
Lusa kemudian...
Hari ini sudah memasuki akhir pekan kembali. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dan kini aku baru saja pulang dari dokter selepas memeriksakan janin di dalam kandunganku. Aku bersama Kak Jamilah dan keluarganya. Ibu juga ikut kali ini melihat langsung bagaimana hasil diagnosa dokter.
"Aduh, terasa begah sekali perutku."
"Hati-hati Ara duduknya."
Kak Jamilah membantuku duduk di sofa setelah sampai di apartemen. Puji syukur hasil pemeriksaan sangat memuaskan. Hanya saja aku harus banyak-banyak meminum suplemen penambah darah karena tekanan darahku mulai melemah. Perkembangan pesat janinku sepertinya di luar dugaan. Kini saja sudah memasuki usia empat bulan. Benar-benar sebuah keajaiban.
"Nyonya, apakah tidak ingin diadakan doa bersama agar masa-masa kehamilan Ara lancar?" tanya Kak Jamilah kepada ibu mertuaku yang sedang mengambilkan minum untukku.
Ibu mertuaku datang membawa minuman. "Minumlah, Nak." Aku pun segera meminum air yang diberikan oleh ibu. "Kami sudah merencanakannya. Tapi kemungkinan menunggu putraku pulang terlebih dulu." Ibu mertuaku menjawabnya.
Aku, Kak Jamilah, Jack dan kedua putranya duduk di ruang tamu apartemen. Ibu juga ikut duduk di antara kami. Dia tampak mencemaskan keadaanku yang mulai begah karena perut ini semakin membesar.
"Ini suatu keajaiban, Nyonya. Ara bisa mengandung anak kembar yang sehat sempurna." Kak Jamilah bersuka hati.
Dokter mengabarkan jika kandunganku dalam keadaan baik-baik saja. Sehat sempurna dan tanpa kekurangan apapun. Tapi masalahnya, tubuhku mulai melemah seiring berjalannya waktu. Perutku membesar dengan cepat yang secara tidak langsung membuat daya tahan tubuhku menurun, karena harus menanggung beban tubuh kedua bayiku. Apalagi tekanan darahku yang melemah membuatku terkadang pusing-pusing sendiri. Aku bahagia namun juga sedikit cemas menghadapi persalinan nanti.
"Ya. Kami juga sangat bersyukur karena bisa mempunyai penerus keluarga ini. Terima kasih atas bantuannya kepada Ara dan Rain. Semoga Tuhan membalasnya berkali lipat." Ibu mertuaku tersenyum kepada Kak Jamilah beserta keluarganya.
Saat ini yang kuinginkan hanya ditemani suamiku. Karena dia juga aku bisa begini. Jadinya aku ingin dia ikut merasakan kerepotan akibat ulahnya. Kepalaku juga sudah mulai pusing-pusing sendiri. Sampai membuat dokter memberi tambahan resep yang harus kuminum. Tapi jika terus dipikirkan malah akan memperbesar rasa kekhawatiran. Jadinya aku mencoba santai saja. Ya, walaupun perut terasa begah, tapi ini memang risiko berumah tangga. Mempunyai anak, cucu dan keturunannya. Semoga saja semuanya berjalan lancar tanpa kendala.
__ADS_1
Esok harinya...
Suara burung berkicau terdengar dekat dari telingaku. Entah di mana gerangan burung-burung itu berada, sepertinya pagi telah datang setelah semalaman dilanda hujan. Ya, semalam kota ini dilanda hujan yang cukup deras. Sejak petang sampai malam hujan tiada berhenti yang membuatku mengantuk sekali. Alhasil setelah meminum suplemen penambah darah, aku pun tertidur pulas di atas kasurku. Entah karena nyaman dengan suara rintik hujan atau karena efek suplemennya. Yang jelas saat ini aku masih enggan terbangun dari tidur.
Tak lama, kudengar alunan instrumental As Long As You Love Me yang dimainkan. Aku seperti sedang bermimpi saja mendengarnya. Dan karena penasaran, aku beranjak membuka mata untuk melihatnya. Melihat siapa gerangan yang menyetelnya. Dan ternyata...
"Sayang?! Kau sudah pulang?!" Aku terkejut saat melihat suamiku sedang merebahkan diri di sampingku.
"Halo, Sayang. Selamat pagi istriku." Dia memutar badannya menghadapku seraya tersenyum.
"Kapan kembali? Mengapa tidak kabari aku? Mengapa tidak juga membalas pesanku?" Segera kuajukan pertanyaan bertubi-tubi kepadanya.
"Hehehe." Dia tertawa, seperti malu sendiri. "Maaf. Aku benar-benar tidak ada waktu karena banyak dokumen yang harus kubaca cermat lalu kutanda tangani dengan cepat. Tapi sekarang sudah selesai semua, kok." Dia memberi tahuku.
"Ya. Aku juga telah berhasil membawa Byrne kembali." Dia mengabarkan.
"Byrne? Jadi negosiasinya berhasil?" Entah mengapa aku merasa senang.
Suamiku mengangguk. Saat itu juga aku menghambur ke pelukannya. Aku memeluknya dengan manja. "Jadi bisa temani persalinan aku nanti?" tanyaku semringah.
Suamiku mendudukkan aku di atas perutnya. "Tentu saja. Tentu aku akan menemani persalinanmu. Tapi sepertinya ada yang terlupa." Dia mengingat-ingat sesuatu.
"Apa itu?" Aku yang berada di atas perutnya pun ikut berpikir.
__ADS_1
"Ibu bilang kau mengandung anak kembar sepasang, Sayang. Laki-laki dan juga perempuan. Tapi kita hanya membeli satu baby walker yang berwarna pink. Bagaimana jika kita membeli satu lagi yang berwarna biru agar adil?" Dia meminta pendapatku.
"Sepasang?" Sejenak aku merenungi kata-katanya.
Entah mengapa aku sendiri tidak tahu jika sedang mengandung anak kembar sepasang. Dari mana ibu bisa tahu hal ini? Sungguh mengherankan sekali.
Kenapa dokter tidak bilang padaku ya? Atau jangan-jangan aku saja yang tidak dengar?
Mungkin karena kemarin berhadapan dengan suster, jadi akunya tidak mendengar semua penjelasan dari dokter. Ditambah aku ingin berlama-lama melihat yang ada di dalam sana. Mereka sudah terbentuk dengan sempurna. Hanya saja aku tidak tahu jenis kelaminnya apa.
"Sayang, kenapa diam?" tanya suamiku memperhatikan.
"Em. Tidak apa," aku menjawab seadanya lalu beranjak bangun.
Suamiku pun ikut bangun. Sedang aku segera ke cermin besar yang ada di dalam kamarku. Aku ingin berkaca untuk melihat perutku ini. Dan ternyata perutku memang sudah semakin membesar. Sepertinya jika satu hari sama dengan satu minggu perkembangan janin, itu berarti tak lama lagi aku akan segera melahirkan. Tapi sampai saat ini aku belum memutuskan metode apa yang kuinginkan untuk persalinan nanti.
"Hei, kenapa?" Suamiku memeluk dari belakang. Dia mengusap perutku yang sudah membesar.
"Em, Sayang. Aku masih bingung metode persalinan apa yang cocok untukku. Dokter bilang aku mengalami tekanan darah rendah. Dan sepertinya tidak bisa melahirkan normal karena akan banyak menguras tenaga. Apakah aku harus sesar?" Aku meragukan diriku sendiri.
Jujur ada rasa khawatir di hatiku. Apalagi gantungan bulan dan bintang belum terlepas dari gelang ini. Aku tidak mau sampai salah langkah yang mengakibatkan kematian. Tahu sendiri konsekuensi terbesar dari melahirkan adalah kehilangan nyawa. Dan aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kedua bayiku dan juga diriku sendiri. Aku ingin kami selamat sehingga bisa melihat mereka tumbuh besar dan dewasa. Tapi, aku masih bingung persalinan apa yang cocok untukku nanti. Apakah sesar saja agar menghemat tenaga saat mengejan?
Aduh, bagaimana ya? Aku bingung.
__ADS_1
Tak tahu mengapa di hari-hari menjelang persalinan aku malah galau memikirkan metode melahirkan apa yang cocok untukku. Sungguh aku inginnya normal agar tidak terlalu lama merasakan sakit. Tapi kondisi tubuhku kurang memungkinkan. Jadi aku harus bagaimana?