
Jarakku cukup jauh. Sekitar sepuluh sampai lima belas meter dari tempat Kak Jamilah duduk bersama suaminya. Aku pun mengajak kedua putra mereka untuk menuju kursi taman bersama. Ternyata kedua putra Kak Jamilah sudah semakin besar saja. Mereka tumbuh tinggi dan tampan rupawan. Rasanya aku juga ingin memiliki putra seperti mereka.
"Kak, Ara haus. Ara ke sana dulu ya." Aku menunjuk mini market yang ada di seberang sana.
"Nona, biar saya saja yang membelikannya." Jack menawarkan diri.
"Eh, tidak perlu Jack. Lagipula dekat. Aku sendiri saja tak apa." Aku tidak enak hati jika hanya berjalan beberapa langkah saja minta tolong kepadanya.
"Ara, biar suami kakak ikut menemani. Ara sedang mengandung. Nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Suami kakak nanti dimarahi oleh suamimu." Kak Jamilah ingin aku diantarkan.
Karena haus dan juga ingin segera minum, akhirnya aku mengiyakannya saja. Aku ditemani Jack menuju mini market yang ada di seberang sana. Sedang Kak Jamilah bersama kedua putranya menunggu di kursi taman.
"Jack, jaga jarak saja dariku agar tidak dicurigai orang-orang," pintaku kepada Jack saat berjalan menuju mini market.
"Baik, Nona." Jack pun menurutiku. Dia berjalan di belakangku dengan jarak lima sampai tujuh meter.
Sesampainya di mini market...
Aku memilih-milih minuman dan mencari minuman dengan kadar gula yang rendah. Tentunya tidak boleh meminum minuman berkarbonasi karena kadar gulanya tinggi. Akhirnya pandangan mataku tertuju pada jus dalam kemasan yang menarik selera. Jus buah jambu kemasan setengah liter yang membuatku ingin meminumnya.
Sepertinya enak.
Lantas aku segera mengambil dua pack lalu mencari minuman yang lainnya. Tapi, saat berbalik ingin mengambil minuman yang lain, saat itu juga aku tanpa sengaja mengenai tubuh seseorang yang ingin berjalan melewatiku. Maklum mini market ini tempatnya kecil, jadi setiap lorong hanya diberi jarak lewat yang sempit. Alhasil, aku pun meminta maaf kepada seseorang itu.
"Maaf," kataku lalu segera berlalu.
Aku tak memedulikan siapa orang itu setelah meminta maaf. Karena kupikir dengan meminta maaf semua urusan jadi selesai. Namun nyatanya, hal itu tidak berlaku bagiku. Seseorang itu seperti menyadari siapa aku. Dia kemudian memanggilku.
"Ara?!" Seketika itu juga langkah kakiku terhenti.
Aku berbalik dan melihat siapa gerangan yang memanggilku. Dan ternyata ... sungguh tak kupercaya jika akan bertemunya lagi. Bertemu dengan seorang pria yang pernah mendekatiku dulu saat di kampus. Dia adalah Dosen Lee.
__ADS_1
"Do-dosen Lee?!" Aku tak percaya jika akan bertemu dengannya di mini market ini.
Lee memperhatikanku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulihat dia menelan ludahnya saat melihat perutku ini. Matanya seperti tergenang air mata kesedihan. Entah mengapa aku jadi merasa bersalah jika berlama-lama di sini. Aku segera berpamitan saja padanya.
"Maaf, aku harus kembali."
Aku berpamitan. Segera ke kasir untuk membayar minuman yang kubeli. Saat itu juga Lee mengejarku. Seperti ingin meminta klarifikasi. Sayangnya, antrian mini market cukup panjang. Membuatku terpaksa harus mengobrol sejenak dengannya.
Ya Tuhan, pertanda apa ini?
Aku khawatir. Benar-benar khawatir ada yang melihat pertemuan kami lalu melaporkannya kepada suamiku. Tahu sendiri bagaimana si hujan jika sudah cemburu. Mulutnya itu melebihi perempuan. Tidak kira-kira kalau bicara.
"Ara, kau di sini?" Lee berdiri di sampingku seperti ingin mengantri.
"Hm, ya." Aku tidak berani melihatnya. Aku harus menjaga pandangan.
Lee tampak banyak berubah setelah sekian lama kami tidak berjumpa. Dia terlihat lebih bersih dan juga terawat. Dia juga lebih kekar dari yang sebelumnya. Sepertinya dia mengisi hari-harinya dengan berolahraga.
"Iya." Aku pun hanya bisa menjawab iya.
"Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?" tanyanya lagi.
Saat pertanyaan itu terlontar, saat itu juga aku bingung harus menjawab apa. Aku merasa seperti terikat perjanjian dengannya. Aku pun berharap pertemuan ini bisa cepat berakhir.
Ya Tuhan, kenapa kami harus bertemu lagi?
Lee kini sudah mengetahui jika aku sedang mengandung. Aku berharap dia tidak lagi datang ke kehidupanku karena sesuatu di masa lalu. Aku memang tidak bisa bersamanya. Semesta sudah memutuskan agar aku bersama Rain dari awal hingga akhir. Aku juga tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya selain hanya sebatas mahasiswi dan dosennya. Tapi jika dia mempunyai perasaan yang lebih kepadaku, maka itu bukan salahku. Tak ada yang salah dengan cinta, namun terkadang kita salah menempatkannya.
"Ini saja, Nona?" Akhirnya aku sampai juga di kasir.
"Ya." Aku pun segera mengeluarkan uang untuk membayarnya.
__ADS_1
"Biar aku saja." Lee ingin menggantikanku membayar minuman yang kubeli.
Saat itu juga aku merasa keberatan. "Dosen Lee, jangan! Nanti suamiku marah dibayari olehmu. Maaf ya." Aku pun segera menerobos pembayaran. Menyerahkan uang kepada si kasir.
Sontak keadaan sekeliling menjadi hening saat aku berbicara seperti biru. Lee juga terdiam seakan tidak bisa melawan apa yang aku katakan. Hingga akhirnya transaksi pembayaran selesai. Aku sudah mendapatkan minuman yang kumau.
"Dosen Lee. Aku duluan ya."
Aku berpamitan kembali lalu segera keluar dari mini market. Namun, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya selepas berpamitan. Sepertinya dia diam di tempat sambil merenungi pertemuan ini.
Maaf Dosen Lee. Kita harus menjaga jarak karena aku sudah bersuami.
Kutinggalkan mini market dengan tanpa berbalik ke belakang. Jack pun sudah menunggu di depan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Aku harap dia tidak melihatku bertemu dengan Lee. Karena khawatir dia akan menceritakannya kepada suamiku. Lalu suamiku pun cemburu. Tahu sendiri bagaimana si hujan kalau sedang cemburu. Cukup sekali kata-kata menyakitkan itu kudengar dari mulutnya. Aku tak mau lagi mendengarnya.
Siang harinya...
Lelah rasanya setelah mengisi hari dengan beraktivitas di luar ruangan. Aku pun ingin mengistirahatkan tubuh ini di atas kasur kamar. Kurebahkan diri lalu mulai menarik selimut. Aku ingin tertidur sejenak di siang ini.
Selepas makan siang bersama, aku segera berpamitan kepada Jack dan keluarga. Jack pun mengantarkanku sampai ke dalam apartemen. Kebetulan ibu sedang menonton berita di televisi jadi pintu bisa segera dibukakan. Dan kini ibu juga sedang tidur siang di dalam kamarnya. Ternyata dia menungguku pulang baru beranjak tidur siang. Ibu suamiku ini memang sudah seperti ibu sendiri. Aku jadi nyaman tinggal bersamanya.
Ibu, ibu sedang apa ya di sana?
Aku sadar jika ponsel berisi nomor ibu masih tertinggal di Dubai. Jadinya tidak bisa memberi kabar ibuku yang ada di Indonesia. Aku pun mengambil ponselku untuk mencoba-coba menelepon ibu. Kali-kali saja nomornya benar. Tapi ternyata, setelah berkali-kali dicoba tetap saja salah. Aku pun hanya bisa pasrah.
Aku ingin sekali pulang ke Indonesia.
Lantas aku mengirim pesan kepada suamiku. Kuungkapkan rindu kepadanya lalu bilang ingin ke Indonesia. Aku ingin menemui ibuku dan pulang kampung ke sana. Beberapa menit kutunggu, ternyata tak kunjung mendapat balasan. Jadinya aku tidur saja.
Ibu, semoga ibu selalu sehat di sana.
Mataku mulai mengantuk. Akhirnya kuletakkan ponsel di meja kasur lalu bergegas tidur. Kuusap perutku lalu memejamkan mata. Aku berharap hari esok akan lebih bahagia. Ya, semoga saja.
__ADS_1