
Esok harinya...
Matahari sudah siap terbit sempurna di hari yang katanya super sibuk ini. Aku pun telah menyelesaikan pekerjaan harianku. Rencana hari ini akan mendaftar kuliah di kampus. Tuanku sendiri yang menyuruhnya, jadi aku turuti saja. Toh, kuliahku ini gratis, alias ditanggung penuh olehnya.
Hari ini hari senin, tuanku juga sudah siap berangkat ke kantor sekarang. Dia mengenakan seragam jas hitam lengkapnya. Dan kini keadaannya lebih baik, dia tidak mual-mual lagi. Aku pun jadi senang melihatnya.
Kuantarkan dia sampai ke pintu sambil membawakan kopernya. Tapi ternyata, dia tidak jadi membuka pintu, entah kenapa. Dia malah berbalik menghadapku.
"Apakah ada yang terlupa?" tanyaku padanya.
"Hm, ya. Sepertinya ada yang terlupa." Dia mengingat-ingat sesuatu.
"Apa itu? Nanti kuambilkan," tanyaku, menawarkan diri.
Dia memandangiku. Matanya seolah bicara apa yang dia inginkan, tapi mulutnya diam membisu.
"Sayang?" Kusapa lagi dirinya, berharap dia mengatakan hal apa yang terlupa.
"Em, tidak jadi. Nanti aku akan meminta Jack untuk menemanimu mendaftar kuliah. Jangan nakal, ya." Dia mengusap kepalaku seraya tersenyum.
Sungguh hatiku terasa damai mendapat perlakuan seperti ini. Aku pun hanya bisa mengangguk seraya tersenyum kepadanya. Dia lalu mengambil koper yang kubawakan dan membuka pintu apartemen. Ternyata Jack belum datang hari ini.
Eh, Jack ke mana ya?
Baru saja kutanyakan, Jack tiba-tiba keluar dari pintu lift. Dia berjalan ke arah kami. Tuanku pun melihatnya.
"Aku berangkat, Ara." Dia berpamitan padaku.
"Tu-tunggu, Tuan!" Kutahan dirinya sebelum benar-benar pergi.
"Ara?" Dia tampak heran dengan sikapku.
Segera kuraih tangan kanannya lalu kucium. Kutebarkan senyuman sepenuh hati padanya. Seketika itu juga kulihat dia terbelalak kaget. Dan tak lama kulihat matanya berkaca-kaca, seperti terharu karena sikapku. Jack pun berhenti melangkahkan kaki saat melihat momen ini. Dia menundukkan pandangannya lalu berbalik, membelakangi kami.
"Aw!" Tiba-tiba tuanku menyentil keningku lagi.
"Ara, masih lupa?" tanyanya padaku.
Ups! Ternyata aku lupa lagi. "Maaf, Sayang," kataku sambil nyengir tak karuan di hadapannya.
__ADS_1
"Dasar!" Dia lalu menjitak kepalaku dengan kepalan tangannya.
"Sakit, tahu!" Aku pura-pura kesakitan sambil mengusap kepalaku.
"Kau ini!" Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Jangan nakal di kampus, ya! Kabari aku nanti," pintanya.
"He-em."
Aku mengangguk dalam pelukannya. Rasanya ingin selalu mendengar alunan merdu detak jantungnya di sepanjang hidupku.
"Ya, sudah. Aku berangkat."
Kehangatan ini harus terjeda karena dia harus pergi bekerja. Dia kembali berpamitan padaku sambil melepas pelukannya. Aku pun hanya bisa melambaikan tangan seraya terus menatapnya hingga hilang dari pandangan mata. Rasanya aku ingin terus seperti ini.
Tuan, bagaimana jika hatiku menuntut? Apa kau bersedia bertanggung jawab?
Setelah melihatnya bersama Jack masuk ke dalam lift, aku segera masuk lalu mengunci pintu. Aku harus bersiap-siap sebelum Jack datang menjemputku. Ya sudah, kunikmati saja perjalanan hidupku ini.
Menjelang siang...
Pukul sembilan pagi Jack menjemput dan mengantarkanku menuju sebuah universitas terkemuka di kota ini. Dan kini Jack sedang membantu proses pendaftarannya. Tidak sampai dua jam akhirnya kami berhasil melakukan pendaftaran. Dan karena aku tidak mempunyai tanda pengenal kewarganegaraan, terpaksa aku ikut menebeng dengan Jack. Jadi posisi kewarganegaraanku di sini adalah sebagai keponakannya Jack.
"Em, sepertinya kita ke supermarket dulu, Jack. Aku harus membeli keperluan alat tulis untuk kuliah nanti. Dan juga kebutuhan untuk satu minggu ke depan," jawabku.
"Apa tidak terlalu banyak, Nona?" tanyanya lagi.
"Em, sepertinya tidak." Aku sedikit ragu menjawabnya.
"Lebih baik biar saya saja yang membeli peralatan tulisnya. Besok Nona sudah mulai kuliah. Jadi pagi-pagi saya akan mengantarkan alat tulisnya." Jack dengan baik hati menawarkan diri.
"Em, baiklah kalau begitu. Tapi kita tetap harus membeli kebutuhan mingguan," kataku lagi.
"Baik, Nona. Saya akan menemaninya."
Setelah selesai melakukan pendaftaran, kami segera menuju halaman parkir kampus lalu melaju ke supermarket terdekat untuk membeli kebutuhan mingguan. Tak lupa kubawa catatan apa saja yang dibutuhkan untuk satu minggu ke depan. Tentunya barang-barang yang akan kubeli ini pembayarannya tinggal menggesek saja. Tidak perlu repot-repot membawa uang tunai untuk berbelanja. Semua serba elektronik.
Dua jam kemudian...
Kulihat jam di ponsel pemberian tuanku sudah menunjukkan hampir pukul satu siang. Dan aku baru saja tiba di depan apartemennya. Jack membantu membawakan barang belanjaan sampai ke depan pintu.
__ADS_1
"Terima kasih, Jack. Maaf telah banyak merepotkan," kataku pada pria berjas hitam ini.
"Kembali, Nona. Kalau begitu saya permisi." Jack berpamitan padaku.
"Ya, hati-hati di jalan." Aku pun mengiyakan.
Jack segera berjalan menuju lift yang ada di sudut lantai apartemen. Sedang aku masuk ke dalam apartemen tuanku sambil membawa semua barang belanjaan. Hari ini hatiku amat riang sekali. Ternyata kehidupanku berjalan lancar dan serba dimudahkan. Dengan tersenyum riang aku melangkahkan kaki, berbelok untuk menuju dapur. Tetapi ... tiba-tiba langkah kakiku terhenti.
Tuan ....
Kulihat di depan kedua mata tuanku sedang memegang lengan seorang wanita yang tidak kuketahui siapa. Wanita itu bergelayut manja dengannya di depan pintu kamar. Sontak hatiku serasa pecah berkeping-keping. Jantungku melambat seakan kekurangan pasokan oksigen. Aku ... patah hati.
Kutelan ludahku berulang kali melihat pemandangan miris ini. Rasa sesak melanda seluruh dadaku, sakit sekali. Tanpa sadar plastik berisi buah jeruk yang kubeli pun tidak mampu lagi kupegang dan akhirnya jatuh ke lantai. Buah-buah jeruk menggelinding ke sembarang arah saat aku tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.
"Ara ...?"
Seketika tuanku bersama wanita itu melihat ke arahku. Dia segera melepas pegangan tangannya pada wanita itu.
"Rain, siapa dia?" tanya wanita berpakaian mini merah kepada tuanku.
Aku segera tersadar siapa diriku. Aku ini hanyalah seorang pembantu baginya, tidak mungkin bisa memilikinya. Rasa sesak di dada pun semakin menjadi, memaksa bulir-bulir air mataku keluar. Mataku berkedut seolah meminta izin agar dapat mengeluarkan butiran kristal bening ini. Aku pun segera mengambil semua jeruk yang jatuh berserakan di lantai.
"Ara, biar kubantu." Tuanku membantu mengambilkan jeruk yang jatuh.
"Tidak perlu, Tuan. Biar aku saja." Aku pun cepat-cepat mengambilnya.
"Rain, siapa dia?" Wanita itu bertanya kembali.
Tuanku diam, entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku pun tidak ingin melihat apa yang terjadi pada mereka. Dengan segera aku berpamitan, melangkahkan kaki meninggalkan keduanya.
"Maaf, aku tidak tahu jika ada tamu yang datang. Permisi." Segera kulangkahkan kaki menuju dapur apartemen.
"Ara!" Tuanku ingin mengejarku, tapi sepertinya tertahan oleh wanita itu.
Cepat-cepat aku masuk ke dapur lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Semua barang belanjaan yang kubawa kuletakkan begitu saja di atas lantai. Dan kini aku tidak dapat menahan rasa sesak lebih lama. Air mataku jatuh begitu saja kala mengingat kejadian tadi.
Tuan ....
Satu per satu bulir air mataku jatuh membasahi pipi. Dadaku terasa sesak sekali sampai-sampai membuatku harus sekuat tenaga menghirup udara. Aku tidak percaya jika akan melihat ini di depan mataku sendiri. Ternyata tuanku mempunyai wanita lain. Dan mungkin aku ini hanya mainannya.
__ADS_1