Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Start Working


__ADS_3

"Sayang, kenapa?" Rain mendekatiku yang duduk sambil menahan kesal di pinggir kasur.


Aku mengembuskan napas berat di dekatnya. "Kita harus cepat-cepat kembali. Di sini tidak aman," jawabku cepat.


"Eh?" Dia terheran dengan sikapku. "Kenapa Sayang? Apakah terjadi sesuatu pada pembicaraan kalian tadi?" Dia bertanya lagi seraya membenarkan poni rambutku ini.


Aku menoleh sesaat, melihat suamiku yang masih setia di sisi. Kupandangi wajah rupawannya yang selama ini mendampingiku. Saat itu juga ada rasa takut akan terjadi sesuatu terhadap kami. Aku tidak ingin kehilangannya, apapun yang terjadi. Aku sangat menyayanginya sepenuh hati ini. Tidak mungkin kuserahkan hati dan tubuhku jika tanpa cinta yang bersemayam di dalam dada. Sungguh aku sangat mencintainya.


"Apa kau akan percaya jika aku mengatakan hal yang terjadi di pembicaraan kami tadi?" tanyaku kepada pria tampan yang sudah menjadi suamiku ini.


"Tentu. Apapun yang kau katakan, aku akan memercayaimu, Sayang. Kau istriku, belahan jiwaku. Hidup dan matiku." Rain menggenggam tanganku.


Aku tersenyum mendengarnya. Dia berulang kali meyakinkan hati ini jika dirinya hanyalah milikku seorang. Tak patut rasanya jika masih menaruh curiga kepadanya. Apalagi bukti cinta kami sedang bersemi di dalam rahimku. Aku harus memercayainya.


"Sayang." Aku menyandarkan kepala di bahunya. "Ke depannya kau harus lebih berhati-hati saat berhadapan dengan putri itu. Dia tadi secara terang-terangan mengatakan jika tertarik padamu. Dia rela menjadi yang ke dua di dalam hidupmu." Aku menceritakan.


"Apa?!" Suamiku seperti tak percaya dengan hal yang kuucapkan.


Aku menoleh, menatap wajahnya. "Aku khawatir dia menggunakan sihir untuk menaklukkanmu. Sedang ini bukanlah dunia kita. Jadi berhati-hatilah." Aku kembali berpesan padanya.


Kulihat dirinya menelan ludah seperti merasa cemas karena perkataanku. "Tapi besok aku akan pergi ke telaga. Dan hanya aku sendiri yang diperbolehkan ke sana. Apa kau setuju?" tanyanya seraya menatapku.


"Aku tidak boleh ikut?" Aku balik bertanya padanya.


Rain mengembuskan napasnya dengan berat. Dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Pangeran dan hanya aku saja yang pergi. Kami pergi tanpa pengawalan. Aku jadi khawatir jika meninggalkanmu sendiri di sini. Apa aku tidak usah pergi saja, ya?" Dia meminta pendapatku.

__ADS_1


Aku menelan ludah. Rasa-rasanya sedikit aneh mengapa tidak boleh sampai ikut bersama suamiku sendiri. Pikiran macam-macam pun terlintas di benakku. Aku harap-harap cemas dengan keadaan esok hari.


"Pangeran menyetujui permintaanmu?" Aku mencoba tenang agar dia tidak khawatir.


Dia mengangguk. "Ya. Pangeran akan membantuku untuk menemukan ibu lewat telaga yang akan kami datangi esok. Tapi aku harus pergi sendiri. Persyaratan itu yang diberikannya padaku." Dia menerangkan.


Entah mengapa jantungku jadi dag-dig-dug tak karuan mendengarnya.


Ya Tuhan, sebenarnya apa yang akan terjadi? Mengapa firasatku tidak enak sekali?


Rasa cemas melandaku. Aku ingin menolak, tapi tidak mungkin membiarkan suamiku terus-terusan menahan rindu ingin bertemu kedua orang tuanya. Pangeran Agartha juga menyanggupi akan membantu suamiku, sehingga tidak mungkin berkata tidak padanya. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga.


"Bagaimana Sayang?" tanyanya lagi yang membuatku tersadar jika dia amat berharap aku bisa menyetujuinya.


"Baiklah. Tak apa jika aku ditinggal di sini. Aku akan menunggumu pulang," kataku, mencoba berbesar hati.


Suamiku tersenyum, dia lalu memelukku. "Terima kasih, Sayang. Aku janji akan segera kembali setelah urusan selesai. Tunggu aku ya." Dia mengusap kepalaku dalam pelukannya.


Aku mengangguk, mencoba percaya terhadap skenario yang diberikan Tuhan padaku. Baik atau buruk, tidak akan ada yang tahu. Begitu juga dengan keberadaanku di sini. Namun, ada satu keyakinan di dalam hati jika tidak mungkin ujian diberikan melebihi batas kemampuan. Dan hal itulah yang kutanamkan sejak dulu. Semoga saja semuanya berjalan lancar dan aman.


"Baiklah. Kita beristirahat ya." Rain kemudian mengajak ku tidur.


Aku mengangguk lalu segera merebahkan diri di atas kasur. Dia pun menyelimutiku lalu ikut berbaring di sisiku. Dipeluknya aku, didekapnya aku sampai detak jantungnya bisa terdengar di telinga ini. Dia adalah suamiku, tak patut rasanya jika masih menaruh curiga padanya. Aku menyayanginya sepenuh hatiku. Dan aku juga berharap dia seperti itu.


Esok harinya...

__ADS_1


Pagi hari telah datang. Aku pun lekas bangun untuk menyiapkan santap pagi hari ini. Kubuka tirai jendela lalu melangkahkan kaki menuju teras depan padepokan. Aku ingin berolahraga sebentar dengan masih mengenakan gaun yang kupakai. Aku harap tingkah lakuku tidak menjadi pusat perhatian.


"Hah ... segarnya."


Udara di negeri ini tidaklah jauh berbeda dengan duniaku saat pagi. Hanya saja penampilan orang-orangnya seperti kerajaan atau dinasti tempo dulu. Belum mengenakan dres formal, melainkan gaun sutera seperti kerajaan Cina. Dan ya, aku sendiri merasa seperti putri kerajaan Cina yang cantik jelita. Mengenakan kemben putih yang dibalut gaun sutera seputih susu. Ditambah lagi perhiasan di kepalaku berupa bulu burung merak yang indah. Menambah kesan keanggunanku.


"Tusuk konde ini?"


Aku pun tiba-tiba teringat dengan benda yang diberikan nenek. Kuraba rambutku dan ternyata benda itu masih berada di kepalaku. Aku tidak berani melepasnya karena pesan nenek harus tetap berada di rambutku. Jadinya aku hanya memastikan tetap ada saja. Setelahnya bersikap biasa seperti tidak memakainya. Namun, sampai saat ini belum kuketahui kebenaran fungsinya. Apakah benar berfungsi atau tidak.


"Permisi Nona." Tiba-tiba beberapa pelayan datang memasuki halaman depan padepokanku.


"Ya?" Aku pun melihat beberapa pelayan wanita datang. Ternyata mereka membawakan sarapan pagi untuk kami.


"Ini dari dapur istana, Nona. Selamat menikmati santap pagi. Kami juga mengantarkan pesan pangeran jika pangeran sudah menunggu tuan di halaman depan istana." Salah satu pelayan menuturkan.


Seketika aku teringat dengan pembicaraan kami semalam. "Oh, baik. Nanti akan kusampaikan." Aku pun menerima nampan berisi sarapan pagi kami.


"Kalau begitu kami permisi Nona." Kedua pelayan itu kemudian berpamitan.


Aku mengangguk. Pelayan-pelayan itu pun lekas pergi meninggalkanku. Namun, tiba-tiba saja setelah mereka pergi, aku merasa seperti ada yang bergetar di rambutku. Aku pun lekas-lekas membawa masuk nampan berisi sarapan pagi ini. Aku duduk di kursi lalu mencoba memegang tusuk konde yang diberikan nenek padaku. Saat itu juga aku bisa merasakan benda ini bergetar sendiri.


Apakah terjadi sesuatu?


Aku penasaran, namun tetap diam. Aku baru bisa merasakan jika benda pemberian nenek ini mulai berfungsi. Entah ada hubungannya dengan sarapan pagi yang diantarkan oleh pelayan atau tidak. Tapi aku rasa harus mencicipinya terlebih dahulu sebelum suamiku ikut menyantapnya. Semoga saja jika ada sesuatu yang membahayakan dapat netral dengan sendirinya. Tentunya berkat tusuk konde yang kukenakan ini.

__ADS_1


__ADS_2