
Sesampainya di apartemen...
Pintu lift terbuka, Rain segera keluar sambil menggendong mesra gadisnya. Di sepanjang jalan terlihat banyak penghuni lain yang hilir-mudik di lantai teratas gedung itu. Tapi, Rain tidak menghiraukannya. Ia terus saja menggendong gadisnya hingga sampai ke apartemennya sendiri.
Rain tinggal di salah satu kawasan hunian eksklusif yang ada di Kota Dubai. Orang-orang menyebutnya sebagai Burj Residence Tower atau Elite Royale Apartement. Terletak di Kota Dubai 1,5 km dari Burj Khalifa, sehingga dari apartemen ini bisa melihat langsung pemandangan gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Apartemen ini juga menyediakan akomodasi dengan taman, Wi-Fi gratis, dan resepsionis 24 jam.
Di dalam setiap apartemen sebenarnya memiliki hingga 5 kamar tidur. Tetapi Rain memilih hanya satu kamar karena ia seorang diri di sana. Namun, setelah kedatangan Ara sepertinya ia akan segera berubah pikiran.
Apartemen ini juga menawarkan teras lengkap dengan kursinya. Dimana terasnya cukup luas untuk bersantai atau menjemur pakaian. Fasilitas lengkap disediakan oleh apartemen sehingga tidak perlu repot-repot jika ingin tinggal.
Air Mancur Dubai berjarak 1,7 km dari sini, sedangkan Dubai Mall sendiri sekitar 1,8 km. Bandara terdekat adalah Bandara Internasional Dubai, 11 km jika ditarik garis lurus dari titik lokasi. Namun, bisa berbeda jika sudah berada di dalam perjalanan. Jarak tempuh bisa lebih ataupun kurang tergantung melintasi jalan yang mana.
Dubai adalah surga bagi para wisatawan mancanegara. Di sini dapat melihat berbagai hal yang tidak ditemukan di kawasan Timur Tengah lainnya. Dubai adalah kota termewah di antara kota-kota lainnya. Tak ayal, biaya hidup di sini juga lebih tinggi.
"Sepertinya dia tertidur amat lelap sampai tidak menyadari jika kugendong."
Rain merebahkan Ara ke atas kasurnya. Ia menyelimuti tubuh sang gadis dengan selimut hangat miliknya. Ia duduk di pinggiran kasur sambil menatap Ara. Seketika ia teringat dengan perbincangannya bersama Byrne, saat Ara pertama kali datang ke apartemennya.
Burj Khalifa, pukul sebelas siang...
Rain menunggu kedatangan seseorang sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela kaca ruangannya. Tak lama seseorang pun mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangannya. Rain berbalik, memastikan siapa yang datang.
"Kau lama sekali, Byrne." Rain menggerutu kepada sosok yang datang.
Sosok itu adalah Byrne, saudara Rain sendiri. Pria berjas putih itu hanya tersenyum seraya berjalan mendekat ke arah Rain. Ia kemudian duduk di depan meja kerja sang penguasa.
"Hah ... kau tahu aku banyak urusan, tapi malah tergesa-gesa memintaku datang. Ada apa sebenarnya?" Byrne duduk santai sambil menanyakan alasan Rain.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan karena hal ini amat jarang terjadi." Rain ikut duduk di kursi kerjanya.
"Apakah berkaitan tentang sistem kekebalan tubuh?" tanya Byrne lagi.
"Tidak. Hal yang kutanyakan ini lebih dari sekedar sistem." Rain merebahkan punggung di kursinya.
"Hm, sepertinya akan sulit untuk kujawab." Byrne berpikir.
Byrne adalah ahli sains yang datang ke Kota Dubai untuk melakukan percobaan terhadap imun manusia di kawasan Timur Tengah. Kesehariannya selalu berada di ruang laboratorium sehingga jarang sekali memunculkan diri di khalayak ramai. Ia bahkan tidak mempunyai waktu untuk bersantai. Namun, karena Rain mendesaknya, mau tak mau ia memenuhi panggilan itu di tengah jadwal padatnya.
"Byrne, kau pernah mendengar tentang teleportasi?" Rain membuka pembicaraan.
"Teleportasi?"
__ADS_1
"Ya. Apakah itu benar-benar ada?" tanya Rain serius.
"Hei, Saudaraku. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?" Byrne bingung sendiri.
"Sudah jawab saja sesuai yang kau ketahui. Jangan memakan waktuku." Rain merasa diperlambat.
"Hah, kau ini masih saja tidak sabaran." Byrne menggerutu.
Seketika Rain menatap tajam ke arah Byrne.
"Baiklah-baiklah, akan aku jelaskan." Byrne akhirnya menyerah.
Byrne lalu menjelaskan apa yang diketahui olehnya.
"Jika kau bertanya tentang teleportasi, maka aku akan menjawabnya dengan dua sudut pandang. Sudut pandang pertama menurut sains dan sudut pandang ke dua menurut kacamataku sendiri. Lalu, kau ingin kujelaskan lewat sudut pandang yang mana?" Byrne bertanya kepada Rain, ia mulai serius.
"Aku ingin keduanya," pinta Rain segera.
"Hah, kau ini." Byrne pun menepuk dahinya sendiri.
"Sudah cepat, Bodoh! Aku sudah terlalu lama menunggu!" Rain mulai emosi.
Dia memang menyebalkan sedari dulu! Byrne menggerutu dalam hati.
"Berarti hal itu mustahil terjadi?" tanya Rain lagi.
"Menurutku tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah menghendaki. Di cerita Raja Sulaiman pun dijelaskan hanya dalam kedipan mata singgasana Ratu Bilqis bisa berpindah. Masalahnya, apakah manusia sekarang mempunyai kemampuan seperti itu?" Byrne mengajak Rain berpendapat.
"Berarti ...." Rain berpikir sejenak.
"Apakah ada orang yang mengaku-ngaku bertemu denganmu menggunakan teleportasi?" tanya Byrne serius.
"Em, aku tidak tahu." Rain berusaha menutupi, wajahnya tampak gelisah.
"Rain, jikapun ada berarti dia bukanlah orang sembarangan. Dia mendapat anugerah yang jarang diberikan kepada manusia lainnya. Jika kau bertemu dengannya, maka jagalah dia. Siapa tahu suatu hari nanti dia bisa menyelamatkanmu dari bahaya tak terduga." Byrne memberikan saran.
"Byrne."
"Ya?"
"Aku mengalami kejadian aneh dini hari tadi." Rain mulai membuka diri.
__ADS_1
"Kejadian aneh?" Byrne serius.
"Aku bertemu dengan seorang gadis dan melihat sesuatu di matanya." Rain terlihat ragu mengatakannya.
"Maksudmu?" tanya Byrne lagi.
"Em ... dia datang seperti pencuri lalu aku menangkapnya. Tapi saat melihat matanya, aku melihat ada aku di sana sedang menggendong bayi sambil tertawa bersamanya." Rain menceritakan penglihatannya.
"Hah?! Kau serius?!!" Byrne tak percaya.
"Hem, ya. Aku serius. Saat itu aku mencoba menyadarkan diri karena khawatir ilusi yang dia buat. Tapi kedua kalinya, aku melihat diriku kembali berada di atas tubuhnya tanpa berbusana. Hanya bagian pinggang ke bawah saja yang tertutupi selimut." Rain menjelaskan serinci mungkin.
"Hei, apa yang kau lakukan di atas tubuhnya?" Byrne pura-pura bingung.
Seketika Rain kesal bukan main. "Kau ini! Tak perlu kujelaskan lagi apa yang sedang kulakukan di atas tubuhnya! Kau ini lama-lama membuatku kesal, Byrne!!!" Rain kesal setengah mati.
"Huahahahaha." Terdengar gelak tawa dari Byrne. "Kau yakin jika kejadian itu nyata?" Byrne bertanya sambil menahan tawanya.
Rain beranjak berdiri. "Aku takut ini adalah sihir. Dia masih berada di dekatku sekarang." Rain menatap pemandangan kota dari balik kaca jendela ruangannya.
"Hei, Saudaraku." Byrne berjalan mendekati. "Seharusnya kau tidak perlu takut akan sihir. Ada hal yang lebih menakutkan dari sihir itu sendiri." Byrne menepuk pundak Rain.
"Apa?" Rain menoleh.
"Kau jatuh cinta padanya," bisik Byrne lalu segera pergi menjauh.
"Byrne!!!"
Rain pun kesal, ia mengejar Byrne, tapi Byrne dengan cepat mengelak. Mereka akhirnya berkejar-kejaran di dalam ruangan ini.
"Hati-hati terkena virus cinta, Rain! Hahahaha." Byrne mengingatkan saat tertangkap oleh Rain.
Persaudaraan keduanya tampak solid walau memiliki sifat yang berbeda. Layaknya minyak dan air, tidak dapat bertemu tapi dapat saling melengkapi.
...
Embusan napas panjang terdengar dari pria bermata biru ini. Ia masih menatap seorang gadis yang tengah tertidur di atas kasurnya. Ia pun ingin sekali membelai wajah sang gadis. Tapi, seketika tangannya tertahan sendiri.
Benarkah jika aku jatuh cinta padanya?
Ia bertanya-tanya dalam hati tentang hal yang dirasakannya sekarang. Senyuman manis darinya ikut mencuat setelah melewati beberapa hari bersama.
__ADS_1
Ara ... apakah kau seorang penyihir? Aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Aku hanya ingin selalu berada di dekatmu. Tapi, bisakah kau mengerti tanpa perlu kuucapkan?
Rain beranjak keluar kamar setelah menyelimuti gadisnya. Ia biarkan sang gadis terlelap dalam mimpi. Lekas-lekas ia keluar lalu merebahkan diri di atas sofa. Ia biarkan semilir angin sore menemani perasaannya ini.