Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Can Not


__ADS_3

"Kinerja yang bagus, Tuan Sam. Kau tidak salah memiliki banyak cucu yang bisa diandalkan. Tak lama lagi dunia ini akan kukuasai. Kita lihat saja nanti." Ia tersenyum licik sambil memegang bola dunia di tangannya.


Seseorang itu adalah pria yang bekerja sama dengan Sam dalam menyebarkan virus buatan Byrne. Ia mempunyai tujuan tersendiri dari hal ini dan bukan merupakan orang sembarangan. Ia bahkan bisa mengatur Sam yang notabene adalah penguasa perekonomian dunia. Namun, ia tidak banyak mengambil keuntungan dari setiap perjanjian kerjanya. Karena ada sesuatu hal yang lebih penting dari itu semua. Dan hal itu hanya ia sendiri yang mengetahuinya.


Lain dengan sosok itu, lain juga dengan Sam. Sam terlihat sedang menerima laporan dari Byrne via telepon. Dimana Byrne sudah memenuhi semua permintaan kakeknya. Namun, Sam tampak kurang puas dengan hasil kinerja cucunya.


"Kau tidak bisa menghasilkan lebih banyak lagi virus buatan itu?" Sam ingin Byrne bekerja lebih keras menambah virusnya.


"Kakek, ini sudah batas maksimal kemampuanku. Orang-orang di laboratorium juga membutuhkan istirahat. Mereka lelah setelah berhari-hari tidak tidur hanya untuk memastikan virus ini berhasil." Byrne menolak secara halus perintah kakeknya.


"Byrne, lebih banyak virus yang dihasilkan, lebih banyak keuntungan yang kita dapatkan. Mereka menjanjikan sepertiga keuntungan bersih untuk organisasi. Bukankah hal itu sangat menarik?" Sam seperti sudah kesetanan. Ia tidak ingat lagi jika cucunya adalah manusia yang membutuhkan istirahat.


Byrne menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa, Kek. Kalau Kakek mampu, Kakek lakukan saja sendiri. Aku lelah. Aku ingin tidur sejenak." Byrne segera mematikan sambungan teleponnya.


"Byrne!"


Sang kakek pun berteriak memanggilnya, namun sambungan telepon itu sudah terburu dimatikan oleh Byrne. Ia kemudian kembali menelepon cucunya, namun nomor telepon Byrne ternyata sudah tidak aktif. Sam pun geram dengan sikap Byrne karena sudah mulai melawan kehendaknya.


"Anak itu! Sudah mulai ikut-ikutan Rain rupanya. Mereka memang tidak bisa dijadikan satu tim." Sam menggerutu sendiri.


Pria tua berusia delapan puluh tahun itu begitu terobsesi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari hasil kinerja Byrne dan tim laboratorium. Padahal di laboratorium para ahli sudah melampaui batas masing-masing dalam menciptakan virus ini. Byrne tidak bisa bekerja tanpa tim. Begitu juga dengan tim laboratorium yang tidak akan bisa mendapatkan bibit virus jika Byrne tidak membuatnya. Sedangkan mereka juga manusia yang membutuhkan waktu istirahat setelah berhari-hari bekerja sangat keras. Namun sayang, Sam seperti tidak memedulikannya.

__ADS_1


Pada akhirnya Byrne mulai membantah keinginan Sam. Ia tidak lagi bisa menoleransi keinginan sang kakek yang begitu memperdaya. Virus yang disebarkan untuk saat ini pun sudah cukup untuk memulai petaka. Apalagi jika ditambah. Byrne juga seorang manusia yang ingin diperlakukan manusiawi. Bukan sebagai alat organisasi yang terus bekerja tanpa henti. Karena Byrne masih mempunyai hati.


Beberapa hari kemudian...


Rain sedang bersiap-siap sebelum berangkat ke USA. Ia ditemani sang istri saat ingin berpamitan kepada ibunya. Rain akan berangkat ke USA hari ini juga dengan bekal yang lebih dari cukup. Tampak sang istri yang enggan untuk melepas keberangkatannya.


"Aku sudah meminta pihak keamanan apartemen untuk selalu memeriksa apartemen ini. Aku juga telah meminta kepada mereka untuk mengantarkan bahan makanan yang diperlukan. Jadi, jika ibu atau Ara ingin membeli suatu, tinggal menelepon bagian resepsionis saja. Mereka 1x24 jam berjaga di bawah." Rain menuturkan.


Ketiganya duduk di sofa tamu sebelum melepas keberangkatan Rain ke bandara.


"Sayang, cepatlah kembali jika urusanmu telah selesai." Ara tampak sedih. Ia duduk di samping Rain sambil menunduk. Sedang ibu Rain tampak tidak tega melihat wajah menantunya sedih seperti itu.


Rain memeluk istrinya. "Aku hanya sebentar ke sana. Paling lama satu minggu. Setelah dari USA, kita akan memeriksakan kembali kandunganmu. Tapi, untuk sementara ini tetaplah berada di apartemen. Jikalau terpaksa keluar, gunakan pakaian yang serba tertutup agar tidak mudah dikenali. Kau mengerti, Sayang?" Rain berpesan.


"Ara, ibu akan menemani Ara selama Rain pergi menemui kakek angkatnya. Rain juga jangan khawatir. Cepat selesaikan urusanmu dengan mereka lalu kembali dengan selamat ke kota ini. Doa ibu selalu menyertai." Sang ibu menengahi kesedihan yang melanda menantunya.


Rain mengangguk. Ia memegang wajah istrinya dengan lembut lalu mencium keningnya. "Aku berjanji sebagai ayah dari anak yang kau kandung, Sayang. Aku akan kembali secepatnya ke Turki." Rain bersungguh-sungguh.


Mau tak mau Ara mengusap air matanya yang mulai menetes. Ia mencoba berlapang dada menerima hal ini. Karena dicegah pun tidak akan bisa menyurutkan keinginan suaminya untuk tidak pergi. Ara mencoba menerima jalan hidup yang ditakdirkan untuknya.


Walaupun berat terasa, Ara akan sekuat tenaga menerimanya. Kontrak cinta telah mereka tanda tangani. Rain juga tidak mungkin macam-macam di sana walau tanpa dirinya. Ara pun berusaha percaya kepada suaminya.

__ADS_1


"Baiklah. Hati-hati." Ara akhirnya melepas kepergian suaminya.


Rain tersenyum. Ia memeluk istrinya dengan erat. Seolah menyalurkan seluruh perasaan yang ada di hati. Ia memang benar-benar mencintai Ara dan janin yang di dalam kandungan. Namun, Rain memiliki sebuah urusan yang harus segera terselesaikan. Sehingga ia terpaksa harus meninggalkan istrinya.


Sayang, maafkan aku. Aku pergi untuk kembali. Jaga dirimu dan anak kita ya. Dan jangan banyak pikiran.


Rain mencium kening istrinya. Ia juga berpamitan kepada ibu. Rain meminta restu kepada ibunya agar jalan kehidupannya dimudahkan. Sang ibu pun tampak mengangguk sambil berlinang air mata saat putranya akan segera memulai perjalanan menuju USA.


Sementara itu di Kuwait...


Owdie sedang menonton berita di televisi setempat. Ia mendengar para penduduk terkena gangguan pernapasan yang berat. Korban jiwa memang belum ditemukan. Tapi, beberapa di antaranya harus mengalami perawatan intensif. Sontak Owdie segera tersadar dari apa yang terjadi. Ia kemudian menelepon, Byrne.


Byrne, apakah virusmu sudah berhasil disebarluaskan?


Owdie sebenarnya sedang menikmati hari libur di kamar hotelnya. Setelah lelah bekerja di industri hiburan, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dari aktivitas yang padat. Namun, saat mencoba menonton berita yang disiarkan oleh TV, tak lama ia menemukan sebuah berita yang berkaitan dengan hal yang dilakukan saudaranya. Sontak ia segera menghubungi Byrne.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."


Suara operator terdengar, memberi tahu jika nomor Byrne sedang tidak aktif saat ini. Owdie pun segera menelepon nomor lainnya yang ia ketahui. Ia ingin menanyakan sesuatu hal penting kepada saudaranya. Mengenai keselamatan jiwa manusia di dunia.


Byrne, ayo angkat teleponku.

__ADS_1


Ia masih menanti teleponnya itu diangkat oleh saudaranya.


__ADS_2