
"Jangan ngambek lagi. Nanti kugigit!" Rain mengancam istrinya. Ia menatap Ara penuh cinta.
Ara pun akhirnya luluh dengan sikap suaminya. "Aku kesal, Sayang. Aku tidak rela kau disentuh oleh siapapun, apalagi wanita itu." Ara jujur mengungkapkan perasaannya.
Rain menghela napas. "Sayang, aku ini sudah menjadi milikmu. Janin di dalam kandunganmu sudah menjadi saksi atas cintaku." Rain mengusap perut istrinya.
Ara pun tak berdaya saat Rain mengingatkan janin yang sedang dikandungnya. Ia lantas mencium kening Rain dengan sepenuh hati dan perasaannya. "Aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu." Ara benar-benar menyayangi Rain sepenuh jiwa dan raganya.
Rain pun tersenyum mendengar pengakuan sang istri. Ia merasa senang dengan kejujuran Ara. Ia merasa tidak salah dalam memilih istri. Rain begitu bahagia bersama Ara.
"Baiklah. Kalau begitu aku mau menyusu sekarang. Boleh?" Rain mulai nakal, ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Seketika Ara berdiri dari duduknya. "Sayang, kau ini!" Ara pun kesal dengan suaminya.
"Ayolah, Sayang. Di sini sepi." Rain membujuk sambil memaju-majukan bibirnya, seolah-olah minta dicium.
"Bodok!" Ara pun kembali ngambek. Ia segera keluar dari kolam.
"Sayang, tunggu!" Rain mengejar Ara. Ia menyadari jika kali ini Ara benar-benar ngambek kepadanya.
Sore ini menjadi saksi pengejaran seorang suami terhadap istrinya. Yang mana sang istri ngambek karena kejahilan suaminya. Mereka seolah tidak mengenal tempat dan waktu, selalu saja bisa mewarnai suasana dengan bujuk rayu dan kejahilan. Tak ayal keharmonisan rumah tangga itu pun didapatkan.
Ara menyudahi berendamnya karena Rain mulai nakal. Ia khawatir Rain akan memintanya di kolam. Ia takut jika ada yang berceceran dan sampai disalahgunakan. Karena bagaimanapun Ara harus berhati-hati di tempat ini. Apalagi Camomile sudah menunjukkan ketidaksenangan padanya. Ia harus semakin berhati-hati.
Aduh, dia ini. Tidak di mana-mana, sama saja. Bagaimana kalau ada yang tertinggal di kolam lalu disalahgunakan? Bisa-bisa aku semakin murka jika suatu hari nanti ada yang mengaku-ngaku mengandung anaknya. Oh, Sayang. Bisakah kau tahan sebentar keinginanmu?
Jujur saja di hati Ara menyimpan kekhawatiran akan suaminya. Ia tahu benar bagaimana sifat Rain dan ia juga tahu jika putri itu agresif. Sehingga sebisa mungkin ia mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ara tidak mau jika Rain sampai tergoda nantinya.
__ADS_1
Lantas ia mencari cara agar Rain selalu merasa cukup dengannya. Ia pergi menuju kamar untuk segera berganti pakaian. Ia ingin memenuhi kebutuhan suaminya.
Beberapa saat kemudian...
Semilir angin sore menjadi saksi pengejaran seorang suami terhadap istrinya. Sang istri pun segera mengenakan kain tipis sesampainya di dalam kamar. Ia lalu telungkup di atas kasur sambil menunggu suaminya datang. Tak lama yang ditunggu pun akhirnya datang.
"Sayang?"
Rain melihat Ara berpose menggoda di atas kasur. Sang istri memiringkan badannya ke arah Rain dengan hanya mengenakan kain yang tipis. Seketika itu juga Rain menelan ludahnya sendiri.
"Kemari." Ara memainkan jentik jemarinya agar Rain mendekat.
Rain pun mendekat. Ia melepas celananya lalu segera naik ke atas kasur. Ia kemudian mencium istrinya. Ara pun membalas ciumannya itu dengan lebih dalam lagi.
Hasrat Rain sudah naik ke ubun-ubun. Api di dalam tubuhnya berkobar semakin besar. Ia tidak mampu lagi menahan diri dari sang istri. Hingga akhirnya ia membalikkan Ara, menghimpit tubuh istrinya sehingga Ara tidak bisa bergerak. Kini Rain berada di atas tubuh istrinya.
"Sayang ...."
"Sayang, sudah."
Ara kelabakan. Ia menghindar dari ciuman suaminya. Ia kemudian telungkup, membelakangi Rain dengan sekuat tenaga. Rain pun menyadari jika ia terlalu berlebihan dalam mencium istrinya. Lantas ia berbisik ke telinga Ara sambil menahan hasrat yang tengah bergejolak.
"Sayang, apa tidak apa-apa posisi seperti ini?" tanya Rain lalu mencium pundak istrinya.
Ara menoleh. Ia tersenyum kepada Rain yang masih menciumi pundaknya. "Bayi kita masih sangat kecil, Sayang. Jangan khawatir." Ara mengecup kening Rain dari samping.
Rain mengiyakan, tetapi tetap saja ia takut terjadi apa-apa pada anaknya. Apalagi ini adalah buah cintanya yang pertama, sehingga ia amat khawatir. Ia lantas membalikkan tubuh Ara kembali.
__ADS_1
"Sayang, begini saja. Lebih aman dari yang tadi." Rain amat khawatir jika terjadi apa-apa di dalam.
Ara tertawa kecil di hadapan Rain. Ia kemudian membiarkan suaminya menjelajahi setiap apa yang ia punya. Rain pun seolah tidak sanggup menahan hasratnya.
"Sayang, pelan-pelan," pinta Ara saat Rain meremas dadanya.
Ara menyadari jika Rain tidak ingin terjadi apa-apa pada janin di dalam kandungannya. Ia pun sama seperti suaminya. Tapi Ara berpikir jika posisi telungkup masih aman karena janin belum bertumbuh besar, mungkin masih seukuran biji kacang. Tetapi tetap saja Rain khawatir sehingga ia mencari cara yang lebih aman. Dan kini ia mulai menjelajahi perbukitan kenyal milik Ara yang begitu menggoda pandangannya. Rain pun sesekali mengajak Ara bercumbu.
"Sayang ...."
Ara melihat apa yang dilakukan suaminya. Betapa lincah daging lunak itu mencari-cari sesuatu yang masih tertutupi kain. Ara pun merasa geli saat Rain berhasil menemukannya.
"Sayang, enggh ...."
Rain akhirnya menemukan sesuatu yang tertutupi. Ia mulai melakukan penyapuan lembut di area sekitarnya. Menggelitiknya, mengitarinya lalu hinggap ke tengah-tengahnya. Ara pun meremas sprei kasurnya sendiri.
"Sayang ... mmmhh ...."
Ara menggigit bibirnya saat Rain menemukan apa yang dicari. Tangannya kemudian meremas rambut Rain karena tidak tahan dengan sensasi yang ia rasakan. Rain pun semakin bersemangat untuk melakukannya. Ia mulai melakukan penekanan-penekanan kecil hingga membuat Ara melayang ke angkasa. Rain menggigit kecil pucuk dada itu lalu segera menyapu dengan lidahnya. Sontak Ara pun menggeliat hebat.
"Sayang ... aaahh ...."
Belum cukup sampai di situ, Rain pelan-pelan melebarkan kedua paha istrinya. Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan sang istri. Bibirnya mulai turun ke bawah lalu ke bawah lagi. Sementara kedua tangannya bermain-main di atas sana.
"Sayang ...."
Sensasi yang Rain berikan mampu membuat Ara tak berdaya. Hingga akhirnya tanpa diminta ia melebarkan kedua pahanya. Rain pun segera menelusup masuk ke dalam. Lidahnya mulai bergerilya di bawah sana. Dalam sekejap Ara pun mulai merasakan sensasi aneh pada tubuhnya. Seluruh otot-otot tubuhnya mengencang. Hingga akhirnya, ia melepaskannya di hadapan Rain.
__ADS_1