ada di sini, agar pihak sana yang membagikannya kepada yang lebih berhak." Aku menjelaskan.


"Lalu?" Dia amat antusias menanggapi ceritaku.


"Sayang, bagaimana sih! Gajiku kan belum dibayar," kataku manja.


Seketika dia tertawa.


Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sehingga bisa tertawa seperti itu. Kulihat dia menuangkan air minumnya ke dalam gelas lalu segera meneguknya. Sedang aku menaburkan tomat dan mentimun yang telah diiris ke pinggiran nasi goreng buatannya.


"Sayang, kau tinggal ambil saja. Kenapa harus bilang dulu?" Dia lagi-lagi tertawa.


Sejenak aku mencerna kata-katanya. Mungkin yang ada di dalam pikirannya aku tidak perlu lagi meminta, tinggal ambil saja. Tapi yang namanya hak aku hanya akan mengambil hak ku saja, sesuai dengan yang memang harus dibayarkan. Jadi jika dia memberi lebih, itu lain lagi ceritanya.


"Sayang, aku serius. Aku hanya meminta gajiku saja. Sesuai dengan gaji yang harus dibayarkan, tidak lebih dari itu," kataku manja.


"Ya, ya. Baiklah. Aku akan memberikannya jika maunya seperti itu. Tapi jika sesuai standar gaji di sini, hanya dapat seribu dolar per bulannya. Apa tidak apa?" tanyanya padaku.


Lantas aku duduk di depan meja makan, kami duduk berhadapan. Aku kemudian mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makan malam.


"Ya, sudah. Tak apa. Besok aku minta Jack mengantarkanku ke Baitul Mal yang ada di sini," kataku.


Dia tersenyum. "Sayang." Dia memegang tanganku. "Ambil saja yang kau mau, punyaku juga punyamu. Tidak perlu bilang lagi." Dia menjelaskan.


Senang rasanya jika dia sudah berkata seperti itu. Tetapi tetap saja aku harus meminta izin terlebih dahulu. Karena kalau tidak, jatuhnya mencuri karena mengambil tanpa pamit. Lagipula apa sih susahnya izin? Bukankah hati akan lebih tenang saat memakainya?

__ADS_1


"Ya sudah, kita makan sekarang. Rasakan nasi goreng buatanku. Kalau tidak enak, telan saja ya." Dia berkata sambil menahan tawanya.


Priaku ternyata humoris. Dia bisa tertawa di depanku. Tawa malu-malunya itu membuatku semakin terpaku. Rasanya aku ingin menelannya saja. Dia amat memukau pandangan mataku.


Sayang, janji jangan nakal, ya. Aku mencintaimu, tahu!


Lantas kami makan malam bersama dengan nasi goreng buatannya. Dia kemudian mulai membuka percakapan saat berada di Turki kemarin. Aku pun amat antusias mendengarkannya. Kurasa kami memang satu frekuensi sejak awal. Dan semoga sampai akhir tetap seperti ini.


Menjelang tidur...


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Dan kini kami sedang merebahkan punggung bersama, di kepala kasur dengan bantal sebagai alasnya. Bisa dibilang jika ini adalah pertama kalinya bagi kami di atas kasur yang sama di rumah ini. Dan rasanya hatiku dag-dig-dug sendiri.


Tak dapat kupungkiri jika hasrat itu selalu ada. Ditambah dia yang suka menggodaku dengan kata-kata mesumnya. Ya, walaupun mungkin baginya hanya sekedar bercanda, tetapi tetap saja terasa. Dan aku harus sebisa mungkin menjernihkan pikiran saat dia mulai melancarkan aksinya. Walau terkadang aku ikut terhanyut dengan kata-kata yang diucapkannya.


Priaku memang tidak suka menggombal, tapi dia suka menggodaku. Ada saja hal yang dia lakukan sampai membuatku terpingkal-pingkal atau bahkan menghanyutkan diri bersamanya. Dia cukup pintar untuk mengendalikan hati ini. Namun, tetap ada sesuatu yang tidak bisa kutangani darinya, yaitu sifat cemburunya. Jika sudah muncul, lebih baik aku menghindar saja daripada menimbulkan pertengkaran.


Cukup sekali kami berdiaman lama sepanjang hari. Dan cukup sekali kata murahan itu terdengar di telingaku ini. Walau aku akan menjadi istrinya, tetap saja dia harus menjaga kehormatanku di depan umum. Karena bagaimanapun kehormatanku adalah kehormatannya juga. Dan kurasa dia tidak perlu diingatkan lagi karena pastinya sudah mengerti.


"Ini Presiden Turki. Di pertemuan terakhir aku sempat bertemu dengannya." Dia menceritakan sambil menunjuk foto seseorang di ponselnya.


"Sudah. Dan ya aku seperti tidak bisa berpikir. Untung saja saat pertemuan inti ponselku tidak diaktifkan. Jika diaktifkan, entah apa yang akan terjadi. Mungkin aku terburu-buru pulang ke sini." Dia meneruskan.


"Maafkan aku, Sayang. Aku juga sebenarnya tidak ingin merepotkan. Aku tidak sadarkan diri sejak melihat cahaya itu." Aku menceritakan.


"Tak, apa. Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Jangan merasa sungkan, ya." Dia lantas memelukku.


Kurasakan kehangatan tubuhnya malam ini. Pelukan hangat yang serasa mendamaikan hatiku. Lantas aku pun ikut memeluknya dan membiarkan ponselnya berada di atas pahaku. Aku tidak lagi berpikir jika kami belum menikah. Rasanya kami sudah menjadi sepasang suami istri yang sah dan tidak perlu malu lagi mengutarakan sesuatu. Dan ya, aku merasakan hal itu. Kami sudah saling terbuka satu sama lain. Tinggal menunggu harinya saja pernikahan itu akan diselenggarakan.


"Sayang."


"Hm?"


"Kau menyerahkan urusan pernikahan kepada Jack?" tanyaku.


"He-em." Dia mengangguk seraya mengusap kepalaku

__ADS_1


"Semuanya?" tanyaku lagi.


"Iya." Dia menjawabnya. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengurus pernikahan di sini. Jadi aku meminta tolong kepada Jack dan terima jadi," katanya.


"Mau dirayakan?" tanyaku kembali.


"Kalau hal itu sesuai dengan keinginan Nyonya Rain saja. Aku mengikut," katanya yang membuatku tersenyum sendiri.


"Lalu mengenai resepsinya?" tanyaku lagi.


"Nanti hal itu kuserahkan kepada Ro. Dia lebih tahu untuk pernikahan kita. Sedang administrasinya kuserahkan kepada Jack." Priaku menjelaskan.


Ternyata priaku membagi tugas kepada asisten dan supir pribadinya dalam melangsungkan pernikahan nanti. Tapi rasanya kok ada yang kurang, ya? Entah apa itu.


"Ya, sudah. Kita tidur, yuk. Aku ada jam pagi besok," kataku padanya.


"Eh, tidak mau main dulu?" tanyanya.


"Main? Main apa?" tanyaku bingung.


"Aku ingin minum susu sebelum tidur," jawabnya.


"Sayang!!!"


"Ayolah. Ya, ya?" Dia mulai nakal.


"Tidak!"


Aku pun tidak menggubrisnya. Segera kutarik selimut lalu membelakanginya. Namun, saat itu juga tangannya mulai bergerilya.


"Sayang!"


"Sedikit saja."


"Tidak mau!"

__ADS_1


"Aku sudah pusing, Sayang. Tolong aku," katanya yang membuatku tak bisa lagi berkata-kata.


__ADS_2