
Dubai, pukul tujuh malam waktu sekitarnya...
Tak terasa waktu terus saja berlalu, mengantarkan kepulanganku menuju Indonesia. Dan kini aku sedang menunggu Jack datang menjemput kami. Rencana malam ini juga akan segera terbang ke Indonesia.
Aku duduk di sofa bersama tuanku. Sedari tadi tidak mau melepaskan pelukannya. Tadi sore aku bermimpi amat memilukan. Aku bermimpi kehilangannya. Di detik-detik janji suci kami, dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku pun terkejut hingga tersadarkan. Tidak tahu mengapa bisa bermimpi seperti itu, tapi semoga saja ini hanya sebatas ketakutanku akan kehilangannya.
Tuanku bilang aku mengalami hal yang tidak wajar. Seperti memancingnya tanpa sadar. Dan kuakui jika merasakan hal yang sama. Tapi anehnya, aku tidak dapat melawannya.
Untungnya tadi sore Jack segera datang bersama sesepuh kota ini untuk mengobatiku. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Sesepuh itu mendoakanku lalu meminta agar aku segera meminum air darinya. Dan akhirnya aku bisa kembali ke diriku sendiri.
Aku percaya jika sihir itu ada. Aku percaya jika Tuhan menciptakan dua alam yang berbeda. Seperti pertemuan antara dua air laut yang tak sama. Seperti itu juga dunia nyata dan tak kasat mata berada. Makhluk dari dunia lain tidak dapat menembus sekat yang sudah Tuhan ciptakan. Namun sayang, masih ada saja yang ngeyel untuk menembusnya.
Sihir bisa membuat seseorang melupakan dirinya. Sihir juga bisa mengendalikan pikiran seseorang yang terkenanya. Bahkan sihir bisa membuat targetnya seperti orang gila. Tapi semoga saja kita semua dijauhkan dari yang namanya sihir. Semoga Tuhan melindungi kita dari makhluk-makhluk jahat-NYA.
Bel apartemen berbunyi.
"Ara, aku bukakan pintu sebentar."
Tuanku yang masih memelukku di atas sofa meminta izin untuk membukakan pintu. Aku pun beranjak bangun dari pelukannya. Kulihat dia segera berjalan menuju pintu. Sepertinya yang datang adalah Jack. Aku pun segera mengecek kembali ruangan di apartemen ini.
Lampu kamar mandi, dapur dan kamar tidur sengaja kunyalakan. Kata ibu sih ketiga tempat tersebut area vital yang harus selalu terang dan tidak boleh gelap jika ditinggalkan. Jadi aku sih menurut saja. Karena kuyakin ada maksud baik dari perkataannya.
Keadaan apartemen sudah bersih dan terkunci. Dan kini saatnya kami berangkat menuju bandara. Sengaja kukenakan jaket agar tidak dingin di sana. Dan karena belum pernah menaiki pesawat terbang sebelumnya, aku meminum obat anti mabuk terlebih dahulu.
"Ara, kita berangkat." Tuanku memanggil.
"Baik."
Segera kuletakkan gelas minumku ke atas meja lalu melangkahkan kaki ke luar apartemen. Tak lupa mematikan semua lampu ruangan kecuali kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Aku pun siap melangkahkan kaki menuju bandara kota ini.
"Biar bellboy yang membawa kopernya."
Kulihat ada seorang bellboy yang ingin membawakan kedua koper kami. Jack pun sudah datang, namun pakaiannya tidak formal seperti biasanya. Dia hanya mengenakan kemeja tanpa dasi.
__ADS_1
"Mari berangkat." Tuanku lalu merangkulku seraya berjalan bersama menuju parkiran apartemen.
Di perjalanan menuju bandara...
Aku masih merebahkan kepala di dada pria bermata biru ini. Sampai-sampai Jack harus menaikan sekat agar kemesraan kami tidak terlihat olehnya. Dan aku bersama tuanku sedang menikmati perjalanan ini. Dia mengusap-ngusap kepalaku dengan mesranya, sedang aku melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.
"Kau masih merasa takut?" tanyanya seraya melihat wajahku.
Aku mendongakkan kepala, melihat wajahnya. "Sedikit," jawabku.
Dia mempererat pelukannya. "Sudah jangan dipikirkan. Aku hanya menginginkanmu, Ara." Dia mengecup keningku.
"Kau menginginkanku?" tanyaku, memperhatikan wajahnya.
"Ya. Hanya dirimu." Dia mencolek hidungku.
"Tapi kenapa belum menyatakan perasaanmu padaku?" tanyaku manja.
Seketika dia terdiam. Aku pun menunggu jawabannya. Kulihat dia memalingkan pandangannya dariku, entah kenapa.
Dia memijat dahinya sendiri.
"Apakah terlalu berat mengatakannya?" tanyaku memberanikan diri.
Dia melepaskan pelukannya. Seketika aku tahu jika telah salah berbicara kepadanya. Aku pun jadi takut gara-gara hal ini dia akan meninggalkanku.
"Maaf," kataku merasa bersalah.
Dia menoleh ke arahku. "Kau tidak salah, Ara. Hanya akunya saja yang belum siap." Dia tersenyum padaku.
"Jika karena ini membuat suasana hatimu kurang baik, aku minta maaf," kataku lagi.
Dia memelukku kembali. "Belum cukupkah pembuktian rasaku padamu?" tanyanya sambil memelukku.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala.
"Ara, kau wanita pertama dalam hidupku dan berharap juga yang terakhir. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya. Aku masih membutuhkan waktu untuk menceritakan sebuah rahasia kepadamu." Dia menuturkan.
Aku pun mengangguk.
"Sudah, sebentar lagi kita sampai. Nanti di pesawat kau bisa tidur. Aku sengaja meminjam jet pribadi yang ada kamarnya," katanya.
"Hah? Benarkah?" Aku tak percaya.
"He-em. Tapi cuma satu. Nanti kau tidur bersama istri Jack dan kedua putranya yang masih kecil. Sedang aku dan Jack tidur di sofa." Dia memberi tahuku.
"Tapi aku ingin tidur bersamamu," kataku tanpa malu.
Kulihat dia tertawa seraya mengusap wajahnya sendiri. "Ara, jangan memancingku. Kau ini nakal, ya!" Dia mencubit pipiku dengan gemasnya.
"Ih, sakit tahu!" Aku pun menggerutu.
"Dasar! Awas saja kalau sudah menikah, kuterkam dirimu!" Dia mengancamku.
"Weee."
Aku pun menjulurkan lidahku padanya. Seketika dia terdiam, lalu seperti ingin menghisapnya. Tapi tidak jadi.
"Sudah, ah. Nanti bangun," katanya yang membuatku tertawa.
Harus kuakui jika di hati ini hanya ada namanya saja. Tidak ada pria lain yang bisa menggeser posisinya di hatiku. Mungkin bisa dibilang jika dia cinta pertamaku, ciuman pertamaku, dan kegilaan pertamaku. Dia segala-galanya bagiku. Dan aku harap kami bisa selalu terus bersama seperti ini. Aku mencintainya, mencintai tuanku yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.
Ara sudah memantapkan hatinya untuk Rain, begitu juga dengan Rain. Rasa sayang keduanya membuat iri siapa saja. Dan akhirnya semesta pun merestui hubungan mereka walaupun ada rintangan yang melanda. Baik Rain maupun Ara sudah bertekad untuk melabuhkan bahtera bersama. Dan malam ini perjuangan mereka akan dimulai untuk sampai ke altar pernikahan.
Rain sudah menyiapkan diri untuk meminta sang gadis kepada ibunya di Indonesia. Ia menunjukkan sikap gentle-nya sebagai seorang pria. Terlepas dari kekurangannya yang belum menyatakan cinta, Rain berharap bisa melangsungkan pernikahannya dengan mudah. Ia mencintai Ara, sebagaimana Ara mencintainya.
Ara, bersabarlah. Aku butuh kekuatan untuk menyatakan rasa ini kepadamu. Aku tidak akan lari dari tanggung jawabku. Aku menyayangimu.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Jack memasuki sebuah area megah, tempat di mana banyak mobil mewah diparkirkan. Ketiganya tiba di Bandara Internasional Kota Dubai. Dan mereka pun segera keluar dari mobil untuk melakukan prosedur keberangkatan sesuai peraturan bandara. Terlihat di lapangan luas sana satu jet pribadi telah menunggu kedatangannya. Malam ini juga jet pribadi itu akan take off dari bandara. Perjalanan pulang ke Indonesia dimulai segera.