
Satu jam kemudian...
Ara telah selesai mengikuti mata kuliah hari ini. Ia pun bergegas keluar kelas untuk menemui Rain. Namun, ternyata Lee sudah menunggunya di depan kelas.
"Do-dosen Lee?!" Ara terperanjat kaget.
Degup jantung Ara seakan tak karuan saat melihat Lee. Ia benar-benar takut jika Rain sampai melihatnya. Matanya pun mencari-cari ke sekeliling arah di mana Rain gerangan berada.
"Apa ada sesuatu yang kau cari?" Lee juga ikut melihat ke arah sekitar.
"Em, Dosen Lee. Apa kedatangan Dosen Lee ada urusannya denganku?" tanya Ara segera, ia tampak gugup.
"Em..." Lee berpikir. "Mungkin," jawabnya singkat.
Ara kemudian tanpa sengaja melihat Rain dari jauh yang melangkah ke arahnya. Degup jantungnya pun bertambah semakin kencang.
"Em, Dosen Lee. Jika ada keperluan, besok saja ya. Hari ini aku harus bekerja. Besok aku datang lagi ke kampus untuk seleksi akhir peran Cinderella. Sampai nanti." Ara lekas-lekas berpamitan.
Seketika Lee tampak bingung dengan sikap Ara hari ini. Ia ditinggal begitu saja oleh sang gadis, seolah-olah ada yang sedang ditutupi.
Dia seperti menyembunyikan sesuatu.
Lee pun mencoba melihat ke mana Ara melangkah. Namun, pandangannya harus terhenti saat mahasiswi dari kelas berhamburan keluar menemuinya.
"Dosen Lee, tumben Anda kemari?"
"Wah, ada apa ya Dosen Lee sampai ke sini?"
Para mahasiswi menyapa Lee dan menanyakan perihal kedatangan Lee ke kelas mereka. Lee pun mau tak mau membalas sapaan yang ia terima dan memalingkan pandangannya dari Ara. Sementara Ara sendiri mempercepat langkah kakinya untuk menemui Rain. Ia tidak ingin terjadi keributan di saat Rain melihat Lee.
Astaga! Astaga! Jantungku ini hampir saja mau copot.
"Ara, kau sudah selesai?" Rain pun menanyakannya saat sang gadis sudah tiba di hadapan.
"Hm, ya. Aku sudah selesai. Kita ke supermarket sekarang, ya."
Ara cepat-cepat menggandeng tangan kiri Rain agar tidak melihat ke arah belakangnya. Rain pun terkejut dengan sikap Ara yang tiba-tiba berubah. Tapi, ia juga merasa senang karena Ara menggandengnya. Ia tidak peduli apa alasan Ara melakukan itu semua.
Sepertinya dia mulai bisa memaafkanku.
Rain tersenyum bahagia. Rasanya bagai penantian panjang yang terbalas segera. Ia kemudian memegang tangan Ara yang menggandeng tangannya. Keduanya lalu melangkahkan kaki menuju parkiran kampus, berniat melaju ke supermarket di kota ini.
__ADS_1
Sementara itu di ruang kesiswaan...
Rose dan Jasmine duduk di ruang tamu kesiswaan. Keduanya berhasil mendapatkan data Ara setelah bernegosiasi dengan pemegang data mahasiswa, seorang asisten dosen fakultas seni.
"Dia berasal dari Indonesia yang ikut pamannya?" Rose berpikir sejenak.
"Dia juga sudah melunasi biaya kuliah untuk dua tahun mendatang?!" Jasmine tak percaya.
"Mungkinkah dia anak orang kaya?" Rose bertanya sendiri.
"Rose, jangan-jangan yang dimaksud paman di sini adalah sugar daddy-nya?" Jasmine menduga.
"Hm ... aku rasa juga begitu." Rose mengiyakan sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya.
"Lalu jangan-jangan dosen Lee ... target dia selanjutnya?" Jasmine kembali menduga, mengesalkan Rose.
"Kau ini bukannya membantu menenangkan, malah semakin membakar saja!" Rose kesal dengan Jasmine.
"Em, maaf. Aku tidak ada maksud seperti itu. Aku hanya heran saja. Biasanya dosen Lee bersikap acuh tak acuh pada mahasiswi lain, termasuk dirimu. Tapi kenapa dengannya dia tampak berbeda. Mungkinkah dia menggunakan sihir?" Jasmine berpikir sendiri.
"Hah!" Rose beranjak berdiri. "Pokoknya aku tidak akan membiarkan siapapun merebut dosen Lee dari tanganku. Sia-sia tahun ke dua ini jika sampai kehilangannya. Aku harus mencari cara agar gadis itu tidak mendekati dosen Lee lagi." Rose mengepalkan tangannya.
Jasmine ikut berdiri. "Aku akan mendukungmu, Rose. Tapi jangan sampai gegabah. Pihak kampus tidak akan segan menskors kita kalau sampai ketahuan. Terlebih nama baik pemegang saham akan ikut tercemar." Jasmine berhati-hati.
"Hal itu bisa saja, Rose. Tapi kita kan belum tahu ada siapa di belakang gadis itu. Jika dia miskin, kita akan dengan mudah mempermainkannya. Tapi jika dia lebih kaya, habislah kita." Jasmine ketakutan sendiri sambil memegang kepalanya.
"Kau benar, Jasmine. Kita selidiki dulu siapa dia sebenarnya." Rose menyetujui saran dari Jasmine.
Jasmine menyadari jika perbuatan mereka sampai diketahui pihak luar, tentu saja akan merusak nama baik ayahnya yang merupakan salah satu pemegang saham di kampus ini. Ia tidak ingin membantu Rose jika harus sampai mengorbankan ayahnya. Ia masih perhitungan dengan hal itu.
Jasmine dan Rose sendiri sudah cukup lama bersahabat, semenjak masuk ke kampus ini. Keduanya sering disandingkan untuk mengikuti berbagai macam lomba tingkat kampus. Sejak saat itu nama mereka populer di angkatannya. Sampai akhirnya identitas keduanya sengaja disebarluaskan oleh mereka sendiri, sehingga bertambahlah popularitas mereka di kampus ini. Dan tanpa Rose sadari, Jasmine juga sebenarnya menyukai Lee. Namun, Jasmine sengaja menyembunyikannya dari Rose, entah apa alasannya.
Di supermarket...
Ara dan Rain baru saja masuk ke supermarket yang ada di kota ini. Tata letak dan susunan barang-barangnya tidak berbeda jauh dengan supermarket yang ada di Indonesia. Namun, di sini lebih lengkap jika dibandingkan dengan supermarket biasa. Apa saja ada tanpa mengenal berapa mahal harganya.
Keduanya berjalan bersama lalu mengambil keranjang dorong. Ara pun mulai memilih apa yang harus ia beli untuk satu minggu ke depan. Sedang Rain menemaninya di sisi.
Berdiaman bukanlah hal yang disenangi oleh Rain. Ia lalu ikut memilih dan meminta Ara memutuskan pilihan untuknya. Tak ayal akhirnya terjadi percakapan yang lebih intens di antara mereka. Layaknya sepasang pengantin baru yang masih malu-malu untuk berbicara di depan umum.
"Ara."
__ADS_1
"Hm?"
Ara sedang memilih makanan kaleng untuk di apartemen, sedang Rain menemani. Kaca mata yang Rain pakai pun kini ia gantungkan di leher sweternya.
"Terima kasih," kata Rain yang sontak membuat Ara menoleh.
"Tuan?" Ara tampak bingung.
"Boleh aku bicara?" Rain menatap dalam kedua bola mata gadisnya.
"He-em." Ara mengangguk, lalu meletakkan makanan kaleng yang tidak jadi ia pilih.
"Jika kau masih ingin memanggilku dengan sebutan tuan, lebih baik panggil namaku saja. Jujur aku tidak suka disebut seperti itu oleh calon istriku sendiri." Rain menegaskan.
Seketika Ara malu sendiri. Ia memalingkan pandangannya dari Rain.
"Hei, lihat aku." Jari telunjuk Rain mengarahkan wajah Ara agar melihatnya. "Anggap aku sedang mengigau kemarin. Tolong jangan diambil hati," kata Rain lagi.
Ara terdiam.
"Aku percaya padamu, Ara. Aku percaya kau bisa menjaga kehormatanmu di saat aku tidak ada. Kita baikan, ya?" Rain mengulurkan jari kelingking kanannya ke Ara, mengajak berdamai.
Ara pun tersenyum. Ia tertunduk malu tapi tidak membalasnya.
"Lama sekali."
Rain akhirnya menarik paksa tangan Ara lalu menggabungkan kedua jari kelingking mereka. Seketika itu juga Ara tersenyum-senyum sendiri.
"Kau merayuku?" Sang gadis tersipu.
"Merayu? Tidak, Nona. Aku tidak hanya merayu, tapi juga ingin memilikimu." Rain berbisik lembut di telinga Ara.
"Ehem!"
Tanpa keduanya sadari ada seorang pramuniaga yang ingin merapikan barang di dekat mereka. Seketika itu juga keduanya jadi canggung sendiri. Mereka pun tersadar dari apa yang sedang terjadi.
"Ehem!"
Rain juga ikut berdehem lalu mendorong keranjang belanjanya, menjauh dari pramuniaga tersebut sambil mendengus kesal.
"Menganggu saja."
__ADS_1
Kata-kata itu juga didengar oleh Ara yang membuat sang gadis tertawa sambil melangkahkan kakinya bersama Rain, menuju lorong lain. Rain pun menyadari jika Ara mulai bisa menerimanya kembali. Ia kemudian menggenggam tangan sang gadis dengan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya mendorong keranjang belanjaan.