
Suamiku menghela napasnya. Dia seperti kelelahan sekali. "Aku ingin mandi dulu, Sayang. Ibu di mana?" tanyanya dengan intonasi lelah.
"Ibu sedang ke masjid. Katanya ada acara pengajian," jawabku sambil menutup pintu.
"Dia menitipkan pesan padamu?" tanyanya lagi seraya berjalan menuju kamar mandi.
"Ya. Tadi ibu bilang begitu. Dia hanya menitip pesan untuk disampaikan kepadamu." Aku menjawab seadanya.
Aku memang sempat bertemu dengan ibu sesampainya di apartemen tadi. Dan kulihat ibu tengah bersiap-siap untuk pergi menghadiri sebuah acara. Kutanya gerangan apa acaranya, katanya pengajian bulanan di masjid yang tak jauh dari sini. Ibu juga pergi bersama teman-temannya yang sudah menunggu di bawah menggunakan bus.
Ibu berpesan jika pulangnya akan sedikit larut malam ini. Dan aku hanya mengangguk saja tadi. Kuantarkan ibu sampai di depan pintu, lalu setelahnya bergegas mandi. Gerah juga seharian menggunakan gaun yang panjang.
"Em, baiklah. Kalau begitu aku mandi dulu." Dia segera mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Kasihan sekali suamiku. Pasti dia sangat kelelahan.
Aku tahu hal yang menimpa Byrne ini sangat tidak mengenakkan. Pastinya dia juga sangat pusing memikirkan bagaimana cara agar bisa menyelamatkan saudaranya. Begitu pun dengan Owdie yang terlihat frustrasi saat membicarakan Byrne. Hubungan ketiganya begitu dekat bahkan bisa dibilang seperti saudara kandung sendiri. Tapi, kini Byrne harus mendekam jadi tawanan Rusia. Sesuatu hal yang sangat tak terduga.
Suamiku menceritakan jika Byrne sebenarnya tidak ingin melakukan pembuatan senjata biologis berbentuk virus udara tersebut. Dia terpaksa melakukannya karena diancam oleh sang kakek. Suamiku juga telah mengutarakan hal yang sebenarnya kepada Wakil Menteri Pertambangan Turki. Dia bahkan sampai membawa-bawa nama ibunya yang memang asli keturunan negeri ini. Yang mana membuat Tuan Pasha menimbang ulang permohonan suamiku.
Tadinya Tuan Pasha menolak untuk memberi bantuan karena dia merasa hal itu sama saja dengan membenarkan tindakan USA dalam pembuatan senjata biologis yang ada di Ukraina. Tapi, Rain bernegosiasi kembali sampai akhirnya membuahkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Entah kabar baik atau buruk, suamiku diminta ikut bekerja sama dengan divisi pertambangan minyak di Turki. Dia diminta untuk mencari lahan minyak yang baru sebagai jaminannya. Dan ya, suamiku mau tak mau menyanggupinya.
Kini aku sedikit mengerti bagaimana sistem politik yang dipakai kedua negara. Sedang Tuan Albert tadi tampak tak berkutik karena ucapannya selalu dipatahkan oleh Tuan Pasha. Turki memang terkenal dengan menindak tegas segala bentuk kekerasan yang dilakukan USA terhadap negara-negara di Timur Tengah. Presidennya sendiri dengan lantang berbicara akan membebaskan Palestina. Beliau tidak kenal takut terhadap negara adidaya. Hingga akhirnya Rusia menjadi rekan terdekatnya.
__ADS_1
Sudah menjadi rahasia umum jika Turki memiliki hubungan bilateral yang baik dengan Rusia. Rusia sendiri tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada pada kedua negara. Keduanya memiliki paham yang sama dalam memajukan negara. Walaupun pada kenyataannya mereka berbeda dalam keyakinan. Namun, hal itu tidak menyurutkan kesolidan yang ada. Bahkan sedikit demi sedikit Presiden Rusia mulai ikut mempelajari apa yang selama ini dijunjung tinggi oleh Turki. Yaitu keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Satu jam kemudian...
Aku sedang duduk di teras apartemen bersama suamiku. Kudengarkan semua keluh kesah yang dia rasakan saat ini. Dia pun meminta persetujuan dariku atas tawaran yang diberikan pihak Turki. Karena beberapa waktu ke depan akan terikat dengan perjanjian. Aku pun merasa seperti tidak ada jalan lain untuk menolaknya. Jaminan kesepakatan pembebasan Byrne ternyata sangat bersyarat.
"Apakah tidak bisa memberi jaminan uang, Sayang?" tanyaku padanya yang duduk sambil menyandarkan punggung di sisi kananku.
Suamiku menggelengkan kepala. "Turki tidak mau menerima dolar. Masalah ini lebih ke permintaan pribadi dibanding eksklusif negara." Suamiku mengatakan.
"Ya, sayang sekali. Itu berarti ...."
"Itu berarti aku harus menyanggupinya jika ingin Byrne dibebaskan," sambung suamiku lagi.
Suamiku tampak berpikir. "Emas?"
"Ya. Jika Turki tidak mau menerima uang dolar sebagai jaminan, mengapa tidak mencobanya dengan emas? Emas murni bisa diterima di semua negara, tanpa terkecuali. Harga jualnya juga sama, merata. Apalagi bersertifikat asli. Kita coba saja menggunakan emas. Mungkin bisa diberi keringanan." Aku menyemangatinya.
"Astaga ... kenapa tidak sampai terpikirkan olehku tadi." Suamiku tampak menyesalinya.
Aku tahu beban pikiran suamiku saat ini sedang berat. Dia pasti memikirkan aku dan janin yang sedang tumbuh di dalam kandunganku ini. Tapi, dia juga harus memikirkan saudaranya yang sedang ditawan pihak Rusia. Pastinya dia pusing sekali. Sebisa mungkin aku pun tidak menambahi beban pikirannya.
"Bisakah kita bicarakan lagi tentang jaminan kebebasan kepada tuan Pasha?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Di tengah-tengah perbincangan kami, tiba-tiba saja dering ponselnya memecahkan diskusi yang sedang terjadi. Suamiku pun segera mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja teras. Aku kemudian ikut melihat juga siapa yang meneleponnya. Dan ternyata ... Jack.
"Halo?" Suamiku segera mengangkat teleponnya.
"Sayang, hidupkan sepikernya. Aku mau dengar." Aku berbisik sambil menunjuk ponselnya.
Suamiku mengerti. Dia kemudian menghidupkan sepiker ponselnya. Lalu tak lama terdengarlah suara Jack dari seberang sana.
"Tuan, saya baru saja tiba di Bandara Istanbul, Turki. Kemungkinan akan sampai malam di sana. Apakah ada apartemen yang kosong untuk kami?" Terdengar jelas sekali jika itu adalah suara Jack dari seberang.
Rain merangkulku. "Apartemen untuk kalian sudah kupersiapkan. Tapi berada di lantai satu gedung ini. Jika sudah sampai segera kabari aku saja. Nanti aku yang akan menjemput kalian di pintu depan." Suamiku menuturkan.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Kalau begitu kami akan bergegas ke sana. Sampai nanti." Jack menerimanya.
"Ya. Sampai nanti, Jack." Tak lama telepon pun terputus.
"Sayang, Jack bersama keluarganya akan ke sini?" tanyaku riang.
Dia mengangguk. "Ya. Agar ada yang menemanimu. Nanti bisa bermain-main dengan kedua putranya. Mereka pasti senang melihatmu." Dia mengusap kepalaku.
Aku mengangguk, senang rasanya. Bagaimanapun keluarga Jack mempunyai andil besar dalam hubungan kami. Mereka lah saksi hidup atas perjalanan cinta ini hingga akhirnya sampai ke altar pernikahan. Rindu rasanya ingin bertegur sapa kembali. Apalagi dengan kedua putra Jack yang tampan rupawan.
Kak Jamilah, istri Jack sendiri begitu ramah dan menganggapku seperti adiknya. Aku merasa nyaman dengan kekeluargaan yang mereka berikan. Semoga saja hubungan ini bisa berlanjut ke persaudaraan yang lebih erat lagi. Ya, aku hanya bisa berdoa untuk saat ini.
__ADS_1