Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Self Defend


__ADS_3

Sementara itu di manshion Sam, Washington DC...


Angin siang berembus menjadi saksi atas sebuah tamparan keras yang melayang ke pipi seorang pria berambut pirang. Tamparan itu berasal dari pria tua yang tak lain adalah kakeknya. Sontak pria itu memegangi pipinya karena merasa kesakitan. Darah pun mengalir dari sela-sela bibirnya. Pria tua itu tidak dapat lagi menahan kesabarannya akibat ulah cucu kandungnya sendiri.


"Aku harap hal ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagimu, Nick!" Pria itu menunjuk cucunya dengan raut wajah penuh amarah.


Ialah Nick dan juga Sam yang sedang berbicara empat mata di sebuah ruangan mewah yang ada di rumahnya. Ruangan itu berisi properti berlapis emas asli yang menambah kesan kemewahannya. Namun, sepertinya kesan mewah tidak dapat menahan amarah yang sedang bergejolak di hati Sam. Kepastian telah ia dengar dari timnya, dan kini ia sedang mengadili Nick seorang diri.


Nick mengusap darah di sudut bibirnya. Ia terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa setelah perbuatannya diketahui oleh sang kakek.


Dasar tua bangka!


Walaupun begitu, ia mencaci kakeknya di dalam hati. Nick tidak terima karena mendapatkan satu tamparan keras dari kakeknya. Ia merasa sang kakek tidak berpihak kepadanya.


"Apa kau tahu akibat dari hal yang kau lakukan ini?!" tanya Sam dengan nada keras.


Nick terdiam.


"Aku tidak percaya jika mempunyai cucu bodoh sepertimu!" Sam menunjuk Nick.


Nick tersentak dengan ucapan Sam. Saat itu juga hatinya merasa sakit karena dikatakan bodoh oleh kakeknya sendiri. "Maaf, Kek." Ia pun hanya menunduk, berniat untuk segera menghindari masalah ini.


"Organisasi mengalami kerugian besar karena perbuatanmu. Kau pikir bisa mengganti kapal pengeboran minyak yang telah meledak itu?! Kau merasa mampu untuk menggantinya?!" tanya Sam bertubi-tubi. "Tidak, Nick. Tidak. Bahkan selama tiga tahun kau menabung seluruh gajimu pun tidak akan bisa menggantinya!" seru sang kakek kembali.


Perlu diketahui kapal pengeboran minyak yang dipercayakan kepada Rain tidaklah bernilai kecil. Kapal besar itu memiliki fasilitas lengkap dan fitur otomatis yang bernilai sangat fantastis. Bahkan satu batang pipa kecilnya seharga satu unit motor mahal di Indonesia. Maka dari itu Sam tidak lagi dapat menahan kesabarannya setelah mengetahui siapa dalang dari meledaknya kapal pengeboran minyak Rain. Hari ini ia menampar wajah Nick untuk melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


"Aku ... aku melakukannya karena tidak ingin dia menggantikanmu, Kek." Nick akhirnya berterus terang. Ia tidak mempunyai jalan lain.


Perempatan urat muncul di dahi Sam. "Menggantikanku? Apa maksudmu?!" Sam mengatur ulang napasnya untuk mengendalikan emosi yang kian meledak.


"Aku tidak ingin Rain menggantikan posisi pemegang tahta organisasi. Aku merasa dia tidak pantas mendapatkan posisi itu hanya karena statusnya yang sudah menikah," tutur Nick lagi.


Sam terbelalak kaget. "Kau melakukannya hanya karena hal itu?!" Sam tak percaya pola pikir cucu kandungnya.


"Aku lebih berhak, aku cucu kandungmu. Dia hanya cucu angkat yang tidak jelas asal usulnya. Aku tidak rela silsilah organisasi diserahkan kepada orang yang tidak ada hubungan darah dengan keluargaku." Nick menuturkan.


"Astaga ...." Sam memegangi kepalanya. Ia merasa pusing sekali. Ia segera duduk di kursi.


Ruang kerja Sam yang mewah menjadi saksi keributan antara sang penguasa perekonomian dunia dan cucu kandungnya sendiri. Sam merasa apa yang dilakukan Nick terlalu berlebihan, sehingga membuat organisasi mengalami kerugian besar. Ia harus berpikir keras untuk menutupi semua pengeluaran organisasi.


"Sekarang satu per satu negara Timur Tengah membatalkan kontrak kerja samanya. Mereka tidak mau apa yang terjadi di Dubai, terulang kembali di negaranya. Mereka tidak ingin mengambil risiko. Apa kau tidak memikirkan hal ini sebelumnya?" tanya Sam kepada Nick.


"Aku tidak berpikir sampai sejauh itu, Kek. Aku hanya ingin menyingkirkan Rain. Maafkan aku." Nick akhirnya meminta maaf kepada kakeknya.


Seketika Sam tersentak dengan permintaan maaf Nick. Ia juga sebenarnya tidak tega untuk menghukum Nick seberat-beratnya. Karena bagaimanapun Nick adalah cucu kandungnya sendiri.


"Aku sudah mengutus orang untuk menjalankan operasi rubah merah di sana. Aku minta kepada mereka untuk membungkam mulut media bagaimanapun caranya. Aku tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkanmu dari jerat hukum Dubai. Dan ini adalah batas kemampuanku. Ke depannya kau harus menanggung akibat dari perbuatanmu sendiri." Sam menuturkan.


Nick menelan ludahnya. Ia merasa tidak akan lagi mendapatkan perlindungan dari kakeknya.


Sialan! Jadi hanya sampai di sini dia bisa melindungiku? Lalu apa gunanya dia sebagai penguasa perekonomian dunia?! Dasar tak berguna!

__ADS_1


Bukannya sadar, Nick malah mencaci sang kakek di dalam hatinya. Ia lantas memikirkan cara agar bisa terus menikmati fasilitas yang diberikan organisasi, sekalipun melakukan tindak kejahatan sendiri. Pikiran jahat pun terlintas di benaknya tanpa Sam sadari. Sedang Sam masih berusaha mencari cara agar kerugian organisasi bisa tertutupi.


"Tuan."


Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Sam. Sam pun tersadar jika ada yang datang.


"Masuk!" Sam akhirnya mempersilakan masuk seseorang yang mengetuk pintu itu.


Nick yang berada di dalam pun segera membukakan pintu. Tak lama kemudian seorang pria berbadan kekar masuk ke dalam ruang kerja Sam. Ia mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan alat komunikasi jarak jauh di telinganya.


"Mohon maaf, Tuan. Rapat petinggi dunia akan segera dimulai. Mereka meminta kita untuk segera datang ke sana." Pria itu mengabarkan.


Sam mengangguk. "Baik, kita pergi sekarang." Ia pun bergegas dari ruangannya.


Nick merasa lega. Ia akhirnya bisa tenang manakala pertemuannya dengan sang kakek berakhir. Sam pun membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan. Beberapa dokumen dan juga sebuah pena berlapis emas miliknya. Ia lalu segera pergi dari ruangan.


"Aku titip manshion padamu. Jangan kembali berulah," pesan Sam kepada Nick saat mereka berpapasan.


Nick mengangguk. Pintu pun tak lama tertutup dari luar. Rapat elit dunia akan segera dimulai. Sedang Nick masih harus terus berjaga di manshion Sam. Ia pun akhirnya ikut keluar dari ruangan kerja sang kakek lalu kembali ke ruangannya.


Sementara itu di Dubai...


Langit kemerah-merahan mengantarkan Lee menuju Pantai Palm Jumeirah yang ada di Dubai. Tanpa sengaja sesampainya di sana, ia melihat Rose sedang duduk di pesisir pantai sendirian. Gadis itu terlihat tengah memakan es krim di bebatuan yang ada di dekat pantai. Lee pun segera turun dari mobil lalu mendekati Rose. Pencariannya selama ini akhirnya membuahkan hasil.


Ternyata dia berada di sini.

__ADS_1


Beberapa hari terakhir Lee sudah mencari Rose ke sana dan kemari. Akhirnya gadis berambut merah itu diketemukan juga olehnya. Ia tanpa sengaja melihat Rose saat dirinya juga ingin menikmati pemandangan pantai di sore hari. Alhasil Lee segera mendekati Rose yang sedang sendirian.


"Rose." Ia pun menyapa putri dari pemilik saham terbesar di kampusnya.


__ADS_2