Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Hurry Up!


__ADS_3

Pukul satu siang waktu Dubai dan sekitarnya...


Setelah menyelesaikan kesalahpahaman, kami akhirnya berangkat menuju salon langganan tuanku. Sesampainya di salon aku segera didandani dan mengenakan gaun yang serba panjang. Gaun yang kupakai amat tertutup hingga sebatas mata kaki. Warnanya biru langit, terlihat menyejukkan pandangan mata.


Tuanku sendiri hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai ke siku. Sedang bawahannya dia mengenakan levis hitam dan sepatu pantofel. Kami berniat memenuhi undangan dari mantan pekerjanya dulu. Dan sepertinya hari ini akan berbeda sekali.


Cincin pemberian darinya masih melingkar di jari manisku. Di jari manisnya juga masih melingkar cincin tanda ikatan kami. Tuanku membeli sepasang cincin emas putih yang katanya dipahat langsung oleh sang ahli terkenal di kota ini. Siapa orangnya aku tidak tahu. Tapi mungkin harga cincin pemberian darinya amat mahal karena ada hiasan berlian kecil di tengahnya.


Tuanku memang tidak pelit. Dia begitu loyal dan tidak perhitungan sama sekali dengan uangnya. Bahkan memintaku untuk menghabiskan sepuluh ribu dolar dalam satu minggu. Atau sekitar seratus lima puluh juta per minggunya. Dan itu hanya untuk belanja kebutuhan mingguannya saja, belum dengan yang lainnya.


Sampai saat ini aku belum tahu apa pekerjaannya. Mungkin lebih baik aku menunggunya menceritakan langsung daripada bertanya sendiri. Aku baru hitungan minggu bersamanya, belum banyak mengetahui sisi lain dari dirinya itu.


"Selamat datang, Tuan Rain."


Seseorang pria tua menyambut kedatangan kami saat memasuki sebuah hunian megah di salah satu kawasan yang ada di Kota Dubai. Rumahnya tampak semarak dengan hiasan balon dan juga kertas warna yang dirangkai sedemikian cantiknya. Sepertinya tidak jauh berbeda dengan acara ulang tahun di negeriku. Tapi, kulihat ada seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya. Dan bayinya itu sudah diberi perhiasan emas dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Percakapan tuanku dengan pria tua ini terhenti sejenak saat si pria tua menanyakan siapa aku. Tuanku pun tersenyum malu untuk mengatakannya. Tapi sepertinya, pria tua itu mengerti tanpa perlu diucapkan terlebih dahulu.


"Baiklah-baiklah. Mari masuk, Tuan Rain. Kita foto bersama." Si pria tua mengajak kami masuk, dekat dengan si bayi.


Aku berjalan di sisi tuanku dengan grogi bukan main. Ini pertama kali bagiku diajak ke acara non formal olehnya. Tentunya yang hadir pihak keluarga si pemilik acara. Jadi aku harus bisa membaur dengan yang lainnya.


"Tuan Rain, sudah lama tidak bertemu." Seorang nenek berpakaian modis datang dan bersalaman dengan tuanku.


"Sepertinya sudah banyak perubahan di sini." Tuanku menanggapi nenek modis itu.


"Hm, ya. Semua juga tidak terlepas dari bantuan Anda, Tuan. Dan ini ...?" Nenek itu melihat ke arahku.


"Dia Ara, dia—"


"Tentu saja calon istrinya, Bu." Tiba-tiba ada seseorang yang menyela perkataan tuanku.


"Hei, El!" Tuanku lalu berpelukan dengan seorang pria beroman Timur Tengah yang sepertinya tidak jauh berbeda usianya.


"Cepatlah menyusul kami. Agar anakku mempunyai teman," ledek pria bernama El itu.

__ADS_1


"Hah, kau ini." Tuanku tersenyum-senyum sendiri.


"Sudah-sudah, kita foto dulu." Si nenek meminta kami berfoto bersama.


Rumah yang kukunjungi ini begitu luas. Mungkin karena sengaja dikosongkan dalamnya jadi terlihat lapang sekali. Aku sampai bingung mana yang ruang tamu, mana ruang tengah dan ruang makan. Semua terhampar begitu saja.


Eh, dia merangkul pinggangku?


Di sesi foto bersama aku berdiri di sisi kirinya dan dia merangkul pinggangku saat sang fotografer memotret kami. Tak lama aku pun diminta menggendong si bayi yang baru lahir. Mungkin usianya sekitar tujuh hari.


"Nona, silakan digendong bayinya. Tuan Rain berlagaklah seperti suami," pinta si fotografer.


Sontak aku terkejut dengan permintaan si fotografer. Entah mengapa aku diminta menggendong bayinya, seperti baru saja melahirkan. Dan tuanku diminta berlagak menjadi suamiku.


Apakah ini memang tradisi orang sini?


Tidak tahu kenapa ada sesi seperti ini. Tuanku juga lekas-lekas mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celana, lalu menyerahkan ponsel itu kepada si pria yang bernama El. Dan kini aku menimang si bayi cantik bermata lentik.


"Tuan Rain sandarkan sedikit dagunya di pundak nona." Si fotografer meminta kembali.


"Ara, kusingkapkan rambutmu ke samping, ya."


Dia segera menyingkapkan rambutku ini ke samping lalu mendekatkan dagunya ke bahuku. Seketika aku merasa menjadi istrinya yang baru saja melahirkan bayinya.


"Satu ... dua ... tiga! Oke." Si fotografer selesai memotret. "Em, satu lagi Tuan." Ternyata si fotografer minta nambah.


Sebenarnya dia mau apa, sih? Aku bingung jadinya. Kukira sudah selesai, tahunya belum.


"Nona, miringkan bayinya ke arah kamera sedikit. Ya, begitu." Dia memintaku. "Tuan Rain kecup sepenuh hati kening nona," pintanya lagi.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti arahan si fotografer. Dan tuanku pun menurutinya. Dia mengecup keningku sambil memegang kedua lengan ini. Sedang aku memejamkan mata sambil menimang si bayi.


"Oke, cukup." Akhirnya si fotografer mengakhiri sesi pemotretan ini.


"Kalian memang pasangan serasi. Sepertinya satu frekuensi, ya?" Teman tuanku bernama El itu meledek sambil menyerahkan ponsel.

__ADS_1


"Doakan saja." Tuanku tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Nona, semoga cepat menular. Kami menunggu kabar bahagianya." Sepertinya istri teman tuanku yang berbicara karena dia mengambil bayinya dariku.


Aku pun hanya tersenyum, menanggapi.


"Baiklah, kalau begitu silakan dicicipi kuenya. Kami pamit sebentar." Teman tuanku berpamitan.


Pipiku entah sudah semerah apa saat ini. Rasa-rasanya ingin sekali bersembunyi agar tidak terlihat olehnya. Namun sepertinya, dia malah menyukainya.


"Lihat foto-foto kita, Ara!" Dia memintaku melihat hasil jepretan kamera ponselnya.


"Aku ...." Aku jadi bingung harus bagaimana.


"Menurut kepercayaan orang sini, berpura-pura itu akan menjadi kenyataan. Jadi mereka meminta kita berfoto bersama bayinya agar cepat menular." Dia menjelaskan.


"Benar, kah?" Aku terkejut.


"He-em." Dia mengangguk. "Sebentar ya, aku ambilkan minum dulu." Tuanku berniat pergi.


"He-em." Aku pun mengangguk.


"Cepat menular," katanya sambil mengusap perutku ini lalu berlalu pergi.


Tuan ....


Seketika hatiku terasa damai sekali. Sepertinya dia memang sudah siap untuk menimang bayinya. Hatiku berbunga-bunga melebihi taman bunga yang sedang bermekaran. Tapi sayang, sampai saat ini dia belum menyatakan cintanya padaku.


Apa sih susahnya bilang aku sayang kamu?


Kadang hatiku bertanya-tanya dengan sikapnya yang begitu cepat mengajak ku menikah. Rasanya hal ini amatlah jarang terjadi. Hanya dalam hitungan hari semuanya berubah seketika. Tapi, memang tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah menghendaki. Ya sudah, kujalani saja yang ada.


...


Bagian Pertama Tamat

__ADS_1


__ADS_2