Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Triangle Love


__ADS_3

Pukul dua siang waktu Dubai dan sekitarnya…


Hari ini kujalani aktivitas kampus dengan tanpa gairah. Hingga akhirnya jam pulang kampus pun tiba. Aku dengan lemas melangkahkan kaki ke luar kelas. Rasanya juga malas untuk pulang ke rumah.


Dubai adalah kota metropolitan yang dibangun di atas gurun pasir. Sehingga tak ayal kadang terjadi badai pasir yang mengharuskan para penduduk untuk memakai masker. Seperti hari ini, para mahasiswa tampak mengenakan masker dan kaca mata pelindung. Tetapi tidak denganku yang hanya berbekal buku untuk menutupi hidung dan mulut.


Malas sekali pulang ke rumah.


Kulangkahkan kaki dengan pelan, tak lama ada seseorang yang menyenggolku dari belakang. Aku pun menoleh untuk melihat siapa gerangan. Dan ternyata…


“Taka?” Taka lah yang menyenggolku.


“Tumben seorang Ara bisa lemas?” Kulihat dia tersenyum sambil membawa bola basket berwarna oranye.


“Hm, ya. Mungkin sedang kurang bersemangat saja,” jawabku.


Tak lama Ken dan Nidji pun datang, keduanya terlihat berlari. “Hei, kita selalu didahului oleh Taka.” Nidji mendengus kesal sambil memegang kedua lututnya, saat sudah sampai di hadapan kami.


“Ya, maklumlah. Dia kan juara lari tahun kemarin, wajar kita kalah.” Ken menimpali.


“Juara lari? Tapi sayang tidak bisa mengambil hati.” Nidji seperti menyindir Taka.


Mengambil hati?


Aku jadi bingung untuk mengartikan maksud kata-kata Nidji. Namun, aku lebih terkejut saat mengetahui jika Taka juara lari tahun kemarin.


“Eh? Benar, kah?” Aku menanyakan kebenarannya, melirik mereka secara bergantian.


“Mereka bohong, Ara. Jangan didengar.” Taka menyumpal mulut kedua temannya.


“Hahaha. Dia memang terlalu kaku sampai kapanpun, Ara. Sudah jangan dipikirkan.” Nidji mengejek lagi.


Sebenarnya aku tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Tapi karena aku malas pulang ke rumah, jadi kudengarkan saja.


“Hei, aku punya sepuluh tiket untuk bermain di arena permainan. Kalian mau coba?” Ken menawarkan pada kami sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


“Arena permainan?” Entah mengapa aku jadi merasa tertarik.


“Ya. Kita bisa bermain di sana. Mungkin kalian tertarik.” Ken menawarkan lagi.


Sontak aku mendapat ide bagus untuk mengisi kekosonganku. Lekas saja aku mengangguk karena ingin mencobanya. “Boleh, aku mau.” Tiba-tiba aku bersemangat.

__ADS_1


“Eh?” Taka terlihat heran padaku.


“Ara, nanti ommu marah.” Nidji terlihat bergidik ngeri sendiri.


“Om?” Aku jadi bingung siapa yang dimaksud om oleh Nidji.


“Itu yang kemarin di apartemen,” kata Nidji lagi.


Astaga … jadi mereka mengira Rain itu omku?


“Em, tidak apa. Aku lagi malas pulang cepat ke rumah. Kita ke arena permainan saja. Aku ingin tahu ada permainan apa saja di sana.” Lekas-lekas aku meyakinkan mereka.


“Kau yakin, Ara?" Ken memastikan, aku pun mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu kau berboncengan bersama Taka.” Ken memutuskan.


“Tenang saja,” balas Taka penuh percaya diri.


“Baiklah sudah diputuskan. Mari berangkat!” Nidji tampak antusias sekali.


Aku tersenyum. Rasanya senang bisa pergi ke arena permainan bersama mereka. Jarang sekali kami bisa seperti ini. Jadi ya sudah, kulangkahkan kaki menuju parkiran kampus bersama ketiganya. Sore ini aku ingin menghibur hati dan pikiranku dulu. Semoga saja setelah bermain suasana hatiku menjadi lebih baik.


Sesampainya di arena permainan…


Aku tiba di sebuah mall yang ada di dekat kampus. Tidak terlalu besar tapi terdapat arena permainan yang cukup lengkap. Mungkin jika di negaraku disebut sebagai gamezone. Di sini benar-benar meriah sekali. Banyak anak-anak remaja yang datang dan menghibur diri dengan permainan yang ada di sini.


Kini aku berjalan bersama Taka, sedang Ken bersama Nidji sudah duluan di depan. Kulihat mereka menukarkan tiket yang ada kepada kasir arena permainan.


“Ara, mau menari bersamaku?” Taka menawarkan lalu menunjuk salah satu tempat permainan.


Aku berpikir sejenak. “Em ... aku belum pernah menari di atas papan arah seperti itu, Taka.” Aku sedikit risih.


Taka tertawa. “Kau pasti khawatir karena dilihat banyak orang, kan?” Dia menduga seraya melihatku.


“He-em.” Aku mengangguk, menggembungkan pipi ini.


“Ya, sudah. Apa kita mau berjalan-jalan saja?” Taka kembali menawarkan.


Sejujurnya aku khawatir jika lebih dekat dengan Taka. Bagaimanapun kami pria dan wanita, pastinya jika sering bersama ada saja rasa yang timbul dari hati. Dan aku menjaga dari hal itu agar tidak merusak pertemanan kami. Karena bagiku sudah cukup hanya Rain seorang, hujanku yang begitu kucintai.


Eh? Dosen Lee?


Tanpa sengaja aku melihat ke luar arena permainan dari kaca tebal di sekeliling area ini. Aku melihat Lee berjalan bersama seorang wanita yang sepertinya kukenal. Lama-kelamaan aku pun menyadari siapa wanita itu.

__ADS_1


“Taka.” Aku menarik ujung kemeja Taka.


“Kenapa, Ara?” Taka menoleh ke arahku, dia merasa heran.


“Itu bukannya dosen Lee?” Aku menunjuk seorang pria di depan coffee shop.


“Mana?” Taka melihat ke arah yang kutuju.


Taka memperhatikan, begitu juga denganku. Tak lama aku melihat gadis berambut merah berjalan cepat ke arah mereka.


“Benar. Itu dosen Lee, Jasmine, dan juga…”


“Rose?!” Aku dan Taka saling melihat.


Jarak kami dan ketiganya mungkin ada sekitar tiga puluh meter lebih. Tapi kami masih bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Kulihat Rose berjalan cepat menuju Jasmine. Dan saat Rose sampai, Lee menoleh ke arahnya. Saat itu juga Jasmine terlihat gugup sekali. Entah apa yang mereka bicarakan.


“Taka, aku ke sana sebentar.” Aku kepo, ingin tahu apa yang terjadi. Mengapa wajah Rose terlihat marah saat ini.


“Jangan, Ara. Biarkan saja mereka.” Taka melarangku.


“Taka, aku hanya menguping pembicaraan mereka saja. Tidak menampakkan diri, kok. Tunggu ya.” Aku bergegas pergi.


“Ara!” Taka memanggilku, tapi tak kuindahkan.


Kubalikkan badan dan kulihat raut wajah Taka yang seperti mencemaskanku. Dia memang teman yang begitu peduli.


Aku hanya sebatas ingin tahu tentang hubungan mereka dan apa alasan Lee menyatakan rasa sukanya padaku. Apakah untuk dijadikan benteng dari keduanya, atau …?


Aku berjalan cepat menuju ke arah coffee shop lalu bersembunyi di balik dindingnya. Tanpa sepengetahuan mereka, aku berdiri tak jauh dari teras coffee shop, tempat di mana mereka berada. Dan kudengar Jasmine seperti terbata mengatakan sesuatu. Kuintip sedikit dari balik dinding, lalu pemandangan mengejutkan pun terlihat di depan mataku.


Astaga!


Kututup mulutku dengan tangan saat melihat Rose menampar Jasmine di depan Lee. Rose terlihat marah sekali, sedang Lee berusaha menjauhkan Rose dari Jasmine.


“Rose, apa yang kau lakukan pada Jasmine?!” Lee sepertinya sangat terkejut.


“Dosen Lee, kenapa Anda jalan bersamanya?” Rose malah balik bertanya.


Tatapan Rose menyiratkan kecemburuan dan ketidakterimaan besar dari hatinya. Tapi sepertinya Lee bersikap biasa-biasa saja. Entah karena tidak punya rasa atau memang sikap dia seperti itu. Aku belum bisa memastikan jika belum membuktikannya sendiri.


“Jasmine memintaku untuk menemaninya mencari buku. Lagipula ada apa dan kenapa? Kau seperti marah karena kekasihmu direbut saja. Apakah ada kekeliruan di antara kita?” Lee terlihat heran sekali.

__ADS_1


Rose terdiam, dia menatap tajam ke arah Jasmine. “Teman yang paling kupercaya merebut orang yang kusukai. Dia benar-benar tidak tahu diri.” Rose terlihat amat kesal.


“Orang yang kau sukai?” Lee terheran. “Tunggu. Sepertinya terjadi kesalahpahaman di antara kita.” Lee akhirnya mengerti.


__ADS_2