
Di dalam kamar mandi...
Air shower yang hangat membuat Rain dapat kembali berpikir jernih. Ia tidak menyangka jika akan melakukan hal gila seperti ini. Tak lain dan tak bukan karena Ara seorang. Gadis itu mampu membuat dirinya gila dan kehilangan harga diri.
Apa aku seret saja dia ke pelaminan?
Usianya cukup matang untuk segera melabuhkan bahtera rumah tangga. Ia juga sudah ingin menimang bayinya sendiri. Rain tidak sabar ingin melihat buah hatinya.
Ara ... lama-lama aku bisa gila karenamu.
Tak dapat ia pungkiri jika gadis yang kini dikejarnya mulai mengobrak-abrik hatinya. Ara jugalah yang mampu membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali bertengkar, Rain selalu saja gelisah dan memikirkan sang gadis. Ia tidak tahu perasaan apa ini, yang ia tahu hanya ingin selalu bersama Ara seorang.
Tubuhku seperti tergerak sendiri untuk menyentuhnya. Tapi, kenapa dengan wanita lain tidak ada reaksi sama sekali?
Rain merasa heran dengan dirinya. Ia tidak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Lekas-lekas ia mandi, membersihkan diri. Setelahnya segera kembali ke kamar dengan mengenakan handuk putihnya. Ia kemudian menelepon seseorang sesampainya di sana.
"Halo?" Suara dari seberang menjawab telepon Rain.
"Byrne. Keadaan semakin genting. Bagaimana ini?" Ternyata Byrne lah yang ditelepon oleh Rain.
Belum sempat mengenakan baju, bahkan tubuhnya juga belum sempat dihanduki, Rain sudah menelepon Byrne untuk mengadukan hal yang terjadi pada dirinya.
"Tenanglah, Rain. Besok aku ke kantor untuk membicarakan hal ini," kata Byrne dari seberang.
"Baiklah. Sampai nanti." Rain pun segera menutup teleponnya.
Rain kembali menatap Ara yang masih tidak sadarkan diri di atas kasurnya. Ia pun lekas-lekas mengenakan pakaian agar bisa memeluk tubuh sang gadis. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan akhirnya, sang penguasa segera merebahkan diri di samping Ara. Ia peluk tubuh gadisnya sambil mengusap-ngusap perut sang gadis.
"Beri aku kebahagiaan, Ara. Beri aku bayi. Aku ingin membesarkannya bersama." Rain berkata di telinga sang gadis.
Rain naikkan kembali gaun Ara yang turun. Ia tarik selimut sampai ke dada lalu memeluk gadisnya. Sesuatu hal mulai ia sadari kini. Ternyata ia benar-benar jatuh hati kepada sang gadis. Tapi, mampukah Rain mengatakan perasaan yang sesungguhnya? Sedang Ara masih menunggu pernyataan cinta darinya.
__ADS_1
Malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan baginya. Dimana ia kehilangan harga diri karena seorang gadis. Ia bahkan tidak ingat siapa dirinya lagi. Di hadapan Ara ia hanya seorang penghamba cinta. Rain menginginkan Ara menjadi istrinya.
Malam yang tenang mengantarkan keduanya menuju alam mimpi yang indah. Perlahan tapi pasti keduanya memasuki fase delta. Kembali keduanya bertemu dalam mimpi yang membara. Namun sayang, belum ada pengakuan dari si pria. Entah sampai kapan, tapi semoga Ara tidak lelah menunggunya. Menunggu pernyataan cinta dari pangerannya.
Esok harinya...
Sinar ungu menggantikan gelapnya malam. Suara sirene kapal dari lautan pun bisa terdengar jelas. Perlahan kedua mata sang gadis terbuka. Ia membuka mata dengan rasa pusing yang menerpa. Tak lama ia pun menyadari di mana gerangan dirinya berada.
"Aduh, kepalaku."
Ia beranjak bangun, duduk di atas kasur seorang pria. Pria itu pun ikut terbangun setelah selimut tertarik oleh tubuhnya.
"Kau sudah bangun?" tanya sang pria dengan suara serak.
Seketika sang gadis terkejut dengan suara pria tersebut. Kedua matanya terbelalak, pikirannya pun gentayangan ke mana-mana. Ia melihat siapa gerangan yang berada di sampingnya.
"Astaga!" Ia terkejut bukan main saat menyadari di mana dirinya sekarang. "Astaga, apa yang telah aku lakukan?!"
Ia lihat pakaiannya semalam dan masih utuh, tidak melihat robekan atau sejenisnya. Tapi, tetap saja hatinya khawatir dengan dirinya sendiri.
"Ara?" Pria di sampingnya terbangun dan ikut duduk. "Aku tidak melakukan apa-apa. Sungguh." Pria bernama Rain itu meyakinkan.
"Tapi kenapa aku bisa di sini? Kenapa kau tidur di sampingku?" Ara panik tertahan.
"Semalam kau pingsan. Jadi ya tidur di sini. Sudah, aku masih mengantuk. Tidur lagi, ya."
Dilihatnya jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah empat pagi. Rain pun kembali tertidur. Ia tidak mengindahkan kepanikan yang melanda hati gadisnya.
"Tuan, kau harus bertanggung jawab! Tuan!" Sang gadis mengguncang-guncang tubuh Rain.
Seketika Rain kembali bangun. Tidak jadi tidur.
__ADS_1
Astaga dia ini. Memangnya aku telah melakukan apa? "Ara, aku tidak melakukan apapun. Tidur bersama juga belum tentu melakukan hal itu." Rain menjelaskan.
"Tap-tapi—"
"Jangan takut, aku tidak akan mengambil paksa darimu. Kau ini." Rain mencubit pipi gadisnya.
Tuan ....
Ara kemudian segera meraba area pribadinya untuk memastikan. Tapi ternyata, memang tidak terjadi apa-apa.
Astaga, aku panik sekali.
Lekas-lekas ia bangun, meninggalkan Rain sendiri di kasur. Rain pun melihat kepergian Ara dan hanya membiarkannya saja.
Dia begitu ketakutan. Padahal aku yang lebih takut jika dia diambil orang. Hah ... kau itu amat menggemaskan.
Rain tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang terjadi semalam. Ia mencoba tidur kembali sebelum pagi benar-benar memintanya untuk segera pergi bekerja. Sedang Ara...
"Ih, dia menyebalkan! Kenapa aku tidak dibangunkan?!"
Sang gadis mengerutu sambil duduk di sofa tamu. Ia kesal karena Rain membiarkannya tidur bersama. Pikirannya panik karena khawatir harta satu-satunya lepas begitu saja.
Lebih baik aku tidur lagi.
Ia kemudian kembali tertidur dengan busana semalam. Tidur sendiri di sofa sambil menyelimuti tubuhnya. Bintang fajar pun menemaninya masuk kembali ke alam mimpi yang indah. Bersama pria yang ia nantikan pernyataan cintanya, Rain.
Dua jam kemudian...
Ara sedang menyajikan sarapan pagi untuk Rain. Ia membuat sup ayam pagi ini agar bisa menghangatkan lambung tuannya. Rain pun mulai menyantap sup buatan Ara dengan taburan bawang goreng yang renyah. Sedang Ara, menemaninya sarapan. Keduanya belum mandi pagi ini, padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.
Sang penguasa tak henti-hentinya memandangi sang gadis yang sedang menikmati sup. Matanya seolah terkunci dan enggan berpaling. Tapi sayangnya, Ara tidak memedulikan pandangan Rain. Walaupun sebenarnya ia mengetahuinya.
__ADS_1
Dia memandangiku sambil tersenyum-senyum sendiri. Apakah dia sudah gila?
Ara menggerutu dalam hati. Ia masih merasa kesal dengan kejadian semalam yang telah membuatnya pingsan. Tapi apalah daya dirinya di hadapan Rain. Ara tidak bisa berbuat apa-apa karena Rain bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Terlebih otot-otot kekar Rain mampu mengunci tubuhnya sehingga tidak dapat bergerak sama sekali.