
"Ya. Aku serius."
Jane seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya. Hatinya sudah dipenuhi kegelapan akan cinta yang tak terbalaskan. Ia hanya ingin membalaskan dendam agar hatinya tenang dan jiwanya tidak gentayangan.
"Aku akan memberimu lima puluh ribu dolar, tunai. Terserah bagaimana caramu membunuhnya. Tapi, aku tidak ingin kau membawa-bawa namaku jika ketahuan. Kau pasti mengerti akan maksudku, Nail." Jane menghidupkan puntung rokoknya kembali.
Pria berhodie hitam itu menelan ludahnya. Entah mengapa ia merasa khawatir dengan pekerjaannya kali ini. Karena ia tahu konsekuensi apa yang harus ditanggungnya jika sampai ketahuan nanti. Ia pun akan kehilangan nyawanya. Hukum di negeri ini sangat berbeda dengan hukum di negara lainnya. Nyawa dibayar nyawa, atau denda sesuai syarat dari pihak keluarga korban.
"Nona akan pergi setelah ini?" tanya Nail ingin tahu.
"Ya. Aku akan kembali ke USA secepatnya. Aku tidak mempunyai alasan lagi untuk menetap di sini. Semuanya sudah berakhir." Tersirat kesedihan dari wajah Jane.
"Apakah hubungan Nona dengan tuan Rain berakhir?" tanya Nail lagi.
"Entahlah. Dia kini sudah tidak peduli lagi denganku. Dia juga telah mengetahui apa yang kulakukan selama ini. Tapi dia menahan untuk tidak melaporkannya karena masih memandang ayahku." Jane menceritakan.
"Itu berarti dia juga sudah mengetahui siapa aku?" Tiba-tiba jantung Nail berdetak kencang karena takut.
"Tidak. Aku tidak mengatakan dengan siapa bekerja sama. Kau jangan khawatir." Jane menuturkan.
Nail lantas mengerti mengapa Jane sampai senekat ini, menyuruhnya untuk membunuh Ara. Ternyata semua karena cinta yang tak terbalaskan.
"Baiklah, aku terima misi kali ini. Tapi aku ingin uangnya dulu, bagaimana?" Nail meminta upah sebelum bekerja.
__ADS_1
"Baik, aku akan berikan uangnya. Tapi apa ada jaminan misimu kali ini akan berhasil?" tantang Jane.
"Tenang saja, Nona. Anggap saja ini timbal balik dari kerja sama kita. Tapi jika berhasil, aku ingin meminta bonus darimu lagi. Untuk kerahasiaannya, Anda tidak perlu meragukanku." Akhirnya Nail mengiyakan tawaran Jane.
"Ok. Kita selesaikan transaksinya." Jane lantas mengeluarkan selembar cek untuk Nail.
Nail menerima tawaran dari Jane karena menginginkan uang lima puluh ribu dolar. Malam ini ia pun mendapatkan uang itu. Nail akan segera beraksi untuk menjalankan misinya. Tidak lagi peduli terhadap risiko atas pekerjaannya nanti. Ia hanya menginginkan uang.
Kebencian sudah menyelimuti seluruh hati Jane. Ia tidak lagi berpikir bagaimana jika hal itu kembali kepada dirinya atau keluarganya. Yang ia tahu hanya karena kedatangan Ara, hidupnya berubah mengenaskan. Ia tidak lagi mendapatkan perhatian dari Rain.
Rain sendiri sudah berulang kali menjelaskan jika hubungan mereka selama ini hanyalah sebatas teman. Tapi, Jane tidak mau juga menerimanya. Ia malah semakin dendam kepada Ara yang tidak tahu menahu tentang kisahnya dulu bersama Rain. Sedang Ara datang ke sini hanya untuk bekerja kepada Rain. Dan hal ini bukanlah kesalahan Ara jika Rain benar-benar jatuh hati padanya. Karena tidak ada yang bisa menerka kepada siapa jatuh cinta.
Kini Jane telah bertekad untuk melenyapkan Ara dari Rain. Ia tidak berpikir lagi akan dampak yang ditimbulkan ke depannya. Jane seolah tidak mengakui jika ada hukum tabur tuai di semesta ini. Ia pun masih bersikeras untuk melancarkan ambisinya.
Keesokan harinya...
Dering ponsel menyadarkannya dari alam mimpi. Ponsel yang diletakkan di atas meja itu berdering berulang kali hingga membangunkan dirinya. Lantas Rain meraba-raba sisi meja kecil yang ada di sampingnya, mencari di mana gerangan ponselnya berada.
"Siapa sih pagi-pagi yang meneleponku?"
Ia lalu mengambil ponselnya untuk mengangkat telepon. Sambil mengucek matanya, Rain mencoba melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Dan ternyata kakeknya sendirilah yang menelepon di pagi buta ini.
"Kakek?" Rain lantas terbangun, ia duduk di kepala kasur, menyandarkan punggungnya. "Halo?" jawabnya segera.
__ADS_1
Terdengar keramaian kendaraan yang lalu-lalang dari sana. Rain pun menyadari jika waktu di USA belumlah terlalu malam.
"Rain, di Turki sedang ada negosiasi lahan minyak baru. Lahan minyak itu ditemukan di perbatasan perairan negara. Datang ke sana dan cobalah untuk menjadi penengah. Siapa tahu mereka bersedia bekerja sama."
Sang kakek terus terang apa tujuannya menelepon Rain di pagi buta ini. Rain yang masih belum tersadar penuh pun berusaha mencerna kata-kata sang kakek dengan baik. Ia lantas memijat keningnya sendiri, meredakan rasa pusing karena bangun tidur terpaksa.
"Kakek, bukankah Turki tidak mau bekerja sama dengan USA? Mereka sudah mempunyai rekan ladang minyak sendiri. Kalau aku datang ke sana, dikhawatirkan malah akan memperburuk suasana. Jika lahan minyak ditemukan di perbatasan perairan, itu berarti hanya kedua negara saja yang berhak bernegosiasi. Kita tidak ada sangkut pautnya." Rain mengungkapkan pendapatnya.
"Rain, coba dulu. Jangan buat kakek kesal. Harga minyak akan melambung tinggi jika kita tidak dapat menjadi penengah di sana. Bisa-bisa pasokan migas ke USA berkurang dan hal itu mengakibatkan negara kesulitan mendapatkan bahan bakar." Sang kakek bersikeras.
Rain mengurut dadanya sendiri. Astaga, ada saja si tua bangka ini.
Rain kesal karena sang kakek terlalu memaksa. Ia merasa kakeknya sangat serakah. Namun, ia tidak bisa membantahnya. Perintah sang kakek seakan mutlak baginya dan juga bagi saudara-saudaranya yang lain. Rain tahu benar bagaimana sifat kakeknya.
"Baiklah. Aku berangkat besok, Kek. Hari ini masih ada urusan di Dubai," kata Rain yang akhirnya mengiyakan.
"Berangkat hari ini juga, Rain. Lebih cepat lebih baik. Jangan tunda lebih lama lagi. Datang selagi ada kesempatan. Jangan terlambat." Sang kakek berpesan.
Telepon pun terputus, menandakan jika tidak ada lagi kompromi dengan keputusan yang telah ditetapkan. Rain lantas mengusap wajahnya, ia merasa tertekan dengan perintah kakeknya yang tidak mau tahu-menahu. Terlebih hari ini ia sudah mempunyai janji dengan Ara.
Kapan aku bisa terlepas dari jeratan si tua bangka itu?
Hati Rain kesal. Tapi saat melihat Ara tengah tertidur pulas di sampingnya, hatinya kembali damai. Ia lalu mengusap kepala Ara dan mengecupnya. Ia kecup sepenuh hati, jiwa dan raganya. Sebentar lagi gadisnya itu akan menjadi istrinya yang menemani perjalanan hidup dalam suka maupun duka.
__ADS_1
Ara, aku mempunyai urusan mendadak hari ini. Semoga kau bisa mengerti akan pekerjaanku.
Rain lantas bangun, ia beranjak mandi. Terlihat waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Selepas mandi ia pun segera bekerja di depan meja laptopnya. Ia menghubungi pihak-pihak terkait untuk perjalanannya ke Turki. Ia juga menghubungi pihak apartemen untuk menyelesaikan proses administrasi tinggalnya. Ia mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat ke konstantinopel.