Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Stop War!


__ADS_3

"Em, Tuan Pasha. Pihak USA sangat menyesali kejadian ini. Kami akan terus bekerja lebih baik lagi untuk ke depannya. Saya harap pihak Turki tidak mengait-ngaitkan hal ini dengan masalah lain." Kedubes USA angkat bicara.


Benar dugaanku. Ternyata pria berjas putih itu tersinggung dengan ucapan Tuan Pasha alias Wakil Menteri Pertambangan Turki. Tak kusangka di depan meja makan bisa membicarakan hal pemerintahan yang sesensitif ini. Apalagi berkenaan dengan proses politik yang ada di sana.


"Bukankah sejak dulu kalian memang selalu berkata seperti itu? Akan lebih meningkatkan kinerja untuk mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Saya rasa terlalu naif jika mencitrakan diri di depan media bak dewa, namun ternyata iblis bertanduk dua." Pria berjas hitam itu terang-terangan mengatakan.


Astaga! Mengapa seperti ini?!


Kulihat pria berjas putih itu segera menghentikan santapan pembukanya. Sepertinya hatinya benar-benar hancur saat pria berjas hitam secara terang-terangan mematahkan semua perkataannya. Rainku pun menghentikan makannya sejenak. Begitu juga dengan Owdie. Tersirat jelas jika pihak Turki sangat tidak menyukai kelakuan USA.


"Sepertinya sudah menjadi rahasia umum jika kerusakan di atas bumi ini dikarenakan ideologi-ideologi kalian yang bertentangan dengan kemanusiaan. Mengatasnamakan kebebasan untuk menghancurkan peradaban. Saya tidak habis pikir Anda rela memberi makan anak istri dari gaji hasil menjual senjata untuk membunuh jutaan manusia tak bersalah," tutur pria berjas hitam lagi.


Suamiku berdehem. Sepertinya dia juga merasa suasana mulai kurang baik. "Em, Tuan. Saya rasa apa yang terjadi di kapal pengeboran minyak memang murni kecelakaan. Tidak ada sangkut pautnya dengan politik pemerintahan yang terjadi beberapa puluh tahun silam. Meledaknya kapal pengeboran merupakan kecelakaan yang tak terduga. Walaupun mungkin ada unsur kesengajaan dari pihak luar. Tapi, saya rasa kita bisa tetap meneruskan kerja sama tanpa mengaitkan dengan hal yang lainnya." Suamiku berkata bijak.

__ADS_1


Aku tahu, Rainku juga tidak menyukai negara tempat dia dibesarkan. Apalagi setelah tahu invasi Irak waktu itu yang membuat nyawa ayahnya melayang. Sedikit banyak aku bisa mengerti kemarahan yang ada di hatinya. Tapi, sebagai seorang istri aku hanya bisa meredamkan. Jika sedang beruntung, dia akan dingin dengan segera. Tapi jika amarahnya memuncak, apalah daya. Aku hanya bisa menunggu sampai amarahnya mereda.


Akhirnya santap siang ini pun diteruskan setelah suamiku mencoba menengahi keadaan yang terjadi. Pria berjas hitam itu kemudian menyapa Owdie untuk mengalihkan situasi. Sedang pria berjas putih tampak malu sendiri. Sepertinya dia juga menyadari jika kenyataannya memang seperti itu. Semoga saja hati dan pikirannya dapat terbuka dan menerima kebenaran yang dituturkan oleh pria berjas hitam itu.


Sore harinya...


Semburat merah mulai menghiasi langit Turki. Cuaca pun terasa mulai dingin memasuki petang ini. Aku sendiri masih duduk di depan meja belajar yang ada di dalam kamarku. Berniat untuk menceritakan pertemuan hari ini melalui naskah yang kuketik. Aku ungkapkan apa saja yang ada di dalam pikiranku.


Proses pertemuan tadi akhirnya bisa berjalan dengan baik setelah suamiku menengahi hal yang terjadi. Aku sendiri tidak bisa menyalahkan siapa-siapa terhadap hal yang terjadi di istana kepresidenan tadi. Aku harus melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Tapi sungguh, invasi yang terjadi di Irak waktu itu sangat tidak kubenarkan. Aku mengutuk semua orang yang menjadi dalang atas hilangnya ratusan ribu nyawa di sana. Sungguh mereka tidak layak disebut sebagai manusia.


Suamiku tadi telah menceritakan semua permasalahan yang sedang terjadi. Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk mendapat bantuan dari Turki dalam membebaskan saudaranya yang kini menjadi tawanan Rusia. Ternyata Byrne ditangkap di sebuah laboratorium bawah tanah yang ada di Ukraina. Pihak intelijen Rusia berhasil menerobos tempat itu setelah terjadi adu tembak dengan beberapa orang yang berjaga. Alhasil, karena pintu keluar hanya ada satu, Byrne tidak bisa bersembunyi apalagi melarikan diri. Dia pun ditangkap oleh pihak intelijen Rusia dan dibawa ke markas besar yang ada di sana. Entah bagaimana nasibnya sekarang.


Satu hal yang tidak aku mengerti tentang dunia ini. Mengapa kita tidak bisa hidup berdampingan dalam perbedaan? Setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Tentunya tanpa merugikan orang lain. Bumi ini amat luas jika hanya ingin ditinggali sekelompok orang. Jadi untuk apa berperang? Apa yang didapat dari peperangan? Mengapa masalah yang besar tidak bisa dikecilkan? Dan mengapa masalah yang kecil dibesar-besarkan? Tujuannya apa? Ingin meraup keuntungan dari penderitaan banyak orang?

__ADS_1


Sungguh para tentara yang menjadi alat suatu negara pasti tidak menginginkan peperangan. Bayangkan, mereka harus meninggalkan anak dan istrinya di rumah untuk membela sebuah ideologi yang bertentangan dengan kemanusiaan. Menjunjung tinggi kebebasan dengan membunuh orang? Darimana ideologi itu datang? Aku tak habis pikir dengan sekelompok orang yang mempunyai kekuasaan besar tapi menyalahgunakan kekuasaannya. Semoga Tuhan mengutuk mereka beserta anak cucunya.


Sabar Ara. Mungkin ini sudah suratan takdir untuk menyortir siapa hamba Tuhan yang terbaik semasa hidupnya.


Rasanya ingin sekali kuluapkan ketidakterimaan hati ini terhadap peperangan yang terjadi. Tapi, aku sadar siapa diri ini yang hanya seorang warga biasa dari suatu negara. Aku hanya bisa berdoa semoga pemimpin-pemimpin dunia lebih bijak dalam menghadapi masalah globalisasi. Sebisa mungkin meredam perang yang bisa terjadi dan berusaha mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada negaranya. Sungguh Tuhan telah melaksanakan tugas-NYA sebagai pencipta alam semesta. DIA memberikan apa yang manusia butuhkan selama berada di dunia.


"Sayang."


Suamiku tiba-tiba mengetuk pintu. Mungkin dia baru saja selesai berbincang bersama Owdie di luar apartemen ini.


"Ya, tunggu." Aku pun beranjak untuk membukakan pintu.


Selepas dari istana kepresidenan, kami segera kembali ke apartemen. Aku pun bergegas mandi setelah seharian ikut menjadi saksi diskusi antar dua negara. Sedang suamiku tampak belum selesai dengan urusannya. Dia berbincang bersama Owdie kembali setelah mengantarkanku sampai ke apartemen. Dan ya, aku berusaha memakluminya. Aku menunggunya sambil mengetik ungkapan hatiku di laptopnya.

__ADS_1


Pintu pun terbuka. Kulihat wajah suamiku yang lelah. "Sudah selesai?" tanyaku padanya lalu memberi jalan agar dia masuk ke kamar.


__ADS_2