
"Kau ingin sesegera mungkin?" tanya Agartha kepada istrinya.
Lily mengangguk. "Lebih cepat lebih baik, bukan? Lagipula kita sudah resmi menjadi suami istri. Siapa yang akan melarang?" Lily membuat Agartha tersenyum.
"Ya, akan secepatnya. Tapi bagaimana kalau kita mandi dan melakukannya lagi?" Agartha menggoda Lily.
"Ih!" Seketika Lily mencubit dada suaminya. "Aku masih lelah, Suamiku. Nanti malam saja ya." Lily bernegosiasi.
"Malam?!"
"He-em."
"Tidak mau. Nanti siang saja," tawar Agartha.
Lily pun menahan tawanya. "Baiklah. Tapi sekarang aku mau tidur lagi. Aku masih mengantuk." Lily meminta izin.
Agartha tersenyum. "Baiklah. Silakan tidur, Istriku." Ia kemudian mengecup kening Lily.
Malam yang panjang baru saja mereka lalui bersama, dengan segenap cinta dan sepenuh perasaan yang menggelora. Padahal Lily belum boleh terlalu lelah pasca pengobatan. Tapi, kerinduan itu sudah tidak lagi dapat tertahankan. Mereka akhirnya melampiaskan seluruh hasrat rindu yang ada sampai tidak ingat lagi sudah jam berapa. Hingga akhirnya, saat pagi datang Lily masih mengantuk berat. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya.
Pangeran sendiri tidak akan memaksakan kehendak agar Lily ikut mengantarkan Ara dan Rain kembali ke dunianya. Ia mempersilakan sang istri untuk banyak-banyak beristirahat setelah melalui malam yang melelahkan. Lily pun perlahan-lahan tertidur kembali dalam pelukannya. Istrinya memang benar-benar membutuhkan istirahat yang banyak.
Kini keduanya telah berbaur menjadi satu dalam ikatan suci pernikahan. Mereka juga tidak akan menunda jika diberi momongan. Sehingga kini tinggal menunggu kabar bahagia selanjutnya. Kehamilan Lily pasca pernikahannya dengan Agartha.
Sementara itu di padepokan Ara dan Rain...
"Sayang, bangun! Kita akan kembali ke bumi!" Ara membangunkan suaminya.
Rain terlihat masih mengantuk. "Memangnya portal sudah terbuka?" Ia masih malas untuk membuka mata.
"Kata nenek, menjelang siang akan terbuka. Ayo, cepat bangun!" Ara menarik-narik lengan suaminya yang masih memeluk guling.
"Tapi ...." Rain ingin menolaknya.
"Tidak ada tapi. Ayo cepat!" Ara menarik tangan suaminya.
"Hah, ya. Baiklah."
__ADS_1
Rain pun bangun dari tidurnya. Namun, ia tidak langsung bangun, melainkan duduk di atas kasur sambil memejamkan mata. Sedangkan Ara...
"Sayang!!!"
Ara mulai kesal pada suaminya. Ia bertolak pinggang karena Rain belum beranjak dari kasurnya.
"Iya, iya." Akhirnya dengan malas-malasan Rain beranjak bangun. "Kau bisa bertemu dengan nenek lagi?" tanya Rain sambil berjalan menuju area pemandian.
"Iya. Kemarin saat sudah tersadarkan, aku pingsan lagi bukan?" tanya Ara.
"He-em." Rain mengangguk dengan malas. Ia masih mengantuk.
"Itu karena aku harus mendengar pesan nenek terlebih dahulu," kata Ara lagi.
"Pesan? Memangnya apa pesan nenek?" tanya Rain sambil malas-malasan menuju kamar mandi.
Mereka akhirnya sampai juga di depan pintu area pemandian padepokan. Ara pun membuka pintunya.
"Pesan nenek waktu itu..."
Saat itu...
Ara kembali berada di ruang tanpa batas. Ruangan itu berwarna putih sepanjang mata memandang. Ia kemudian duduk bersila sambil menunggu nenek pemberi gelang datang. Namun, ternyata hanya suaranya saja yang bisa ia dengar.
"Cucuku." Nenek pemberi gelang menyapa Ara.
"Nenek?" Ara pun segera menanggapinya.
"Urusanmu di Agartha telah selesai. Kau bisa pulang dengan tenang. Tak lama lagi portal akan terbuka saat matahari hampir berada di tengah langit." Nenek pemberi gelang mengabarkan.
"Apakah yang dimaksud pertengahan hari, Nek?" tanya Ara sambil beranjak bangun.
"Ya, benar. Tanda-tanda portal itu akan terbuka adalah bertemunya dua batu berwarna, biru dan hijau yang ada di genggaman tanganmu." Nenek pemberi gelang menuturkan.
"Batu biru dan hijau?" Ara merasa heran. "Tapi aku tidak mempunyai batu itu, Nek. Dari mana aku mendapatkannya?" tanya Ara lagi.
"Tenang, Cucuku. Pangeran itu yang akan memberikannya padamu. Jagalah baik-baik kedua batu tersebut. Kau juga tetap harus merahasiakan perjalananmu selama berada di Agartha." Nenek pemberi gelang berpesan.
__ADS_1
Ara tampak berpikir. "Apakah ada konsekuensi yang harus kutanggung jika suatu hari aku keceplosan, Nek?" tanya Ara lagi.
Sejenak nenek pemberi gelang terdiam. "Akal manusia terkadang tidak bisa menerima sesuatu yang di luar logika. Kau bisa dianggap gila jika mengakui hal ini. Jadi lebih baik simpan saja sendiri. Cukup dirimu dan suamimu yang mengetahui keberadaan Agartha." Nenek pemberi gelang menjelaskan.
Baik, Nek." Ara pun menyanggupinya.
"Sampai bertemu kembali, Cucuku. Tetaplah bersabar agar hasilnya memuaskan." Nenek pemberi gelang berpesan lalu Ara pun mulai tersadarkan.
.........
"Oh, begitu. Jadi pangeran yang akan memberikan batu biru dan hijau itu?" tanya Rain kepada istrinya.
"Iya. Nenek bilang begitu. Maka dari itu kita harus cepat-cepat menemuinya." Ara ingin urusannya cepat selesai.
Rain mengangguk. Keduanya lalu masuk ke area pemandian. Melepas gaun dan jubah yang dipakai lalu mulai membersihkan tubuh dengan air pancuran.
"Aku harap kita bisa langsung bertemu dengan ibu." Rain berharap sambil mengambil sabun mandinya.
"Ibu?" Ara penasaran. Ia masih menggulung rambutnya.
"Ya. Ibuku masih hidup. Dia ada di Turki saat ini. Semoga saja kita bisa langsung tiba di Turki sehingga tidak perlu bersusah payah mencari." Rain berharap.
Saat itu juga Ara tersadar dengan keinginan besar suaminya. Rain ingin segera bertemu dengan ibunya. Ara pun menyadari betapa besar rasa sayang yang Rain miliki kepada ibunya.
Ara mengangguk. "Semoga keinginanmu cepat terkabul, Sayang." Ara pun berdoa.
Rain mengusap kepala istrinya. "Mari mandi, Istriku." Rain mulai mengguyur tubuh istrinya dengan air.
Keduanya mandi bersama dengan riangnya. Rain membantu menggosok tubuh belakang Ara dengan sabun, begitu juga dengan Ara yang membantu menggosok tubuh belakang Rain. Mereka menikmati waktu sebelum kembali ke dunia sebenarnya. Dan kini Rain lebih bisa memercayai kelebihan yang dimiliki istrinya. Ia tidak lagi banyak membantah ataupun menghubungkannya dengan logika. Karena menurutnya, apa yang dikatakan oleh Ara adalah benar adanya.
Sementara itu di Ukraina...
Byrne masih melakukan uji coba terhadap virus yang dibuatnya. Yang mana virus itu akan menjadi barang dagangan paling menguntungkan. Walaupun nyatanya berdampak buruk bagi manusia, tetapi Byrne tetap harus membuatnya. Ia tidak bisa lari dari area karena dijaga ketat oleh banyak orang bersenjata. Tidak mungkin bisa pergi jika tidak ditembak mati.
Mungkin aku harus menelepon Owdie.
Byrne memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah lelah membuat virus yang mematikan. Ia akhirnya keluar dari laboratorium, meninggalkan tikus-tikus percobaannya yang sedang dipapari virus tersebut. Byrne ingin beristirahat di dalam kamar rahasianya yang ada di ruang bawah tanah. Ia kemudian menelepon Owdie menggunakan nomor yang tidak diketahui orang lain selain dirinya. Byrne menelepon Owdie secara privasi.
__ADS_1