Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Not Alone


__ADS_3

"Sayang, bersembunyi!"


Rain kemudian menarik Ara masuk ke dalam ruang darurat yang ia lewati. Ruangan dingin yang bisa melindunginya dari api. Ia kemudian mencari pintu darurat yang ada di ruangan itu. Ia ingin melompat ke laut.


Api semakin menyebar ke seluruh bagian kapal. Jack yang menunggu di luar pun hanya bisa menunggu. Ia khawatir jika masuk malah akan semakin membahayakan. Sehingga ia tetap menunggu di luar pada jarak yang aman.


Ya Tuhan, aku melihatnya sendiri.


Jack berharap Ara dan Rain bisa selamat dari kapal yang mulai terbakar. Rain sendiri sebisa mungkin membuka pintu darurat di ruangan. Tapi, entah mengapa pintu itu sangat sulit terbuka hari ini. Hingga akhirnya api mulai menggerogoti dinding ruangan darurat.


"Astaga!" Ara semakin panik. Ia tidak percaya jika hidupnya akan berakhir secepat ini. Ia pun memutar otak agar bisa menyelamatkan diri. "Sayang aku bantu." Ara pun membantu Rain membuka pintu darurat yang langsung mengarah ke laut.


Mereka berjuang di dalam sana untuk menyelamatkan diri dari kobaran api yang terus menjalar ke setiap bagian kapal. Namun, asap yang ditimbulkan karena kebakaran itu mulai membuat Ara terbatuk-batuk. Ia merasa kesulitan bernapas saat asap hitam mulai memenuhi ruangan. Hal itu juga yang menjadikan konsentrasi Rain goyah dalam membuka pintu. Ia lebih mementingkan untuk menolong istrinya terlebih dulu.


"Sayang, maafkan aku. Tidak seharusnya kau berada di sini." Rain merasa bersalah. Ia memegang wajah Ara dengan kedua tangannya.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja. Teruslah berusaha," kata Ara menyemangati suaminya.


Ara tahu jika ia lemah maka Rain juga akan ikut lemah. Sebisa mungkin ia menguatkan diri agar Rain ikut kuat. Walaupun pada kenyataannya, kecil kemungkinan berhasil menyelamatkan diri jika pintu darurat tidak bisa dibuka. Karena seluruh ruangan di luar ruang darurat kini sudah terbakar api. Mereka tidak mempunyai jalan keluar selain meloncat ke laut lewat pintu darurat tersebut.


Rain mengangguk. Ia kemudian mencoba membuka pintu darurat kembali. Sekuat tenaga ia akan terus berjuang untuk menyelamatkan diri.


Ini aneh. Pintu ini seperti terkunci dari luar.

__ADS_1


Keadaan kapal semakin genting. Api mulai merambat ke seluruh bagian kapal. Ledakan-ledakan kecil terdengar, membuat keduanya pasrah hampir kepada keadaan. Ara pun mencoba memfokuskan diri sambil duduk di samping Rain yang sedang berjuang. Ia kembali meminta pertolongan kepada Tuhan. Ia masih berharap walaupun keadaan sudah semakin genting.


Ya Tuhan, tolong kami. Tunjukkan kebesaran-MU.


"Ara!"


Tiba-tiba saja kapal bergoyang sehingga membuat Rain terpental jauh dari Ara. Ara pun jatuh tersungkur di lantai ruangan.


"Sayang ...." Ara mencoba bangkit untuk menolong suaminya.


"Ara, maafkan aku." Rain seperti putus asa. Ia segera bangkit lalu berlari mendekati istrinya.


"Sayang, jangan menyalakan dirimu. Ini memang sudah takdir kita." Ara mencoba menerima takdirnya.


Rain memeluk sang istri. "Terima kasih telah ada untukku. Aku sudah berusaha keras tapi pintu tetap saja tidak mau terbuka. Jika kita harus berpisah, kau harus tahu di manapun aku berada, aku akan selalu mencintaimu, Ara." Rain seperti mengucapkan salam perpisahan.


Rain lantas memegang wajah istrinya. Ia mengecup kening Ara dengan sepenuh perasaannya. Ia pasrah jika harus berakhir secepat ini.


"Aku mencintaimu, Istriku." Rain menatap dalam-dalam istrinya.


"Aku lebih mencintaimu, Suamiku." Ara pun memeluk erat suaminya.


Bagian kapal mulai meledak satu per satu. Puing-puing kapal pun mulai bertebaran di udara. Keduanya pasrah saat api sudah membakar dinding ruangan. Mereka tidak lagi menemukan jalan keluar untuk selamat. Namun, saat keputusasaan itu dirasakan, di saat itu juga rahmat Tuhan datang. Tiba-tiba saja terdengar bunyi kait titanium terlepas. Ara pun menyadari jika masih mempunyai harapan ke depan. Ia melihat gantungan bintang jatuh ke lantai kapal.

__ADS_1


"Sayang?!"


Saat itu juga sebuah cahaya keluar dari gelangnya lalu membalut tubuh mereka. Cahaya putih yang semakin lama semakin membesar. Rain pun melihat sendiri cahaya itu. Ia bisa merasakan betapa menyejukkan cahaya yang keluar dari gelang Ara.


"Ini?!" Rain tak percaya. Tak lama portal pun terbuka.


Gelang Ara kembali berfungsi. Mengeluarkan cahaya dan membuka portal untuk mereka. Ara pun merasa senang. Ia kemudian memeluk suaminya. "Sayang, kita lewati portal itu sekarang." Ara meminta.


Rain pun mengangguk. Kali ini ia segera menuruti apa perkataan istrinya. Ia pun kemudian masuk ke dalam portal bersama Ara. Keduanya berpelukan saat melewati pintu itu. Mereka pasrah akan tiba di mana nantinya.


Bersamaan dengan itu juga api menerobos masuk ke dalam ruangan, melahap cahaya dari gelang Ara yang seolah sedang menghalanginya. Api itu mengejar mereka. Namun, pintu jatuhan air segera menghilang dengan cepat. Mereka pun akhirnya selamat dari bahaya ledakan atas izin Tuhan.


Kapal akhirnya meledak. Ledakan besar di tengah-tengah Laut Dubai. Jack pun melihat kapal itu meledak dari jarak yang cukup dekat. Ia terpaksa menjauh beberapa kilometer untuk menyelamatkan diri. Bukan karena tidak setia kepada tuannya, namun ia memperhitungkan keadaan. Dan kini ia hanya bisa berdoa untuk Rain dan juga Ara di sana. Walaupun di dalam hatinya masih tidak percaya.


Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada Allah kami kembali.


Jack seperti tidak bisa berkata apa-apa. Ia duduk lemas di atas speadboat-nya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia seperti mengalami kesedihan yang tidak bisa diungkapkan.


Tuan Rain, terima kasih atas kebaikanmu selama ini.


Jack terduduk lemas di atas speadboat. Tak lama dering telepon pun menyadarkannya dari rasa sedih yang melanda. Ia pun segera mengangkat telepon itu. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Kapal pengeboran minyak itu akhirnya meledak. Memusnahkan apa saja yang ada di dalamnya. Kapal yang begitu kokoh pun tidak bisa menahan ledakan api. Hingga akhirnya pecah berkeping-keping tak terelakan lagi. Lambat laut kapal itu mulai tenggelam ke dasar lautan. Meninggalkan sejuta mimpi dan kenangan yang tercipta. Di mana para pekerja mengais rezeki untuk keluarganya dari sana. Namun, kini hanya tinggal kenangan saja.

__ADS_1


Risiko dari pengeboran minyak sangatlah besar. Bisa terjadi kebakaran hingga ledakkan. Walaupun asuransi sudah menjamin penuh setiap jiwa pekerja, tetapi tetap saja nyawa tidak bisa dibayar dengan uang. Hidup hanya sekali dan tidak akan terulang kali. Sehingga jika nyawa sudah melayang, apalah artinya uang?


Begitulah yang terjadi hari ini. Di mana waktu membuktikan kebenaran akan hal yang Ara sampaikan. Apa yang dilihat oleh Ara kembali terjadi. Tepat pukul empat lewat empat sore kapal pengeboran itu meledak. Ia ternyata memiliki kemampuan di luar batas manusia. Seperti memiliki indera ke enam yang tanpa disadarinya. Ara adalah salah satu dari sekian juta manusia yang mendapat anugerah Tuhan. Dan ia amat mensyukurinya.


__ADS_2