Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Love You


__ADS_3

"Ara ...."


Setelah semua air mancur mati, aku dapat mendengar jelas apa yang dikatakan oleh priaku. Dia lantas mengusap pipiku dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya memegang erat tangan kananku.


"Maaf jika selama ini telah membuatmu kesal," katanya yang tiba-tiba membuatku heran.


"Sayang, kau sehat?"


Aku bertanya saja seperti itu. Tidak biasanya dia begini, aku jadi heran. Aku bertanya tanpa memedulikan perasaannya saat mendengar pertanyaanku.


"Aku sehat, Ara. Seratus persen sehat." Dia lalu mencubit pipiku.


"Ish, sakit tahu!" Aku mengerutu sambil memegangi pipi ini.


Kulihat dia menghirup udara dalam-dalam di depanku, lalu mulai serius menatap kedua mataku. Seketika getaran aneh kurasakan saat dia seserius ini. Entah apa yang akan dia lakukan, asal tidak menjeburkanku saja ke kolam. Karena jika hal itu dilakukannya, aku akan menariknya juga agar dia terjebur bersamaku.


"Ara, aku telah menyelesaikan masa laluku," katanya, memberi kabar.


Aku terperanjat, bukan karena kaget tapi karena bahagia. "Benar, kah?" Aku tak percaya.


"He-em." Dia mengangguk. "Aku sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahan kita. Kau mau, kan?" tanyanya yang mengagetkanku.


"Eh, bukannya masih ada sepuluh hari lagi?" tanyaku.


"Kalau bisa sekarang, kenapa harus ditunda, Ara?" tanyanya.


Aku terkekeh sendiri. "Kau ini dasar." Kucolek dada bidangnya itu.


Kami lantas berpegangan tangan sambil berdiri berhadapan. Kulihat priaku diam sejenak di saat aku terkekeh. Entah mengapa atmosfer tiba-tiba berubah begitu cepat. Hanya suara kendaraan dari jauh yang bisa kudengar dari sini. Priaku lalu melakukan sesuatu setelah itu.


Sayang ...?!


Aku terkejut saat dia menarik tubuhku. Kini tubuhku dan tubuhnya berdekatan sekali. Tangannya lalu melingkarkan kedua tanganku ke lehernya. Kedua tangannya pun melingkar di pinggangku. Aku jadi heran dengannya, entah apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


"Ara ...." Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Dia seperti ingin menciumku. Lantas saja kutahan bibirnya dengan jari telunjuk ini. Aku tidak mau kemesraan kami terekspos di depan umum. Aku ingin apapun yang terjadi hanya menjadi privasi kami. Tapi, dia lantas menepiskan jariku dari bibirnya. Dia menatapku dalam.


"Ara, aku ... mencintaimu."


Apa?!!


Tiba-tiba saja kata itu kudengar dari bibirnya. Aku terperanjat kaget karena tak percaya dia akan mengatakannya langsung malam ini. Dia masih menatapku dalam dan tidak memalingkan pandangannya sama sekali. Aku jadi terpaku untuk menanggapi ucapannya.


"Apakah ini dirimu, Sayang?"


Lantas kuusap wajahnya. Kupastikan jika dia adalah hujanku. Pria yang dulu menjadi tuanku. Benarkah dia mengatakan hal itu? Sungguh aku masih sulit percaya. Bukankah hanya gadis yang benar-benar dicintainya saja yang akan mendengar kata cinta darinya? Tapi malam ini dia mengucapkannya padaku. Itu berarti...


Apa aku sedang bermimpi?


Jantungku berdetak hebat, laju napasku seakan terengah-engah. Rasa tak percaya menyelimuti hati dan pikiranku. Malam ini aku diberi kejutan oleh pernyataan cintanya.


"Sayang ...."


Sungguh aku terhanyut dengan apa yang dikatakan olehnya. Dadaku dipenuhi rasa bahagia yang tak kusangka. Aku seperti bermimpi saja.


"Ini ... ini bukan mimpi, kan?" Aku bertanya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku hampir menangis haru di depannya.


"Tidak, Ara. Ini nyata. Aku di hadapanmu meminta langsung untuk menjadi istriku. Maukah kau menikah denganku? Aku mencintaimu, Ara."


Lagi, dia mengucapkannya lagi. Bulir-bulir air mataku jadi ikut tak terbendung. Aku tak menyangka dia akan mengatakannya lagi. Aku bahagia, bahagia sekali.


"Sayang."


Kupeluk dirinya, kubenamkan wajahku di pundaknya seraya berjinjit sedikit. Lantas dia mengusap rambutku, dari pangkal hingga ke ujungnya. Aku bisa merasakan jantung kami berdetak seirama. Pernyataan cinta itu akhirnya diucapkan olehnya.


"Ara, aku serius padamu. Maaf ya telah lama membuatmu menunggu," katanya di telingaku.

__ADS_1


Aku mengangguk. Air mataku jatuh menetes di pundaknya. Aku merasa bahagia sekali. Rasa bahagia ini seperti membuatku ingin melompat saja.


Dia lantas memegang kedua lenganku, memegang lembut wajahku. "Aku mencintaimu, Araku," katanya lagi lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Dia menundukkan kepalanya sedikit untuk meraih sesuatu. Hangat napasnya mulai terasa di pipi ini. Hingga akhirnya dia mendaratkan kecupannya di bibirku. Bersama dengan itu kudengar suara air mancur yang keluar dari bawah, mewarnai ciuman kami. Air mancur Kota Dubai dihidupkan kembali.


Sayang, terima kasih.


Dia menciumku dengan lembut. Sapuan-sapuan bibir tipisnya menjelajahi seluruh permukaan bibirku. Aku terhanyut dalam kecupannya hingga tak sadar sedang berada di mana. Aku pasrah bersamanya, bersama seorang pria yang akan menjadi suamiku, Rain Sky.


Malam ini akhirnya yang ditunggu juga datang. Rain menyatakan cintanya kepada Ara yang membuat hati sang gadis amat terharu. Ia tidak menyangka jika akan mendapat kejutan sebahagia ini. Akhirnya kata-kata yang sudah lama tertahan itu diungkapkan oleh Rain.


Sudah pupus sudah prasangka buruk Ara terhadap prianya. Malam ini ternyata ia mendapatkan kepastian akan perasaan Rain kepadanya. Dan apa yang dikatakan Jane itu tidaklah benar.


Air mancur Kota Dubai menjadi saksi adegan ciuman mereka. Saat Rain mendekatkan wajahnya ke bibir Ara, saat itu juga air mancur dinyalakan kembali. Rain seperti telah menyiapkan hal ini sebelumnya. Air mancur pun menutupi adegan ciuman mereka.


Owdie dan Byrne tampak terharu melihat kesungguhan saudaranya yang ingin meminang Ara. Owdie pun tanpa sadar merebahkan kepalanya di pundak Byrne. Ia menangis bak anak kecil, yang tanpa sadar Byrne pun mengusap-usap kepala Owdie. Tentunya pemandangan ini membuat orang-orang di sekitar taman berbisik-bisik melihat mereka. Hingga akhirnya Byrne tersadar dari perbuatannya itu.


"Hei, apa yang kau lakukan?! Menjijikkan sekali." Byrne mendorong Owdie segera.


"Byrne, aku butuh sandaran. Aku terharu." Owdie memohon bak bocah autis kepada Byrne.


"Hii ...!" Byrne ngeri sendiri, ia bergidik geli. Byrne lantas pergi menjauh dari Owdie.


"Byrne, tunggu aku!" Owdie pun mengejar Byrne.


Byrne tampak geli dengan sikap Owdie malam ini. Ia cepat-cepat menghindar agar Owdie tidak merepotkannya lagi. Sampai akhirnya Owdie memeluk Byrne dari belakang lalu meminta gendong. Bertambahlah kengerian Byrne terhadap saudaranya.


"Owdieee!!!" Byrne berteriak.


Sementara itu di tengah air mancur, Rain melepaskan ciumannya dari Ara. Ia lantas menatap gadisnya dengan penuh kelembutan, sepenuh perasaannya. Ia pegang tangan Ara lalu diletakkan di jantungnya. Seolah meminta Ara merasakan irama detak jantungnya malam ini.


Sang gadis lantas merebahkan kepalanya di dada Rain. Rain pun memeluknya. Pelukan hangat di tengah air mancur Kota Dubai yang menyala begitu indah. Akhirnya sang penguasa menyatakan perasaannya kepada Ara. Kepada calon istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Cinta keduanya bak bunga mawar merah yang merekah indah di taman surga.

__ADS_1


__ADS_2