
Malam harinya, pukul tujuh waktu Turki dan sekitarnya...
Ara terpaksa membeli baju ganti untuk dirinya dan juga suaminya. Karena tidak mungkin mengenakan pakaian yang sama berhari-hari lamanya. Sehingga sang istri dari penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah itu kini tengah mengenakan daster biru dibalut rompi panjang berwarna putih. Sedang Rain tampak mengenakan sweter krim dipadu celana gunung berwarna abu-abu. Keduanya baru saja selesai mandi dan akan segera menyantap makan malam bersama.
"Ya ampun, tinggal dua puluh dolar lagi, Sayang. Kita harus cepat meminta bantuan." Ara meminta Rain mencari bantuan.
Rain masih menghanduki rambutnya. Ia baru saja mengenakan pakaian. "Nanti aku akan meminjam uang kepada Owdie. Kau jangan khawatir." Rain memiliki cadangan pinjaman.
Ara mengangguk. "Kalau begitu kita sekarang bisa makan di kedai depan?" tanya Ara kepada suaminya.
"Tentu." Rain pun menanggapi istrinya seraya tersenyum.
"Baiklah. Aku sudah lapar. Ayo, Sayang." Ara mengajak Rain agar segera keluar dari kamar hotel.
Ara dan Rain memesan kamar hotel paling murah. Itu juga hanya bisa untuk menginap selama dua hari ke depan. Uang mereka tidak cukup untuk memesan hotel dalam waktu yang lama. Sehingga hanya hotel berukuran 5x4 saja yang bisa mereka pesan dengan kamar mandi di dalam.
Di dalam kamar hotel pun tidak banyak perabotan. Hanya ada dispenser dan lemari kecil sebagai tempat pakaian. Ara dan Rain pun harus berhemat kali ini, karena uang tunai yang mereka miliki tidaklah banyak. Sedang kartu kredit maupun debit Rain tidak bisa digunakan.
"Suasananya terasa nyaman, ya?" Keduanya keluar dari hotel dengan bergandengan tangan. Sang istri dari penguasa pertambangan minyak itu merasa suasana di Kota Turki begitu berbeda.
"Kau menyukai kota ini?" tanya Rain kepada istrinya.
__ADS_1
"Em ... aku dengar banyak sejarah tentang peradaban di sini. Sepertinya aku tertarik untuk menetap." Ara melihat ke sembarang arah. Ia memperhatikan suasana di sekitaran hotel.
Rain mengusap-usap lengan istrinya. Mereka mencari makanan di pinggir jalan. Tak lama mereka pun menemukan sebuah kedai kecil yang ada di ujung sana. Keduanya lalu segera melangkahkan kaki menuju kedai sambil menikmati pemandangan malam. Rain pun dengan segenap jiwa menjaga istrinya. Sang penguasa menunjukkan bagaimana sikap seharusnya seorang suami kepada sang istri. Ara pun begitu bahagia diperlakukan baik oleh Rain. Ia tidak salah jika menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang penguasa.
Makan malam di kedai...
Sajian khas Kota Turki mulai mereka santap. Tapi, Ara lebih memilih menyantap kebab khas kota ini. Ia juga memilih minuman yang menghangatkan badan. Yang mana terbuat dari rempah asli kota ini. Rasanya sedikit pedas namun menghangatkan badan. Ara pun terlihat menikmati sajiannya. Sedang Rain tampak menyantap makanan berat. Ia amat lahap menyantap nasi beserta sup yang telah tersaji.
Harus Rain akui perjalanan kembali ke dunia sebenarnya banyak menguras energi. Tak ayal ia menyantap makan malam dengan lahapnya. Tanpa malu-malu lagi kepada sosok wanita yang duduk di hadapannya.
"Uang kita tinggal sepuluh dolar, Sayang. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ara kepada Rain.
Saat itu juga Ara merasa tidak tenang. "Kau yakin? Bagaimana jika keberadaan kita diketahui oleh saudaramu yang tidak menyukai kita?" Ara khawatir terjadi hal yang tak diinginkan lagi.
Rain tersenyum. "Aku cukup tahu bagaimana Owdie. Ya, walaupun dia seringkali menjengkelkan. Dia bisa dipercaya dan juga diandalkan. Jadi, tenang saja ya." Rain meyakinkan kembali.
Ara mengangguk, mencoba percaya. Walau di dalam hatinya masih menyimpan keraguan. Bagaimanapun Ara tahu penyebab terbakarnya kapal pengeboran minyak milik suaminya. Rain juga sudah menceritakan sendiri masa lalu dan keluarganya kepada Ara. Tidak ada hal lagi yang perlu ditutup-tutupi dari mereka.
Aku harap Owdie benar-benar baik, seperti yang suamiku katakan. Aku tidak menuduh, hanya berjaga-jaga saja. Cukup sudah tragedi di kapal pengeboran minyak itu menjadi pelajaran agar tidak mudah percaya kepada siapapun. Sehingga aku harus selalu mengingatkannya dalam setiap langkah. Sayang, semoga keselamatan selalu menyertai keluarga kecil kita.
Ara menepiskan rasa khawatirnya lalu mencoba menikmati santap malam ini. Ia menyantap sup kambing khas Turki milik suaminya. Dan saat itu juga ia merasa kepedasan. Namun, lama-kelamaan lidahnya menyesuaikan dengan rasa yang ada di sini. Ia pun kembali memesan minuman untuk meredakan rasa pedas yang tidak bisa diajak berkompromi.
__ADS_1
Esok harinya...
Mentari pagi terbit dengan hangatnya. Cuaca sekitar terasa sejuk dan mendamaikan. Perlahan-lahan kedua mata Ara terbuka. Ia terbangun dari tidur malamnya. Ia pun tersadar jika kini bukan lagi di sebuah negeri yang sempat disinggahinya. Dan entah mengapa Ara melamun saat menatap langit-langit kamarnya.
Aku merasa masih bisa terhubung dengan dunia itu.
Petualangan Ara bersama suaminya ke Agartha bukanlah hal yang biasa. Melainkan sebuah anugerah yang hanya diberikan kepada hamba terpilih. Ara pun tidak pernah menyesali apa yang terjadi di sana. Ia mencoba mengambil hikmah dari semua peristiwa. Termasuk pertemuannya dengan Rain yang kini sudah mengikat kontrak dengannya. Sebuah kontrak yang akan mereka lalui dalam mengarungi kehidupan bersama.
Gelang ini ....
Ara memegang gelang yang ada di pergelangan tangan kanannya. Sebuah gelang titanium terkait satu gantungan bulan dan satu bintang. Ara pun mengusap gelangnya sambil merasakan setiap ukiran yang ada. Dan entah mengapa, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
Aku tidak tahu jika akan terikat dengan perjanjian gelang ini. Ya Tuhan, semoga apa yang terjadi ke depannya bisa aku lalui dengan mudah. Aku amat harap-harap cemas menantikan kedua gantungan ini terlepas. Beri aku kekuatan untuk menyelesaikannya.
Sejujurnya Ara takut jika hal yang akan terjadi nanti tidak mampu untuk ia lalui. Karena masih ada dua gantungan yang belum terlepas dari gelangnya. Ia terikat dengan perjanjian sebagai konsekuensi atas pertemuannya dengan Rain. Nasi sudah menjadi bubur, ia pun tidak dapat menolak perjanjian itu. Walaupun sebenarnya Ara sama sekali tidak tahu jika akan mengikat perjanjian dengan gelang tersebut.
Sang suami pun menyadari jika istrinya kini telah terbangun. Ia kemudian berbaring menghadap ke Ara. Ia usap kepala istrinya dengan lembut dan penuh cinta. Ara pun menyadari jika suaminya telah terbangun dari tidurnya.
"Memikirkan apa, Sayang?" tanya Rain kepada Ara.
Ara berbalik, menghadap ke Rain. Ia tatap wajah suaminya sepenuh perasaan. Saat itu juga kekuatan muncul di dalam hatinya. Jika ia tidak boleh menyerah, tidak boleh lemah dalam menghadapi hal apapun yang akan terjadi ke depannya. Karena Rain ada di sisinya, selalu bersamanya.
__ADS_1