
Beberapa minggu kemudian...
Hari-hari yang ditunggu akhirnya datang. Usia kandunganku kini sudah memasuki sembilan bulan. Perutku pun sudah membesar dengan sempurna. Segala kebutuhan persalinan juga telah dipersiapkan. Rencana aku akan melahirkan secara normal di rumah sakit ibu dan anak yang ada di Kota Istanbul. Kami juga telah mempersiapkan segala kebutuhan bayinya. Rasanya sungguh tak sabar ingin mendengar suara tangis imut mereka.
Suamiku kini sudah bekerja di divisi pertambangan minyak Turki. Sudah beberapa minggu ini dia memimpin penemuan lahan minyak yang baru di Laut Turki. Katanya sih sedang dilakukan pengeboran di salah satu titik yang dia temukan. Tapi, hasil pengeboran itu belum dapat memastikan apakah benar ada minyaknya atau tidak. Suamiku dan tim masih berusaha.
Tidak mudah memang untuk menemukan lahan minyak yang baru. Puluhan bahkan ratusan orang harus bekerja ekstra di tengah laut untuk menemukan lokasi yang tepat. Karena di setiap negara berbeda-beda iklim dan juga letak geografisnya. Dan hal itu mempengaruhi tingkat ketersediaan minyaknya. Kata suamiku, kadang dia juga tertipu dengan kadar tanah yang diduga ada minyaknya. Tapi ternyata, kosong belaka tak ada isinya.
Suamiku bernazar jika lahiran berjalan lancar akan menyumbangkan seluruh gaji pertamanya untuk membantu biaya pengeboran air di salah satu negara yang ada di Afrika. Afrika sedang mengalami kritis air saat ini. Sedang air adalah sumber kehidupan yang utama. Mereka membutuhkan uluran tangan kita untuk melanjutkan hidupnya. Dan suamiku telah memikirkan masak-masak hal ini. Dia ingin berbagi kebahagian kami dengan saudara-saudara yang ada di sana. Aku pun sebagai istri menyetujuinya.
Bagiku kaya raya dan terkenal itu tidaklah terlalu penting. Yang terpenting adalah ketenangan batin dalam menjalani biduk kehidupan ini. Beribadah sebagai bentuk penghambaan dan hidup berkecukupan, sepertinya sudah bisa menjamin ketenangan lahir maupun batin. Toh, kaya raya dan terkenal tapi sengsara juga buat apa? Hidup hanya sekali jadi harus dinikmati dan dimanfaatkan baik-baik. Jangan sampai menyesal di kemudian hari yang mana tak ada lagi dinar dan dirham menyertai.
"Sayang, sedang apa di sana?"
Kini aku sedang mengusap perutku sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela teras apartemen. Suasana sekitar perkotaan tampak ramai dipenuhi hilir mudik kendaraan yang lalu lalang. Sedang aku, sendiri di sini. Ibu dan Kak Jamilah tadi berpamitan keluar untuk mempersiapkan segala kebutuhan tambahan bayiku. Dan aku pun menunggu mereka pulang sambil hilir mudik di dalam apartemen.
Jack sendiri tetap berjaga di sekitar lantai apartemenku. Dia mengamuflase dirinya bak tamu biasa yang juga ikut menginap di lantai apartemen ini agar tidak menimbulkan kecurigaan orang awam. Karena apapun bisa saja terjadi tanpa terduga sebelumnya. Dan kami harus mengantisipasinya.
Aku merasa tenang setelah berusaha semampuku. Bagiku yang terpenting saat ini adalah keselamatanku dan juga bayiku. Apalagi menjelang detik-detik persalinan nanti. Aku harus menguatkan mentalku terlebih dahulu agar kuat menghadapi proses persalinannya. Jika tidak, tubuhku bisa lemah dan rentan terkena penyakit.
"Eh, ponselku?"
Tak lama kudengar ponselku berdering. Aku pun segera melihat siapa gerangan yang menelepon. Sejak memasuki usia tujuh bulan, aku memang selalu membawa ponsel ke mana-mana agar mudah terhubung dengan orang terdekat. Tapi kuletakkan sedikit jauh dari tubuhku agar anak-anakku tidak terkena radiasinya.
"Halo?" Aku segera mengangkat telepon yang ternyata dari suamiku.
"Sayang, aku akan pulang cepat hari ini. Mau dibawakan apa?" tanyanya dari seberang.
"Eh, tumben? Biasanya pulang petang?" Aku merasa heran karena biasanya lewat petang baru sampai di rumah.
"Iya. Mungkin ini yang dinamakan rezeki bayi. Aku sudah berhasil menemukan ladang minyak yang baru." Dia menceritakannya dengan girang.
__ADS_1
"Benarkah? Puji syukur." Aku pun senang mendengarnya.
"Ya. Tapi belum dilakukan pengeboran. Hanya sebatas pengecekannya saja. Kadar tanahnya cocok dan saat diambil sampel memang ada minyaknya. Masih ada beberapa tahap yang harus dilakukan lagi sebelum pengeboran benar-benar dilakukan." Dia menceritakan.
"Jadi masih lama? Tapi aku sudah mau melahirkan lho. Nanti tidak bisa temani aku." Aku pura-pura pundung padanya.
"Hahaha. Tenang saja Istriku. Suamimu ini cukup tangguh untuk membagi waktu. Doakan saja agar pekerjaan suamimu bisa cepat selesai ya. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah mereka. Kira-kira mirip siapa ya? Aku tau dirimu?" Dia seperti sedang senggang sehingga bisa meneleponku sepanjang ini.
"Pasti miripmu. Ini kan benih darimu. Aku cuma numpang lewat saja," kataku sambil memasang wajah cemberut.
Dia kembali tertawa. "Sayang-sayang, kita buatnya bersama-sama. Apalagi dikaruniai dua. Berarti satu miripku, satu miripmu ya." Dia membaginya tanpa berpikir lagi.
"Iya, deh." Aku mengiyakan saja sambil mengusap perutku ini.
"Lalu, ingin dibawakan apa?" Dia kembali bertanya padaku.
Suasana di tempat suamiku terasa hening sekali. Aku tidak mendengar suara apapun selain suaranya. Mungkin saat ini dia sedang berada di kantor divisi pertambangan dan sedang membuat jadwal kerja. Aku pun berharap tugasnya itu bisa cepat selesai sebelum kelahiran buah hati kami.
"Mau buah tin?" tanyanya kemudian.
"Buah tin?"
"Ya, buah tin. Nama lainnya buah Ara. Buahmu, Sayang. Tapi yang ini bisa dimakan. Sedang kalau yang itu—"
"Sudah! Jangan diteruskan!!!"
Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, aku sudah menyela. Aku tahu benar perbincangan ini akan berlanjut ke mana. Dia memang tidak pernah berubah.
"Hahaha. Baiklah-baiklah. Kalau begitu aku bawakan buah tin ya. Sampai nanti, Sayang. Aku siap-siap dulu." Dia berpamitan padaku.
"Iya. Hati-hati pulangnya. Aku menunggu," kataku, lalu dia pun membalasnya dengan sebuah kecupan dari jarak jauh.
__ADS_1
Rainku ini tidak malu untuk menunjukkan kemesraan di hadapan orang. Aku pun terkadang senyum-senyum sendiri karena tingkahnya yang di luar dugaan. Kami bak sepasang suami istri yang sedang berpacaran. Mungkin seperti cokelat manis yang disantap saat sedang kelaparan. Entah istilah apa yang tepat untuk menggambarkan kami. Yang jelas aku sangat mencintainya.
Sayang, semoga Tuhan melancarkan usahamu, memudahkan urusanmu. Aku selalu mendoakanmu di sini. Aku menunggumu.
Dalam doa aku berharap semoga Tuhan memudahkan jalan kehidupan kami sampai pulang ke akhirat nanti. Tiada lagi yang bisa kumintai selain pemilik alam semesta ini. DIA lah satu-satunya tempat bergantung seluruh kehidupan. Tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. DIA Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. DIA lah sandaran hatiku. Sampai nanti, sampai mati.
.........
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku...
__ADS_1