Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Hot Kiss


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Deru napas menggebu perlahan-lahan berangsur normal. Detak jantung yang berpacu cepat semakin lama kian melambat. Sang penguasa terlihat kelelahan di sisi tubuh gadisnya. Ia memeluk Ara dengan kepala yang direbahkan ke dada sang gadis.


"Sudah bangun. Berat, tahu!" Ara meminta.


"Aku tidak mau," jawab Rain yang masih memeluk Ara.


"Kau ini. Nanti ada yang datang." Ara khawatir.


"Tidak akan ada, Ara. Aku sudah meminta orang menjaganya." Rain bersikeras.


"Kalau tidak mau bangun juga, aku tidak mau ikut ke Dubai," ancam Ara.


"Apa?!" Rain terkejut, ia beranjak bangun.


Ah, akhirnya bisa lepas juga darinya.


Ara ikut bangun. Ia segera merapikan pakaian dan juga rambutnya. Sedang Rain terlihat cemberut di sisi Ara.


"Kenapa? Marah?" tanya Ara setelah merapikan dirinya.


"Kau membuatku kesal, tahu." Rain pun ngambek.


Ara berdiri di depan Rain. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Rain. Ia raih bibir itu dengan lembut sambil memegangi wajah prianya agar tidak bergeser. Namun, bukannya menghindar, Rain malah mendudukkan Ara ke atas pangkuannya.


"Ralat kembali ucapanmu!" serunya dengan wajah kesal.


Kedua tangan Ara melingkar di leher Rain. Ia tertawa sendiri melihat tingkah Rain yang seperti anak kecil. Ia tidak menyangka jika Rain begitu manja padanya.


"Iya-iya, maaf. Habisnya susah sekali dibangunkan. Aku khawatir ada yang melihatnya. Lagipula pantai sudah mulai ramai." Ara menjelaskan.


"Aku tidak peduli. Bilang saja kita sedang berbulan madu."


"Hush!" Ara segera menutup mulut Rain dengan tangannya. "Sekarang kita kembali, ya. Tak enak." Ara meminta ulang.


Rain memajukan bibirnya, minta dicium.


"Ish, dasar!" Ara pun segera menciumnya. "Mmuach." Ciuman kecil yang terasa sampai ke hati.


"Ara."


"Hm?"


"Naikkan resetlingku, ya."


"Hah?!"


"Aku malas. Please ...." Rain memohon.

__ADS_1


Seketika Ara menelan ludahnya. Ia tidak habis pikir jika Rain akan seperti ini. Bodohnya ia juga menuruti kemauan Rain tanpa melakukan perlawanan berarti.


Astaga, mungkin lebih baik kami memang cepat menikah.


Ara beranjak bangun, berdiri lalu membungkuk sedikit untuk menaikkan resetling celana Rain. Rain pun menyandarkan diri dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya. Ia memperhatikan bagaimana sang gadis yang begitu patuh padanya.


"Besar, bukan?" tanyanya tanpa merasa berdosa.


Ara terperanjat.


"Aku suka tahi lalat merah di dadamu, Sayang," kata Rain lagi.


"Ih!" Ara memukul Rain. "Dasar mesum!" Ia pun beranjak keluar dari gubuk. Namun...


"Jangan pergi sebelum aku memintanya, Ara!" Rain segera berdiri lalu memeluk Ara dari belakang.


"Lepaskan aku! Aku tidak mau!" Ara menolak dipeluk Rain.


Rain seperti kehilangan akal sehatnya. Ia balikkan tubuh Ara lalu menciumnya.


"Ja-ngan ...." Ara pun berusaha menolak. Tapi kekuatan Rain tak mampu dilawannya.


Mereka berciuman di dalam gubuk sampai Ara tidak mampu lagi melawan keinginan Rain. Rain mengajak Ara beradu dan kembali menghubungkan benang saliva yang sempat terputus. Sontak tubuh Ara melemas seperti terkunci oleh Rain. Deru napas pun mulai memburu di tengah ombak yang berderu.


Angin pantai menemani keintiman keduanya pagi ini. Deburan ombak menjadi saksi atas cinta dan hasrat yang berpadu menjadi satu. Ara tak berdaya untuk melawan kehendak sang penguasa. Rain pun berhasil menggenggam kembali hati gadisnya.


"Ara."


"Kita kembali sekarang, ya. Nanti ibu curiga." Ara meminta dengan terengah-engah.


Rain mengangguk. Ia mengusap wajah sang gadis lalu mencium keningnya. Akhirnya ia melepaskan Ara dari dekapannya. Keduanya segera kembali ke tempat di mana Jack bersama keluarga berada.


Baik Ara maupun Rain bersikap biasa saja saat kembali menemui sang ibu. Namun, ibu Ara tampak memperhatikan wajah anak gadisnya. Ara pun berusaha mengalihkan perhatian sang ibu agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan. Alhasil Rain dan Ara mulai menikmati liburan di pantai dengan bermain banana boat bersama hingga waktu makan siang tiba.


Beberapa jam kemudian...


Tubuhku basah semua sehabis bermain banana boat di pantai ini. Tadinya sih ingin menyeberang ke pulau seberang. Tapi waktunya mepet sekali sehingga tidak sempat. Dan akhirnya kami menghabiskan waktu sampai pertengahan hari tiba.


Kini aku baru saja membilas tubuhku agar tidak terlalu lengket sehabis bermain di air laut. Kukenakan blus pink lengan panjang dan juga celana pensil biru semata kaki. Kali ini aku menggunakan sandal biasa saja, tidak sepatu atau sejenisnya. Agar bisa segera dibilas jika terkena pasir pantai.


"Ara, kita masuk ke mobil duluan, yuk."


Priaku datang lalu memintaku masuk duluan ke dalam mobil. Aku pun mengernyitkan dahi, mulai menaruh curiga padanya.


"Tak apa duluan. Habis ini kita makan," katanya lagi.


Aku seperti segan untuk menolaknya. Dan akhirnya aku masuk ke dalam mobil dan duduk di depan. Tapi setelah di dalam, priaku ini segera mengunci seluruh pintu mobilnya.


"Sayang?!" Aku terkejut melihat apa yang dia lakukan.

__ADS_1


"Kenapa? Takut?" tanyanya yang membuatku menelan ludah.


"Sudah lagi, tolong. Aku capek tahu!" Aku tahu persis apa yang ingin dia lakukan.


Dia memutar badannya menghadapku. "Sesampainya di Dubai kita langsung menikah saja," pintanya.


"Apa?!" Aku kaget mendengarnya.


"Sekarang atau dua minggu lagi itu sama saja, Ara. Aku sudah tidak tahan," katanya lagi.


"Astaga ...." Aku menepuk dahiku sendiri.


"Ara." Dia memegang tanganku. "Mau, ya?" pintanya lagi.


Jujur aku tidak tahu apakah semua pria seperti ini jika sedang punya keinginan terhadap pasangannya. Dari semalam di atap hotel, pagi ini di gubuk, dan sekarang dia menginginkan lagi. Aku tak habis pikir jika akhirnya akan begini.


"Aku ... aku belum yakin," kataku jujur.


"Belum yakin?" Dia pun terperanjat.


"Kau belum menyatakan cinta yang aku tidak tahu apa alasannya." Aku mengungkapkan.


"Astaga ...." Dia bergantian menepuk dahinya.


"Aku ingin mendengar kata itu, baru mau menikah secepatnya," kataku memancing.


Kulihat dia menelan ludahnya. "Jadi ini alasannya menunda pernikahan?"


"He-em." Aku mengangguk.


"Baiklah. Aku akan menyatakannya. Tapi, aku berharap kau tidak pergi setelah mengetahui apa alasanku menunda kata-kata itu."


"Memangnya?"


Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Aku hanya khawatir kau pergi setelah tahu apa alasanku menundanya, Ara."


Suasana yang tadinya memburu berubah menjadi syahdu.


"Kita sudah sejauh ini. Aku tidak pernah berpikiran untuk meninggalkanmu sedikit pun." Aku mengusap dadanya.


"Janji, ya?" pintanya. Aku pun mengangguk di pelukannya. Dia lalu melihat wajahku, aku pun melihat wajahnya. "Aku ingin selalu bersamamu dan mewujudkan impian yang selama ini hanya sebatas angan," katanya.


"Iya, Sayang. Aku akan menemanimu," kataku seraya tersenyum.


Kulihat dia juga tersenyum. Senyuman yang mengantarkan kami berpelukan di dalam mobil ini. Pada akhirnya dia bisa juga menepiskan hasratnya yang menggebu. Dan dapat kutarik kesimpulan jika dia memang benar-benar menyayangiku. Semoga saja dia akan selalu seperti ini ke depannya.


Rain merasa khawatir jika Ara akan meninggalkannya setelah ia mengungkapkan siapa dirinya. Karena saat pernyataan cinta itu ia ucapkan, pastinya Rain juga akan mengutarakan apa alasannya menunda kata cinta.


Terlepas dari rasa khawatir di dalam hatinya, ia merasa jika Ara sudah menjadi miliknya. Tak ada yang lebih berhak atas Ara selain dirinya sendiri. Dan Rain berharap Ara juga merasakan hal yang sama. Cinta sang penguasa menginginkan Ara hanya menjadi miliknya seorang.

__ADS_1


__ADS_2