Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Soft Kiss


__ADS_3

Dubai, pukul 12.12 siang...


Aku sudah selesai mengeriting rambut dan didandani pihak salon. Tinggal mengenakan gaun untuk menemani priaku menghadiri pertemuannya di kerajaan UEA. Katanya sih ada pertemuan pejabat penting negeri ini dan acaranya dimulai siang hari. Jadi ya aku menurut saja untuk ikut. Ya, walaupun capek sih.


"Terima kasih."


Setelah selesai, aku segera keluar dari salon. Dan kulihat priaku sudah menunggu di depan. Dia berdiri menyandar di dinding seraya melihat ke arahku. Dia tersenyum manis sekali hingga membuatku terpana.


"Sayang," katanya seraya berjalan mendekatiku.


Langkah demi langkahnya membuat jantungku deg-degan tak karuan. Dia membuatku terpesona dengan apa yang ia punya. Tubuh maskulinnya begitu kekar, bahkan mungkin mendekati atletis. Paras tampannya, suaranya, senyumnya, tinggi tubuhnya, membuatku merasa beruntung karena dapat memilikinya.


"Hei, diam saja?" Dia tiba di hadapanku lalu mencubit kedua pipi ini.


"Sayang, sakit!" kataku manja.


"Sakit?" Dia lalu merendahkan tubuhnya ke arahku. "Tapi enak, kan?" tanyanya yang sontak membuatku mencubit lengan kekarnya itu. "Aw!" Dia pun kesakitan.


"Kau ini. Sudah, yuk!" Aku mengajaknya lekas pergi dari salon.


"Baiklah, Tuan Putri." Satu tangannya bertolak pinggang, seolah memberi kode padaku agar menggandengnya.


Dasar!


Kami lantas berjalan menuju lift untuk naik ke lantai teratas. Di mana apartemennya berada.


"Byrne dan Owdie tadi ke sini, tapi mereka sudah pulang." Priaku memberi tahu.


"Eh? Kok, cepat sekali bertemunya?" tanyaku seraya masuk ke dalam lift.


"Aku yang mengusir mereka. Kan akan ada seorang putri yang kembali ke apartemen," katanya yang sontak membuatku tertawa.


"Ish, apaan sih!" Aku mencubit perutnya.


"Ara, tanganmu ini tidak bisa diam. Selalu saja mencubit. Tapi di saat aku meminta untuk terus bergerak, dia malah diam." Dia seperti mengingatkanku.


"Sayang!!!" Aku pun kesal padanya.


Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Kami akhirnya sampai di lantai teratas gedung ini. Dan karena sudah ada yang menunggu untuk masuk, kami pun lekas keluar dari lift lalu berjalan bersama menuju apartemen. Kulihat priaku menahan tawanya saat berhasil menjahiliku. Aku pun hanya bisa memasang wajah cemberut di hadapannya. Hingga akhirnya kami sampai di depan pintu apartemen. Lantas kami segera masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian...


Priaku memberikan gaun dalam kotak yang dipita. Kulihat gaunnya berwarna cokelat muda. Gaun ini seperti gaun pesta mahal di negaraku. Tapi saat memakainya, aku begitu terkejut.

__ADS_1


"Astaga, apa dia tidak salah memberiku gaun seperti ini?"


Aku berkaca dan tak percaya dengan gaun yang kukenakan. Gaunnya memang panjang dengan hiasan pernak-pernik mahal di bagian sisinya. Tapi, bagian atasnya terbuka sehingga bahuku terlihat dengan jelas. Dadaku pun sama, belahannya terlihat dan tidak bisa ditutupi. Aku jadi malu sendiri untuk memakainya. Entah benar atau tidak harus memakai gaun ini, lebih baik kutunjukkan saja padanya.


Lantas aku keluar dari kamar dengan mengenakan high heels silver setinggi lima senti. Rambutku yang dikeriting gantung dapat menutupi sedikit bagian bahu yang terbuka. Tapi tetap saja belahan dadanya terlihat. Aku khawatir gaun ini malah akan menarik perhatian pihak kerajaan. Bagaimanapun kami di negara Timur Tengah yang tidak bisa sembarang berpakaian.


"Sayang."


Aku keluar kamar dan melihatnya tengah berkaca. Dia sedang membenarkan dasinya di depan cermin yang ada di seberang meja makan. Lantas dia menoleh ke arahku dan melihat penampilanku hari ini.


"Ara?" Dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Gaunnya terlalu pendek di bagian dada, tahu! Dadaku bisa terlihat seperti ini. Bagaimana menutupi bekas tanda darimu? Bagaimana jika rambutku tersapu angin? Nanti malah ada yang melihat tandanya." Aku mengomel padanya.


Dia tidak marah saat aku mengomel. Dia malah tersenyum lalu berjalan mendekatiku. "Mana tandanya?" katanya.


"Ini."


Kusingkapkan rambutku lalu kuperlihatkan tanda bekas ciumannya di leher. Aku pikir dia hanya sekedar melihat. Tapi tahunya, dia menciumnya kembali.


Sayang ....


Dia mengecup-ngecup tanda ciumannya yang ada di leherku. Sontak aku menjadi geli dan berusaha untuk mengelak. Tapi, bersamaan dengan itu tangannya juga memegangi tanganku, sehingga aku hanya bisa diam di hadapannya.


Aku mencoba memperingatkannya, tapi dia tidak juga berhenti. Dia seperti memancingku agar tidak mengomel lagi dan melanjutkan hal yang tadi. Sebisa mungkin aku pun melawannya. Tapi ternyata, apalah dayaku ini di hadapannya. Kekuatanku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya.


"Aku rasa bukan hanya di leher." Dia menyudahi kecupannya lalu menatapku dekat sekali.


"Ih, kau ini. Sudah lagi." Aku beranjak pergi.


"Tunggu, Sayang." Dia menarikku ke depan cermin. "Lihat kita. Serasi, bukan?" Dia memintaku untuk melihat pantulan bayangan kami.


"Iya, sih serasi. Tapi ada yang mesum sekali." Aku menggerutu.


Dia terbelalak. "Sayang, aku hanya denganmu seperti ini. Sungguh!" Dia meyakinkanku.


"Aku tidak peduli. Sekarang bagaimana gaunku?!" Aku ngambek padanya.


Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Benar nih, tidak peduli?" Dia seolah menggodaku.


Aku terdiam seketika.


"Aku rasa ucapanmu itu berbeda dengan yang ada di hati?" Dia ternyata benar-benar menggodaku.

__ADS_1


"Tahu, ah!" Aku berjalan menuju kursi makan.


Kudengar dia terkekeh sendiri. Aku pun duduk sambil menahan kesal. Mencoba menyantap cemilan sebelum berangkat ke kerajaan. Dan kulihat dia berjalan mendekatiku.


Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Jelas-jelas aku cemburu! Wanita mana yang tidak peduli akan prianya sendiri?!


Aku kesal. Kusantap pizza ini dengan wajah cemberut. Tak lama kemudian dia berada di belakangku. Merendahkan tubuhnya ke samping kiriku. Dia lalu menyingkapkan rambutku ke kanan dan mengecup bahuku. Sontak tubuhku merasa geli dengan kecupannya.


"Suapi aku, Sayang."


Dia meminta sambil menopang dagu di bahuku. Hangat napasnya terasa sekali di permukaan kulit ini. Jadi aku harus pintar-pintar mengendalikan diri.


"Ini."


Aku ambilkan saja pizza untuknya. Berniat menyuapinya dengan tangan. Tapi ternyata, dia tidak mau. Dia menggelengkan kepalanya padaku.


Dia ingin membuatku benar-benar kesal rupanya.


Aku memalingkan pandangan darinya, berusaha tidak peduli. Tapi di saat itu juga dia menarik daguku dengan jarinya agar menghadapnya kembali. Kami akhirnya saling bertatapan dan menikmati indah paras masing-masing. Dia memperhatikan bibirku yang terpoles lipglos berwarna merah muda. Seketika itu juga dia menciumku.


Sayang ....


Dia mencium bibirku. Ciumannya terasa begitu berbeda. Seperti sebuah permohonan agar aku tidak marah lagi padanya. Dia mengajak ku bercumbu, menyapu seluruh permukaan bibirku dengan bibirnya. Dia juga menyusuri lenganku dengan jari-jemarinya. Ciuman ini terasa membakar hasratku.


Aku memejamkan kedua mata saat dia mengecup-ngecup bibirku. Aku pasrah di hadapannya dan menuruti semua keinginannya. Rasanya aku ini sudah menjadi miliknya. Tidak sanggup jika kami harus berpisah apapun alasannya. Aku ingin dia selalu menemani hari-hariku. Aku mencintainya.


"Ara ...." Dia melepaskan cumbuannya dan memanggil namaku.


Kubuka kedua mataku lalu melihatnya dengan tatapan penuh cinta.


"Maaf, jika sifat asliku membuatmu kesal," katanya.


Aku tertegun melihatnya. Dia lantas tersenyum lalu meraba bibir ini dengan jarinya. "Hanya dirimu yang aku butuhkan," katanya lagi.


Tidak tahu kenapa, tapi mendengar perkataannya itu seperti menarikku untuk melakukan sesuatu. Dan akhirnya aku beranjak bangun dari kursi makan lalu berdiri di hadapannya.


"Sayang." Kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. "Jangan ingkari ucapanmu, ya?" pintaku seraya menyentuh ujung hidungnya.


Dia tersenyum. "Tidak akan, Ara. Aku janji." Dia sepertinya berkata setulus hati.


Aku pun tersenyum. Kami akhirnya berciuman kembali. Ciuman dengan penuh hasrat yang menggelora. Ciuman sepenuh hati yang membangkitkan gairah di dalam tubuh ini.


Dia memelukku, memegang pinggulku. Dia seperti kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Dia kemudian menyusuri punggungku, berniat untuk menurunkan resleting gaunku.

__ADS_1


"Sayang, jangan!" Saat itu juga aku mencoba menahannya.


__ADS_2