
"Ehem!"
Ara berdehem agar Rain mengalihkan pandangan darinya. Tapi, Rain masih saja menatap Ara.
"Ehem!"
Ara berdehem lagi. Rain meneguk air minumnya sambil tetap memandangi Ara.
"Ehem! Ehem! Ehem!" Ara berdehem berulang kali.
"Hei, kau kenapa?" Rain pun bingung melihat Ara.
"Kau juga kenapa memandangiku terus?" tanya Ara yang kesal.
"Eh? Memangnya salah memandangi calon istri sendiri?" Rain merasa bingung.
Ara tertegun. Dia ini terlalu yakin aku mau cepat menikah dengannya. Apa dia tidak berpikir jika aku masih amat muda? Ara menatap balik Rain.
"Nanti siang aku tidak pulang karena akan berangkat ke lahan minyak yang baru. Aku harus mengawasi proses pengeboran sampai selesai. Dan nanti malam aku juga tidak pulang." Rain menuturkan pekerjaannya nanti.
"Baiklah." Ara mengiyakan.
"Ponsel pintar tidak kuaktifkan karena bisa menimbulkan risiko. Jadi kau hubungi ke nomor ponsel biasa saja jika rindu," kata Rain lagi.
"Ohok! Ohok!"
Seketika Ara tersedak supnya sendiri. Ia pun segera meneguk habis air minumnya.
"Ara, kau baik-baik saja?" Rain cemas melihat Ara tersedak.
"Em, ya. Aku ... baik-baik saja." Ara mencoba mengatur ulang napasnya.
Eh, dia ini aneh. Apa ucapanku salah? Rain bertanya sendiri.
Apa aku tidak salah dengar? Dia bilang rindu? Apa dia sedang mabuk? Ara berpikir tentang ucapan Rain.
Keduanya saling membicarakan di dalam hati masing-masing. Baik Rain maupun Ara seperti masih menahan diri dari perasaannya. Ara yang tidak ingin memulai dulu dan Rain yang bingung untuk mengatakan.
"Berarti kau pulang besok malam?" tanya Ara sambil menyeka mulut dengan tisu.
"Ya, kemungkinan besok malam. Aku harus menyelesaikan tugasku dulu," jawab Rain lalu meneguk air minumnya.
Berarti aku sendirian lagi. Ara menunduk sedih.
"Kenapa? Kau merasa kesepian jika tidak ada aku?" goda Rain.
"Eh? Tidak! Aku sudah terbiasa ditinggalkan olehmu. Hanya saja ... kenapa hanya semalam perginya? Aku berharap seminggu." Ara beranjak pergi sambil membawa piring bekas makannya.
__ADS_1
"Aaarrraa!!!" Rain pun kesal karena Ara menggodanya. "Kau berharap aku pergi lama, ya?!" Rain mengikuti Ara ke dapur.
"Em, tidak juga, sih. Tapi setidaknya tidak ada yang jahil lagi." Ara mulai mencuci piring bekas makannya.
"Oh, seperti ini maksudnya?"
"Ah!"
Rain mendekat cepat lalu mencium tengkuk leher Ara. Seketika Ara merinding disko sendiri. Hampir saja piring bekas makannya terlepas dari genggaman.
"Kau ini!" Ara pun kesal, kedua matanya membesar di hadapan Rain.
"Kenapa?" Rain malah menantangnya.
Seketika Ara tak jadi. Ia ngeri sendiri.
Dia ini seperti sengaja memancingku. Awas saja nanti!
Ara pun mencuci kembali piringnya dan membiarkan Rain menggodanya. Sepertinya sang penguasa sudah tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk segera menikahi sang gadis.
Setengah jam kemudian...
Tugas Ara semakin banyak. Kini tidak hanya membersihkan dan merawat apartemen. Tetapi juga merawat si empunya. Rain mulai menunjukkan sisi aslinya yang manja. Dasi minta dipakaikan, jas minta dipakaikan, hingga rambut minta disisirkan.
Ia tahu jika tubuh gadisnya tidaklah terlalu tinggi sehingga ia duduk di tepi kasur agar Ara mudah menyisirkannya. Semakin hari rasa sayang di hatinya semakin bertambah karena sang gadis bisa mengimbangi dirinya.
"Sudah."
Ara baru saja menyisirkan rambut Rain. Ia lalu mengambil koper kerja sang tuan dari bawah kasur. Sedang Rain memperhatikan Ara yang sibuk melayaninya.
Ara, entah mengapa aku merasa kau itu adalah istriku. Tapi, bagaimana perasaanmu sendiri? Apa kau bisa menganggapku sebagai suamimu?
Hati Rain terenyuh melihat Ara melayaninya dengan baik. Rasa-rasanya ia tidak mampu jika harus berpisah lama dengan sang gadis. Tapi, malam ini ia harus menginap di ladang minyak yang baru. Tentunya tidak akan bisa melihat sang gadis.
"Hei, jangan melamun."
Ara mencolek ujung hidung Rain, menyadarkan sang penguasa dari lamunannya. Sang gadis pun beranjak keluar dari kamar. Tetapi...
"Ara." Rain segera menarik Ara ke dalam pelukannya.
Tuan ....
Seketika itu Ara terkejut. Ia tidak mempunyai persiapan untuk dipeluk oleh Rain. Sedang Rain mengusap lembut kepala Ara dalam dekapannya.
"Saat aku tak ada, jagalah kehormatanmu. Jangan sampai aku menemukanmu dalam hal yang tidak kuinginkan." Rain berkata sambil menghirup harum rambut gadisnya.
"Hei, kau kenapa, Sayang?" Ara menoleh ke atas, melihat wajah Rain lebih jelas.
__ADS_1
"Hm, tidak. Aku hanya ... takut saja," kata Rain yang membuat Ara bingung.
"Takut?" Ara tidak mengerti maksud Rain.
Sejenak Rain terdiam. Ia pandangi wajah sang gadis dengan penuh kasih sayang. Rasa-rasanya bahtera itu ingin segera ia labuhkan.
Merasa tidak ditanggapi, Ara segera melepas pelukan Rain. Ia merapikan kembali jas hitam yang Rain pakai.
"Sudah, ayo berangkat. Nanti telat, lho."
Ara berbalik, meninggalkan Rain sendiri yang masih terdiam di dekat tempat tidurnya. Ia berjalan keluar kamar sambil membawa koper kerja Rain dengan tangan kanannya. Dan saat itu juga Rain seperti melihat sesuatu.
"Ayo, Ayah! Cepat!"
Rain melihat seorang gadis kecil bergaun Cinderella sedang bergandengan tangan dengan Ara. Gadis kecil itu memintanya agar segera berangkat kerja. Seketika Rain terbelalak melihat pemandangan yang terjadi. Saat itu juga hatinya terenyuh dan ingin menangis.
"Hih, lama sekali!"
Sang gadis pun mencubitnya, menyadarkan dari alam bawah sadar yang tiba-tiba menguasai. Seketika itu juga Rain tersadar dan menatap Ara dengan tatapan berlinang air mata. Ia tidak menyangka jika akan melihat hal ini lagi.
"Sayang?"
Ara bingung sendiri dengan pria yang ada di hadapannya. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan haru. Karena waktu semakin berlalu, Ara terpaksa mencium pipi Rain agar Rain tidak lagi menunda keberangkatannya.
"Ara ...." Rain pun tersadar.
"Ayo, cepat! Nanti terlambat." Ara menarik tangan Rain.
Rain pun hanya bisa pasrah saat Ara menarik tangannya. Keduanya lalu menuju pintu untuk melepas keberangkatan. Sang gadis pun mengantarkan Rain hingga sampai di depan pintu.
"Hati-hati, ya. Semangat!" Ara mengepalkan tangannya, memberi semangat kepada Rain.
"Hm, ya. Semangat!" Rain juga ikut mengepalkan tangannya.
"Tuan, Nona." Tak lama Jack pun tiba.
"Jack, nanti tolong antar-jemput Ara selama aku bekerja." Rain berpesan.
"Baik, Tuan." Jack menyanggupi.
"Aku berangkat, Ara. Jaga dirimu, ya." Rain mengusap pipi Ara.
"He-em." Ara pun mengangguk.
Rain mengecup kening Ara. Ia curahkan kasih sayang sepenuhnya kepada sang gadis. Ia tidak lagi merasa hubungannya harus ditutupi di depan Jack karena Jack lah yang memberi saran agar segera menikahi Ara.
Tak lama, Rain pun melepaskan ciumannya. Ia kemudian berpamitan dengan sebenar-benarnya pamitan. Di saat itu juga Ara mencium tangan Rain dengan sepenuh hati bak istri kepada suami.
__ADS_1