Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
No Words


__ADS_3

Sesampainya di halaman parkir apartemen...


Lee memarkirkan mobilnya di halaman parkir Royal Elite Apartement. Ia mematikan mesin mobil lalu melihat ke Ara yang duduk di sampingnya. Ia perhatikan gadis yang masih berdiam sedari tadi. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dompet hitamnya.


"Ini kartu namaku. Jika membutuhkan bantuan, telepon saja aku." Lee menyerahkan kartu namanya.


"Tuan ...."


"Panggil saja aku Lee. Sepertinya usia kita tidaklah berbeda jauh." Lee menduga.


"Em ...." Ara tertunduk.


"Hei, Nona. Hari ini aku mengalami kejadian aneh karena bertemu denganmu." Lee menaikkan nada bicaranya.


"Hah?" Ara pun bingung.


"Kau tahu, baru kali ini aku menemukan seorang gadis yang menyebalkan sepertimu. Aku sudah berlaku baik tapi dia masih ingin diam saja. Tidak bisakah dia berkata yang menyenangkan hatiku?" Lee terlihat kesal, entah kenapa.


Ara menelan ludahnya. "Maaf, Tuan. Aku tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Maaf jika belum bisa membalas kebaikanmu." Ara menunduk, wajahnya terlihat sendu.


"Sudah-sudah, jangan pasang wajah seperti itu! Kita turun dari mobil, aku akan mengantarkanmu." Lee membuka pintu mobilnya.


"Tu-tuan, tunggu!" Ara menahannya.


Lee tidak jadi keluar dari mobil. Ia kembali melihat Ara, merasa heran.

__ADS_1


"Tuan, aku kembali sendiri saja." Ara bergegas turun dari mobil. "Terima kasih telah menolongku untuk yang ke dua kalinya. Aku tidak punya apa-apa saat ini, tapi jika bertemu kembali aku akan mentraktir Anda." Ara membungkukkan badannya ke arah Lee. "Sampai jumpa." Ara segera pergi dari hadapan Lee.


Pria berkemeja biru metalik itu terdiam di dalam mobilnya. Ia hanya bisa melihat Ara berlari, semakin menjauh darinya. Ia tidak habis pikir kenapa bisa senekat ini untuk menolong Ara. Padahal ia baru bertemu Ara sekali kemarin, dan ini pertemuan ke duanya.


Dunia ini memang penuh misteri. Kenapa aku bisa dipertemukan lagi dengannya? Apakah ada sesuatu alasan dibalik semua ini?


Lee bertanya-tanya. Ia lalu menghidupkan mesin mobilnya sambil menghilangkan sejenak pikirannya tentang gadis yang ditemuinya sore ini. Lee berusaha mengabaikan kejadian yang terjadi.


Sepanjang perjalanan entah mengapa Lee merasa ada sesuatu yang aneh pada Ara. Terlebih kemarin sang gadis hampir saja ditabrak oleh pengendara motor yang mengebut di jalan. Ia menduga jika ada yang berniat jahat kepada sang gadis.


Semoga ini hanya sebatas perasaanku saja.


Sementara itu di apartemen...


Ara berjalan pelan menuju apartemen Rain. Sesampainya di depan pintu ia menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam. Ia berusaha menormalkan laju jantungnya yang tidak stabil karena akan bertemu kembali dengan Rain.


Sang gadis meneruskan langkah kakinya, melewati Rain tanpa berkata sepatah kata. Kesenjangan pun kembali terjadi di antara keduanya. Baik Rain maupun Ara sama-sama bertahan untuk tidak bertegur sapa. Hingga akhirnya sang gadis masuk ke dalam kamar mandi, mengabaikannya. Saat itu juga terlihat Rain yang mengusap wajahnya sendiri.


Dia mendiamkanku ....


Rain meneguk kopinya lagi. Sore ini ia harus membuat kopinya sendiri karena sang gadis pergi. Dan saat kembali, kopinya sudah dingin, sedingin hatinya. Rain pun beranjak ke dalam kamar, berharap Ara akan menghampirinya.


...


Detik demi detik berlalu, menit demi menit terlewati. Sang gadis keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan diri. Ia menutup tirai, mengenakan daster setinggi lutut berwarna biru langit dan tanpa lengan. Namun, ia menggunakan kardigan lengan panjang untuk menutupi bagian lengannya yang terbuka. Ia juga mengenakan sandal selama berada di apartemen agar tidak dingin.

__ADS_1


Selepas mengenakan pakaian, Ara segera menuju dapur. Ia berniat memasak untuk makan malam. Ia siapkan semua bahan yang diperlukan tanpa memedulikan seorang pria yang sedang menunggu kedatangannya di dalam kamar. Waktu yang terus berlalu pun membuat sang pria tidak sabar lagi untuk menunggu. Ia lalu menghampiri Ara yang sedang memasak di dapur.


Aroma tumisan udang membuat hasrat laparnya datang. Rain berdiri di depan pintu dapur sambil memperhatikan Ara yang sedang memasak. Tetapi mulutnya bungkam, ia tidak berkata sepatah katapun. Merasa diperhatikan, Ara pun menoleh ke arahnya. Namun, Ara hanya tersenyum tipis kepada sang tuan.


Tiada kata, tiada suara. Keduanya berdiaman sedari tadi. Sampai masakan Ara matang, Rain masih diam. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Sang gadis pun segera menyiapkan makan malam untuk tuannya.


Tumis udang, nasi hangat dan kuah sup menjadi menu makan malam ini. Ara pun segera menata di meja makan dan mengambilkan nasi untuk Rain. Namun, setelah selesai Ara tidak duduk di meja makan, melainkan duduk di lantai ruang tamu dan menyantap mie di sana. Seketika Rain menahan hasrat makannya sendiri karena tahu Ara tidak akan menemaninya makan.


Dia menjaga jarak dariku.


Sang penguasa merasa gadisnya semakin lama semakin menjauh. Ia kini tidak mempunyai selera untuk makan atau melakukan apapun. Ingin marah rasanya juga tidak mungkin. Karena ia takut jika Ara akan kembali pergi darinya.


Ara ....


Ia mencoba berjalan mendekati sang gadis. Ia duduk di sofa, tak jauh dari tempat Ara duduk. Ia sengaja duduk di sofa agar Ara menegurnya. Tapi apa yang didapat? Sampai mie yang disantap Ara habis pun Ara tak kunjung menegurnya. Sehingga bertambahlah kesedihan yang melanda hati Rain.


Rain kini mulai menyadari jika telah melakukan sesuatu kesalahan. Setahunya tidak mungkin Ara bersikap seperti ini jika tidak terjadi hal yang menyakitkan sebelumnya. Ia pun memikirkan kembali ucapannya kepada Ara. Sejenak ia tertegun dalam sepi. Rain mengakui jika telah berbuat kesalahan.


Ara ....


Jam demi jam pun berlalu, membuat hati Rain gundah-gulana tak menentu. Sampai Ara beranjak tidur pun ia masih gundah-gulana sendiri. Sang gadis belum juga menegurnya sama sekali, walau tugas kuliah sudah selesai dikerjakan. Rain seperti menemui jalan buntu.


Ara menarik selimutnya, membiarkan Rain yang masih menonton TV. Ia berusaha tidak peduli jika sedang ada Rain yang berada di dekatnya. Ia baringkan tubuh lalu membelakangi sang tuan. Sontak hal itu membuat hati Rain bertambah sedih.


Mungkin aku tidur di sini saja.

__ADS_1


Rain akhirnya memutuskan untuk tidur di sofa, berharap Ara akan menegurnya. Mereka tidur di sofa yang berseberangan, namun Ara sengaja membelakanginya. Dan malam ini menjadi saksi akan dua hati yang sedang berdiam diri.


Rain dan Ara sama-sama malu untuk menegur terlebih dulu. Ara yang malu karena merasa dirinya hanya pembantu. Dan Rain yang malu karena telah membuat hati Ara sendu. Keduanya bersikeras menahan bicara hingga rasa kantuk pun mulai datang. Mereka akhirnya tertidur berjauhan namun saling memikirkan.


__ADS_2