Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
High Voltage


__ADS_3

Kembali ke apartemen...


Sang gadis terpojok di atas kasur. Sedang sang pria tersenyum penuh kemenangan sambil melepas satu per satu pakaiannya. Sepertinya sang singa sudah terbangun dari tidur dan siap melahap siapa saja yang ada di hadapannya.


"Sayang, kau tidak boleh seperti ini. Kita belum menikah." Ara berusaha menyadarkan Rain.


Rain tersenyum tipis pada gadisnya. "Berulang kali aku mengajakmu menikah. Tapi apa jawabanmu? Kau selalu menundanya, Ara." Rain kini sudah bertelanjang dada.


Astaga! Astaga!


Sang gadis mengusap kepalanya karena tak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh tuannya. Ia pun memundurkan tubuhnya ke belakang hingga ke kepala kasur.


"Aku mohon jangan," pinta Ara kembali.


"Aku tidak peduli, Sayang." Rain segera melompat ke Ara.


"Agh!" Ara berguling cepat ke pinggir kasur lalu segera berdiri untuk menghindari Rain.


"Kau ingin bermain-main denganku rupanya." Rain tersenyum tipis melihat sang gadis yang mencoba lari darinya.


"Jangan membuatku takut. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik." Ara mengambil napas, berusaha tenang di situasi seperti ini.


"Hm?" Rain tersenyum kecil. Ia lalu mengejar gadisnya.


"Jangan!"


"Kau mau ke mana lagi?" Rain menangkap Ara saat Ara hampir memegang gagang pintu kamarnya.


"To-tolong lepaskan aku. Aku belum siap!" kata Ara lagi.


"Oh, baiklah." Rain melepaskan Ara, tetapi...


"Ah!"


Ia menjatuhkan Ara ke atas kasur lalu segera mengunci tubuh gadisnya dengan kedua pahanya yang kekar. Rain benar-benar menginginkannya.


Apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa terasa panas sekali. Kenapa saat dekat dengannya tubuhku seperti ini?


Rain masih berusaha mengendalikan dirinya. Tapi api di dalam tubuhnya semakin membumbung tinggi ke angkasa. Kedua tangan Ara pun kini berada di genggaman Rain. Tak ayal, Ara tidak dapat berkutik apalagi melarikan diri. Ia hanya bisa pasrah saat ini.

__ADS_1


"Kau tahu, Ara. Satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila adalah dirimu. Kau harus bertanggung jawab atas waktuku yang terbuang hanya untuk memikirkanmu."


Rain berkata amat dekat dengan wajah Ara. Ujung hidung keduanya sampai bersentuhan. Terlihat sang gadis yang menelan ludahnya sendiri.


Tuan ... jangan begini. Aku takut ikut lepas kendali dan semuanya berantakan.


Ara mengatur napasnya berulang kali, mencoba menormalkan detak jantung yang tidak karuan. Tubuh Rain yang bertelanjang dada membuat hasrat mulai mengambil alih pikirannya. Ditambah pose seperti ini membuat Ara semakin gelisah sendiri.


"Kita mulai, Sayang." Rain melepas sabuk celananya.


Kedua embusan napas saling beradu ditemani detak jantung yang melaju amat kencang. Rain seperti terikat dan harus segera menyelesaikan hasratnya yang sedang berkobar. Sang pria bermata biru itupun mulai mendaratkan kecupan lembutnya di leher Ara. Sontak Ara menahan lenguhan yang akan keluar dari bibirnya.


"Ara, jangan ditahan. Lepaskan saja. Tubuhmu akan sakit jika melawan." Rain meminta.


"Aku mohon hentikan. Aku masih perawan!" Sekuat mungkin Ara melepaskan diri, tapi tenaga Rain tidak mampu dilawannya.


Perawan? Dia masih perawan?


Rain terkejut saat mendengar pengakuan dari gadisnya. Ternyata sang gadis yang ingin dinikahinya ini masih perawan. Bertambahlah bunga-bunga yang bermekaran di hatinya.


"Berikan padaku, Ara. Aku tidak akan menyia-nyiakannya." Rain tersenyum bahagia sambil menatap gadis yang tidak bisa bergerak di bawah tubuhnya.


"Tuan ... jangan, ya. Aku mohon." Ara meminta dengan mata berkaca-kaca.


"Ara, apakah ini sebuah permohonan dari hatimu?" Rain memastikan.


"Aku ... aku ...." Ara menelan ludahnya.


"Aku menginginkanmu malam ini. Dan malam-malam selanjutnya," kata Rain sambil terus memegangi kedua tangan Ara.


"Tapi kita menikah dulu, ya. Kasihan anak kita nantinya jika lahir di luar nikah." Ara meminta dengan suara tak bertenaga.


Rain pun terdiam. Ia merasa hati dan pikirannya berseteru saat ini.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksanya. Tapi, akan membuatmu menyerahkannya sendiri." Rain mulai melancarkan aksinya.


"Ah ... jangan!"


Tubuh Ara menggeliat saat Rain mulai menciumi bahunya. Bibir sang penguasa mulai bergerilya di bahu sang gadis dengan bebasnya. Dan akhirnya kedua tangan Ara lemas perlahan-lahan. Ia seperti kehilangan kekuatannya sendiri.

__ADS_1


Tuan, jangan diteruskan. Kumohon ....


Ara tidak dapat menghindari hal ini lagi. Sampai akhirnya Rain mulai menurunkan tali gaun Ara satu per satu. Seketika itu juga kedua mata Ara terbelalak karena tahu jika saat ini hasrat telah menguasai tuannya. Ia pun kehilangan kemampuan untuk berpikir. Pandangan matanya terasa kabur. Dan akhirnya, tubuhnya benar-benar lemas, tak bertenaga saat kedua tali gaunnya sudah turun sampai ke batas dada.


Ara ...?


Tentu saja hal ini membuat Rain menyadari sesuatu. Bibirnya yang sudah menyentuh dada atas sang gadis pun terangkat setelah merasakan tidak ada lagi tenaga yang berusaha melawannya.


"Sayang?!" Seketika itu Rain tersadar dari ulahnya sendiri. "Sayang, bangunlah!" kata sayang pun terucap berulang kali dari bibirnya.


"Astaga ...."


Rain mencoba mengecek denyut nadi Ara dan ternyata masih berdetak. Ia pun segera menjauhkan diri dari atas tubuh gadisnya.


"Astaga! Bagaimana ini? Dia pingsan?!" Rain panik sendiri.


"Jangan-jangan dia amat takut keperawanannya kuambil sebelum pernikahan. Ya ampun, kenapa aku ini sebenarnya?"


Rain tersadar atas apa yang ia lakukan kepada Ara. Tetapi api di dalam tubuhnya sudah menyala-nyala dan siap membakar siapa saja.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mana tegangannya sudah tinggi lagi." Rain pusing sendiri. Ia tidak sanggup menahannya.


"Terpaksa kalau begini."


Ia lalu menurunkan celananya sampai jatuh ke lantai. Ia pun menyandarkan punggung ke dinding kamar. Ia keluarkan sesuatu yang sudah amat sesak di dalam sana. Tangannya pun mulai bergerak.


"Ah ...."


Ia mendesah sambil melihat apa yang sedang dilakukannya. Ia pun melihat ke arah Ara yang berada di atas kasurnya. Pikirannya mulai berfantasi dengan gadisnya itu.


"Sayang ... aghhh ...."


Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat. Ia pun menggigit bibirnya sendiri saat merasakan sensasi ini, memejamkan kedua mata sambil meracau tak karuan. Dadanya terlihat naik-turun tak terkendali.


"Sayang, Sayang ... aaaghhhhh!"


Rain pun melepaskan api yang ada di dalam tubuhnya. Seketika itu juga ia seperti kehilangan pasokan oksigen. Ia lantas cepat-cepat mengambil udara sambil berusaha menormalkan detak jantungnya yang melaju begitu cepat.


Ini semua karenamu, Sayang. Kau menunda-nunda pernikahan kita. Akhirnya aku jadi gila sendiri, kan! Kau harus bertanggung jawab!

__ADS_1


Rain mengambil tisu dari meja yang ada di samping kasurnya. Cepat-cepat ia bersihkan lalu menaikkan kembali celananya. Ia pun bergegas meninggalkan Ara untuk segera mandi dan membersihkan diri.


Malam ini sang penguasa kehilangan kendali karena api yang menyala-nyala di dalam tubuhnya. Ia pun akhirnya terpaksa memadamkan api itu sendiri tanpa sang gadis yang dikasihi. Rain ternyata jatuh hati, namun belum menyadari.


__ADS_2