Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
News


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Aku sedang duduk bersama suamiku dan juga Owdie. Kami bercakap-cakap sebentar lalu tak lama ibu pun pulang dari pasar. Suamiku segera menyambut ibu lalu memperkenalkannya kepada Owdie. Kulihat Owdie begitu santun kepada ibu mertuaku. Dia juga mencium tangan ibu seperti ibunya sendiri. Sepertinya Owdie memang sudah terbiasa mengikuti tradisi dan adat budaya di sini.


"Jadi ini saudara Rain?" Ibu mertuaku bertanya.


"Ya, Bu. Owdie adalah saudara yang paling dekat denganku di organisasi." Suamiku menjawabnya.


"Oh, begitu. Kebetulan sekali ada yang datang. Ibu baru saja membeli buah-buahan. Kita buat sup buah ya?" Ibu mertuaku tersenyum kepada Owdie.


Entah mengapa aku melihat mata Owdie seperti tergenang. Mungkin ia merasa haru atau juga iri kepada suamiku karena telah menemukan ibu. Sedikit banyak suamiku telah menceritakan tentang semua saudara seperasuhannya yang dibesarkan sejak kecil oleh nenek dan kakek di sana. Tanpa tahu di mana ayah dan ibu mereka berada. Aku pun mencoba mengerti kesedihan yang melanda Owdie. Pastinya ia sangat merindukan ibunya.


Suamiku sendiri, Rain tampak menepuk pundak Owdie. Ia mengusap-usap punggung saudaranya saat ibu beranjak ke dapur. Dan karena aku tidak mau mengganggu suasana, aku berpamitan saja kepada mereka.


"Kak Owdie, Ara ke dapur dulu ya." Aku berpamitan kepada saudara suamiku ini.


Owdie hanya mengangguk. Ia seperti enggan menjawab pamitanku. Mungkin ia merasa berat untuk mengeluarkan sepatah dua kata saat ini. Aku pun mencoba memakluminya.


"Masak yang enak, Sayang." Namun, suamiku sepertinya sedang mencoba memecah rasa sedih yang menyelimuti saudaranya dengan bergurau kepadaku.


"Iya. Tunggu ya." Aku pun bergegas menuju dapur.


Kubiarkan sejenak kedua saudara seperasuhan itu duduk bercengkrama. Sedang aku menuju dapur untuk membantu ibu membuatkan sup buah. Sekalian aku juga ingin tahu bagaimana sup buah versi Turki. Ya, kali-kali saja ada yang berbeda.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


Aku sedang duduk di depan meja dapur sambil mengupas dan mengiris buah-buahan tropis yang ibu beli. Ada mangga, melon, pir, alpukat dan berbagai jenis buah lainnya yang sepertinya memang sengaja ibu beli untuk dibuatkan sup. Ibu membelinya tidak banyak. Masing-masing dari buah tersebut hanya terdiri dari satu sampai dua buah saja. Namun, mataku tertuju pada satu ikat kelengkeng yang ada. Diam-diam aku pun mencicipinya tanpa diketahui ibu.


Hm, rasanya enak.


Tentu saja rasanya enak. Awalnya aku kurang menyukai buah yang satu ini. Tapi lama kelamaan malah cinta mati. Makan sendiri saja bisa habis beberapa ikat. Memang benar-benar tidak terduga. Entah memang karena doyan atau lapar. Kini aku memang menyukai kelengkeng.


"Suamimu memiliki banyak saudara seperasuhan di sana, Nak. Sudah berapa banyak yang kau temui?" tanya ibu mertuaku.


Ibu sedang menata barang belanjaannya. Ada susu cair ukuran besar dan juga UHT yang bisa segera diminum. Namun sayangnya, tidak ada susu cokelat kesukaanku. Aku pun terus saja memakan kelengkeng di depan ibu. Tanpa malu-malu karena mau ditutupi juga tidak akan bisa. Biji kelengkeng yang kusisihkan pasti ketahuan olehnya. Jadinya aku santai saja.


"Setahu Ara cuma dua saudara terdekatnya. Tapi kemarin sempat bertemu dengan semua saudaranya. Mungkin karena Ara sudah diketahui oleh organisasi makanya tidak boleh keluar apartemen tanpa pakaian yang tertutup." Aku menduganya.


"Oh, pantas saja. Rain ingin melindungimu, Nak. Maka dari itu dia memintamu untuk mengenakan pakaian yang serba tertutup saat keluar rumah. Maklumi saja ya." Ibu mengambil buah-buahan yang telah kupotong kecil-kecil.


"Iya, Bu. Ara juga sempat memikirkan untuk mengenakan pakaian yang seperti itu. Tapi Ara belum mampu." Aku jujur saja pada ibu mertuaku.


Ibu mertuaku tersenyum. "Pelan-pelan. Nanti juga terbiasa. Yang penting hati Ara siap dulu." Ibu mengusap kepalaku.


Saat menerima usapan darinya, saat itu juga aku merasa padang gurun gersang tiba-tiba menjadi membeku karena salju. Padang gurun itu kemudian bersemi lalu lama kelamaan menjadi dataran yang dipenuhi pepohonan hijau. Mungkin seperti itulah yang kurasakan saat disayang oleh ibu mertuaku.


Sampai saat ini suamiku belum melakukan tes DNA untuk memastikan apakah benar wanita paruh baya yang ada di hadapanku ini adalah ibu kandungnya atau bukan. Dia amat percaya jika ibu adalah ibu kandungnya. Dan aku pun mengikutinya. Tapi, semoga suatu hari nanti bisa kami dapatkan kepastiannya. Agar kehidupan ke depannya bisa lebih tenang. Semoga yang terbaik selalu menyertai keluarga kami.

__ADS_1


Menjelang makan siang...


Aku baru saja mengantarkan sup buah untuk suamiku dan juga saudaranya. Tampak keduanya sangat senang dihidangkan sup buah yang menyegarkan tenggorokan. Setelah mengantarkan sup buah, aku pun kembali ke dapur untuk membantu ibu membuatkan makan siang. Tapi, aku hanya melihatnya saja dengan duduk diam di depan meja dapur. Ibu yang mengurusi semuanya.


Indahnya menjadi ibu hamil yang apa-apa serba dimanjakan. Mau ini tinggal bilang, mau itu tinggal minta. Tapi tidak sedikit juga ibu hamil yang bekerja keras saat mengandung anaknya. Dan aku sangat mengagumi perjuangan mereka.


Kini aku duduk sambil menyantap sup buah yang ibu buatkan. Ternyata sup buahnya menggunakan susu kambing. Aku pun menolaknya mentah-mentah karena aromanya kurang begitu kusukai. Alhasil ibu menggantikannya dengan susu kaleng yang ada di sini. Dan rasanya tidak jauh berbeda dengan sup buah yang ada di negeriku. Bedanya hanya di daftar buahnya saja karena buah kurma ikut ditambahkan.


"Apa?!" Tak beberapa lama kudengar suara Owdie berteriak. Entah apa yang terjadi di sana.


"Ibu?" Aku pun melihat ke arah ibu.


"Biar saja, ada suamimu. Kita tunggu mereka yang mengatakannya sendiri." Ibu memintaku untuk tetap berada di dapur.


Tak tahu apa yang terjadi, aku kepo sekali. Tiba-tiba kudengar suara saudara suamiku yang seperti terkejut bukan main. Aku pun beranjak bangun untuk melihat mereka dari balik pintu. Aku ingin menguping pembicaraan yang terjadi.


"Dia seenaknya merubah tatanan organisasi. Lalu apa ada dari kalian yang menolaknya?"


Kulihat Owdie berbicara di teleponnya. Ternyata dia tengah menerima telepon. Sedang suamiku sendiri tampak menunggu telepon itu selesai.


Ada apa ya? Mengapa raut wajahnya terlihat kesal seperti itu?


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi rasa-rasanya sesuatu telah terjadi di organisasi. Baiknya aku diam saja sampai suamiku yang menceritakannya sendiri. Pastinya dia akan jujur padaku. Tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi dari kami.

__ADS_1


__ADS_2